H(Our)S

H(Our)S
Pengakuan



Udara pagi adalah hal terbaik untuk mengawali hari. Aku menyukainya. Sejuk tidak ada asap yang mengganggu pernafasan. Tapi, aku benci pagi hari karena pagi membangunkanku dari mimpi indah yang sedang kunikmati. Menghancurkan mimpi indah yang sedang kurangkai dengan sebuah kenyataan pahit.


Entah untuk keberapa kalinya, selang infus lagi-lagi menancap di pergelangan tanganku.


Kali ini bahkan tabung oksigen berada di samping tempat tidurku. Sepertinya, kemarin aku hampir mendekati kondisi krisis. Kupegang pipiku, luka pukulannya masih terasa sakit. Pukulan yang keras dari Daniel. Sudah dua kali aku mendapat luka pukulan akibat tangan Daniel.


Kucoba berdiri dari tempat tidurku. Aku tidak bisa, sekeras apapun aku mencoba untuk berdiri aku tidak memiliki tenaga untuk melakukannya. Sekuat apapun aku mencoba menurunkan kakiku dari tempat tidur, tetap saja kaki kecilku belum bisa menopang tubuh besarku.


Sebuah liontin jatuh dari leherku. Lukisan ini benar-benar lukisan milik Yoshida. Lukisan yang membuatku bertahan dengan penyakit jantungku ini. Lukisan yang membuatku tidak menyerah untuk terus menghadapi hidup. Tapi, sekarang aku sadar bukan lukisan ini yang aku inginkan, aku menginginkan Yoshida. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin menagih janji yang telah dia ucapkan padaku. Dan yang terpenting adalah aku ingin meminta sebuah penjelasan kepadanya.


Seseorang melangkahkan kakinya mendekat ke kamarku. Dia tidak mengetuk pintu kamar, berarti dia berada di depan pintu. Apa dia ragu-ragu untuk masuk? Jika itu Ken atau Sarah, mereka tidak akan ragu-ragu. Apa itu Daniel? Tidak mungkin, Daniel sudah membenciku, bahkan mengataiku seperti kotoran. Apa itu Kevin? Entahlah, aku tidak tahu.


Tok..Tok..


“Masuk.”


“Hai?” sapa Daniel canggung.


“Daniel?”


“Boleh aku masuk?”


“Tentu.”


Daniel melangkahkan kakinya. Wajahnya berantakan, banyak luka pukul di wajahnya. Aku harap bukan Ken yang melakukan itu ke wajahnya. Daniel, melihat-lihat isi kamarku. Dia menghentikan langkah kakinya tepat di samping jendela. Dia membuka jendela, membiarkan udara pagi benar-benar masuk ke dalam kamarku.


Matanya menerawang jauh, menatap sesuatu yang tidak bisa aku lihat. Tubuhnya memang di sini tetapi aku sangat yakin hatinya, pikirannya, dan jiwanya tidak di sini. Apa sesuatu terjadi dengan pertunangannya? Aku tidak tahu apapun sekarang. Lebih baik aku diam dan tidak menambah masalah apapun.


“Maafkan aku,” ucapnya.


“Untuk apa?” tanyaku terkejut.


“Mengataimu kotoran dan memukulmu.”


“Aku tahu, kamu tidak sengaja melakukan hal itu. Aku baik-baik saja,” jawabku pelan.


“…”


“Bagaimana dengan pertunanganmu?” tanyaku memecah hening.


Wajah Daniel mengeras. Dia mengepalkan tangannya. Kenapa sekarang aku merasa takut? Apa Daniel akan memukulku lagi? Dia tetap diam untuk beberapa saat. Rahangnya sudah benar-benar mengeras.


“Kamu benar-benar orang yang bodoh, Fanya. Kamu mengkhawatirkan pertunanganku? Tapi kamu tidak mengkhawatirkan kondisimu. Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya????? Kenapa kamu menyembunyikan penyakitmu? Kenapa? Kenapa kamu tidak memberitahuku?”


Ah... jadi Daniel sudah tahu penyakitku?


Mungkin sudah saatnya orang-orang luar tahu tentang diriku. Tidak, bukan tentang diriku, tapi tentang kebenaran diriku yang selalu aku sembunyikan. Kebenaran tentang diriku yang selalu aku tutupi. Kebenaran yang selalu aku benci. Aku takut setelah semua orang tahu tentang penyakitku, mereka akan kasihan padaku. Aku membenci hal itu. Rasa kasihan yang akan orang-orang berikan, membayangkannya saja aku tidak sanggup.


“Apa kamu tahu kenapa aku menutupi penyakitku? Aku hanya ingin hidup dengan tenang. Jika kamu dan yang lainnya tahu tentang penyakitku, aku, maksudku kita tidak akan bisa tertawa bebas lagi, kalian hanya akan terpaku melihatku. Apakah aku baik-baik saja, apakah teriakan-teriakan kalian mengagetkanku, apakah cerita-cerita kalian menyakitiku, atau apakah tindakan kalian memperpayah kondisiku. Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi.”


“Tapi………”


“Daniel, aku bersahabat dengan kalian semua karena aku ingin melihat senyum, aku ingin melihat kebahagiaan yang sempat aku ragukan. Aku membenci diriku yang menderita penyakit ini tapi jika aku tak menderita penyakit ini aku tak akan pernah menyadari betapa pentingnya kalian dalam hidupku. Semua ini terjadi karena Tuhan ingin mengujiku, Tuhan ingin tahu seberapa lama aku akan terus bertahan dan seberapa keras aku akan berusaha.”


Daniel menatapku, kali ini dia hanya diam menatapku. Aku tak tahu harus apa, tetap diam menatapnya atau membuka kembali mulutku untuk berbicara. Mata itu, mata yang penuh dengan rasa sakit. Mata yang penuh dengan penyesalan.


Kenapa aku tidak pernah bisa melihat mata yang penuh dengan kebahagiaan seperti milik Ken dan Sarah di mata orang lain?


Cukup lama aku dan Daniel saling bertukar tatapan. Mungkin selama lima menit. Aku tidak tahu apa yang Daniel cari dengan menatapku tapi jika aku menatap mata seseorang, yang aku cari adalah sebuah kebenaran. Apakah mata itu penuh dengan kebahagiaan atau kesedihan. Darimana aku tahu mata itu penuh dengan kebahagiaan atau tidak, akupun tidak tahu, hanya saja aku merasa warna mata yang penuh kebahagiaan lebih terang, tidak redup seperti mata milik Daniel saat ini.


“Sampai kapan kamu akan menatap adikku seperti itu?”


Kualihkan pandanganku ke sumber suara. Ken, dia berdiri di depan pintu dengan membawa makanan dan obat. Dia melangkahkan kakinya masuk dan duduk di sampingku. Dia mengambil sendok dan mulai mengaduk-aduk bubur di dalam mangkok. Dia mengambil satu sendok bubur dan meniupnya. Dia tersenyum menatapku. Dia menjulurkan tangannya yang memegang sendok dan mulai menyuapiku. Satu sendok, dua sendok, begitu seterusnya sampai bubur di dalam mangkok itu habis. Dan Daniel hanya diam mengamati.


“Sabrina sudah menunggu di depan. Bukankah tidak baik membiarkan tunanganmu sendirian?” ucap Ken memecah keheningan yang sudah berlangsung selama 15 menit.


Kulihat Daniel menghembuskan nafasnya seolah tidak ingin mendengar nama Sabrina. Sekarang, aku ingin tahu apa yang terjadi setelah Daniel memukulku dengan tidak sengaja tetapi mengingat kondisiku yang sedang memburuk lebih baik kuurungkan niatku sampai kondisiku sudah stabil. Dan dengan adanya Ken saat ini akan mustahil untuknya tidak menghalangiku mencari tahu.


Daniel melangkahkan kakinya keluar dari kamarku. Dia diam cukup lama di depan kamarku sebelum akhirnya melangkahkan kakinya turun. Dia juga memberikan senyum pahit sebelum benar-benar tubuhnya menghilang.


“Kamu tidak penasaran dengan hubungan Daniel dan Sabrina?”


“Hm… aku takut jika kondisiku belum terlalu baik untuk mendengarnya,” jawabku setelah diam memikirkan beberapa hal. Sejujurnya aku cukup terkejut Ken menanyakan hal itu, mengingat jawaban dari pertanyaan itu mungkin akan mempengaruhiku.


“Kenapa kebenaran selalu membawa rasa sakit? Aku heran, mengapa Tuhan menciptakan sebuah kebenaran jika pada akhirnya akan membuat manusia terluka. Bukankah akan lebih baik jika manusia bahagia walau hanya dalam kepalsuan?” lanjut Ken.


“Ken, Tuhan menciptakan kebenaran karena Dia ingin tahu siapa saja manusia yang menginginkan kebahagiaan abadi. Rasa sakit ditukar dengan kebahagiaan abadi, bukankah itu sepadan? Jika manusia terus hidup dalam kebahagiaan palsu itu akan menyakitkan. Manusia tidak akan bisa merasakan kepuasan dari kebahagiaan palsu yang dia dapat.”


...-----...


Acara makan malam ini sepertinya sangat tidak cocok untukku, lebih tepatnya untuk jantungku. Susunan tempat duduknya sudah diatur sehingga para orang tua duduk dengan kelompok orang tua dan anak mereka duduk dengan kumpulan anak-anak yang lain.


Di depanku, sudah ada Sabrina. Sudah ketiga kalinya dia mencoba untuk menyuapi Daniel tetapi Daniel mengabaikannya. Semua yang berada di meja ini sepertinya memiliki pemikiran yang sama denganku, ada yang tidak beres dengan hubungan mereka berdua. Ditambah Sabrina sudah tidak lagi menatap ke arah Kevin seperti yang dulu dia lakukan. Ken memasukan earphone ke telingaku.


Apa dia sedang berusaha membuatku berhenti mendengarkan percakapan ini?


Aku baik-baik dengan percakapan mereka, aku hanya tidak bisa melihat pemandangan di meja ini. Pemandangan di meja ini sangat suram. Di meja seberang para orang tua tertawa dengan lelucon-lelucon lucu sedangkan di meja ini, sangat suram. Hanya ada bunyi sendok milik Kevin yang dia mainkan.


“Aku ingin berbicara denganmu, Fanya.”


Kulepaskan earphone di telingaku. Aku menatap Daniel, semuanya juga menatap Daniel. Sabrina menatap ke arahku dengan tatapan yang sangat tajam, membuatku seperti seseorang yang hendak mencuri Daniel darinya. Kevin berhenti memainkan sendoknya. Aku membenci situasi seperti ini.


“Kamu tidak bisa melakukan itu tanpa izinku,” balas Ken.


“Kamu bisa ikut, Ken. Ini bukan pembicaraan pribadi."


“...”


Sekarang aku merasa berada di tempat yang salah. Baru satu minggu setelah ayah benar-benar mengatakan aku sudah sembuh, kenapa sudah muncul masalah seperti ini? Sebenarnya ini bukan masalah, hanya saja ada sesuatu yang aku tidak tahu. Ya, aku tidak tahu tentang pertunangan Daniel dan Sabrina. Aku rasa pertunangan Daniel dan Sabrina kunci dari semua ini.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?”


Ucap Ken begitu kami sampai di luar restoran. Daniel masih diam. Sekarang aku takut dengan diamnya Daniel. Dia bukan tipikal orang yang bisa diam seperti saat ini.


“Beritahu aku kenapa kamu membantu Sabrina mengirim semua e-mail itu.”


Ken melangkahkan kakinya menghampiri Daniel. Kutahan tangannya. Ken langsung mengalihkan pandangannya padaku. Kusejajarkan posisiku dengan Ken dan menggenggam erat tangan Ken. Aku tidak ingin ada adu pukul di sini hanya karena topik seperti ini. Jika memang Daniel menginginkan kejujuran dariku, maka aku akan memberikannya padanya. Sudah cukup lama aku bersembunyi. Sudah waktunya bagiku untuk membuka semua topeng yang aku kenakan untuk menutupi kenyataan ini.


“Aku membenci melihat dirimu yang selalu mengharapkan kehadiran Sabrina saat bersamaku.”


“Hanya karena itu? Apa kamu tidak pernah sekalipun menyukaiku?”


“Aku pernah hampir menyukaimu. Hanya saja, rasa sukaku padamu bukanlah sebuah ketulusan. Aku hanya menjadikanmu pelampiasan untuk melupakan Kevin.”


“Apa kamu masih menyukai Kevin?”


“....”


Daniel mengepalkan tangannya sampai putih begitu hanya diam yang aku berikan sebagai jawaban. Ken menarikku mundur. Dia membuatku berlindung di belakang tubuhnya yang besar. Aku rasa Daniel tidak akan bertindak gegabah dengan memulai adu pukul. Terlebih dia sudah tahu tentang penyakitku.


“Apa kamu akan membiarkanku masuk ke dalam hatimu lagi?”


“Apa maksudmu?”


Sekarang Ken yang mengajukan pertanyaan. Sedari tadi Ken sudah menahan keinginannya untuk tidak berbicara. Aku tahu itu dari tatapan matanya, tatapan matanya akan berubah menjadi tatapan seseorang yang sangat bosan jika dia sedang menahan keinginannya untuk berbicara.


“Aku akan membatalkan pertunanganku dengan Sabrina dan……..”


“Apa kamu gila? Itu hanya kan memperkeruh suasana saat ini. Aku kira kamu bisa menggunakan otakmu di saat-saat seperti ini. Aku salah menilaimu.”


“Ken, biarkan aku yang menanggapi ucapannya,” potongku.


“Fanya…….”


“Daniel, aku memang pernah hampir menyukaimu, tapi itu dulu. Aku juga melakukan hal itu hanya karena ingin melupakan Kevin. Aku tidak bisa membiarkanmu masuk kembali ke dalam hidupku sebagai orang yang kusukai karena sekarang aku ingin memenuhi harapan seseorang.”


“Siapa?”


Daniel dan Ken mengajukan pertanyaan itu bersamaan. Ah… aku harus cepat menyelesaikan masalah ini. Aku sudah lelah terus berdiri seperti ini.


“Yoshida. Yoshida Tanaka.”


...-----...