
"Fanya, kamu salah akan satu hal, seberapa banyakpun waktu yang kita berikan kepada Kevin untuk mencari penggantimu, dia tetap bertahan dengan cintanya padamu. Waktu 5 tahun yang kamu berikan kepadanya tidak membuat cintanya berkurang bahkan cintanya kepadamu semakin kuat hingga di tahun ke-10 kematianmu. Kamu benar akan hal dimana Kevin mengunci dirinya sendiri, bahkan hingga saat ini dia masih mengunci rapat dirinya, dia tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam hidupnya dan satu-satunya orang yang dia biarkan masuk ke dalam hidupnya selama 10 tahun terakhir ini hanya Fanya kecil. Hanya Fanya anak kalian," batin Sarah.
Sarah memperbaiki posisi duduknya. Saat ini dia sedang menuju tempat dimana Fanya dimakamkan untuk memperingati kematian Fanya yang ke-10. Sarah bukan lagi seorang gadis tomboi, dia sekarang berubah menjadi seorang wanita yang penuh kasih.
Pernikahannya dengan Bobby dan kematian Fanya, membuatnya berubah menjadi pribadi yang berbeda. Membuatnya kembali menjadi dirinya yang dulu, diri yang selalu dia tutupi dengan ketomboiannya karena dia takut akan kenyataan dimana Fanya akan meninggalkannya. Dia membutuhkan sesuatu untuk membuat dirinya tidak terlalu merasakan rasa sakit karena kehilangan saudara kembarnya. Dia membangun sebuah perisai, perisai yang bahkan tidak bertahan selama 1 detik setelah mendengar berita kematian Fanya.
"Aku dengar Fanya sudah menemani Kevin selama 3 jam di pemakaman," ucap Bobby.
"Aku akan memarahinya. Bagaimana bisa dia membiarkan Fanya menemaninya?!"
"Aku rasa Fanya yang menginginkan hal itu. Mereka sedang berusaha untuk menjadi lebih dekat."
"Benarkah?"
"Terkadang aku bersyukur Fanya tumbuh seperti ibunya, bukan seperti bibinya."
"Hei!! Bibinya adalah istrimu."
"Jika Fanya tumbuh sama sepertimu, dia pasti sudah akan menyerah untuk mengambil hati Kevin dan akan menjadi sosok anak yang nakal. Benarkan?"
Sarah mengabaikan ucapan Bobby dan kembali fokus pada pikirannya. Dia mengamati jalanan di luar, jalanan yang penuh dengan lalu lalang kendaraan. Bahkan petang tidak membuat orang-orang untuk berdiam diri di dalam rumah dan memilih untuk memadati jalanan. Bobby memarkirkan mobilnya di tempat parkir pemakaman. Sarah dan Bobby melihat Ken yang sedang mengeluarkan beberapa bunga dari bagasi. Sarah menyuruh Bobby untuk membantu Ken dan dia sendiri melangkahkan kakinya menuju tempat Fanya dimakamkan.
"Fan, Fanya kecil tumbuh menjadi sosok yang sama denganmu. Dia bahkan pintar menyembunyikan perasaannya, walaupun pada akhirnya kita sekeluarga mendengar tangisnya. Kevin selalu meminta kepadaku dan anggota keluarga lainnya untuk tidak menunjukkan wajahmu kepada Fanya karena Kevin tidak ingin muncul perasaan bersalah di dalam hatinya begitu melihatmu, aku rasa itu salah satu cara Kevin melindungi anak kalian. Tetapi, hari ini, di hari ulang tahunnya, untuk kali pertama dia meminta untuk melihat wajahmu, apa kamu tahu apa yang dia katakana, Fan? 'Sangat indah', hanya dua kata itu dan setelahnya dia mengurung dirinya di dalam kamar selama 1 jam, menangis seorang diri. Dia mengunci pintu kamarnya mengira tidak ada yang bisa mendengar tangisnya. Dia juga mengatakan sesuatu yang membuat hatiku sakit, 'Maafkan Fanya karena membuat ibu mengorbankan kehidupan ibu, jika saja Fanya tidak hadir dalam hidup ibu, pasti ayah akan lebih bahagia dan ibu akan terus merasakan kehangatan keluarga ini'. Kalimat yang sangat dewasa bukan, Fan? Setelah hari ini, aku takut jika Fanya tidak ingin melihat wajahmu lagi, jika hal itu terjadi apa yang harus aku lakukan?" kembali suara hati Sarah mengisi pikirannya sembari matanya terus melihat langit yang mulai berubah menjadi orange.
"Bibiiiii," teriak seorang anak berusia 10 tahun diikuti dengan sebuah pelukan.
"Apa Fanya ingin es krim?"
Hanya anggukan yang anak kecil itu berikan. Untuk kali pertama di ulang tahunnya, anak ini lebih terlihat bahagia. Tidak ada seorang anak sekecil dirinya, saat itu dia berumur 5 tahun, yang meminta untuk tidak ada pesta perayaan ulang tahunnya karena dia tahu hari lahirnya adalah hari kematian ibunya. Dia tahu dibalik suka cita kelahirannya menyimpan kisah duka kematian seorang ibu, istri, anak perempuan, dan saudara. Sebuah fakta yang terlalu dini untuk diketahui oleh anak seusianya saat itu. Bahkan kedua kakek dan neneknya ikut terkejut mendengar hal itu. Hanya ayahnya yang memahami dan merasa biasa saja dengan apa yang diucapkan olehnya.
"Tunggu Bibi di sini, Bibi harus menemui ayahmu."
"Baik."
Sarah melangkahkan kakinya menuju Kevin yang sedang berdiam diri di samping makan Fanya. Untuk kesekian kalinya dia menemukan tempat ternyaman dalam hidupnya. Tempat yang sebagain besar orang takuti tetapi baginya selama di tempat itu ada orang yang dia cintai maka tempat itu akan menjadi tempat ternyaman baginya.
"Untukmu," ucap Sarah sembari menyodorkan sebuah novel.
Kevin hanya menatap novel di tangan Sarah dengan tatapan tidak tertarik. Dia tidak mengambil novel dari tangan Sarah hingga Sarah yang meletakkan novel itu ke tangannya. Kevin mengamati sebentar judul novel itu dan kembali menatap Sarah dengan tatapan bingung.
"Aku kira kamu tahu semua hal tentang saudara kembarku."
"..."
"Berterima kasihlah karena aku sudah menyimpan novel itu selama 10 tahun tanpa ada kerusakan sedikitpun di dalamnya."
"Terima kasih."
"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu. Terima kasih karena sudah mencintai Fanya hingga semua orang bisa merasakan betapa besar cinta yang kamu miliki untuknya. Terima kasih untuk memilih menjaga hatinya disaat kamu memiliki banyak pilihan lain," ucap Sarah sembari menepuk bahu Kevin.
Sarah mengambil bunga mawar putih dari tasnya dan langsung meletakkan ke atas makam Fanya. Selesai berdoa untuk Fanya, Sarah berjalan meninggalkan Kevin seorang diri menuju Fanya kecil yang sudah menunggunya untuk sebuah es krim. Fanya kecil berlarian kecil menuju Sarah dan langsung menarik tangannya tidak sabar untuk makan es krim.
Kevin masih menatap tanda tangan milik Fanya dan terus mengusap tanda tangan itu. Perlahan dia membuka lembaran demi lembaran lain hingga menemukan sebuah surat. Sebuah surat dengan bunga kering menjadi hiasan di depannya. Dia mengambil surat itu dan dia bisa merasakan jika selama 10 tahun ini tidak ada yang menyentuh surat itu. Bahkan Sarah yang menjaga novel ini tidak sekalipun berani untuk membukanya.
'Hai, Sayang. Ah.. sangat aneh memanggilmu dengan sebutan sayang. Aku rasa semua ini salahmu karena tidak menginginkan panggilan apapun dan hanya saling memanggil dengan nama masing-masing. Sebenarnya namaku yang selalu kamu panggil sudah bisa membuat hatiku berdebar.
Saat ini, jika kamu sedang membaca suratku berarti kamu masih belum bisa menemukan seseorang yang bisa menggantikanku. Saat ini kamu sedang menutup rapat pintu untuk masuk ke dalam hidup dan hatimu. Aku sangat yakin 90% kamu akan membaca surat ini setelah 10 tahun berlalu. Apa saat ini kamu sedang bertanya-tanya kemana perginya 10% itu? Jawabannya ada pada anak kita. Anak yang akan kita beri nama sama dengan namaku. Aku yakin, dalam waktu 10 tahun kamu sudah membuka hatimu untuk anak kita.
Aku yakin kamu sudah menjadi seorang dokter spesialis jantung yang sangat kompeten dan banyak pasien yang menginginkanmu menjadi dokter mereka. Aku tahu perjalananmu untuk menjadi dokter seperti itu tidak mudah terlebih setelah kehilanganku, tetapi aku tahu dengan pasti kamu tidak akan pernah menyerah sesulit apapun halangan di depanmu. Bahkan jika halangan itu adalah dirimu sendiri.
Maafkan aku Kevin, maafkan aku karena mencintaimu dengan egois. Maafkan aku karena tidak pernah menjadikanmu prioritas dalam hidupku. Maafkan aku karena lebih memilih anak kita yang bahkan baru muncul beberapa minggu dalam hidupku dan mengabaikanmu yang selalu berada di sampingku selama hidupku. Maafkan aku karena meninggalkanmu dengan seorang anak yang akan sangat mirip denganku. Aku ingin mengucapkan semua permintaan maaf yang tidak berujung ini secara langsung kepadamu tetapi aku tahu kamu lebih menyukai pernyataan cintaku padamu dibandingkan permintaan maaf.
Aku tahu saat ini kamu hidup dengan sangat baik. Aku bahagia untuk itu tetapi aku mohon kepada hatimu untuk mengeluarkan semua perasaan bersalah kepadaku yang masih tersisa. Aku lebih memilih hatimu hanya terisi rasa cinta untukku dibandingkan sebuah penyesalanmu. Semua yang terjadi sudah menjadi kehendak Tuhan. Kamu hanya menjadi satu diantara pilihan Tuhan untuk memenuhi semua takdirku. Aku tidak ingin cinta yang kamu miliki ternodai oleh sedikit saja rasa bersalah Aku mohon….
Aku ingin mengakhiri suratku tetapi aku rasa kamu akan kecewa jika melihat betapa singkat surat yang aku tulis untukmu. Ah…aku memiliki cerita dan permintaan lain.
Apakah kamu tahu Kevin?
Aku pernah bermimpi, di dalam mimpi itu kita bertiga hidup dengan bahagia. Aku, kamu, dan anak kita. Kita menjadi keluarga yang sangat sempurna. Karena mimpi itu, aku bisa bertahan hingga saat ini dan aku rasa kamu juga tahu hal itu. Aku tidak pernah menceritakan secara langsung tentang mimpiku kepadamu karena aku tahu, aku hanya akan membebanimu dengan cerita itu. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan mimpi itu. Dan aku sekarang aku menginginkan mimpi itu menjadi kenyataan untukmu dan Fanya kecil. Meski tanpa kehadiranku, aku ingin kalian berdua hidup dengan bahagia, saling mengobati hati kalian masing-masing.
Ada satu lagi, aku pernah bermimpi untuk memilih hidup bersama denganmu dan anak kita hanya selama 1 jam atau hanya bersama denganmu seumur hidupku, maafkan aku karena bahkan di dalam mimpi pun aku tetap egois. Aku lebih memilih untuk bersama denganmu dan anak kita walau hanya selama 1 jam. Apakah Tuhan akan memberikan kesempatan itu kepadaku di dunia nyata?
Kevin, aku tidak akan memintamu untuk mencari dan mencintai wanita lain karena itu akan menunjukkan betapa egoisnya diriku. Mungkin jika kamu membuka hatimu setelah 5 tahun kematianku, aku akan dengan senang hati melepasmu tetapi kamu yang membuatku tidak bisa melepasmu. Semua ini salahmu, bukan salahku.
Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?
Cintai aku selama sisa hidupmu.
Ayo kita bertemu di kehidupan selanjutnya, kehidupan dimana aku akan memilihku dan menjadikanmu sebagai prioritas dalam hidupku. Kehidupan dimana aku akan mencintaimu dengan cara yang benar dan bukan lagi dengan cara yang egois. Aku bahkan akan menunggumu di kehidupan kita yang selanjutnya, selama apapun kamu membuatku menunggu aku akan tetap menunggumu. Bahkan jika kita hanya akan bersama selama 1 jam, aku akan tetap menunggumu. Selama apapun waktu yang kamu butuhkan untuk menemukanku dan sebentar apapun waktu yang kamu miliki untuk bersamaku, aku akan tetap menunggumu.
Tetapi untuk saat ini, aku mohon cintai Fanya seperti kamu mencintaiku. Berikan sebagian cinta milikmu yang kamu berikan untukku kepadanya. Aku mohon, biarkan sebagian diriku di dalam dirinya merasakan cinta milikmu. Aku tahu kamu akan bisa melakukannya dan kamu akan mencintainya sebesar kamu mencintaiku.
Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku.
Love,
Fanya'
...-----...