H(Our)S

H(Our)S
Keberanian



“Apa yang ingin Ayah lakukan?”


“Lakukan? Seperti apa?”


“Ayah tidak ingin menghabiskan waktu dengan Fanya?”


“Tentu saja Ayah selalu ingin menghabiskan waktu denganmu, Sayang."


“Apa Ayah tidak ingin membawaku ke Tembok Berlin?”


Ayah hanya terdiam. Beliau mengalihkan tatapannya pada makanan di meja samping tempat tidurku. Beliau hanya menghembuskan nafas panjang. Maafkan aku Ayah karena tidak menjaga kesehatanku sendiri. Aku tahu seharusnya aku lebih menjaga dan lebih memilih kesehatanku daripada orang lain tapi aku juga menginginkan untuk melakukan banyak hal yang telah orang lain lakukan.


“Tembok Berlin? Ayah tidak akan membiarkanmu ke sana. Ayah hanya akan membiarkanmu bersama Kevin sepanjang hari.”


“Kenapa Kevin? Kenapa bukan Ayah?”


“Maafkan Ayah. Sekarang Ayah harus pergi. Habiskan makananmu.”


Ayah mengecup keningku. Aku tidak tahu lagi bagaimana perasaan ayah saat ini. Beliau menghadapiku sebagai seorang ayah dan seorang dokter. Beliau tidak pernah ingin memvonis hidup anaknya sendiri karena aku tahu di dalam dasar hatinya, ayah tetaplah seorang Ayah yang menginginkan hidup anaknya untuk waktu yang panjang.


Kumasukkan earphone ke dalam telingaku. Alunan musik klasik mulai mengisi pikiranku. Hanya dengan cara ini aku bisa bersenang-senang. Aku tidak tahu bagaimana lagi menikmati hidupku jika untuk berpergian saja dilarang. Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah mencoba menikmati hidup dalam penjara rumah ini.


Tok.. Tok..


Aku mendengar suara ketukan pintu itu tetapi aku tidak berniat menanggapinya. Aku hanya memejamkan mata dan terus mendengarkan musik klasik. Suara ketukan itu kembali terdengar, aku terus berpura-pura tidak mendengarnya dan berpura-pura tidak mengetahuinya. Itu sama dengan yang kulakukan saat mengetahui vonis yang Ayah berikan padaku. Aku berpura-pura tidak mendengar padahal aku mendengarnya dengan sangat jelas. Aku berpura-pura kuat padahal aku ingin menangis. Aku berpura-pura menerima semua ini padahal aku ketakutan.


“Sampai kapan kamu akan terus berpura-pura tidak mendengar langkah kakiku?”


Dia tahu. Kulepaskan earphone dari telingaku dan menatap ke arah laki-laki di depanku ini. Dia sedang tidak menatapku tapi menatap makanan di meja. Dia sama seperti ayah, hanya menghembuskan nafas panjang.


“Darimana kamu tahu jika aku berpura-pura?”


“Bukankah itu yang selalu kamu lakukan? Berpura-pura jika kamu baik-baik saja.”


Kevin duduk di sampingku. Dia mengambil earphone dan handphone milikku. Dia menaruhnya di dalam saku jaketnya. Aku hanya melihat semua itu tanpa berkomentar. Kevin kembali menatapku. Dia hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutku.


“Kamu ingin jalan-jalan?”


“Ke taman? Aku bosan. Lebih baik di dalam kamar sembari mengisi ulang tenaga.”


“Ke apartemen Ken?”


“Tidak mungkin bisa.”


Tanpa menunggu persetujuanku, Kevin mengangkat tubuhku. Lagi-lagi dia lebih memilih mengangkat tubuhku daripada membawaku dengan kursi roda. Aku hanya mengamati wajah Kevin, dia memiliki wajah yang bagus. Kevin memang memiliki wajah yang cukup tampan tetapi rahangnya sangat suka mengeras. Dia seperti seseorang yang sedang menahan amarahnya dan siap melayangkan pukulan kepada siapa saja yang mengusik amarah itu.


Kevin terus melangkahkan kakinya menuju halaman depan. Dia tidak meminta persetujuan dari Ayah untuk membawaku keluar. Tidak mungkin Kevin akan bertindak seceroboh ini. Jika Ayah tahu, Kevin bisa dalam masalah.


“Kamu tidak meminta izin kepada Ayah?”


Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia menghentikan langkahnya di depan pintu mobil. Kubuka pintu mobil itu dan Kevin meletakkanku di kursi depan. Tidak biasanya dia melakukan hal ini, biasanya dia meletakkanku di kursi belakang agar aku bisa tidur. Dia memakaikan sabuk pengaman. Aku bisa melakukan itu sendiri, kenapa dia melakukan semua hal untukku termasuk hal yang bisa kulakukan sendiri?


“Aku sudah meminta izin. Paman mengizinkanku membawamu pergi.”


“Apa? Kenapa Ayah tidak memberikanku izin untuk pergi ke Tembok Berlin?”


“Kenapa kamu tidak pernah mau melihat kondisi tubuhmu saat ini?”


Aku hanya terdiam. Kualihkan pandanganku dari Kevin. Dia menutup pintu mobil dan masuk ke kursi pengemudi. Selama perjalanan hanya diam yang muncul. Aku dan dia sama sekali tidak berusaha membuka percakapan.


Apa mungkin aku yang terlalu egois hingga untuk membuka percakapan saja tidak kulakukan? Entahlah.


Saat ini kami berdua sudah sampai di depan apartemen Ken, tapi Kevin tetap diam membisu di kursi tempatnya duduk. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengangkatku. Aku terus menatap ke arah Kevin. Dia menjadi sangat pendiam. Aku sangat takut ketika dia hanya diam. Dia kembali mengeraskan rahangnya. Dia sama sekali tidak mengalihkan wajahnya untuk menatapku.


“Apa kamu marah?”


“Aku marah pada diriku sendiri bukan padamu.”


“Kenapa kamu marah pada dirimu sendiri? Kamu seharusnya marah padaku.”


“Kenapa aku harus marah padamu? Semua ini salahku, seharusnya aku bisa mengendalikan emosiku dan juga seharusnya aku mencoba untuk lebih memahamimu, selama ini aku mengira telah memahamimu tapi aku salah, aku hanya memahami dimana kamu adalah penderita penyakit jantung tapi aku tidak memahami dimana kamu adalah seseorang yang kucintai. Dan juga, maafkan aku.”


Kugenggam erat tangan Kevin. Tangannya sangat dingin. Perlahan raut wajahnya berubah. Aku tahu semua ini salahku. Aku tidak pernah memberi satu kesempatanpun pada Kevin untuk lebih memahami diriku. Aku tidak memikirkan perasaan Kevin yang juga terluka dengan vonis itu. Hubungan yang Kevin dan aku miliki bukan lagi hubungan cinta anak kecil. Seharusnya aku lebih dewasa. Tidak hanya menggunakan perasaanku tapi juga pemikiranku yang rasional.


“Tidak, itu memang yang harus kamu lakukan, Fanya.”


“….”


“Apa kamu ingin aku mengangkatmu atau kamu ingin aku mendorong kursi roda?”


“Aku lebih memilih kamu mengangkatku.”


Kevin hanya tersenyum. Seharusnya aku sadar dari kejadian minggu lalu. Seharusnya aku bisa lebih memahami semua yang diinginkan orang-orang yang mencintaiku. Kematian, keegoisan, dan kemalangan yang terus aku permasalahkan.


Kenapa aku mempermasalahkan hal yang belum terjadi dan hal yang sudah terjadi?


Kenapa aku tidak fokus pada masa sekarang?


Aku tidak boleh mengubur semua harapanku untuk tetap hidup. Selama ini aku melepas harapan itu hanya karena ketakutanku. Aku takut meninggalkan orang-orang yang kucintai tanpa tahu jika orang-orang yang kucintaipun takut kehilanganku. Aku egois karena aku selalu berpikir tentang diriku, selalu memahami perasaankulah yang penting. Tapi, aku tidak pernah mencoba memahami dan merasakan perasaan yang dirasakan orang lain.


Tuhan, kumohon biarkan aku kembali memegang harapan itu. Harapan yang telah aku pegang selama ini dan harapan yang telah Engkau jaga. Kumohon, biarkan sekali ini saja aku memegang harapan yang sama karena aku tahu selama ini aku selalu meminta harapan yang berbeda, tapi mulai sekarang harapanku akan tetap sama. Biarkan aku meninggalkan banyak kenangan bahagia untuk mereka, aku tidak peduli jika Engkau memintaku kembali pada-Mu tapi kumohon biarkan aku merekam semua kenangan yang kumiliki sebelum aku meninggalkan mereka dan juga kumohon pada-Mu jangan biarkan tangis air mata jatuh hanya karena kepergianku. Itu harapan yang sama dengan yang aku buat enam bulan yang lalu, aku percaya pada-Mu Tuhan, Kamu selalu mendengar semua doa dan harapan hamba-Mu dan akan melepaskan semua doa dan harapan itu di waktu yang tepat. Aku percaya pada-Mu Tuhan, Engkau tahu yang terbaik untuk hidupku. Dan, Tuhan terima kasih telah memberikanku hidup selama ini.


...-----...


Ken dan Stephanie diam menatap ke arahku dan Kevin. Aku tidak ingin berkomentar apapun tentang semua ini. Aku hanya terkejut, bagaimana mungkin seorang Ken bisa melakukan hal itu. Saat aku dan Kevin datang, Ken dan Stephanie sedang berpelukan dan berciuman. Dan yang paling aneh, kenapa Ken tidak mengganti password apartemennya? Kenapa masih menggunakan password yang dulu? Disaat dia tahu semua orang rumah bisa masuk dengan password itu.


Kevin melangkahkan kakinya menuju lemari es. Dia mengambil gelas dan menuangkan air es ke dalamnya. Aku hanya duduk diam di ruang makan tanpa tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin mengganggu kemesraan mereka berdua saat ini. Lebih baik aku mengajak Kevin pergi dari apartemen ini.


“Ini semua tidak seperti yang kamu lihat,” ucap Stephanie.


Hanya kebingungan yang hinggap di kepalaku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jika aku bilang tidak melihat apapun sama saja aku mengakui melihat semuanya. Kevin meletakkan gelas di samping tanganku. Dia duduk dan menatap tajam ke arah Ken.


“Oke. Aku dan Kevin akan melupakan apa yang baru saja kami lihat,” ucapku.


“Dengar, aku sama sekali……..”


“Aku dan Stephanie berpacaran. Maafkan aku, Fanya. Aku masih membutuhkan waktu untuk menjadi kakakmu yang dulu. Tidak bisakah kamu membiarkanku hidup dengan tenang hanya untuk beberapa bulan?”


Stephanie memukul kepala Ken. Seperti yang aku duga, Stephanie bukan hanya tertarik dengan Ken, dia juga tertarik denganku. Dia ingin mendekatiku tapi cara yang dia gunakan salah. Sekarang aku merasa lega karena telah memilih Stephanie untuk Ken. Aku tidak akan pernah menyesal, setidaknya aku bisa menebus satu kesalahan dan waktu yang telah aku minta dari Ken.


“Ken, apa harapanmu?”


“Harapan?”


“Setiap orang pasti memiliki harapan. Apa harapanmu?”


“Aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengan Stephanie.”


“Hmmmm,” ucap Kevin memecah keheningan.


“Baiklah. Kevin, ayo kita pergi. Kita hanya akan mengganggu mereka.”


Kevin mengalihkan pandangannya. Dia menatapku dengan tatapan yang paling aku benci, tatapan kosong. Walaupun aku tahu maksud tatapan mata miliknya saat ini adalah tidak percaya aku meminta pergi tapi aku tetap membenci tatapan itu karena jika dia menatapku dengan tatapan kosong sama halnya dia tidak mengakui keberadaanku. Aku hanya ingin dia menatapku dengan penuh kelembutan.


“Tunggu, kamu tidak harus pergi, Fanya.”


Hanya senyuman yang bisa aku berikan pada Stephanie. Aku memegang tangan Stephanie yang sangat dingin. Sepertinya dia ketakutan atau mungkin dia khawatir karena kedatanganku. Dia tidak harus seperti ini, aku yang memintanya untuk bersama Ken.


“Kamu sudah mendengar harapan Ken, kamu harus memenuhi harapan itu. Jika tidak, aku akan kembali merebut Ken darimu,” ucapku.


Seseorang memasang earphone di telingaku. Kualihkan wajahku dan menatap Kevin, dia hanya terdiam. Dia membungkukkan tubuhnya dan mengangkat tubuhku. Walau hanya sebentar, aku bisa melihat tatapan Ken yang tidak menginginkan kepergianku.


Kenapa dia harus berpura-pura seperti ini? Jika dia ingin aku tetap berada di apartemennya, dia bisa mengatakan itu seperti yang Stephanie katakan. Aku benci harga diri yang Ken miliki, terlalu besar dan terlalu tinggi untuk bisa kuraih. Bahkan mungkin, untuk menggapainyapun aku tidak akan bisa.


Kuletakkan kedua tanganku ke leher Kevin. Kevin terkejut, dia langsung menatap ke arahku. Kevin terus diam, dia tidak berkomentar apapun. Ada apa dengannya? Dia sudah meminta maaf kepadaku tapi kenapa lagi-lagi dia hanya diam membisu?


“Kevin, apa harapanmu?”


“Apa itu penting?”


“Lupakan, ayo pulang. Aku lapar.”


Ya. Harapanmu sangat penting untukku tetapi aku tidak bisa mengatakan hal itu padamu karena aku tahu jawaban apa yang akan kamu berikan adalah harapan yang juga aku inginkan, harapan yang tidak pernah terucap di mulutku.


...-----...