
Tok..tok
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Sarah menjulurkan wajahnya begitu melihatku selesai menutup novel. Dia berjalan ke arahku yang sedang berada di depan meja rias. Tangannya penuh dengan barang belanjaan. Dia meletakkan tas-tas belanjaan di tangannya ke lantai dan langsung memelukku.
"Aku merindukanmu. Berbelanja hanya dengan ibu dan Stephanie sangat tidak seru."
"Bukankah ada Ken dan Bobby?"
"Hah?! Sudah pasti mereka menunggu di restoran dan jika mereka ikut bersama kami sudah pasti tambah tidak seru."
Sarah mendorong kursi rodaku menuju tempat tidur. Dia membantuku berdiri dan mendudukkanku di atas tempat tidur. Dia langsung berlari kecil mengambil tas-tas belanjaan yang dia letakkan di lantai. Dia menaruh semua belanjaan itu ke atas ranjang. Dia langsung mengeluarkan semua barang dari dalam tas, banyak pakaian bayi dan mainan bayi yang sekarang berserakan di atas tempat tidurku.
"Lucu bukan? Aku yakin jika kamu ikut belanja, kamu akan memilih banyaaaaaaaak pakaian dan mainan."
Aku mengambil salah satu pakaian berwarna merah muda dan memandangi pakaian lainnya. Aku ingin bisa memakaikan pakaian itu kepada anakku walaupun hanya satu kali. Aku ingin melihat anakku memakai pakaian ini. Aku terlalu bodoh untuk kembali membuat hatiku berharap pada sesuatu yang kemungkinan kecil akan terjadi. Aku harus berhenti membuat hatiku mengharapkan sesuatu yang tidak akan bisa aku dapatkan. Cukup anakku bisa terlahir dengan selamat sudah membuatku bahagia. Aku tidak boleh serakah menginginkan hal lainnya.
Sarah menatapku seakan meminta pendapat untuk pakaian dan mainan yang dia pilih. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum. Senyuman lebar langsung menghiasi wajahnya begitu melihat senyumku. Dia mendekat ke arah dan mengelus lembut perutku. Sarah langsung menatapku terkejut begitu satu tendangan terasa. Dia menatapku tidak percaya seolah tendangan bayi dalam kandunganku adalah hal mustahil.
"Bayinya menendang, kamu baik-baik saja?" tanyanya terkejut.
"Tentu, ini bukan kali pertama dia menendang."
"Benarkah?" tanyanya sembari kembali meletakkan tangannya ke atas perutku.
Wajah Sarah saat ini penuh dengan rasa ingin tahu. Dia terus mengelus perutku dengan lembut dan matanya berbinar-binar seolah menunggu tendangan berikutnya. Dia terus melakukan hal itu selama 5 menit sebelum akhirnya menyerah karena bayi dalam kandunganku tidak menendang lagi.
"Ohh, Ken, bayinya menendang. Kamu tahu?"
Sarah langsung meloncat dari tempat tidurku dan berlari menuju Ken yang juga sedang berjalan ke arah kami dengan tangan penuh belanjaan. Aku kira belanjaan yang baru saja Sarah bawa adalah seluruh belanjaan yang ibu, Sarah, dan Stephanie beli. Sepertinya aku salah.
"Tentu saja bayi bisa menendang," ucap Ken sembari mendorong tubuh Sarah.
Ken melihat kasurku yang sudah penuh dengan pakaian dan mainan bayi. Dia menatapku sekilas yang aku balas dengan tatapan bingung. Detik berikutnya Ken mengeluarkan semua belanjaan yang dia bawa dan kembali menambah berantakan tempat tidurku.
"Dariku dan Bobby."
Aku terdiam mengamati pakaian dan mainan lucu yang baru Ken tumpahkan ke atas tempat tidurku. Sarah yang hendak membalas dorongan Ken ikut terdiam bersamaku dan berjalan mendekati kami. Sarah mengambil beberapa pakaian dan membandingkannya dengan pakaian yang dia beli. Aku bisa membaca apa yang Sarah pikiran saat ini, kedua pakaian di tangannya sama lucunya. Dia tidak yakin jika seorang Ken dan Bobby bisa memilih sesuatu yang lucu seperti pakaian yang sekarang ada di tangannya.
Ken menatapku seolah bertanya, apakah aku bahagia?
Aku bahagia karena Sarah dan Ken akan menjadi ibu dan ayah pengganti yang baik untuk anakku. Aku bahagia anakku akan mendapatkan kasih sayang yang sama besarnya denganku. Aku bahagia anakku tidak akan kehilangan sosok ibu dan ayah dalam hidupnya. Aku hanya tidak bahagia karena ibu dan ayah kandungnya tidak bisa memberikan apapun untuknya saat ini. Aku tidak bahagia karena pakaian dan mainan pertama yang akan dikenakan anakku bukan dariku ataupun dari Kevin. Aku tidak bahagia karena untuk kali pertama dalam hidup anakku, dia akan menggunakan pemberian paman dan bibinya.
"Kalian akan memakaian pakaian ini untuknya," ucapku.
"Kamu juga akan memakaikan pakaian ini kepadanya," balas Sarah yang masih sibuk melihat pakaian dan mainan yang dibeli oleh Ken dan Bobby.
Hanya senyum yang bisa aku berikan. Ken mengangkat tubuhku dan menaruhku ke atas kursi roda. Dia mengambil jaket dari dalam lemariku dan langsung mendorong kursi rodaku meninggalkan ruangan. Sarah baru menyadari kepergian kami begitu kami sampai di depan pintu.
"Aku ingin mengajak Fanya jalan-jalan. Jangan lupa rapikan tempat tidurnya," ucap Ken begitu melihat Sarah hendak turun dari tempat tidur menyusul kami.
"Ken!!! Kamu sengaja karena tidak ingin membereskannya!!" teriak Sarah membuat Stephanie yang berada di luar berjalan ke kamarku. Sepertinya Stephanie akan membantu Sarah membereskan kekacauan di kamarku.
"Ken ingin mengajak Fanya jalan-jalan di taman. Tidak masalah bukan?"
Ternyata Ken ingin meminta izin kepada ayah. Ayah hanya mengangguk. Aku melihat ke arah Kevin yang saat ini meletakkan tumpukan kertas di tangannya ke atas meja dan berjalan ke arahku. Dia menatap lembut ke arahku dan menatap sekilas perut buncitku sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas dengan pelan. Dia mencium keningku dan menepuk pundak Ken, memberi tanda jika Ken boleh mendorong kursi rodaku kembali.
"Kamu akan meninggalkanku dengan seseorang yang sangat mirip denganmu," ucap Ken begitu kami sampai di taman.
“Bagaimana jika ternyata dia mirip dengan Kevin?” balasku jahil.
Ken melangkahkan kakinya menjauhiku tanpa mencoba menjawab pertanyaanku. Dia memetik beberapa bunga yang ada di taman. Dia bahkan merangkai bunga itu menjadi sebuah mahkota dan buket bunga sederhana. Dia masih memiliki keterampilan itu ternyata.
Saat kami masih kecil, sekitar sekolah dasar, saat itu kelas seni dan kami disuruh membuat sebuah mahkota bunga. Kami yang membuat mahkota diharuskan memberikan mahkota buatan kami kepada orang lain, bisa saudara atau orang tua atau orang yang mereka sukai. Banyak perempuan di kelasku yang mendapatkan mahkota dari laki-laki lain tetapi tidak ada satupun yang memberikanku mahkota bunga buatan mereka, entah karena sifatku yang pemalu saat itu atau memang karena tidak ada yang menyukaiku. Sejak saat itu, Ken berlatih membuat mahkota dan buket bunga sederhana untuk diberikan kepadaku. Dia tidak ingin aku merasa tidak ada laki-laki yang memilihnya dan mencintainya.
Ken masih sibuk dengan bunga-bunga di tangannya. Aku hanya mengamati jemari tangannya yang masih mengingat detail cara membuat mahkota. Aku bahkan sudah melupakan bagaimana cara membuat mahkota dari bunga dan mungkin saat aku masih kecil keterampilanku kalah dengan Ken. Sudah 10 menit berlalu hingga akhirnya Ken kembali berjalan ke arahku. Dia memakaikan mahkota bunga ke atas kepalaku dan memberikan buket bunga kepadaku. Dia juga menaruh mahkota bunga kecil ke atas perutku.
"Terima kasih karena tidak melupakan malaikat kecil di perutku," ucapku setelah mahkota bunga menghiasi perut buncitku.
Ken terus menatapku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia menjongkokkan tubuhnya dan memegang kedua tanganku, tangan yang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Ken menundukkan kepalanya ke bawah, menghela nafas untuk beberapa kali, dan kembali mengangkat wajahnya menatapku dengan sebuah senyum yang cukup dia paksakan.
"Dulu aku mengira kamu akan meninggalkanku kepada Stephanie tetapi siapa sangka sekarang kamu akan meninggalkanku dengan seseorang yang sebagian dalam dirinya ada dirimu. Aku harus bagaimana jika melihat dirimu di dalam dirinya dan menjadi seseorang yang sangat posesif?"
"Maka jadilah seseorang yang posesif karena sebagian dalam dirinya akan menyukai keposesifanmu."
"Fan."
"Hmmm?"
"Terima kasih sudah bertahan selama ini. Terima kasih sudah hidup selama ini."
"Ada apa denganmu, Ken?"
"Kenapa kamu hanya mengatakan sakit dan tidak sanggup kepada ibu dan Sarah? Bagaimana denganku? Apa aku tidak boleh tahu rasa sakitmu?"
"Ken...."
"Kamu seharusnya mengatakan hal itu juga kepadaku sehingga aku tidak akan memaksamu untuk tetap hidup. Aku tidak akan memintamu untuk bertahan. Aku tidak akan memohon agar kamu terus bersamaku. Jika aku tahu rasa sakit yang kamu rasakan sebesar itu, aku tidak akan seegois ini. Jika kamu memberi tahu rasa sakit yang kamu rasakan kepadaku, kepada ayah, dan kepada Kevin, maka kami tidak akan menahanmu, Fanya. Kenapa kamu tidak mengatakan apapun dan membuatku kembali menjadi seorang kakak yang egois?"
"Aku tidak ingin membuat harapan kalian hilang begitu saja. Ayah sudah merasakan sakit hati yang luar biasa saat aku lebih memilih Paman Frank dan meninggalkan ayah begitu saja, hanya harapan agar aku bisa hidup dalam waktu lama yang selalu mengisi hati ayah. Kamu selalu menjaga jarak denganku setelah kejadian di Heidelberg dan tidak pernah lagi memiliki harapan apapun selain hidupku. Kevin sudah merasakan kehilangan diriku saat dimana dia mengetahui kebenaran tentang penyakitku dan harapan satu-satunya dalam hidupnya adalah hidupku. Bagaimana bisa aku menghancurkan harapan itu? Rasa sakit yang aku rasakan tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang telah dan akan kalian rasakan. Aku tidak bisa membiarkan kalian merasakan rasa sakit sebelum kalian berusaha untuk menggapai harapan itu. Rasa sakitku bukan hal yang sebanding dengan rasa sakit yang kalian rasakan selama hidup kalian karenaku, Ken. Aku baik-baik saja."
“….”
“Ken?” panggilku begitu Ken hanya diam menatap lembut mataku.
"Aku berjanji akan memakaikan pakaian kepada malaikat kecilmu, aku berjanji akan bermain dengannya, aku berjanji akan memberikan kasih sayang seorang ayah kepadanya, dan aku berjanji akan membuat ayah dan Kevin mencintai malaikat kecilmu."
"Dia juga malaikat kecilmu, Ken. Dia malaikat kecil kita."
Ken memelukku dengan erat. Sangat erat hingga aku merasa sangat sesak. Aku hanya bisa membalas pelukannya, pelukan yang mungkin tidak akan bisa aku rasakan lagi kehangatannya. Pelukan yang mulai saat ini akan dirasakan oleh anakku.
"Terima kasih, Ken. Aku mencintaimu."
...-----...