H(Our)S

H(Our)S
Musim Dingin



Udara di luar sangat dingin. Jaket tebal yang aku kenakan belum cukup menghangatkan tubuhku. Ken menatap ke arahku was-was, ini keputusanku untuk mengajaknya berjalan-jalan tetapi aku rasa dia tidak menikmatinya. Aku hanya ingin menghirup udara luar. Aku sudah bosan terus menerus terkurung di dalam rumah tanpa mencoba keluar mencari sebuah kesejukan.


“Kamu tidak kedinginan?” tanyanya membuatku langsung menggeleng.


“Ken, apa kamu tahu kenapa aku membenci musim dingin?” tanyaku setelah Ken memberikan hot pack kepadaku.


“Karena kamu bisa jatuh sakit kapanpun kamu keluar dari rumah.”


Untuk kedua kalinya sebuah gelengan kepala yang aku berikan kepada Ken. Kulirik jam tangan di tangan Ken. Sekarang pukul satu siang dan salju sudah mulai turun. Satu salju mengenai jaket yang aku kenakan. Ken langsung melepas jaket yang dia pakai dan berusaha memakaikannya kepadaku.


“Aku baik-baik saja, Ken. Kamu bisa sakit jika terus melepas jaketmu seperti ini.”


“Lalu kenapa kamu membenci musim dingin?” tanyanya dengan tetap memakaikan jaketnya ke tubuhku. Dia menggenggam tanganku dan memasukkan tangan kiriku ke saku jaket miliknya. Aku lupa jika Ken memakai dua jaket. Sekarang dia sudah sedia payung sebelum hujan. Sepertinya dia belajar banyak dari pengalaman musim dingin denganku.


“Aku takut bukan hanya tubuhku yang menjadi dingin tetapi juga hatiku. Aku lebih takut saat hatiku menjadi dingin. Saat itu aku tidak memiliki harapan apapun untuk hidup. Saat musim dingin berlangsung aku selalu menyesali takdirku. Aku ingin menghentikan semua usahaku dan usaha kalian semua untuk kesembuhanku. Itulah kenapa aku membenci musim dingin.”


“Fanya, saat hatimu menjadi dingin akan selalu ada penghangat untuk hatimu. Dan, aku yakin penghangat itu ayah, ibu, Sarah, dan Aku. Semua akan baik-baik saja, kamu bisa mulai menyukai musim dingin. Jangan membenci sesuatu hanya karena kamu takut sesuatu itu akan membuat hatimu berubah. Jangan pernah lakukan itu karena suatu saat kamu pasti akan menyesal. Tersenyumlah dan hadapi sesuatu itu dengan tawa bahagia, maka semuanya akan baik-baik saja.”


Ken melepaskan genggamannya. Dia berdiri dan mengambil beberapa salju yang jatuh tepat di atas kepalaku. Dia membersihkan semua salju yang jatuh di tubuhku. Dia bahkan tidak mempedulikan banyaknya salju yang sudah berada di atas kepalanya.


Kuulurkan tanganku untuk menjangkau kepalanya dan membersihkan salju di atas rambutnya. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya Ken bisa menikmati setiap musim dengan orang yang dia cintai. Seharusnya Ken bisa berkencan dengan wanita yang dia cintai, bukan hanya menjagaku. Bukan hanya merawat dan menjagaku.


“Ken?”


“Hmm?”


Dia masih sibuk membersihkan salju-salju di rambutku. Dia tidak mengalihkan pandangannya untuk menatapku. Dia selalu fokus pada satu hal dan aku sangat membenci kefokusannya itu.


“Kenapa kamu tidak mencoba berkencan?”


Sekarang Ken menatap mataku. Dia tersenyum dengan senyuman khasnya. Senyuman yang tidak pernah dia berikan kepada wanita lain. Senyuman yang hanya dia berikan untuk keluarganya saja. Dan senyuman yang selalu ingin kutanyakan ketulusannya.


“Sekarang aku sedang berkencan denganmu.”


“Ken, bukan itu yang aku maksud. Banyak perempuan diluar sana yang ingin dekat denganmu. Bahkan banyak yang menghujat ataupun mengutuk hidupku karena kamu lebih sering menghabiskan waktumu denganku. Kamu bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.”


“Aku sudah merasakan cinta. Aku mencintaimu, Fanya. Dan, aku akan mencintai perempuan lain saat aku yakin kamu sudah memiliki orang yang pantas untuk menggantikan posisiku. Aku akan setia mencintai adik kembarku ini sampai adik kembarku yang satu ini bisa menemukan laki-laki yang pantas untuknya.”


“Lalu bagaimana dengan adik kembarmu yang satu ini?”


Aku dan Ken langsung menatap ke arah sumber suara, Sarah. Ken hanya mengacak-acak rambut Sarah. Sarah membalas Ken dengan sebuah pukulan yang cukup erat. Aku sangat tahu, bagi Sarah rambut miliknya sangat berarti. Sebenarnya berarti karena sebentar lagi dia akan berkencan.


“Kalau adik kembarku yang satu ini sudah mengkhianati cintaku,” balas Ken dengan nada pura-pura sedih.


“Hehehehe… maafkan aku, aku tidak bisa mengatur hatiku saat jatuh cinta,” sahut Sarah dengan nada pura-pura menyesal.


“Dan ini payung yang kamu minta. Kalian ini pergi ke taman tetapi tidak membawa payung. By the way.. kalau dilihat-lihat lagi kalian memang seperti sepasang kekasih jika dilihat dari belakang tetapi jika dilihat dari depan pastinya semua orang akan tahu kalau kalian berdua hanya saudara,” lanjutnya.


“Itu sama sekali tidak membantu,” timpal Ken.


Hanya cengiran dan cekikikan khas milik Sarah yang dia berikan. Sarah duduk di sampingku. Dia memegang erat lenganku. Sungguh, dia sangat berbeda denganku. Dia sangat enerjik dan tentunya dia memiliki banyak hal yang sudah dia lakukan.


“Fanya, aku mencintaimu. Aku akan membiarkanmu pergi ke Heidelberg tetapi ingat kamu harus selalu memberiku kabar.”


Ken juga kembali menggenggam erat tanganku. Rasanya sangat nyaman duduk diantara dua saudara kembarku ini, rasanya sangat hangat. Aku berharap waktu berhenti di sini dan membiarkanku menikmati setiap kenangan yang kubuat dengan Ken maupun Sarah. Jika saja sang waktu mengerti perasaanku mungkin sang waktu akan memberikan waktunya untukku. Sayang, sang waktu ada bukan hanya untukku. Sang waktu juga ada untuk ratusan juta manusia di belahan bumi ini dan aku tahu sang waktu tidak bisa memberikan waktu miliknya secara cuma-cuma karena setiap waktu yang sudah berlalu, sedang terjadi, dan akan terjadi sangatlah mahal harganya, tidak bisa tergantikan oleh apapun.


“Sarah, pergilah. Kamu hanya menjadi gulma diantara aku dan Fanya,” balas Ken diikuti pukulan lembut ke bahunya oleh Sarah.


“Well, aku menjadi gulma dan kamu menjadi hama.”


“Pergilah. Jangan membuat Bobby kecewa denganmu. Dan.. bersihkan warna merah di bibirmu. Kamu seperti seorang ibu muda yang akan menjemput anaknya,” ucapku.


Seketika itu juga Sarah mengambil cermin dari dalam tasnya dan mulai menghapus lipstick merah tebal dari bibirnya. Aku lebih menyukai Sarah yang tampil alami dibandingkan menggunakan full make up. Kecantikan alami lebih baik dan lebih elegan daripada kecantikan karena make up. Semua itu hanya menurutku karena aku yakin setiap orang memiliki definisi kecantikan yang berbeda-beda.


“Bagaimana?”


“Lebih cantik dibandingkan sebelumnya,” jawabku.


“Oke, bye bye. Sampai jumpa saat makan malam.”


“Kamu mau meminum secangkir cokelat panas?” tanya Ken begitu Sarah menghilang masuk ke dalam mobil Bobby.


Hanya anggukan yang aku berikan sebagai jawaban. Sudah lama aku tidak minum cokelat panas. Lagipula, udara dingin seperti ini sangat cocok dengan cokelat panas. Ken membantuku berdiri dan memayungiku sepanjang jalan menuju rumah.


...-----...


“Sarah!!! Kita bukan pindah. Ini hanya liburan biasa. Ibu, Ayah, lihat kelakuan Sarah!!” teriak Ken dari dalam kamar.


Teriakan Ken membuatku, ibu, dan ayah saling berpandangan. Ken berlari menuruni tangga. Wajahnya sangat merah. Satu hal yang pasti, jika wajah Ken memerah itu artinya dia marah atau malu. Aku rasa sekarang Ken sedang marah melihat teriakan yang baru saja keluar dari mulutnya. Kulihat Sarah yang sekarang menuruni tangga dengan santai. Dia menjilat es krim ditangannya. Aku tahu, dia pasti telah melakukan suatu hal buruk kepada Ken. Sesuatu yang sangat menyebalkan dan pastinya sangat dibenci Ken.


“Ken, apa perlu Ayah tulis peraturan agar tidak berteriak di dalam rumah?” ucap ayah dengan serius.


Seketika itu juga semua tatapan tertuju ke ayah. Wajah ayah sekarang berubah serius, membuat Sarah yang tadinya menuruni tangga dengan santai sekarang wajahnya berubah tegang begitu pula dengan Ken. Ibu hanya berdeham dan meletakkan majalah yang sedari tadi sedang beliau baca sembari menikmati secangkir teh dan sepiring kue. Aku tahu setelah ini ayah akan memarahi kedua saudara kembarku itu.


“Fanya, ayo ke kamar. Kita bereskan barang yang akan kamu bawa,” ucap Ibu seolah sudah tahu apa yang akan menanti Ken dan Sarah.


...-----...


Kupejamkan mataku sejenak. Udara sejuk ini membuatku ingin tidur. Ken masih berada di dalam rumah. Lebih tepatnya Ken dan Sarah masih berada di dalam ruang kerja ayah. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka tetapi satu hal yang pasti teriakan Ken tadi mendapat peringatan dari ayah dan sudah pasti Ken akan mendapat teguran keras dari ayah untuk tidak mengulanginya lagi.


Aku rasa semua itu salahku. Selama ini, segala bentuk teriakan selalu dilarang di dalam rumah. Walaupun saat ayah dan ibu tidak ada di rumah, biasanya Sarah berteriak memanggil pelayan untuk membantunya mencari baju. Selama ini teriakan Sarah tidak pernah mengganggu kesehatan jantungku. Begitu pula dengan teriakan Ken tadi, aku sama sekali tidak terkejut. Mungkin dimata ayah yang seorang dokter, teriakan itu akan membawa dampak negatif bagiku. Entahlah, aku tidak ingin memikirkan hal ini lagi.


Sebaliknya, Universitas Ruprecht Karl Heidelberg, sebenarnya siapa yang Ayah maksud berada di universitas itu?


Aku tidak memiliki kenalan disana begitu pula dengan Ken. Aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh, cepat atau lambat semua pertanyaanku akan terjawab. Lebih baik saat ini aku memikirkan nasib tiket keberangkatanku yang bisa saja hangus melihat tinggal beberapa jam lagi keberangkatanku ke Heidelberg dan Ken masih berada di dalam rumah.


Kulangkahkan kakiku mendekati kuncup-kuncup bunga. Kuncup-kuncup bunga itu tertutup salju. Apakah kuncup-kuncup bunga itu tidak kedinginan?


Kurasakan seseorang memelukku dari belakang. Bau parfum ini. Sampai kapan dia akan terus memelukku dari belakang seperti ini? Pelukan yang sangat ingin kurasakan bersama orang yang kucintai bukan bersama kakak kandungku sendiri.


“Apa yang Ayah katakan?” tanyaku akhirnya menyerah karena Ken tidak melepas pelukannya.


“Banyak. Apa kamu sudah siap? Kita bisa berangkat sekarang. Oya, Sarah menitipkan permintaan maaf, dia tidak bisa mengantar kita ke bandara. Ayah menghukum dia.”


“Baiklah. Aku tidak akan menanyakan hukuman apa yang dia dapatkan karena sudah pasti bukan hukuman yang ringan. Ayo, kita berangkat.”


...-----...