H(Our)S

H(Our)S
Undangan



“Aku memutuskan untuk menikah dengan Sabrina bulan depan.”


Daniel meletakkan undangan pernikahannya di atas meja. Desain yang sangat indah, sangat menggambarkan kepribadian Sabrina. Kualihkan pandanganku pada Daniel yang sedari tadi menatapku. Kuhembuskan perlahan nafasku, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan saat ini. Otakku tidak bisa berpikir dan mulutku terkunci rapat.


“Saat itu, saat dimana aku dan Kevin menjadikanmu taruhan. Aku ingin meminta maaf atas semuanya.”


“…”


“Aku bertanya pada Kevin, apakah dia mencintaimu atau Sabrina. Apa kamu tahu apa jawabannya?”


“Sabrina?” ucapku untuk kali pertama setelah masuk ke dalam café.


“Fanya, itu jawabannya.”


Aku terdiam.


Aku membenci musim dingin karena kejadian itu, kejadian yang ingin aku lupakan, dan kejadian dimana aku menjadi sebuah taruhan. Kuminum susu hangat yang aku pesan. Daniel tetap menatapku, sekarang dia menatapku dengan sendu. Aku tidak tahu apa yang sekarang ada di dalam pikirannya.


“Aku menyadari perasaan kalian berdua karena itu aku ingin memisahkan kalian. Aku tidak ingin persahabatan kita hancur tapi ternyata apa yang aku lakukan lebih dari sekadar menghancurkan.”


Daniel menghela nafasnya, dia kembali terdiam untuk waktu yang lama. Baik aku ataupun dia, tidak ingin memecah hening yang sedang berlangsung. Daniel terbenam dalam pikirannya dan aku terbenam dalam ucapannya. Aku tidak tahu kapan persahabatan kami hancur, bahkan aku tidak tahu kapan kami mulai terbiasa untuk hidup tanpa satu sama lain.


“Dimana Sabrina?” tanyaku akhirnya memecah hening.


“Dia malu untuk bertemu denganmu.”


“…”


“Ah… sudah jam 3 sore, aku harus mengambil penerbangan ke Jerman. Aku pergi. Sampai jumpa.”


Hanya anggukan yang aku berikan sebagai jawaban. Kuamati punggung Daniel yang mulai menghilang berbaur dengan keramaian. Punggung yang mungkin tidak akan pernah bisa aku lihat kembali. Kembali kuamati undangan di atas meja. Sepasang nama terukir diatas pahatan kayu, undangan ini adalah impian Sabrina. Dia selalu ingin undangan pernikahannya adalah ukiran namanya dan calon suaminya. Aku rasa dia memenuhi harapannya.


Aku ingin tahu apa yang mereka pikirkan saat memutuskan akan menikah. Melihat Sabrina bagaimana dua tahun yang lalu, aku tidak akan pernah mengerti bagaimana akhirnya Daniel memutuskan untuk kembali padanya. Bukannya aku membenci Sabrina, aku hanya tidak paham sedalam apa hati Daniel hingga bisa mengulang kembali semuanya dari awal setelah apa yang terjadi. Sedalam apa dia mengubur kenangan buruknya dan sekeras apa dia menahan rasa sakit yang dia rasakan. Aku tidak akan bisa seperti dirinya.


Sebaiknya aku pulang sekarang, aku hanya memberi tahu yang lain jika aku mengunjungi Dokter Frank. Jika mereka tahu aku bertemu Daniel, aku yakin Kevin akan marah padaku dan berhenti bicara denganku selama 1 hari penuh. Kuambil semua barang milikku dan berjalan keluar meninggalkan café. Udara hari ini lebih hangat dari biasanya.


Percakapan antara aku dengan Daniel kembali terulang dibenakku. Kejadian itu adalah kejadian saat Daniel dan Kevin berkelahi, wajah mereka babak belur, mereka memukuli satu sama lain tanpa henti. Aku tidak tahu apa pemicu mereka seperti itu, sampai dimalam setelah kejadian adu pukul itu, mereka melakukan perlombaan balap mobil. Mereka memintaku memilih dengan siapa akan berkendara, mau tidak mau aku harus memilih diantara keduanya dan aku memilih Daniel, aku bahkan lupa dengan alasanku memilih Daniel saat itu. Begitu aku masuk ke dalam mobil, Daniel mengendari mobil dengan sangat cepat dan tentunya membuat jantungku berdegup kencang. Aku menahan diriku dengan cukup baik sampai saat dimana Kevin sudah berada diseberang jalan, dia melajukan mobilnya sama cepatnya dengan Daniel dan kecelakaan terjadi. Daniel yang merasa menang karena aku memilihnya dan Kevin yang merasa aku terpaksa memilih Daniel, mereka berdua mengucapkan satu nama yang sama yaitu ‘Sabrina’. Saat aku mendengar nama itu, aku kembali tersadar bahwa aku hanyalah pengganti Sabrina. Kejadian itu membuatku koma dan untuk pertama kalinya aku memasuki mimpi yang sangat indah.


Kejadian itu terjadi saat musim dingin dan karena itu aku sangat membenci musim dingin. Hatiku mengeras bersama dengan dinginnya malam yang menyadarkanku betapa menyedihkannya diriku. Hatiku terus mengeras hingga akhirnya aku memutuskan untuk memakai topeng yang akan menutupi semua perasaanku.


Ting…


Kuambil handphone dari dalam tasku.


‘Apa kamu membutuhkan tanganku untuk berjalan berdampingan?’


Ting…


‘Aku kira kamu kedinginan karena berjalan seorang diri.’


Kuamati sekitar tempatku berdiri dan tidak menemukan Kevin. Sepertinya aku terlalu berharap untuk melihatnya. Kumasukkan kembali handphoneku ke dalam tas tanpa membalas pesannya.


Ting…


Ah…. Kembali kuambil handphone dari dalam tasku.


‘Kenapa kamu memasukan handphone tanpa membalas pesanku?’


Aku kembali mengamati sekitar tempatku berdiri, aku tetap tidak menemukan keberadaan Kevin. Kembali kulangkahkan kakiku menuju toko roti yang biasa aku kunjungi. Tepat saat aku akan melangkahkan kakiku masuk ke dalam toko roti, aku melihat Kevin di seberang jalan yang sedang mengamatiku. Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam toko roti dan memilih berjalan ke seberang untuk bertemu dengannya.


Kulihat wajahnya yang penuh senyum. Senyum yang belum pernah aku lihat selama hidupku. Aku ingin tahu bagaimana dia bisa mendapatkan senyuman itu, seberapa besar dan seberapa lama luka yang harus dia tanggung untuk bisa mendapatkan senyuman itu. Tapi aku langsung tersadar akan satu hal.


Biarlah itu menjadi rahasia miliknya. Sekarang aku hanya ingin senyuman itu terus mengisi hari-hariku.


...-----...


“Bagaimana kabar Daniel?”


Pertanyaan tiba-tiba ayah membuat semua yang ada di meja makan mengalihkan perhatian mereka ke ayah dan juga kepadaku. Aku hanya diam membisu sembari meletakkan sendok ke atas meja makan.


“Huh?” jawabku memecah hening.


“Daniel menghubungi Ayah dan dia bilang baru saja menemuimu.”


Kualihkan pandanganku ke arah Kevin, dia hanya diam menikmati makan malam. Aku tidak bisa membaca apa yang sekarang ada di dalam pikirannya. Wajahnya sama seperti saat kami mulai memakan makanan di atas meja ini tapi aku rasa dia sedang berusaha untuk tetap mempertahankan ekspresi wajahnya saat ini.


“Ah… Daniel memberi undangan pernikahannya dengan Sabrina dan aku rasa kabarnya baik-baik saja karena dia akan menjadi seorang pengantin.”


“Hah? Daniel tetap akan menikah dengan Sabrina? Bagaimana dengan pembatalan pertunangan sebelumnya?” tanya Sarah tidak percaya.


“Sorry.”


Kami melanjutkan makan malam dalam diam. Tidak ada satu orangpun yang ingin membuka kembali percakapan. Entah karena tidak ada topik lainnya atau karena suasana yang sudah berubah sangat canggung. Sekali lagi kualihkan pandanganku ke arah Kevin yang saat ini sedang menatapku. Bukan tatapan penuh rasa ingin tahu seperti yang aku kira tetapi tatapan lembut miliknya. Dia bahkan memberikan sebuah senyuman kepadaku.


Sejauh mana dia telah berubah menjadi seseorang yang dewasa seperti ini?


“Biar Ibu saja,” ucap ibu sembari mengambil setumpuk piring dari tanganku.


“Bersama-sama?” tanyaku.


Ibu menggeleng dan langsung mendorong tubuhku menjauh dari mesin cuci piring. Aku mematuhi ibu dan duduk sembari mengamati ibu yang sekarang sedang memasukkan piring-piring kotor ke dalam mesin. Sudah lama aku tidak melihat semua ini. Tangan beliau yang masih cekatan sama seperti dulu, hanya keriput di tangan beliau yang bertambah. Aku juga merasa tangan beliau menjadi lebih kering dibandingkan sebelumnya. Sepertinya ibu berhenti menggunakan lotion di tangannya, sebenarnya aku yang selalu memakaikan lotion ke tangan ibu dan selama dua tahun aku sangat yakin beliau berhenti menggunakan lotion.


“Ibu, kemarin Kevin….”


“Melamarmu?” potong ibu.


“….”


“Kevin sudah meminta izin kepada Ayah dan Ibu.”


“Lalu apa yang Ayah dan Ibu katakan?”


“Tebak.”


“Memberikan izin pastinya.”


Sebuah senyuman tersungging di wajah ibu. Beliau melangkahkan kakinya mendekat ke arahku sembari membawa secangkir cokelat hangat. Selama dua tahun, aku ingin tahu seperti apa kehidupan yang telah dijalani malaikatku ini tapi aku sadar dengan menanyakan hal itu hanya akan membuka kembali luka yang sudah dengan susah payah beliau tutupi hanya untuk melihat senyumanku.


Secangkir cokelat hangat mendarat tepat dihadapanku. Ibu memegang tanganku dan terus menatap lembut mataku selama lima menit. Aku tahu apa yang sedang ibu lakukan, beliau ingin menyelami kembali mata milikku yang sudah menjauh darinya selama dua tahun. Beliau ingin menemukan kebenaran di dalam diriku, kebenaran yang sudah aku terima dengan lapang dada selama dua tahun terakhir ini. Kebenaran tentang diriku dan penyakitku.


“Apa yang membuat kamu takut?”


Pertanyaan yang mampu membuatku terdiam dalam waktu yang lama. Sejauh apapun aku berlari dan selama apapun aku bersembunyi, ibu tetaplah seorang ibu yang memahami anaknya. Tanpa sepatah katapun dan hanya dengan sebuah tatapan, ibu bisa membaca hatiku. Hatiku yang perlahan sudah mulai mencair bersamaan dengan rasa sukaku pada musim dingin.


Kueratkan genggaman tanganku. Ibu hanya tersenyum dan terus menepuk lembut punggung tanganku. Sudah saatnya aku berbicara secara jujur dengan malaikat yang mengorbankan nyawanya untukku.


“Bagaimana jika setelah menikah, Fanya meninggal?” tanyaku akhirnya memecah hening.


“Itu yang kamu takutkan?”


Sebuah gelengan kuberikan sebagai jawaban.


“Fanya takut tidak bisa menjadi istri yang baik dan tepat untuk Kevin.”


“Fanya, siapa kamu menilai kedua hal itu?”


“…”


“Yang berhak menilai baik dan tepatnya dirimu bukanlah kamu, Sayang. Kevin yang berhak melakukannya karena dia yang memutuskan untuk menikahimu. Kamu tidak berhak menghakimi dirimu sendiri disaat Kevin memberikan nilai yang tidak terhingga kepadamu. Jika kamu selalu menilai dirimu dari kacamatamu, maka Ibu juga bukan istri yang baik dan tepat untuk Ayahmu karena untuk mendapatkan kalian bertiga saja Ibu membutuhkan bantuan dari yang lain. Tidak ada nilai pasti baik dan tepat untuk sebuah pernikahan.”


Apa yang dikatakan ibu adalah sebuah kebenaran dan aku tidak bisa menyangkalnya. Aku hanya mengkhawatirkan ketakutanku sendiri tanpa mencoba melihat jauh ke dalam hati Kevin. Seharusnya aku tahu sejak saat aku memutuskan untuk berlari, sejak saat itu Kevin juga menetapkan pilihannya untuk selalu menemukanku kapanpun aku mencoba untuk kembali berlari.


“Fanya, saat kamu memutuskan untuk melakukan operasi, Ayah dan Ibu ada bersamamu.”


“Bagaimana bisa?” tanyaku terkejut.


Selama ini aku selalu mengira hanya Sarah dan Bobby yang menemaniku selama operasi jantungku. Aku selalu mengira Sarah yang menandatangi informed consent operasiku. Sejak awal saat aku memutuskan untuk bersembunyi, aku sudah ditemukan. Aku benar-benar hanya memberikan waktu bagi kedua orang tuaku untuk menerima semua keputusan sepihakku.


“Apakah Ken dan Kevin juga ada disaat…..”


“Tidak, Ayah dan Ibu selalu menyembunyikan keberadaan kalian dari mereka,” potong ibu.


“…”


“Fanya, yang ingin Ibu katakan adalah Ayah dan Ibu akan selalu ada untukmu bahkan untuk kondisi dimana kami berdua tidak tahu apakah kamu akan tetap hidup ataupun meninggal. Jika Kevin menyakitimu, Ayah dan Ibu akan langsung berlari dan membawamu pergi. Karena itu, jangan ragu untuk terus melangkah.”


“Terima kasih sudah menjadi malaikat pelindung Fanya,” ucapku sembari berjalan memeluk ibu.


Aku berjanji, apapun yang terjadi di masa depan aku tidak akan pernah mencoba untuk lari ataupun sembunyi. Aku akan menghadapinya. Aku akan mengatasinya. Aku tidak ingin membuat sebuah rasa sakit kembali muncul. Aku berjanji.


“Tapi Kevin tidak akan pernah menyakiti Fanya.”


Ucapan Kevin berhasil membuatku dan ibu melepas pelukan erat kami. Kevin perlahan berjalan mendekat ke arah kami dan langsung memeluk kami dengan sangat erat. Aku tidak tahu perasaan seperti apa yang sekarang aku rasakan, aku hanya merasa sangat bahagia seperti semua mimpi yang aku rangkai satu demi satu menjadi kenyataan.


“Aku mencintaimu,” bisik Kevin.


...-----...