
Sudah dua hari aku berada di dalam ruangan serba putih ini. Begitu tahu aku pingsan, ayah langsung mengambil penerbangan ke Heidelberg dan meminta kepada pihak rumah sakit agar ayah yang menanganiku. Ayah tahu itu menyalahi prosedur, tetapi beliau terus memaksa hingga akhirnya pihak rumah sakit memperbolehkan beliau.
Dan, ternyata yang ayah maksud bukanlah Kevin melainkan Yoshida. Ayah ingin aku menemui dia karena ayah berpikir teman masa kecil bisa sedikit mengobati perasaanku yang sedang kacau balau. Aku baru tahu semua itu saat Yoshida berkunjung kemarin.
Kualihkan pandanganku dari novel di hadapanku menuju jendela. Jendela itu terbuka sedikit sehingga udara dingin bisa masuk ke dalam ruangan ini. Di luar sedang turun salju. Sekarang aku benar-benar membenci musim dingin, aku harap musim dingin cepat berlalu. Aku merindukan warna biru langit yang cerah dan ingin berjalan di bawah langit yang cerah, bukan di bawah langit yang mendung.
“Fanyaa!!! Apa kamu baik-baik saja?”
Pintu terbuka. Aku mengalihkan pandanganku menatap Sarah yang sekarang berdiri di depan pintu. Nafasnya tidak beraturan. Aku rasa dia berlari dari koridor rumah sakit menuju kamar tempatku dirawat. Dia membawa buah-buahan dan beberapa novel yang sangat aku inginkan dari beberapa bulan yang lalu. Sepertinya dia membeli semua novel itu sebelum datang kesini.
“Dimana Ken? Aku akan membunuhnya. Hal seperti ini yang membuatku melarang kamu pergi ke Heidelberg.”
Sarah masuk ke dalam kamar dengan berbagai macam umpatan-umpatan untuk Ken. Aku tidak mendengarkan umpatan apa saja yang Sarah keluarkan. Aku kembali fokus ke novel di hadapanku. Begitu selesai mengeluarkan semua umpatan-umpatannya, Sarah langsung duduk di sampingku dan meletakan beberapa novel yang dia bawa di sampingku dan diam mengamatiku.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya setelah berhasil mengatur nafasnya.
Aku tetap diam membisu. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Sudah dua hari, semua orang yang datang menjengukku aku abaikan, kecuali Yoshida. Bahkan, ayah dan ibu, aku mengabaikan mereka. Entah apa yang membuatku bisa mengabaikan mereka. Mungkin, rasa sakit yang aku rasakan karena Ken berimbas kepada yang lainnya. Kebencianku pada Ken membuatku juga membenci anggota keluargaku yang lain.
Apa aku terlalu jahat?
Aku seorang yang sudah terkena penyakit jantung dan sekarang aku berbuat sesuatu yang jahat. Mungkin sebentar lagi aku akan meninggal. Dan mungkin setelah aku meninggal Tuhan tidak akan menerimaku di surga-Nya.
“Fanya?” panggil Sarah dengan khawatir begitu mendapatiku yang hanya diam membisu.
“Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri?” balasku akhirnya sembari menatapnya dengan penuh benci. Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun tetapi hatiku sangat membencinya.
“Ada apa? Apa kamu sakit? Apa kamu pusing? Atau kamu….”
“Aku akan kembali menjadi diriku yang dulu. Saat aku hanya bisa mengandalkan buku-buku sebagai temanku. Saat aku hanya mempercayai buku lebih dari apapun di dunia ini. Aku percaya kepadamu dan juga Ken, tetapi kenapa justru kepercayaan yang aku berikan berakhir seperti ini? Apa kamu juga sama seperti Ken? Kamu selalu ada untukku tetapi kamu merasa seperti penjaga yang tidak dibayar? Jika kamu merasa seperti itu. Keluarlah dari hidupku. Aku tidak peduli, apakah itu keluargaku atau orang lain, satu kepercayaan yang aku berikan kalian rusak maka aku tidak akan memberikan kesempatan kedua. Menjauhlah dari hidupku sebelum aku benar-benar menjadi jahat.”
Sarah terdiam. Dia mencoba mencerna semua perkataanku. Dia menatap ke arahku dengan bingung. Seharusnya aku tidak ikut membencinya. Semua ini berawal dari Ken dan seharusnya hanya Ken yang aku benci. Aku hanya merasa aku harus menghilangkan Ken dan Sarah dari hidupku sebelum mereka kembali menyakitiku.
“Kamu menyuruhku untuk pergi dari hidupmu? Apa ini balasan karena dulu aku sangat membencimu dan mengusirmu dari hidupku? Apa ini balasan dari perbuatanku di masa lalu, Fanya? Jika memang iya, aku akan menerimanya tapi aku mohon jangan buang aku dari hidupmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Pergilah,” ucapku dengan tegas.
Sarah mencoba memegang tanganku. Sebelum itu terjadi, kutepis tangan Sarah. Sarah sangat terkejut dengan tepisanku atau mungkin dengan perubahan sikapku yang mendadak dan tiba-tiba. Dia berdiri dari kursi di sampingku dan berjalan pergi meninggalkan kamar ini. Sekali lagi, di kamar ini hanya ada aku dan tumpukan novel.
Satu jam berlalu begitu saja. Kuamati selang infus yang menancap ditanganku. Aku ingin melepas selang infus ini. Sayangnya jika aku melepas paksa selang infus ini akan banyak darah yang terbuang sia-sia. Aku tidak ingin membuang darah dari dalam tubuhku dengan sia-sia, jantungku bekerja dengan sangat keras hanya untuk memompa darah ke seluruh tubuh lemahku.
Tok..Tok…
Ayah masuk dengan membawa sebuah tas. Aku hanya menghembuskan nafas, lagi-lagi beberapa novel. Aku tidak mungkin bisa membaca semua novel yang diberikan ayah dan Sarah. Terlebih lagi, sekarang aku tidak tahu apa yang ayah pikirkan. Sudah dua hari beliau tidak aku pedulikan dan sekarang beliau kembali datang. Aku hanya menginginkan ketenangan dimana aku bisa membaca semua novel-novelku.
“Apa kamu ingat perayaan tahun baru di Tokyo? Rasanya Ayah ingin mengulang lagi saat-saat itu. Walaupun itu sudah sangat lama tetapi kenangan itu masih tetap ada. Apa kamu tidak ingin kembali ke Jepang?”
Aku tetap fokus membaca novel di depanku. Aku tidak tertarik dengan apa yang ayah ucapkan. Aku tidak suka dengan cara ayah. Aku benci ketika beliau mulai membuka kembali kenangan masa lalu hanya untuk membuatku berbicara dengannya. Aku membenci kenangan masa lalu. Aku bahkan lebih membenci kenangan yang ditinggalkan di masa ini. Aku ingin membuang semua kenangan-kenangan yang tidak penting. Aku tidak ingin kapasitas otakku, kuhabiskan hanya untuk mengingat kenangan yang bahkan tidak bisa kuulangi lagi. Walaupun aku tahu tujuan adanya kenangan untuk membuatku bisa merasakan sesuatu yang sudah pernah aku lakukan dan tidak bisa kulakukan di masa sekarang tetapi sebuah kenangan, aku membencinya karena aku bisa mengingatnya bahkan disaat aku tidak ingin mengingatnya.
“Ayah berencana mengadakan liburan ke Jepang. Apa kamu menyukai ide itu?”
“Aku berencana mengambil semester pendek di tahun depan. Aku mohon pada Ayah untuk berhenti meminta Ken terus berada di sisiku saat kuliah sudah dimulai. Berhenti pula menyuruh orang untuk mengawasi semua kegiatanku. Jika Ayah tidak melakukan hal itu, aku tidak akan menjalani pengobatan dengan Ayah.”
“Wah… Fanya yang dulu sepertinya kembali. Fanya yang bisa mengancam Ayah.”
“Ayah bisa meninggalkanku sekarang?”
“Maafkan Ayah. Sekali lagi maafkan Ayah karena Ayah tidak bisa memberikan kehidupan yang lebih baik dari ini untukmu.”
...-----...
Pukul delapan malam. Aku memiliki rencana untuk pergi berkeliling rumah sakit di jam seperti ini. Aku ingin melihat bulan dan bintang di taman. Sekarang hanya ada satu masalah, dengan siapa aku akan pergi berkeliling. Aku membutuhkan orang yang dengan sukarela mau mendorong kursi roda untukku. Tidak mungkin aku menghubungi perawat dan memintanya untuk mendorong kursi rodaku berkeliling.
Tok..Tok..
Seseorang membuka pintu kamar ini. Ternyata Yoshida, dia menatap ke arahku.
“Ada apa dengan raut wajahmu itu?”
“Maukah kamu berkeliling rumah sakit denganku?” tanyaku dengan antusias.
“Berkeliling? Di jam seperti ini?”
“Ya.. aku bosan berada di dalam kamar.”
“Baiklah," jawabnya mengalah.
...-----...
Yoshida terus melihat ke arahku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang aku lakukan. Rencana berkeliling rumah sakit yang awalnya aku kira akan berjalan lancar tiba-tiba berubah menjadi hal buruk. Tapi, jika aku tidak berkeliling, aku tidak akan melihat apa yang sekarang sedang terjadi.
Satu pukulan mendarat di pipi Ken. Sarah hanya terdiam melihat ayah terus memukul Ken. Aku tidak tahu kenapa Sarah tidak memekik seperti biasanya. Dia justru hanya menatap Ken dengan tatapan benci dan ayah tentu saja menatap Ken dengan penuh amarah.
“Berapa kali Ayah harus bilang tentang aturan di dalam keluarga!!! Jangan pernah menyakiti Fanya.”
Ken terdiam. Dia tidak bergerak, perlahan matanya mengeluarkan air mata. Sepertinya pukulan ayah sangat keras sampai membuat Ken yang memiliki tubuh besar dan berotot meneteskan air mata.
Kali ini ayah tidak bereaksi dengan apa yang Ken katakan. Justru Sarah yang bereaksi. Dia mendekat ke arah Ken lalu menampar keras pipi Ken. Bukan hanya satu kali melainkan lima kali. Ken sama terkejutnya denganku. Aku tidak pernah tahu jika Sarah bisa menampar orang sebanyak itu. Terlebih tamparannya penuh dengan amarah.
Ken mencoba berdiri. Percuma, belum sempat dia berdiri, ayah sudah memukulnya lagi. Dia tersungkur ke belakang. Sekarang darah mulai bercucuran keluar dari hidungnya. Aku hanya mengamati kejadian ini lewat jendela.
“Sebaiknya kita kembali,” ucap Yoshida.
“Tidak. Aku ingin tahu apa yang akan Ken katakan setelah ini.”
“Kamu masih peduli dengannya?”
“Menghapus seseorang yang selalu memberikan kasih sayang walaupun kasih sayang yang dia berikan hanyalah sebuah kepalsuan sama susahnya dengan menghapus seseorang yang selalu memberikan kasih sayangnya dengan tulus. Karena bagiku tidak ada yang namanya kasih sayang palsu, tetap akan ada kasih sayang yang tulus di dalam kasih sayang yang palsu.”
Satu pukulan mendarat tepat di ulu hati Ken. Ken mengaduh. Wajahnya sudah babak belur dan aku tahu Ken sudah sangat kesakitan. Sepertinya, dia sudah dipukuli selama satu jam lebih jika melihat bekas luka di tubuhnya yang sudah mulai membiru.
“Kenapa selalu Fanya yang Ayah pikirkan?!! Aku dan Sarah juga anak Ayah!!! Aku dan Sarah juga memiliki kehidupan sendiri. Kehidupanku dan Sarah bukan hanya untuk Fanya.”
Ternyata aku salah menilai Ken. Laki-laki yang selalu aku banggakan kini telah hilang. Aku tidak akan pernah melihat ke arahnya lagi. Aku akan benar-benar melangkah pergi darinya. Walaupun aku tahu semua itu akan sangat sulit tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus berusaha. Bahkan Tuhan yang telah menciptakan takdirpun bisa mengubahnya hanya dengan melihat usaha yang dilakukan manusia.
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi Ken. Aku melihat ke arah Sarah.
Kenapa dia begitu marah kepada Ken?
“Jangan bawa-bawa aku. Hidupku milikku dan aku sudah memberikan hidupku untuk Fanya. Berhenti melakukan ini Ken. Tanpa Fanya kita tidak akan pernah ada di dunia selama ini. Kamu tidak tahu apa yang sudah Fanya korbankan tanpa sepengatahuannya. Kamu yang mengatakan sendiri kepada Kevin untuk tidak mengadili kehidupan Fanya karena Kevin tidak pernah merasakan rasanya menjadi Fanya. Sekarang aku akan membaliknya untukmu, kamu tidak bisa mengadili Fanya tanpa tahu apa yang sudah dia rasakan selama ini. Kamu egois Ken, lebih dari sekadar egois.”
Ken diam membisu. Aku rasa ini untuk terakhir kalinya sebelum ayah pergi, ayah menendang perut Ken. Tendangan ayah sangat berlebihan sampai darah lagi-lagi keluar dari mulut Ken. Dua menit berlalu setelah ayah pergi, Sarah membantu Ken berdiri. Dia memapah Ken, sepertinya Sarah akan membawa Ken ke ruang pengobatan.
“Bisakah kamu membawaku kemana mereka pergi?”
Yoshida menghembuskan nafasnya. Perlahan dia mendorong kursi roda dengan pelan. Mengikuti kemana Sarah membawa Ken.
“Kamu tahu kenapa aku memilih Jerman?” tanya Yoshida memecah hening diantara kami.
“Karena ada aku?” jawabku.
“Ya. Karena ada kamu di Jerman. Karena ada orang yang aku cintai. Walaupun aku tahu cintamu hanya milik Kevin. Aku tidak peduli dengan semua itu. Aku tidak akan berjanji untuk selalu berada di sisimu karena suatu saat aku bisa pergi meninggalkanmu. Aku juga tidak akan berjanji akan terus mencintaimu, karena aku takut suatu saat akan ada orang yang bisa menggantikan posisimu. Tapi, aku akan berjanji bahwa setiap aku melihatmu aku akan terus berada di sisimu, setiap aku melihatmu aku akan kembali jatuh cinta padamu.”
Aku tidak pernah mengira jika Yoshida benar-benar menyukaiku. Aku kira cinta anak berusia delapan tahun waktu itu, akan langsung berakhir ketika aku meninggalkan Jepang. Aku kira cinta pertama tidak akan pernah bertahan selama ini dan aku kira cinta pertama dari semua orang tidak pernah ada yang berhasil.
Apa yang Yoshida sukai dariku?
Aku hanyalah seorang perempuan yang memiliki penyakit jantung yang kapan saja bisa kambuh. Aku hanyalah seseorang yang tidak bisa mengurus hidupnya dengan benar. Aku hanyalah seseorang yang selalu mempercayakan hidupnya kepada orang lain. Dan, aku hanyalah seseorang yang sebentar lagi tidak ada di dunia ini.
Yoshida berhenti mendorong kursi roda. Dia memegang pundakku. Tatapanku langsung berpaling ke arah Sarah dan Ken. Posisi ini tidak bagus untuk mendengarkan percakapan orang. Apa Yoshida tidak pernah menguping?
“Bisa kita pindah posisi? Aku rasa posisi ini……"
“Dari sini kamu bisa melihat ekspresi Sarah dan Ken, kamu bisa menilai apakah mereka berbohong saat berbicara atau tidak,” potong Yoshida.
Membaca ekspresi orang?
Aku tidak pernah memikirkan hal itu saat menguping pembicaraan orang, yang aku pedulikan hanya informasi yang akan aku dapatkan tanpa memedulikan ekspresi orang itu. Sepertinya selama ini hanya omongan yang selalu aku pedulikan tanpa melihat apakah omongan itu tulus atau tidak. Dan karena itu aku sangat mudah tertipu.
“Fanya berkorban banyak hal, Ken. Kamu tahu kenapa kita bisa terlahir dalam keadaan kembar tiga padahal Ibu tidak memiliki gen untuk memiliki anak kembar?”
“Cerita itu sudah basi. Ayah seorang dokter dan memiliki banyak kenalan dokter lain.”
“Bagaimana dengan kelanjutannya? Apa kamu pernah mendengarkan sampai akhir? Kamu hanya peduli dengan bagian awalnya tanpa pernah berusaha untuk mendengarkan akhirnya. Saat kita lahir, semua kondisi jantung kita sangat lemah, hanya kondisi jantung Fanya yang baik, itupun tidak dapat dikatakan ‘baik’. Fanya hanya memiliki jantung yang lebih baik 5% dari jantung kita. Ayah memutuskan untuk menyelamatkan kita berdua dahulu baru kemudian Fanya. Saat melakukan operasi, Ayah melakukan kesalahan, Ayah membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelamatkan kita dan karena itu Fanya kehilangan golden time miliknya. Jika saat itu, Ayah lebih memilih untuk mengoperasi kita sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan, bukan Fanya yang akan menderita tetapi kita berdua. Jika saja saat itu, Ayah lebih memilih Fanya, kita tidak ada di dunia ini. Mungkin kamu berpikir untuk menyalahkan hal ini kepada ayah tetapi ayah juga baru mengoperasi selama 12 jam sebelum beliau mengoperasi kita."
Aku terdiam. Aku tidak pernah mendengar cerita ini keluar dari mulut siapapun. Aku tidak pernah bertanya kepada ayah ataupun ibu. Ah..mungkin aku tidak mendapatkan cerita ini karena ayah ataupun ibu takut saat aku mendengarnya penyakitku akan kambuh atau mereka takut aku akan membenci kedua saudaraku secara tidak langsung.
Ken menundukkan kepalanya. Entah kenapa perasaan benciku pada Ken perlahan hilang. Ingin rasanya aku memeluknya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan dia tidak perlu merasa bersalah. Sungguh, aku tidak tahu lagi perasaanku yang sebenarnya.
“Apa kamu berubah menjadi baik karena kasihan pada Fanya?”
“Tidak, aku tidak pernah merasa kasihan padanya. Aku justru iri padanya, pada semua ketulusan yang dia miliki. Apa kamu ingat kejadian di Tokyo? Saat Fanya menolongmu dari kecelakaan itu? Aku tidak tahu apa yang Fanya pikirkan, tapi perasaan yang dia miliki sangat tulus untukmu dan karena itu aku juga menginginkan Fanya melihat ke arahku seperti dia melihat ke arahmu. Tatapan penuh kasih sayang miliknya, aku menginginkan itu.”
“Apa aku sudah menjadi kakak yang bodoh?”
“Tidak. Aku tahu perasaanmu untuk Fanya bukanlah sebuah kepura-puraan. Kamu menyayangi dia dengan semua kasih sayang yang kamu miliki. Kamu menjaganya dengan cinta yang kamu miliki. Tapi, begitu kamu mengenal Clara, kamu menjadi begitu jauh dari Fanya. Kamu tidak lagi mencoba memahami hatinya. Kamu hanya melihat Fanya sebagai seseorang yang harus kamu jaga. Clara mengubah cara pandangmu. Aku tidak memaksamu untuk berhenti berhubungan dengan Clara, hanya saja carilah seorang yang tidak akan pernah membiarkan cintamu untuk keluargamu hilang begitu saja.”
Sarah mulai mengobati luka-luka di wajah Ken. Ken tetap menundukkan wajahnya, membuat Sarah harus berjongkok untuk melihat luka-luka di wajahnya. Kuhembuskan nafasku. Aku tidak akan bisa langsung berubah menjadi seperti dulu saat menghadapi Ken. Sepertinya aku akan tetap menjauh untuk sementara waktu dari Ken dan juga Sarah.
Waktu, aku akan memberikan waktu bagi Ken. Waktu yang selama ini seharusnya aku berikan padanya. Aku sudah terlalu banyak meminta waktu miliknya tanpa persetujuan darinya. Aku akan mulai mengembalikan waktu miliknya yang sudah aku ambil. Dan, saat itu aku akan menjauh dari kehidupan Ken secara perlahan.
“Kamu tidak apa-apa?”
Hanya gelengan kepala yang aku berikan untuk menjawab pertanyaan Yoshida. Tanpa kuminta Yoshida sudah mendorong kursi rodaku menjauh dari tempatku berada. Dia membawaku kembali ke kamar rawatku.
Rasanya sakit saat harus berjalan menjauh dari keluargaku sendiri. Aku terlalu munafik. Sungguh, maafkan aku jika pada akhirnya semua ini akan menyakitkan bagimu, Ken. Karena semua ini sudah menyakitkan untukku dan aku sudah tidak bisa menerima rasa sakit seperti ini lagi. Maafkan aku….
...-----...