H(Our)S

H(Our)S
Surat



“Paman, beritahu aku jika semua itu hanya bohong dan Paman sedang bercanda saat ini.”


“Berapa minggu?”


“Fanya!!”


Kuabaikan teriakan Sarah.


“Dua minggu. Saat kamu mengatakan menjadi sangat mudah lelah, tidak nafsu makan, dan muntah setiap pagi, Ayah kira itu efek samping dari obat yang kamu minum.”


“Dan karena itu Ayah menyarankanku untuk melakukan USG hari ini, aku kira aku menderita gastritis,” ucapku pahit.


“Aku akan menelepon Kevin.”


“Sarah,” ucapku pelan sembari menarik tubuhnya agar kembali duduk.


Paman Frank hanya menatapku seolah memintaku untuk membiarkan Sarah menghubungi Kevin. Aku tahu saat ini wali hukumku adalah Kevin dan dia berhak tahu semua hal tentang kondisi medisku. Aku tahu semua itu tetapi aku tidak bisa membiarkan Kevin tahu untuk saat ini.


“Bisakah beri waktu Fanya selama satu minggu?”


“Fanya!!”


“Hanya satu minggu.”


“Paman?!!” panggil Sarah memohon.


“Sarah, kumohon hanya satu minggu.”


...-----...


Tiga bulan sebelumnya…


“Apa ini kali pertama Paman kembali ke ruang kerja di rumah ini?”


“Ayah.”


Sudah lebih dari 10 kali Paman Frank menegurku karena aku terus memanggilnya dengan sebutan ‘Paman’. Aku merasa aneh memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’ disaat aku belum resmi menjadi menantunya. Aku harus memaksakan diriku untuk bisa memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’ atau Paman Frank akan mengadu ke orang tuaku.


“Kali pertama dalam lima tahun.”


“Bagaimana bisa Ayah menahan diri untuk tidak masuk ke ruangan ini?”


“Jika Ayah memutuskan masuk ruangan ini, saat itu juga Ayah akan kalah, Fanya.”


“Kalah?”


“Ayah pasti akan memutuskan untuk kembali ke Berlin.”


Kembali ke Berlin berarti kembali ke kehidupan sebelumnya, kehidupan yang selama ini sudah paman tinggalkan dengan susah payah. Raga paman memang selalu berada di London tetapi jiwanya tidak pernah meninggalkan Berlin. Paman tidak pernah meninggalkan tempat dimana wanita tercintanya beristirahat. Terlebih ruang kerja ini, banyak kenangan di dalamnya.


“Maafkan Ayah saat itu tidak bisa menolongmu dari para pelayan.”


Hanya gelengan dan senyuman yang aku berikan. Kulangkahkan kakiku mendekati paman yang sedang sibuk mencari album foto. Aku dan Kevin ingin mengulang kembali foto-foto masa muda dan juga pernikahan kedua orang tua kami. Seperti mereka ulang adegan masa lalu.


“Ah….sepertinya beberapa pelayan merubah susunan ruangan ini.”


“Masih banyak waktu tersisa, Ayah. Tidak perlu buru-buru.”


“Benarkah? Jika seperti itu haruskah kita berdua mengunjungi makam istri Paman?"


Kurangkulkan tanganku ke lengan paman dan kami berjalan keluar ruangan. Sebelum kami pergi keluar rumah, paman sempat menyuruh beberapa pelayan untuk mencari sebuah album di ruang kerjanya. Awal pertama aku memasuki ruangan ini, paman menolak tawaran para pelayan yang ingin membantunya tetapi saat ini paman sudah menyerah setelah dua jam tidak menemukan apapun.


Saat ini Kevin sedang di Heidelberg untuk mengurus beberapa dokumen pendidikannya. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan spesialisnya di London, keputusan yang sudah dia buat begitu mengetahui keberadaanku. Sebenarnya Kevin mengajakku untuk ikut pergi bersamanya dan melarangku untuk pergi ke rumahnya karena tidak ingin aku bertemu dengan pelayan-pelayan di rumahnya dan membuatku mengingat kembali kenangan buruk di rumah ini. Kevin dan Paman Frank sempat ingin memecat dan merombak pelayan di rumah ini tetapi aku menolaknya. Aku ingin memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang tidak pernah mendapatkannya dari orang lain.


Jarak rumah Kevin dengan pemakaman Tante Rachel lumayan dekat, hanya membutuhkan waktu 10 menit. Jarak yang dekat dan waktu yang singkat itulah yang menjadi alasan Paman Frank memutuskan pindah ke London. Setelah kematian Tante Rachel, Paman Frank selalu mengunjungi makamnya selama 365 hari setiap tahunnya. Beberapa orang menganggap hal itu sebagai suatu hal yang menyentuh hati tetapi lama kelamaan paman menganggapnya sebagai sebuah kewajiban. Sesuatu yang awalnya paman lakukan karena keinginan tulusnya tiba-tiba berubah menjadi kewajiban dan beban, hal itu membuat paman tidak ingin lagi mengunjungi makam Tante Rachel karena paman tidak ingin satu-satunya wanita yang dia cintai menjadi beban dalam hidupnya.


“Apa Ayah yang mengirim bunga-bunga ini?” tanyaku begitu kami sampai di depan makam Tante Rachel.


“Tante Rachel selalu menyukai bunga. Hanya ini yang bisa Ayah lakukan setelah meninggalkannya pergi ke London.”


Aku menjonggokkan tubuhku dan meletakkan bunga marigold kesukaan Tante Rachel diatas rerumputan hijau yang menutupi tanah tempat pemakaman. Aku tidak pernah mengunjungi pemakaman karena kedua orang tuaku selalu melarangku, mereka tidak ingin aku selalu memikirkan kematian setiap kali mengunjungi pemakaman. Aku rasa apa yang kedua orang tuaku pikirkan benar karena begitu aku melihat makam Tante Rachel, aku langsung memikirkan dimana aku akan dimakamkan.


“Ayah ingin menemui penjaga makam sebentar.”


Paman melangkahkan kakinya menjauhiku yang masih termenung. Aku tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Seharusnya aku mengunjungi makam Tante Rachel bersama dengan Kevin untuk meminta izin pernikahan kami berdua.


Aku menyentuh ukiran nama ‘Rachel’, ukirannya terasa begitu hangat seolah sudah disiapkan dari jauh hari sebelum kematian Tante Rachel. Tanpa kusadari tanganku terus menyentuh ukiran kayu itu hingga sesuatu terjatuh. Ukiran kayu bertuliskan ‘Rachel’ yang terus aku sentuh seperti sebuah kotak yang ditanamkan di tanah. Sekarang aku tahu alasan kenapa ukiran ini terasa begitu hangat, Tante Rachel sendiri yang mengukirnya. Sepertinya paman meminta agar kotak ukiran milik tante dijadikan sebagai batu nisan. Aku mengambil bagian atas kotak yang terjatuh dan hendak memasangnya kembali sebelum mataku melihat sebuat kertas, kertas yang sudah menguning. Sekali lagi, tanpa kusadari tanganku sudah mengambil kertas itu.


Apakah Fanya menemukan surat Tante?


Tante tidak tahu apakah surat ini akan ditemukan. Tante sangat pesimis karena kemungkinan surat ini akan sampai di tangan Fanya hanya 0,000001%. Walaupun begitu Tante harus tetap optimis karena masih ada harapan walaupun sebesar 0,000001%, tidak, saat ini Tante sangat pesimis Fanya akan membaca surat ini.


Tetapi jika saat ini Fanya membaca surat ini, ada beberapa hal yang ingin Tante sampaikan kepada Fanya. Kevin menyukai Fanya untuk saat ini dan kedepannya Kevin akan mencintai Fanya. Sepertinya saat ini Fanya sedang bertanya-tanya alasan Tante bisa menuliskan hal itu.


Fanya, Tante adalah Ibu Kevin, wanita yang melahirkan Kevin dan juga wanita yang membesarkan Kevin walaupun ke depannya Tante bukan wanita yang akan terus bersama dengannya. Setiap gerak-gerik Kevin, Tante memahami setiap artinya dan kali ini Tante menangkap basah Kevin yang sedang melihat ke arah Fanya dan tersenyum manis. Jujur, Tante iri pada Fanya karena Kevin tidak pernah memberikan senyuman semanis itu kepada Tante. Apa boleh buat, Fanya memang lebih menarik dari Tante.


Fanya, Tante tidak bisa menjamin bagaimana hubungan kalian di masa depan akan berakhir tetapi Tante berharap Fanya adalah pelabuhan pertama dan terakhir bagi Kevin. Tante harap tidak akan ada drama apapun dan kalian bisa bersama hingga menua. Tetapi jika muncul sebuah drama, Tante meminta maaf akan hal itu. Maafkan Tante yang tidak bisa mengajari dan membimbing Kevin. Maafkan Tante yang pergi terlebih dahulu sebelum Kevin melewati masa pubernya. Maafkan Tante untuk hal itu.


Dan Fanya, Tante tahu tentang penyakit jantungmu. Di masa depan jangan pernah menolak Kevin karena alasan penyakitmu karena Tante tahu Kevin akan tumbuh sama seperti dengan ayahnya dan Kevin tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Fanya. Bahkan mungkin Kevin akan menyalahkan dirinya sendiri saat Fanya menolak atau mendorongnya keluar dari hidup Fanya. Tante mohon untuk tidak melakukan hal itu karena saat dimana Fanya membuat Kevin pergi dari hidup Fanya, saat itu juga Kevin keluar dari hidupnya dan Kevin tidak akan merasa hidup hingga Fanya kembali memasukkan Kevin ke dalam hidup Fanya.


Satu hal lagi, Tante mohon jangan membuat Kevin untuk memilih antara hidup Fanya dengan hal lainnya. Tante mohon pada Fanya untuk tidak membuat Kevin memaksa memilih hal lain dibandingkan dengan hidup Fanya. Dengarkan Kevin sebelum Fanya memintanya untuk memilih. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada seseorang kehilangan orang yang dicintainya karena pilihannya.


Dan terakhir, benar-benar terakhir, Kevin tidak akan pernah mengeluarkan Fanya dari hidupnya. Selamanya Fanya akan berada di dalam hidup dan hati Kevin. Tidak akan ada yang bisa menggantikan Fanya sama halnya tidak ada yang bisa menggantikan Tante dalam hidup Paman Frank.


Sampai jumpa di kehidupan berikutnya Fanya dan teruslah tersenyum apapun yang terjadi….’


...-----...


“Aku hanya akan merahasiakannya selama satu minggu.”


Ucapan Sarah membuyarkan lamunanku dan menyadarkanku kembali ke dunia ini. Sarah menatapku dengan tatapan membunuhnya yang sudah lama tidak aku lihat. Bobby hanya mengamati kami berdua sekembalinya dari kamar mandi dan sesekali memberiku tanda meminta kejelasan apa yang sedang terjadi hingga suasana diantara kami berdua bisa berubah menjadi mencekam.


“Kenapa kali ini lebih cepat pemeriksaannya?”


“…”


Bobby kembali menatap kami berdua bergantian. Aku hanya menatap sebentar Bobby dan memberikan senyum pahit. Begitu melihat senyum pahit milikku, Bobby langsung berjalan menuju ruang keluarga dan mematikan televisi yang menyala sedari tadi tanpa ada yang menontonnya.


“Kevin tidak akan menyetujui keputusan yang sekarang ada di dalam kepalamu.”


“Aku tahu.”


“Fan….”


“Sarah, saat ini aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku sama bingungnya denganmu. Aku tidak tahu apakah saat ini aku sedang bermimpi atau semua ini adalah kenyataan.”


Bobby kembali berjalan ke arah kami setelah mendengar percakapan singkat dan pelan kami. Dia menatap bingung kami berdua sembari meminum jus yang sedari tadi berada di tangannya. Dia tetap berdiri sebelum akhirnya yakin untuk duduk kembali bersama dengan kami.


“Apa kita berada di dunia yang sama?” tanya Bobby akhirnya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


“Fanya baik-baik saja bukan?” tanya Bobby kembali setelah tidak mendapatkan respon apapun.


“Haiiiii, Kevin pulang!!!!”


Teriakan yang selalu aku dengar selama 3 bulan pernikahan kami. Kevin perlahan menunjukkan sisi imut dalam dirinya dan jujur hal itu membuatku sedikit takut. Aku juga terkadang tidak tahu respon seperti apa yang harus aku berikan. Saat ini hanya Bobby yang terkejut mendengar teriakan imut Kevin. Sarah tetap diam menatapku dengan tatapan membunuhnya.


“Fanya baik-baik saja, hanya masalah pergantian obat," jawab Sarah menyudahi pandangan khawatir Bobby.


Hanya ucapan ‘terima kasih’ tanpa suara yang bisa aku berikan kepada Sarah saat ini.


“Aku membelikan sandwich kesukaan kalian.”


Kevin meletakan tas kertas berisi penuh sandwich. Dia langsung memelukku dan mencium kening serta pipiku terus menerus hingga Sarah melangkahkan kakinya pergi dari hadapan kami. Aku membantu Kevin melepaskan jaket yang dia gunakan dan memeluknya selama beberapa detik. Sangat hangat.


“Oiya, bagaimana dengan pemeriksaan Fanya?”


“Dia baik-baik saja.”


“Syukurlah.”


“Bukankah ada masalah?” sahut Bobby.


Pertanyaan Bobby membuat Kevin langsung melihat ke arahku yang sedang mengambilkan jus untuknya. Aku hanya menggeleng dan menghembuskan nafas pelan. Sebelum Kevin berdiri dari tempatnya duduk, aku memberikan gelas berisikan jus ke tangannya dan membuatnya kembali duduk.


“Hanya pergantian obat,” jawab Sarah diikuti pukulan keras ke lengan Bobby.


“Ah…aku akan menghubungi ayah untuk membahasnya.”


“Tidak ada ucapan apapun untukku?” tanya Sarah.


“Terima kasih,” ucapku berbarengan dengan Kevin.


...-----...