
Acara pertunangan ini sangat membosankan. Aku kira akan ada kejutan yang luar biasa, seperti tarian heboh milik Sarah yang selalu dia tarikan setiap kali ada pesta. Aku rasa itu akan membuat para tamu undangan menghentikan semua aktifitas mereka masing-masing dan mulai memperhatikan acara pertunangan ini, bukan sibuk dengan handphone mereka. Tatapan mataku terhenti pada seseorang atau mungkin laki-laki yang sangat mencurigakan.
Apa itu Bobby? Sedang apa dia mengendap-ngendap seperti seorang pencuri?
Jika dia mencari Sarah tidak mungkin dia akan mengendap-endap seperti itu karena Sarah tepat berada di sebelahku. Sepertinya Sarah tidak menyadari kelakukan aneh Bobby. Sarah hanya mendengarkan alunan biola dan menikmatinya.
Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Bobby. Tingkah lakunya yang aneh membuatku ingin menegurnya dan menginterogasinya. Sebaiknya aku memberi tahu Sarah. Aku tidak ingin terus memperhatikan Bobby seperti ini.
“Sarah, aku rasa Bobby bertingkah aneh. Lihat ke arah jam satu.”
Sarah mengalihkan pandangannya ke arah Bobby. Dia terus melihat Bobby dengan tatapan tajam miliknya. Bagaimana Bobby bisa bertahan selama ini berhubungan dengan Sarah?
Walaupun aku saudara kembarnya aku sudah akan menyerah dengan tatapan membunuhnya itu. Selama dua menit Sarah terus melihat ke arah Bobby.
“Aku akan kesana.”
“Tunggu, aku ikut denganmu," sahutku sembari menarik tangannya, aku tidak ingin ditinggal seorang diri di keramaian ini.
Tinggal satu meter lagi sebelum Bobby menghilang dibalik pintu. Sarah benar-benar berubah menjadi orang yang sangat menakutkan. Rahangnya mengeras dan dia mengepalkan tangannya sendiri sampai berwarna putih. Apa sebegitunya dia tidak percaya pada Bobby?
“Sar…..”
“Aku tidak akan melepaskan Bobby kali ini. Begitu juga dengan Ken.”
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung.
“Apa kamu tidak merasa aneh? Selama acara ini Ken, Bobby, dan Kevin tidak berada di dalam? Aku curiga jika Daniel juga tidak berada di dalam bersama dengan Sabrina.”
Benar juga, daritadi aku belum melihat Ken. Begitu sampai di rumah Daniel, Ken langsung menghilang dari hadapanku. Dia tidak mengatakan sepatah katapun kemana dia akan pergi. Dan kenapa daritadi aku tidak mencari Ken? Padahal aku memiliki banyak pertanyaan untuknya.
Kuikuti langkah Sarah yang lebar dan cepat. Sepertinya dia lupa jika seorang pasien penderita gangguan jantung sedang mengikuti langkahnya. Sarah menghentikan langkahnya dan menatap tajam sesuatu. Kuikuti arah pandangnya. Ken, Bobby, Kevin, dan Daniel sedang berada di taman belakang. Sepertinya Kevin dan Daniel sedang berkelahi.
“Apa yang sedang kalian lakukan?!”
Teriakan Sarah mengejutkan keempat laki-laki itu. Wajah mereka menegang, selain Ken tentunya. Wajah Ken seperti biasa, tenang. Dia bisa mengendalikan emosinya karena itu aku tidak bisa mengetahui isi pikirannya. Dia selalu bisa menutupi apa yang sedang dia rasakan dan karena itu aku sangat membencinya. Aku hanya ingin sekali saja memahami isi hatinya dan bagaimana perasaan yang sedang dia rasakan. Bukan hanya dia yang terus menerus mengerti dan memahami isi hati dan perasaan yang sedang aku rasakan. Bagiku ini semua sedikit tidak adil. Kuhembuskan nafasku.
“Kenapa mereka bisa ada di halaman belakang?”
Pertanyaan Daniel membuat Sarah kembali mengeraskan rahangnya. Sepertinya aku akan menjadi penonton malam ini. Lagipula, aku sedang malas berurusan dengan Kevin ataupun Daniel. Lebih baik aku menonton saja. Kulangkahkan kakiku mendekat ke kursi di samping Bobby berdiri.
Ken terus melihat ke arahku. Aku membalas tatapannya. Dia tersenyum ke arahku. Aku sangat tahu arti senyuman itu. Senyuman terima kasih. Terima kasih untuk apa? Aku sendiri tidak tahu, mungkin terimakasih karena aku sudah mau menjadi penonton.
Kuamati wajah Sarah. Ada apa dengan sikapnya? Kenapa dia seperti seseorang yang merasa telah dibohongi? Dia mengalihkan pandangannya dari Kevin ke Daniel dan sekarang dia menatap Bobby dengan sangat tajam. Bobby hanya mengalihkan pandangannya menghindari tatapan tajam Sarah.
“Bobby, jelaskan padaku sekarang apa yang sedang kalian lakukan," ucap Sarah dengan nada meninggi.
Tanpa kusadari kualihkan pandanganku ke arah Kevin dan Daniel. Mereka sedang melihat ke arahku. Apa karena pengakuanku waktu itu kepada Kevin? Ah.. sekarang aku menyesal mengakui semuanya. Tidak, aku tidak boleh menyesal. Karena mengakui semua perasaanku membuatku merasa lebih lega.
“Sarah, ayo…….”
“Bobby!!!”
“Perkelahian untuk mendapatkan Sabrina.”
Perkelahian disaat seperti ini? Perkelahian disaat pertunangaan akan dimulai? Apa mereka berdua gila? Jika Daniel kalah dan Kevin mendapatkan Sabrina, maka……
“Aku baik-baik saja.”
“Kamu yakin? Wajahmu sangat pucat.”
“Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku ingin bertanya padamu tentang liontin ini.”
Kukeluarkan liontin yang selalu aku bawa. Aku tahu sekarang bukan saatnya membahas hal ini tetapi aku ingin mengalihkan pikiranku dan juga Ken tidak terkejut melihat kalung itu. Sepertinya dia tahu jika aku akan menemukan kalung ini di toko perhiasan dua minggu yang lalu. Dia mengambil kalung itu dan memakaikannya ke leherku.
“Kenapa harus disembunyikan? Aku akan menjawab semua pertanyaanmu tapi aku ingin menyelesaikan masalah ini dulu. Bagaimana?”
Aku mengangguk. Ken kembali ke tempat asalnya. Kevin dan Daniel terus melihat ke arahku. Apa aku melakukan kesalahan sehingga mereka berdua terus menatapku? Lama-lama aku merasa risih ditatap dengan tatapan seperti itu.
Sekarang Sarah sedang berbicara dengan Bobby. Dia seperti seorang ibu yang menginginkan kejujuran anaknya. Wajah Bobby sudah pucat pasi. Aku tahu Sarah pasti mengancam Bobby dengan berbagai macam tindak kekerasan yang akan dia lakukan. Apa mungkin Bobby bertahan dengan Sarah karena Bobby sudah diancam akan dibunuh jika memutuskan hubungan mereka?
Kevin dan Daniel berhenti menatapku. Bukan karena mereka ingin tetapi karena Ken menghalangi pandangan mereka berdua ke arahku. Sepertinya Ken menyadari jika aku tidak suka dengan tatapan kedua sahabatku atau mungkin kedua mantan sahabatku.
Sarah menghampiriku. Bobby berjalan tepat di belakang Sarah.
“Kita harus menghentikan ini.”
“Menghentikan apa?” tanyaku bingung.
“Pertunangan bukanlah sebuah permainan seperti ini. Perempuan bukanlah sebuah mainan. Fanya, jangan lakukan ini pada Sabrina.”
“Sarah, aku sudah memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam hubungan mereka.”
“Fanya, aku tahu kamu tidak akan bisa membiarkan hal ini terjadi. Kamu tidak akan membiarkan Daniel dan Kevin mempermainkan Sabrina bukan? Kamu tidak akan membiarkan kejadian di sekolah dulu terjadi lagi bukan?”
“Jangan mengingatkanku lagi dengan kejadian itu, Sarah," sahut Ken geram.
Bobby terus menatap ke arahku. Raut wajahnya berubah. Sepertinya dia tahu insiden di sekolah. Saat Kevin dan Daniel menjadikanku taruhan mereka setelah Sabrina pergi dari Jerman. Kevin dan Daniel berkelahi dan menjadikanku sebagai hadiah untuk siapapun yang memenangkan pertarungan. Sebuah permainan yang membuatku sangat membenci Sabrina untuk waktu yang lama.
Sarah berjongkok di depanku. Dia menatapku dengan tatapan memohon.
Apa Sarah lebih peduli pada Sabrina? Entahlah, kepalaku sedikit pusing.
Suara pukulan terdengar. Pandanganku mulai kabur. Ternyata aku masih belum bisa melupakan kejadian itu. Kulangkahkan kakiku mendekati Kevin dan Daniel. Aku tidak akan peduli jika pada akhirnya aku akan terkena pukulan mereka. Ken terkejut melihatku. Aku tidak bisa melihat mereka dengan pandangan yang jelas. Aku hanya harus menghentikan mereka mempermainkan perasaan Sabrina bukan? Aku harus mencegah hal yang dulu aku alami agar tidak terjadi pada Sabrina bukan?
“Berhenti. Kalian bodoh. Jangan lakukan ini, jika kalian melakukan ini sama halnya kalian mengingkari janji yang telah kalian buat. Sabrina, kalian bisa menanyakan kepada Sabrina dimana dia menaruh hatinya, bukan dengan cara seperti ini. Cukup aku yang kalian permainkan. Cukup aku yang kalian jadikan boneka. Cukup aku yang harus mengalami hal menyedihkan seperti itu. Jadi aku mohon, berhentilah.”
Pandanganku benar-benar kabur. Aku tidak bisa melihat wajah Ken dengan jelas. Aku pusing dan membutuhkan tubuh Ken untuk memelukku. Aku mohon, Ken lihatlah ke arahku. Aku tidak bisa lagi. Keringat dingin sudah mulai keluar dari tubuhku.
“Diam. Kamu tak tahu apa-apa, Fanya. Kamu hanya monster yang mempermainkan perasaanku dengan mengirimkan surat-surat itu. Kamu sama halnya dengan kotoran.”
Kotoran? Aku? Ya, benar. Aku memang hanya monster dan juga kotoran dalam hidup mereka. Aku bahkan tidak memiliki hak apapun untuk melarang mereka melakukan hal gila ini. Aku hanya….
Jantungku tidak baik-baik saja setelah mendengar semua ini. Kulihat Ken melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. Belum sempat aku menata pikiranku, tangan Daniel sudah terayun akan memukul Kevin.
Plak..
Satu pukulan keras mendarat di pipiku. Daniel terkejut begitu juga dengan semuanya. Jantungku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan jantungku. Pukulan mendadak itu, aku tidak bisa mengambil alih kesadaranku saat ini. Kujatuhkan tubuhku ke tanah. Aku tidak tahu siapa yang menangkapku dan apa yang terjadi setelah itu.
...-----...