H(Our)S

H(Our)S
Pertanyaan



“Bisakah kamu mencoba untuk lebih akrab dengan Stephanie?” tanya Ken.


Sarah dan Bobby langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Kevin yang saat ini masih menikmati makanannya. Aku paham bagaimana sulitnya Kevin untuk membuka dirinya kepada orang lain. Untuk membuka dirinya kembali kepada ayahnya saja membutuhkan waktu bertahun-tahun, apalagi dengan orang baru seperti Stephanie. Hal yang paling menyebalkan dari semua itu adalah Kevin yang bahkan tidak ingin mencoba untuk membuka hatinya. Seperti hatinya sudah tertutup untuk orang lain.


“Aku berbicara padamu.”


“Ken,” panggilku.


“Jangan membelanya. Kamu tidak lihat tadi betapa canggungnya mereka berdua saat menjemput kita?”


Sangat canggung.


Sejujurnya aku tidak tahu alasan Ken menyuruh Kevin membawa Stephanie untuk menjemput kami dari acara pernikahan Sabrina. Kevin pasti harus menjemput Stephanie di apartemennya untuk bisa membawanya. Kami sekeluarga juga sangat paham betapa canggung mereka berdua. Entah karena Kevin yang memang tidak ingin membuka hatinya atau Stephanie yang tidak ingin mencoba membuka hati Kevin. Sebenarnya mereka berdua memiliki sifat yang hampir sama.


Mendengar pertanyaan Ken membuatku yakin jika Ken sedang berusaha membuat perempuan yang dia cintai bisa diterima oleh semua orang. Aku tahu betapa keras usaha yang Ken lakukan terutama kepada Sarah dan Kevin, hanya mereka berdua yang menerima tetapi tidak mau berinteraksi lebih dengan Stephanie. Menurut Ken, membuat Kevin lebih akrab dengan Stephanie akan lebih mudah dibandingakan membuat Sarah akrab dengan Stephanie tetapi dia salah. Membuat keduanya akrab dengan Stephanie bukanlah hal yang mudah.


“Kami baik-baik saja.”


Jawaban Stephanie membuat Kevin menghentikan makannya. Dia terdiam dan langsung menatap ke arah Stephanie dengan canggung. Kevin menghembuskan nafasnya dengan pelan dan kembali terdiam. Diamnya membuat suasana menjadi lebih canggung.


“Benar, kami baik-baik saja,” ucap Kevin setelah hening selama 5 menit, begitu aku menendang kakinya.


Sungguh canggung.


“Beri mereka waktu,” ucapku akhirnya.


“Berapa lama?” tanya Ken ketus.


“Selamanya,” jawab Sarah.


Kami semua langsung terdiam mendengar jawaban Sarah. Sarah sepertinya tidak mengira akan mendapatkan respon seperti ini. Suasana saat ini lebih dari sekadar canggung. Bahkan Stephanie dan Kevin tidak mencoba membantah jawaban Sarah, mereka seolah setuju dengan pernyataan Sarah. Niat awal Sarah yang hanya bercanda ternyata merubah suasana diantara kami berenam menjadi sangat canggung dan hening.


“Oh… nice joke babe,” ucap Bobby mencoba menyelamatkan suasana yang sudah mati.


“Kami berdua pergi dulu.”


Ken langsung menarik tangan Stephanie yang masih asik mengambil makanan dari piringnya. Stephanie tersentak dan langsung mengambil jaket serta tasnya. Hanya senyuman yang aku berikan melepas kepergian mereka berdua.


“Maaf, aku tidak tahu…..”


“Tidak apa, kami baik-baik saja,” potong Kevin.


Kusenggol pelan lengan Kevin.


“Aku cuma bercanda kenapa reaksi Ken menyebalkan seperti itu.”


“Sarah, saat ini dunia Ken hanya berisi Stephanie.”


“Satu orang yang akan ditinggalkan dan satu orang yang akan menghibur orang yang ditinggalkan. Setidaknya kamu memiliki Bobby, jadi biarkan Ken memiliki Stephanie,” ucapku terhenti.


Kualihkan pandanganku pada Kevin yang sekarang terdiam dan hanya membalas tatapanku. Tatapan berisi satu pertanyaan yang hingga saat ini belum bisa aku tanyakan karena aku tahu Kevin akan langsung marah begitu aku menanyakan pertanyaan itu. Tapi, aku benar-benar ingin menanyakannya.


“Bagaimana denganmu? Apa kamu membutuhkan orang lain untuk mengisi rasa sedihmu, Kevin?" tanyaku membuat suasana bertambah canggung.


“…”


Hening.


Hanya bunyi detak jam yang terdengar mengisi ruangan ini. Kami terhanyut dalam pikiran kami. Sarah yang baru memahami arti seorang Stephanie bagi Ken. Bobby yang baru menyadari betapa perannya di masa depan akan mempengaruhi Sarah. Dan Kevin yang hanya menatap kosong ke arah piringnya. Aku tidak tahu apa yang sekarang ada di dalam pikirannya. Aku tidak bisa membaca pikirannya.


Kevin memberikanku kunci mobil miliknya dan berjalan pergi meninggalkan ruangan. Meninggalkan kesunyian yang semakin dalam. Dia tahu jika dia tidak memberikan kunci mobil kepadaku, dia akan pergi entah kemana untuk menenangkan dirinya dan meninggalkanku. Dia juga tahu jika dia tidak meninggalkan ruangan ini, amarah miliknya akan menguasai dirinya. Dan aku tahu seharusnya aku tidak pernah menanyakan pertanyaan itu.


“Fan," panggil Sarah pelan.


“Menurutmu kapan kita berhenti membahas semua hal tentang kematian dan kepergian?” tanyaku memotong ucapan Sarah. Aku tidak ingin mendengar apapun yang akan Sarah ucapkan padaku. Aku hanya tidak menyukainya.


“Paman Frank bilang kamu akan hidup lebih lama, Fan. Kamu tidak akan meninggalkan kita, kamu sudah melalui masa-masa menakutkan itu. Jadi….”


“Jika aku sudah melalui masa-masa menakutkan itu, kenapa kamu selalu mengabadikan setiap momen yang kita lalui? Apakah hanya aku yang harus melalui masa-masa itu dan kalian semua boleh untuk tetap berada di masa-masa itu?” potongku.


“Topik pembicaraan kita adalah Kevin dan Stephanie kenapa tiba-tiba berubah menjadi…..”


Kuamati Sarah yang tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Topik kecil berubah menjadi topik besar, sama halnya dengan kesalahan kecil yang tiba-tiba dibesarkan. Sarah merapatkan mulutnya dan menggigiti mulutnya. Hal yang selalu dia lakukan saat kesal.


“Aku akan meminta supir rumah menjemput Sarah dan aku. Aku…aku akan membawa Sarah pulang.”


Seperti yang aku harapkan, Bobby menyadari perubahan suasana hati Sarah dan langsung merapikan barang-barang milik Sarah setelah menelepon supir atau mungkin pengawalnya. Sarah menatapku, dengan tatapan tajam miliknya. Kali ini aku tidak akan selamat dari amarahnya selama satu minggu kedepan. Sudah bisa dipastikan Sarah akan mengabaikanku.


Bobby menatapku dan menganggukkan kepalanya. Aku ikut menganggukkan kepalaku sebagai balasan. Bobby dan Sarah perlahan berjalan meninggalkan ruangan ini, ruangan yang sekarang hanya menyisakanku dengan suara detak jam. Kembali kuambil sendok dan garpu, memulai kembali makan untuk ronde kedua. Aku baru makan sedikit ketika Ken memulai percakapan dan aku juga tidak makan banyak di pesta pernikahan Sabrina. Perutku kosong.


“Hanya itu yang bisa kamu lakukan saat ditinggalkan seorang diri?”


Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, atau lebih tepatnya mendengar suara berat yang sebelumnya meninggalkanku. Sepertinya Kevin melihat Bobby dan Sarah yang pergi, dia langsung berlari kembali ke ruangan ini melihat wajahnya yang memerah dan nafasnya yang sedang dia atur. Kevin melangkahkan kakinya mendekat ke arahku, dia ragu untuk sejenak. Aku tidak tahu apa yang membuatnya ragu.


“Ada apa? Aku kira kamu benar-benar meninggalkanku,” ucapku.


Tanpa menjawab pertanyaanku, Kevin langsung melangkahkan kakinya dan memelukku dari belakang. Keraguannya karena aku masih menyantap makanan di depanku, dia takut aku akan terkejut karena pelukannya dan melepaskan sendok berisi penuh makanan ke bajuku. Dia hanya tidak ingin mengotori pakaianku.


“Aku membencimu.”


“Aku juga membenci diriku.”


...-----...