H(Our)S

H(Our)S
Liontin



Ken terus menatapku. Dia tidak melepaskanku dari tatapan matanya. Aku sudah jujur dengan apa yang ingin aku katakan, tapi kenapa Ken tetap melakukan hal ini kepadaku? Tunggu, sepertinya ada yang salah. Harusnya bukan aku yang mendapat tatapan menakutkan ini. Ken masih berhutang penjelasan kepadaku.


Kuambil handphone dari tasku. Kuketik pesan untuk Sarah. Aku harap dia akan langsung datang ke sini.


“Ken. Berhenti menatapku dengan tatapan menakutkanmu.”


“Sejak kapan kamu ingin memenuhi keinginanYoshida?”


“Apa itu penting?”


“Kamu tahu, aku merasa jauh darimu. Seberapa keras aku mencoba mencari hal yang membuat kita jauh, tetap saja aku tidak bisa menemukannya. Kamu memang di hadapanku tetapi aku merasa ini bukanlah kamu yang aku kenal, atau diriku yang sekarang bukanlah diriku yang sebenarnya.”


“Ken," panggilku pelan.


“Aku ingin tahu apa yang membuat kita jauh. Daniel? Kevin? Atau Clara? Aku tidak peduli jika kamu ingin memenuhi harapan Yoshida, aku hanya peduli pada jarak yang memisahkan kita. Aku merasa ada yang berubah. Aku merasa kamu yang berubah tetapi mungkin aku yang berubah. Dan lagi, apa kamu tahu harapan apa yang Yoshida miliki?”


Aku tidak tahu harus menjawab apa semua pertanyaan Ken. Akupun merasakan hal yang sama dengannya. Seperti ada jarak yang membatasiku dengan Ken. Jarak yang tanpa sadar aku buat atau jarak yang tanpa sadar Ken buat. Entahlah, aku tidak peduli siapa yang membuat jarak ini tetapi aku akan mempertahankan jarak ini agar tidak terlalu jauh hingga membuat kami berdua menjadi asing satu sama lain. Aku tetap membutuhkan Ken di dalam hidupku.


Seseorang memukul kepala Ken. Ken hanya diam, biasanya dia akan langsung berteriak dan memarahi orang yang memukul kepalanya. Sekarang, dia hanya duduk diam membatu. Sarah langsung menatapku begitu melihat reaksi Ken. Niatnya untuk bermain-main dengan Ken sepertinya gagal. Sarah langsung duduk di sampingku, menyadari ada sesuatu yang salah.


“Ada apa dengan dia?”


“Hanya urusan antara aku dengannya. Kamu mau mulai menginterogasi dia?”


“Tentu saja.”


“Ken, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Sarah.


Ken masih terdiam. Sepertinya dia yang berubah bukan aku. Dia yang menyembunyikan banyak hal dariku. Entahlah, aku belum mau membahas jarak ini. Aku lebih memilih untuk membahas liontin yang sekarang ada di tanganku.


“Liontin ini, apa hubungannya dengan Yoshida?”


Pertanyaanku berhasil membuat Ken kembali ke dunia ini. Dia menatap lekat-lekat kalung yang sekarang sedang kucoba lepas. Ken meraih tanganku dan menghentikanku melepas kalung itu. Sarah hanya mengamati dengan tajam semua yang Ken lakukan padaku saat ini. Aku tidak mengerti dengan tatapan tajam milik Sarah, kenapa dia menatap Ken setajam itu seakan-akan apa yang Ken lakukan saat ini adalah kesalahan?


“Jangan lepas.”


“Kenapa? Apa kamu takut aku akan menghilangkannya lagi?” tanya Sarah.


Sekarang aku merasa akan ada permusuhan diantara Ken dan Sarah. Sepertinya aku salah memanggil Sarah ke sini.


“Tidak.”


“Lalu?”


“Apa kamu tahu kenapa Yoshida lebih memilih Fanya daripada kamu?”


“Karena Yoshida juga penderita penyakit jantung. Yoshida sangat tahu rasa sakit yang Fanya rasakan. Itu alasan kenapa Yoshida lebih memilih Fanya.”


“Penyakit jantung? Yoshida?” tanyaku terkejut.


Ken membelalakkan matanya. Sepertinya dia baru sadar jika aku juga berada di hadapannya. Dia memalingkan wajahnya kepadaku. Aku hanya menatap kosong ke arah Ken. Pusing, kepalaku pusing. Dadaku sesak. Kumohon jangan sekarang.


“Fanya,” panggil Ken dan Sarah berbarengan.


“Aku tidak apa-apa. Bagaimana mungkin kamu menyembunyikan semuanya?” tanyaku sembari mencoba mengatur nafas agar detak jantungku tidak terlalu tinggi.


“Yoshida sama sepertimu, dia tidak menginginkan belas kasih dari orang lain.”


“Setidaknya kamu bisa memberitahu. Setidaknya………”


“Fan, I’ll tell you the truth. Sebelum kita semua meninggalkan Tokyo, Yoshida menemuiku dan menanyakan banyak hal tentang kepindahan kita. Satu jam sebelum kita ke bandara, Yoshida memberikanku sebuah kalung. Kalung yang sangat indah, dia memintaku untuk memberikan kalung itu padamu. Apa kamu ingat kenapa aku terlambat datang ke rumah saat itu?”


Ken menarik nafas dan meenghembuskannya. Sekarang Sarah menggenggam tanganku. Dia menggantikan peran Ken yang selalu menenangkanku disaat-saat seperti ini.


“Saat aku menerima kalung itu, Yoshida terus menatap ke arahku. Aku tidak tahu arti tatapan matanya. Saat aku berpamitan dengan orang tua Yoshida, tiba-tiba saja adik Yoshida memberikanku ular mainan, kamu tahu bukan betapa takutnya aku pada ular, aku berteriak dan Yoshida terkejut. Detik itu juga Yoshida terjatuh, aku ketakutan dan orang tua Yoshida berusaha menenangkanku. Orang tua Yoshida menceritakan segalanya padaku. Aku terkejut, bagaimana bisa kita bertiga tidak ada yang menyadari penyakit Yoshida. Aku ingin memberitahu kalian detik itu juga tetapi Yoshida memintaku untuk merahasiakannya, terlebih padamu, Fanya. Aku bisa apa, aku selalu lemah terhadap mereka yang merasakan rasa sakit lebih banyak dari yang aku rasakan.”


“Lalu apa arti lukisan dan warna biru di dalam liontin ini?”


Sarah menatapku. Ken terkejut dengan pertanyaanku. Aku tahu, Yoshida bukanlah seseorang yang memberikan sesuatu tanpa ada tujuan dibalik semua itu. Yoshida akan terus memiliki alasan dibalik setiap tindakannya, dibalik lukisannya, dan dibalik warna biru.


Yoshida memiliki alasan kenapa dia menyukai warna biru tetapi aku tidak tahu apa itu. Setiap aku mencoba menanyakan hal itu, Yoshida langsung mengganti topik pembicaraan. Penolakan diam-diam Yoshida itu membuatku sadar jika dia tidak ingin membahasnya secara langsung denganku. Dia berharap orang lain yang akan memberitahuku dan aku tahu siapa yang bisa mengetahui semua kebenarannya.


“Yoshida mencintaimu.”


“Ken, beri tahu kita yang sebenarnya, jangan berputar-putar,” ucap Sarah.


“Lukisan itu, dia ingin menggambarkan dirinya, dia ingin setiap kali kamu membuka liontin itu kamu mengganggap jika Yoshida selalu bersama denganmu. Dia menggambarkan dirinya sendiri dalam bentuk lukisan. Tetapi, aku salah karena memberikan kalung itu lewat Daniel.”


“Lalu warna biru itu?” desakku.


“Aku tidak bisa memberitahumu karena aku sudah berjanji padanya. Maafkan aku.”


“Ken!!!!!” teriak Sarah.


“Sarah, biarkan aku sendiri yang mencari tahu sisanya. Ken, aku tahu kenapa ada jarak diantara kita. Kita sama-sama takut untuk saling melindungi lagi. Kamu masih berpikir apakah akan menyakitiku lagi seperti dulu, dan kamu takut untuk memperlakukanku seperti dulu. Dan aku, aku masih takut, aku masih menyimpan ketidakpercayaanku padamu. Aku takut kamu akan membuangku lagi. Itu sebabnya ada jarak diantara kita, Ken.


Kebenaran yang kamu benci, aku juga membencinya Ken. Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Tuhan sudah menciptakan sebuah kebenaran bahkan sebelum manusia itu ada, yang bisa kita lakukan hanya menerimanya. Awalnya kita memang akan menyesali kenapa menerima kebenaran itu tapi lebih baik menyesal untuk waktu yang singkat daripada terus menyesal karena kita membiarkan kebenaran yang Tuhan berikan untuk kita hilang selamanya. Kita tidak boleh atau mungkin tidak bisa menolaknya karena Tuhan tidak akan pernah memberikan sebuah kebenaran yang sama untuk kedua kalinya.”


...-----...