H(Our)S

H(Our)S
Nama



"Kamu tahu jika 3 hari lagi kita akan mengeluarkan bayi yang ada di dalam rahimmu, bukan?"


"Dokter Claire?" panggilku, mengabaikan ucapan pertamanya.


"Ya?"


"Setelah Dokter mengeluarkan bayiku, bisakah Dokter langsung memberikannya kepada ibuku?"


Dokter Claire terdiam dan melihatku yang sedang sibuk melihat langit biru.


"Kenapa?" tanyanya setelah melihatku tetap diam menunggu jawaban darinya.


"Mencegah ibuku menangis begitu tahu kondisiku."


"Ada apa memangnya dengan kondisimu? Kamu bicara seolah saat ini kondisimu buruk."


Aku memutar kursi roda menghadap Dokter Claire yang sekarang terkejut melihatku tiba-tiba menatapnya. Dokter Claire meminta perawat yang sedang merapikan barang-barang miliknya untuk meninggalkan kamar ini. Beliau berjalan ke arahku dan menatap jauh ke dalam mataku. Kali ini aku membiarkannya melihat rasa sakit yang aku rasakan. Aku tidak ingin menutupinya lagi dengan kebahagiaan yang aku rasakan. Ada kalanya rasa sakit lebih bisa membuat orang lain memahami diriku dibandingkan kebahagiaan yang aku tunjukkan. Terkadang justru rasa sakit yang menghubungkan satu orang dengan orang lainnya.


"Terima kasih karena tidak menyerah kepada Fanya dan anak Fanya."


Dokter Claire langsung memelukku. Pelukan pertama setelah beberapa bulan menjadi dokterku. Dokter Claire sama halnya dengan ayah, selalu mencoba agar tidak terlalu terhubung dengan perasaan pasiennya karena tidak ingin merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat kehilangan pasiennya. Sesuatu yang selama beberapa bulan terakhir coba aku hancurkan. Aku rasa aku baru bisa menghancurkannya setelah memperlihatkan rasa sakitku yang sesungguhnya.


"Maafkan Dokter karena tidak bisa memberikan pilihan terbaik untukmu."


"Tidak, Dokter sudah memberikan pilihan terbaik dalam hidup Fanya dan karena itu Fanya akan meminta kepada Dokter untuk tidak mengubah pilihan yang telah Dokter berikan kepada Fanya. Selamatkan anak Fanya apapun yang terjadi."


"Maaf."


"Tante Claire, seperti yang Fanya katakan kepada yang lainnya, tidak ada yang salah dalam hal ini. Sekarang Fanya bicara bukan sebagai pasien Tante, tetapi sebagai keponakan Tante. Fanya akan baik-baik saja. Fanya sudah mempertahankan anak Fanya selama ini, Fanya tidak ingin semuanya sia-sia. Fanya sudah merasakan kebahagiaan terbesar dalam hidup Fanya, Fanya tidak akan menyesalinya. Tante juga tidak boleh menyesalinya."


Dokter Claire mengeratkan pelukannya seolah apa yang baru aku katakan telah menyakiti hatinya. Beliau terus memelukku hingga perawat di depan kamarku terus mengetuk pintu karena panggilan lain sudah terus menghubunginya. Aku mencoba melepaskan pelukan Dokter Claire dan hanya eratan yang semakin aku dapatkan. Baiklah, aku akan membiarkannya memelukku selama apapun itu.


^^^-----^^^


Wajah Kevin saat ini menunjukkan betapa lelah dirinya. Bahkan disaat tidur, wajahnya tidak menunjukkan semua lelah yang dia rasakan. Wajah yang sama dia tunjukkan saat sadar dan tidur. Aku kira saat seseorang tertidur, dia akan bisa bisa menunjukkan wajah aslinya, wajah lelahnya.


Apakah aku salah atau Kevin yang sangat mahir menyembunyikan wajah lelahnya bahkan dalam tidurnya?


Perlahan aku menyentuh wajahnya. Aku ingin meninggalkan setiap jejak diriku di dalam dirinya. Aku juga ingin merekam semua hal tentangnya ke dalam diriku. Seseorang yang mencintaiku dengan tulus, seseorang yang rela meninggalkanku untuk kebaikanku, seseorang yang bersabar tidak mencariku untuk ketenanganku, dan seseorang yang menyembunyikan keinginannya untuk kebahagianku. Aku harap dia akan menjadi seseorang yang paling bahagia setelah semua yang dialami olehnya. Dan aku harap dia bisa menemukan kembali cintanya di dalam diri anak kami.


Kevin memegang tanganku dan membuka matanya perlahan. Dia menatapku dengan tatapan sendu yang juga aku balas dengan tatapan sendu. Kami terus saling menatap hingga jam dinding berbunyi menandakan pukul 10 pagi.


"Aku punya sesuatu untukmu."


Kevin mengambil sesuatu dari dalam lemari. Dia memberikanku sebuah kotak besar. Matanya menyuruhku membuka kotak itu begitu dia duduk di hadapanku. Aku membuka perlahan kotak itu dan banyak pakaian dengan ukiran namaku dan namanya berada di dalam kotak. Pakaian yang aku pesan secara online tetapi tidak pernah aku checkout karena aku tidak akan bisa mengambilnya secara langsung dan aku tidak ingin orang rumah tahu aku memesan pakaian untuk anakku. Aku tidak ingin orang rumah menjadi sedih.


"Aku membuka handphone-mu, maafkan aku karena sudah melanggar privasimu."


Hanya gelengan dan senyum yang aku berikan. Aku mengambil satu pakaian dari dalam kotak. Aku menarik kata-kataku tentang ketidakbahagianku. Aku sangat bahagia. Aku benar-benar bahagia.


"Aku kira anak kita tidak akan pernah memakai pakaian yang dibelikan oleh ayahnya."


“…”


“Kenapa kamu diam saja?” tanyaku begitu melihat Kevin yang hanya menatapku.


"Oleh kita, kamu juga membelinya. Aku tidak akan membeli pakaian ini jika kamu tidak berencana untuk membelinya."


"Ah…benar, terima kasih."


Kevin memelukku dan terus membisikan kalimat 'aku mencintaimu'. Dia terus membisikan kalimat itu seolah hari ini adalah hari terakhir baginya untuk bisa mengatakan kalimat itu. Aku ingin membalas bisikannya tetapi aku terlalu bahagia karena pakaian yang dia belikan. Kebahagiaan yang aku rasakan membuat suaraku tidak bisa keluar.


"Fan, ada hal yang ingin aku tanyakan."


"Bukan."


"Baiklah, aku tahu. Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Saat pertunangan Daniel dan Sabrina kenapa kamu mengira aku akan mengambil Sabrina dari Daniel?"


"Hah?" jawabku terkejut.


Aku tidak mengira pertanyaan itu akan keluar dari mulutnya. Jujur, saat dimana aku terkena pukulan Daniel, aku hanya mengira Kevin dan Daniel sedang bertengkar karena Sabrina. Sarah bahkan mengatakan sesuatu hal tentang taruhan dan otakku memikirkan hal yang sama dengan Sarah. Saat itu, aku masih memikirkan jika Kevin menyukai Sabrina.


"Kamu tidak mau menjawabnya?" desaknya.


"Saat itu aku hanya tahu jika kamu menyukai Sabrina dan Sarah mengatakan jika kalian membuat taruhan untuk Sabrina. Lalu, Daniel juga sangat marah kepadaku saat itu."


"Saat itu adalah kali pertama Daniel tahu jika Sabrina menghubungiku, dia mengira aku dan Sabrina bermain di belakangnya. Kami berdua bahkan tidak ada niatan untuk membuat taruhan apapun. Bagaimana bisa kamu dan Sarah menyimpulkan hal seperti itu?"


Aku terdiam malu. Kevin mengacak-acak rambutku dan tersenyum kecil. Senyuman tanpa beban pertama yang dia tunjukan setelah kehamilanku. Dia selalu berusaha tersenyum dan tertawa dengan lepas tetapi aku tahu betapa beratnya beban yang ada di dalam dirinya hingga senyuman dan tawa miliknya tidak bisa menyembunyikan semua beban itu. Sama halnya dengan ayah, hanya saja ayah tidak berusaha menyembunyikan bebannya karena ayah sudah tahu sekeras apapun ayah berusaha untuk menyembunyikan bebannya, aku akan selalu tahu seberat apa beban yang harus ayah tanggung.


"Lalu kenapa tidak langsung memberitahuku?" tanyaku sembari mengacak-acak rambut Kevin.


"Apa kamu akan mendengarkanku jika aku mengatakan yang sebenarnya?"


"Tidak," jawabku dengan nada jenaka sembari memberikan gelengan kepala.


"Boleh aku bertanya lagi?"


"Apakah ini tentangku?" ucapku dengan sebelumnya memberikan sebuah anggukan.


"Bukan, ini tentang anak kita."


Kevin meletakkan tangannya ke atas perutku. Sepertinya bayi di dalam kandunganku tahu jika ayahnya yang sedang menyentuh perutku karena bayi di dalam perutku terus menendang tanpa henti membuat Kevin terus menatap perutku. Dia juga mulai mengelus perutku, sesuatu yang selalu aku harapkan akan dia lakukan bukan saat aku sedang tidur. Selama ini aku tahu jika Kevin selalu mengelus dan mengusap lembut perutku saat aku tidur. Dia tidak pernah melakukannya saat aku terbangun, dia mungkin tidak ingin menumbuhkan harapan apapun padaku sehingga hanya melakukan hal itu saat aku tertidur.


“Apa yang ingin kamu tanyakan?” tanyaku menyadarkan Kevin kembali.


"Apa nama yang ingin kamu berikan kepadanya?" tanya Kevin dengan mata yang masih menatap perutku.


Nama? aku tidak tahu.


Aku belum memikirkan nama apa yang harus aku berikan karena selama ini aku hanya memikirkan bagaimana Kevin akan menerima anak ini. Aku tidak terpikirkan nama apa yang harus aku berikan. Tunggu, nama yang membuat Kevin bisa menerima anak ini lebih cepat. Aku rasa aku tahu.


"Fanya."


"Hah?" balasnya bingung.


Kevin akhirnya mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Kamu sedang berusaha membuatku mencintai anak kita lebih cepat bukan?" tanyanya diikuti hembusan nafas yang panjang, dia juga berhenti mengelus perutku.


"Aku rasa kamu sudah mencintai anak kita."


"Aku mencintainya untuk saat ini, aku tidak tahu apakah aku juga akan mencintainya saat...."


"Kevin, aku bahagia, aku sangat bahagia. Kamu bisa membuatku menjadi seorang wanita seutuhnya. Kamu memberikanku kesempatan yang tidak pernah aku bayangkan akan hadir dalam hidupku. Apakah itu masih belum cukup?" potongku.


"Sudah cukup, lebih dari sekadar cukup, dan karena itu membuatku semakin sulit untuk menerimanya. Seorang anak membuatmu merasa sempurna tetapi anak itu membuatku kehilangan kesempurnaan dalam hidupku. Aku mencintaimu bukan berarti aku menjadi dirimu, Fanya. Aku akan membutuhkan banyak waktu."


"Aku tahu dan karena itu nama anak ini adalah 'Fanya'. Kesempurnaan yang hilang dalam hidupmu akan kembali."


...-----...