H(Our)S

H(Our)S
Saudara



Perasaan saat seseorang yang aku cintai tidak pernah melihat ke arahku, bahkan untuk menyadari keberadaanku saja tidak pernah dia tunjukkan, aku sangat paham bagaimana rasanya. Rasa sakit yang bahkan sudah tidak bisa aku rasakan lagi. Bahkan disaat aku tahu semua penantian dan pengobanan yang telah aku lakukan sama sekali tidak berarti, aku tetap tidak merasakan sakit yang aku kira akan sangat menyakitkan hingga membuatku ingin menghilang. Perasaan yang aku rasakan masih bisa aku tangani atau mungkin hatiku sudah membeku bersama dengan dinginnya udara musim dingin.


Cokelat panas, aku ingin lebih banyak meminumnya hingga lidahku tidak dapat mengenali rasa lain selain rasa cokelat. Aku ingin lebih banyak menghabiskan waktuku di dalam kamar dan membaca lebih banyak novel. Aku ingin melupakan semua hal yang sudah aku lakukan. Aku hanya ingin hatiku kembali seperti dahulu. Hati yang masih bisa merasakan kebahagiaan sekecil apapun.


Butiran halus salju mulai turun perlahan menghiasi jalanan. Aku menatap langit yang sudah tidak sebiru biasanya. Musim dingin benar-benar sudah tiba, musim yang sangat aku benci karena musim dingin selalu membunuh perasaanku dan membuat hatiku ikut menjadi dingin.


Tunggu, ini hari pertama turun salju. Bukankah akan lebih baik jika aku meminta sesuatu yang baik untuk musim dingin tahun ini?


Kutangkupkan kedua tanganku dan menundukkan kepalaku. Aku hanya memiliki tiga permintaan. Satu, biarkan orang yang kucintai tidak menyadari perasaanku. Dua, biarkan orang yang kucintai menemukan kebahagiaannya. Terakhir, biarkan aku menemukan kembali hatiku yang sudah lama hilang.


Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan. Aku lupa tidak membawa payung, sebenarnya tidak lupa karena aku sendiri tidak tahu jika hari ini akan turun salju. Tidak apa, lebih menyenangkan berjalan di bawah salju yang mulai berdesakan untuk turun dan tentunya mulai menerima kenyataan bahwa musim dingin adalah musim yang indah.


“Kamu akan sakit.”


Kembali kudongakan kepalaku ke atas. Sudah ada payung yang menghalangi butiran salju mendarat di atas kepalaku. Aku tidak ingin tahu dengan pasti siapa yang memayungiku karena jauh di dalam hatiku, aku sudah tahu siapa orangnya. Aku ingin terus berjalan tanpa tahu siapa yang memanyungiku. Kulangkahkan kakiku keluar dari jangkauan payung. Aku ingin menikmati salju ini, aku tidak ingin dilindungi dari dinginnya salju.


“Fanya, kamu akan sakit.”


Sakit, sebuah kata yang sudah menghiasi hari-hariku hingga membuat hatiku tidak bisa lagi merasakan apapun jadi tidak masalah jika aku sakit hanya karena salju. Mungkin hanya flu yang akan aku derita. Ya, setidaknya hanya flu, sakit yang tidak akan menyakitiku ataupun orang lain secara mental.


“Tidak apa,” jawabku.


“Kamu lupa apa yang ayah katakan?”


“Ken, apa kamu tidak tahu seberapa kuat adikmu ini?” balasku sembari membalikkan tubuhku menghadap ke arah Ken.


Ken, laki-laki yang selalu menjagaku, mengawasiku, dan menemaniku. Dia juga laki-laki yang selalu berada di dekatku dan menghiburku. Dia kakakku, atau lebih tepatnya saudara kembar laki-lakiku yang lahir lima menit sebelum aku lahir ke dunia ini. Dan hal yang lebih mengejutkan adalah aku memiliki dua saudara kembar, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Aku dilahirkan sebagai anak kedua dengan kakak bernama Ken dan adik bernama Sarah.


“Aku tahu jika adikku yang satu ini sangat kuat. Tapi, dinginnya salju tidak bisa kamu kalahkan hanya dengan memakai pakaian setipis itu dan kaki yang beralaskan sandal.”


Ken mendekat ke arahku dan memberikan payung yang sedari tadi dia pegang kepadaku. Dia melepaskan jaket tebal miliknya dan memakaikan jaket itu kepadaku. Dia melepas sepatu miliknya, memakaikannya ke kakiku, dan mengambil sepasang sepatu dari dalam tasnya untuk dia pakai. Padahal dia tahu jika sepatu miliknya terlalu besar untuk kaki mungil milikku.


Aku hanya terdiam saat Ken melakukan semua itu. Aku tidak mengelak ataupun mencegahnya seperti yang biasa aku lakukan, entah apa yang merasukiku saat ini. Ken masih memakaikan sepatunya ke kakiku. Aku paling membenci situasi ini, aku sama sekali tidak bisa membuat diriku untuk tidak dilindungi. Lagi-lagi aku menunjukkan sisi lemah diriku.


“Jika seperti ini kamu yang akan sakit,” ucapku begitu Ken selesai.


Ken hanya mengacak-acak rambutku. Dia tersenyum menatapku dan mengambil payung yang kupegang. Sekarang dia kembali memayungiku dan berjalan di sampingku. Seperti biasa, dia juga menggenggam jemari tanganku yang mungil.


Kenapa selalu Ken yang menghangatkanku?


Kenapa aku tidak bisa merasakan dingin yang menjalar di tangan Ken?


Kenapa hanya hangat yang Ken miliki?


Kemana perginya dingin yang seharusnya dimiliki setiap orang?


“Aku punya cerita baru,” ucapnya.


“Hmm?” balasku sedikit tidak penasaran karena dia sudah sering menceritakan hal-hal baru yang ternyata tidak baru.


“Kamu tahu penjual roti di seberang jalan?”


Hanya anggukan kecil yang aku berikan sebagai jawaban. Ken menghentikan langkahnya. Lagi-lagi dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Aku hanya menatap bingung ke arahnya. Aku hanya diam sembari mengamati Ken. Dia memiliki rambut pirang dan wajah Eropa yang sangat khas. Walaupun kami berdua kembar, aku sama sekali tidak melihat wajahku baik pada diri Ken ataupun Sarah karena kami bukan kembar identik. Ken dan Sarah hanya memiliki wajah Eropa milik ayah, sedangkan aku memiliki perpaduan antara wajah Eropa ayah dan juga wajah Asia ibu kami.


“Aku membeli roti yang dia jual.”


“Bukankah kamu membenci roti?” tanyaku cukup terkejut begitu Ken mengeluarkan dua bungkus roti dari dalam tasnya.


Dia memberikanku satu bungkus roti dan satu bungkus lagi berada di tangannya. Dia membuka penutup roti itu dan mulai memakannya. Aku hanya menghembuskan nafas dan ikut memakan roti yang dia berikan. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan saat membeli roti ini. Satu hal yang pasti, Ken sangat membenci roti dan dia bahkan tidak pernah menyentuh roti yang sudah di siapkan oleh koki di rumah setiap kali selesai makan.


“Jadi, apa cerita barunya?” tanyaku mencoba terlihat penasaran.


“Apa kamu menyukainya? Mencari barang seperti itu sangat membutuhkan waktu."


“Kenapa?” tanyaku diikuti hembusan nafas yang berat.


“Hah? Apa maksudmu?” tanyanya kebingungan.


“Kumohon berhenti di sini Ken. Berhenti membuatku menjadi adik yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa kakaknya. Berhenti membuatku bergantung padamu. Kumohon. Aku ingin bisa berdiri sendiri dengan kedua kakiku. Aku ingin menjalani hidupku tanpa bantuanmu. Barang ini, tidak… tapi kalung ini aku tidak bisa menerimanya.”


Ken begitu terkejut dengan reaksi yang aku tunjukkan dan dia langsung memegang tanganku. Dia terus menatap lurus ke arahku dan tersenyum. Detik berikutnya, Ken mengambil kotak dari tanganku dan memainkannya sebentar sebelum memasukkannya lagi ke dalam tas miliknya.


“Maafkan aku. Seharusnya aku tahu jika kalung yang kamu cari lebih berharga dari ini.”


“…"


“Fan, kumohon? Maafkan aku?” rengeknya begitu mendapatiku yang hanya terdiam sembari menatap matanya.


“Berjanji untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi?”


“Aku berjanji,” balasnya diikuti jari kelingking yang terjulur ke arahku yang langsung aku sambut dengan jari kelingking milikku.


“Oh… dan lihat, sudah jam berapa ini? Kita harus cepat-cepat sebelum mendapat omelan dari ayah,” ucap Ken yang langsung menarik tanganku ke dalam saku jaket miliknya.


...-----...


“Darimana saja kalian?”


Pertanyaan dan kemunculan Sarah yang tiba-tiba cukup mengejutkanku. Sarah langsung memegang tanganku. Sepertinya dia tahu jika aku terkejut dengan kemunculan dan suaranya yang tiba-tiba. Ken membantuku duduk dan Sarah membantuku melepas sepatu dari kakiku. Disaat seperti ini, aku tidak ingin menjadi saudara mereka. Aku benar-benar merasa tidak berdaya dengan apa yang terjadi saat ini.


“Maafkan aku. Aku sama sekali tidak berniat mengagetkanmu.”


“Tenanglah, aku baik-baik. Hanya terlalu dingin di luar.” Ucapanku membuatku Ken dan Sarah saling berpandangan.


Apa ada yang salah dengan ucapanku?


Tunggu, tidak ada yang salah bukan, hari ini adalah hari pertama turun salju dan udara memang sangat dingin. Sarah membuka mulutnya tetapi dia langsung menutupnya kembali. Ken memegang tanganku dan membantuku berjalan ke arah kamar.


“Apa kamu mau langsung mandi?”


Aku hanya mengangguk. Tubuhku sudah menggigil, walaupun sebelumnya tubuhku ditutupi jaket tebal milik Ken tetapi tetap saja tubuhku menggigil kedinginan. Kubuka pintu kamarku yang langsung membuatku ingin tidur. Kulihat Ken yang berjalan menuju kamar mandi, sepertinya dia menyiapkan air hangat untukku.


“Oya, aku lupa memberitahumu jika ayah dan ibu ada urusan mendadak. Mereka harus pergi ke London,” ucapku.


“Baiklah, cepat mandi,” balas Ken sekembalinya dari kamar mandi sembari mengusap lembut rambutku.


“Kamu juga pergi mandi sekarang, nanti kamu bisa sakit.”


“Aku tahu, aku pergi dulu. Panggil aku atau Sarah jika kamu membutuhkan sesuatu.”


Klik. Suara pintu sudah tertutup. Perlahan air mataku mulai mengalir. Aku membenci diriku sendiri. Aku membenci akan ketidakberdayaanku mengurus hidupku sendiri. Aku benci terlahir dengan penyakit jantung ini. Aku benci menjadi lemah. Aku benci dengan takdirku.


Kenapa harus aku yang terlahir dengan penyakit jantung ini?


Kenapa hanya aku yang menjadi beban?


Sangat menyakitkan untuk terus bergantung pada seseorang.


...-----...