H(Our)S

H(Our)S
Biru



‘ Fanyaaaaaaaa…….


I miss you so much, aku dan Daniel menghabiskan liburan di Jepang. Apa kamu tahu? Daniel sangat romantis, aku sangat menyukainya. Oiya, apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Daniel, dan Kevin? Aku penasaran dengan itu.


Bisakah kamu sekali ini saja membalas e-mailku? Aku selalu menceritakan semuanya padamu tapi kamu sama sekali tidak memberikan merespon.


Salam hangat,


Sabrina. ‘


Hanya Sabrina yang belum tahu tentang penyakitku dan juga tentang perasaanku pada Daniel maupun Kevin. Aku kira Daniel akan menceritakan semuanya tapi kenapa dia memilih untuk menutup mulut dan tidak mengatakan apapun pada tunangannya? Apa dia takut aku akan marah?


“E-mail?”


“Kapan Ayah kembali dari London?”


“Tadi malam. Kamu sudah tidur dengan sangat nyenyak. Bagaimana mungkin Ayah membangunkanmu?”


Ayah membantuku berdiri dan memeriksa kondisiku. Kuamati wajah Ayah yang tidak pernah menampakkan rasa lelah karena merawatku. Beliau dengan sabar memeriksa suhu, tekanan darah, nadi, nafas, dan setiap detail dari tubuhku. Memastikan apakah aku baik-baik saja.


“Apa ada masalah? Ayah dengar dari Ken kamu sulit tidur.”


“Ah… bunyi detak jam dinding, aku membencinya dan karena itu aku tidak bisa tidur.”


“Apa ada yang salah dengan jam?”


“Aku hanya tidak menyukai bunyinya. Detak jantungku sama seperti detak jam dinding.”


“Apa maksudnya?”


“Bukan apa-apa, Ayah. Lagipula, aku baik-baik saja. Bagaimana jika kita makan saja, aku sudah sangat lapar, Ayah.”


Lebih baik aku menyembunyikannya. Aku tidak ingin membuat Ayah khawatir dan nantinya justru menyuruh semua orang di rumah untuk membuang jam dinding padahal aku sangat tahu betapa pentingnya setiap detik dari waktu orang-orang di rumah ini. Aku tidak ingin mengganggu mereka dengan hal yang tidak jelas seperti ini. Biarkan aku mengatasinya sendiri. Ini masalahku, masalahku, dan masalahku.


...-----...


Kuamati wajah Ken yang tidak bisa aku lihat. Dia terus menunduk dan tidak menatap ke arahku. Kuambil kue di atas piring, Ken tetap menunduk.


Wajahku yang sekarang, apa sangat menakutkan?


“Bawa aku ke rumah sakit.”


“Fan, aku….”


“Aku tidak ingin membuat Yoshida terus menunggu.”


“It’s not about waiting.”


“Lalu, tentang apa semua ini? Kebohongan?”


Aku menatap tajam ke arah Ken. Aku tidak tahu lagi jika sekarang wajahku menjadi wajah yang menakutkan atau tidak. Aku tidak peduli, aku hanya ingin bertemu dengan Yoshida, hanya itu.


...-----...


Aku membenci diriku sendiri. Aku membenci kelemahan diriku sendiri. Aku membenci ketidakpekaanku. Aku ingin membunuh diriku saat ini juga. Ayah dan Ken, kenapa mereka menyembunyikan ini semua? Aku tahu kenapa Ken menyembunyikan semua ini tapi setidaknya Ayah bisa memberitahuku semuanya. Memberitahu kondisi Yoshida bukan menyembunyikannya seperti saat ini.


Ken terus menahan tubuhku. Dia menghalangiku masuk ke dalam ruang rawat Yoshida. Dia bukan hanya menghalangi tubuhku tapi juga menghalangi pandanganku. Setidaknya, jika aku memang tidak bisa bertemu dengannya biarkan aku tetap bisa melihatnya. Setidaknya, biarkan aku menyimpan wajahnya, merekam dukanya, membawa sedihnya, setidaknya itu yang kuinginkan.


“Fan……..”


“Ken, aku ingin melihatnya. Aku janji, aku tidak akan masuk tapi biarkan aku melihatnya.”


Perlahan, tubuh Ken menghilang dari pandanganku. Yoshida, aku tahu dia ingin menjaga perasaanku tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku tahu dia merasakan rasa sakit yang sama denganku tapi kenapa dia melupakan bahwa aku juga merasakan rasa sakit yang sama dengannya? Kenapa dia hanya menanggung semuanya seakan-akan aku tidak akan pernah bisa memahami dan merasakan derita maupun rasa sakitnya?


Ayah menatapku lewat kaca yang membatasi ruangan tempat Yoshida dirawat dengan diriku. Aku membenci tatapan ayah, sekarang aku membenci fakta dimana ayah adalah dokter Yoshida dan aku lebih membenci fakta dimana Yoshida lebih memilih ayahku sebagai dokter pribadinya. Aku yakin, Yoshida tahu kondisiku, aku yakin Yoshida selalu menanyakan kondisiku pada Ayah.


Kenapa Yoshida melakukan semua ini padaku?


Kenapa dia membuatku menjadi seseorang yang bodoh?


Kulangkahkan kakiku mendekat ke kaca. Aku hanya bisa memandangnya dari sini, aku hanya bisa menemuinya dari sini. Aku tidak bisa melangkahkan kakiku lebih dekat lagi ke arahnya. Cukup lama aku mengamati wajah Yoshida. Jika memang seperti ini yang dia inginkan, aku akan menuruti keinginannya. Kulangkahkan kakiku pergi menjauh dari ruang rawat. Aku tidak tahu melangkahkan kakiku kemana. Aku hanya menuruti langkah kakiku.


“Fan…..”


“Ken, aku membenci diriku sendiri. Apa ini yang Yoshida bilang tentang cinta? Dia bahkan menghalangiku untuk menemuinya. Apa dia bahkan benar-benar mencintaiku? Apa semua harapan yang dia katakan adalah kebohongan? Jawab aku, Ken!!!”


“Fan, ini yang aku maksud. Semuanya bukan tentang menunggu.”


“...”


“Ini tentang Yoshida. Yoshida belum menerima kondisinya, jika dia belum menerima kondisinya saat ini, bagaimana bisa kamu membuat Yoshida menunggu? Baginya, kamu penyemangatnya bukan seseorang yang dia cintai. Dia memang mencintaimu tapi dia,” ucap Ken terhenti, tidak dapat melanjutkan ucapannya.


Kupejamkan mataku. Aku tidak tahu apalagi definisi menunggu. Aku tidak peduli dengan semua definisi cinta. Aku tidak akan pernah mencari tahu tentang akhir yang bahagia. Hidupku sekarang bukanlah kehidupan seseorang di dalam novel yang akan memiliki akhir bahagia. Sepertinya, semuanya akan berakhir dengan rasa sakit. Entah itu untukku atau untuk semuanya.


Kulepaskan pegangan tangan Ken dari lenganku. Semuanya melakukan tugasnya dengan baik. Melindungiku, memberikan kasih sayang mereka, menjaga perasaanku, dan merangkulku, mereka semua melakukannya dengan baik. Bagi mereka melakukan semua itu adalah kewajiban untuk menjagaku tapi bagiku semua yang mereka lakukan hanyalah tindakan untuk mencegah mereka merasakan rasa sakit karena kehilanganku.


Rasa sakit, sekarang aku benar-benar merasakannya. Lebih sakit daripada merasakan dinginnya musim dingin. Lebih sakit daripada saat melepaskan orang yang kucintai. Lebih sakit daripada saat aku tidak bisa membuka mataku.


Yoshida, bagaimana mungkin dia mengatakan mencintaiku jika dia sendiri tidak tahu apa itu cinta?


Bagaimana mungkin dia menipu dirinya sendiri dengan mengatakan mencintaiku?


Cinta yang Yoshida rasakan, aku rasa itu hanyalah cinta semu. Dia hanya ingin terus melanjutkan hidupnya dengan menjadikanku motivasi dalam hidupnya. Melihat seseorang dengan penyakit yang sama dengannya tetap hidup pasti membuatnya juga ingin tetap hidup.


Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku tidak tahu.


Seseorang menabrak tubuhku. Hatiku yang saat ini sakit kenapa juga tubuhku harus merasakan rasa sakitnya. Orang yang menabrakku melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Dia bahkan tidak mengucapkan kata maaf.


Tepat tiga puluh sentimeter sebelum aku menabrak seseorang, aku menghentikan langkah kakiku. Orang itu juga menghentikan langkah kakinya. Apa aku harus meminta maaf? Atau aku harus terus melangkahkan kakiku dan menabraknya baru kemudian meminta maaf? Tapi, aku sudah berhenti tepat tiga puluh sentimeter sebelum menabraknya.


“Apa yang kamu lakukan?”


Suara ini, aku sangat mengenal suara ini. Suara yang hampir membuatku gila karena kepergiannya. Suara yang sudah kulepaskan kepergiannya. Suara yang sudah tidak pernah kurindukan kehadirannya.


Kenapa sekarang aku mendengarnya?


“Kevin, bawa aku pergi.”


Kevin menjongkokkan tubuhnya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan tapi sepertinya dia mengikat tali sepatuku yang lepas. Dia masih berada diposisinya, tidak ada tanda-tanda dia akan berdiri. Bahkan dia sama sekali tidak memandang wajahku. Sepatuku lebih menyita perhatiannya daripada diriku sendiri. Apa sebegitu tidak terlihatnya diriku?


“Apa kamu pernah mendengar, jika tali sepatumu terlepas berarti ada seseorang yang sedang memikirkanmu?”


“Aku memintamu untuk membawaku pergi," balasku.


Sekarang Kevin berdiri dan menatap lembut ke arahku. Dia memegang pipiku atau lebih tepatnya dia menghapus air mataku yang sedari tadi membasahi pipiku. Kevin, dia bukan seperti laki-laki yang aku temui di Heidelberg. Sekarang, Kevin menjadi sosok laki-laki yang sama seperti dulu. Sama seperti Ken. Selalu memberikan ketenangan untukku.


“Kenapa kamu menangis?”


“Seseorang melukaiku.”


“Apa orang itu melukai hatimu? Atau orang itu tidak menepati janjinya?”


“Dia melakukan keduanya.”


“Apa kamu membencinya?”


Kutatap mata Kevin. Dia masih menatapku dengan penuh kelembutan. Kelembutan yang Ayah miliki, kelembutan yang bahkan Ken tidak bisa miliki. Kelembutan yang dulu sangat kuinginkan untuk terus mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tidak menginginkan kelembutan ini, aku hanya membutuhkan kehangatan.


Hanya gelengan kepala yang kuberikan pada Kevin. Kevin hanya tersenyum. Detik berikutnya, dia mengangkat tubuhku dan membawaku keluar dari rumah sakit. Dia meletakkan tubuhku ke dalam mobilnya. Dia terus menatapku dan menyalakan mesin mobilnya. Sekarang dia membawaku pergi bersamanya. Aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bertanya kemana dia akan membawaku.


Sepanjang jalan hanya alunan musik klasik yang mengisi mobil Kevin. Tidak ada suara. Aku tidak berani membuka mulutku karena melihat wajah Kevin yang sudah berubah menjadi serius. Kevin terus menatap lurus ke depan tanpa keraguan, seakan-akan di depan dia bisa melihat masa depannya. Tatapan optimis miliknya yang bisa membunuh semangat optimis orang lain.


“Apa kamu lapar?”


“Ya,” jawabku singkat.


Kevin tersenyum. Apa itu senyum mengejek?


“Aku tidak akan mengajakmu pergi ke restoran.”


“Lalu?”


“Tunggulah.”


Mata Kevin tetap fokus pada jalanan. Dia bahkan tidak menatap ke arahku saat berbicara. Entahlah, aku tidak peduli. Aku hanya peduli dengan perubahan sikapnya yang sangat drastis.


Siapa yang merubahnya?


Dan kenapa dia tiba-tiba merubah sikapnya seperti ini?


“Sudah sampai.”


Aku hanya terus menatap bangunan di depanku ini. Kevin tetap mengangkat tubuhku. Dia tidak membiarkanku jalan sendiri. Aku sangat mengenal bangunan ini. Bangunan ini atau lebih tepatnya rumah Kevin, terlalu banyak kenangan di rumah ini.


“Bisakah kamu menurunkanku? Aku bisa jalan sendiri,” ucapku begitu merasa risih dengan tatapan para pelayan di rumah ini.


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Aku tidak ingin melihat tali sepatumu terlepas lagi.”


“Apa maksudmu? Ada apa dengan perubahan sikapmu yang tiba-tiba dan juga apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan sekarang?” tanyaku dengan tatapan bingung.


Kevin menurunkanku tepat di atas ayunan, ayunan tempat kami selalu bermain saat kecil. Dia kembali mengambil posisi jongkok dan melepas sepatu yang sekarang kupakai.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


“Aku.. Tidak, lebih baik kita masuk. Kamu sudah kelaparan bukan?”


“Apa kamu merasa bersalah setelah tahu tentang penyakitku?”


“Tidak.”


Aku menatap tajam mata Kevin. Kevin membalas tatapanku dengan tatapan tanpa keraguan. Dia tidak berbohong, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Lalu, apa yang membuat sikapnya berubah tiba-tiba kepadaku?


Kenapa dia membuatku bingung seperti ini?


Apa dia hanya sedang mempermainkan perasaanku yang sedang kacau balau saat ini?


Tiba-tiba muncul di rumah sakit. Membawaku ke rumahnya. Dia bahkan tidak menghubungi ayah atau Ken saat membawaku ke sini. Dia seperti sudah mendapat izin dari Ayah ataupun Ken. Dia…. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini, baik dengannya ataupun dengan diriku.


“Apa kamu ingin tahu sesuatu?” tanyanya.


Aku hanya terdiam tidak menjawab pertanyaannya.


“Aku masuk fakultas kedokteran karenamu bukan karena Sabrina, aku sudah tahu jika kamu menderita penyakit jantung daridulu.”


“Apa maksudmu?” tanyaku terkejut.


“Maafkan aku.”


“Untuk apa?”


“Sikapku. Berkata kasar padamu padahal aku tahu tentang penyakitmu. Terus mengambil hati Sabrina padahal aku tahu perasaanmu. Dan tentunya untuk berpura-pura mencintai Sabrina padahal aku mencintaimu.”


...-----...


Ken terus menatap tajam ke arah Kevin. Kevin hanya diam menanggapi tatapan tajam itu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Begitu aku bangun di pagi hari, aku sudah melihat pemandangan ini. Itu sekitar tiga puluh menit yang lalu dan sekarang Ken terus menatap Kevin dengan tatapan seperti ingin membunuhnya.


Sarah menyambutku atau lebih tepatnya dia mengomeliku karena tidak memberi kabar kepadanya kemana aku pergi. Begitu melihat Ken memberikan tatapan tajam miliknya, Sarah hanya memasang earphone di telinganya dan mulai menyantap makanan yang sudah di siapkan juru masak keluarga Kevin.


“Apa kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?”


Setengah berteriak Ken memukul wajah Kevin. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat mereka tetapi Sarah menangkap lenganku dan menyuruhku untuk tetap makan. Sungguh, aku tidak bisa seperti Sarah yang selalu tenang setiap kali melihat perkelahian. Aku tidak tahan melihat darah yang menetes karena adu pukul. Apalagi adu pukul itu disebabkan olehku dan terjadi tepat di depan mataku sendiri. Dan parahnya aku tidak memiliki satu kesempatanpun untuk keluar dari ruangan ini.


“Aku tahu.”


Jawaban Kevin membuat Sarah melepas earphone dari telinganya. Sarah terus menatap ke arah Kevin tetapi bukan dengan tatapan tajam seperti yang Ken berikan. Aku sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Semua hal yang terjadi saat ini benar-benar membuatku bingung.


“Apa kamu bilang?”


“Yoshida, operasinya tidak berjalaan lancar bukan? Aku tahu, sebagai seorang dokter, Ayahmu tidak bisa memvonis hidup seseorang tapi hidup Yoshida tidak akan lama lagi, bukan? Setidaknya itu yang aku dengar.”


Satu pukulan kembali mendarat tepat di pipi Kevin. Aku masih berusaha mencerna semua kalimat yang baru Kevin ucapkan.


Yoshida menjalani operasi? Apa maksudnya?


Yoshida tidak akan hidup lama lagi? Apa maksudnya?


“Fan, lebih baik……”


“Ken, berhenti memukul Kevin. Beritahu aku semua tentang Yoshida.”


Ken dan Kevin menatap ke arahku. Mereka menatapku dengan tatapan yang sama. Tatapan bersalah. Apa yang mereka pikirkan saat menatapku dengan tatapan seperti itu? Aku tidak suka ditatap dengan tatapan rasa bersalah seperti itu. Aku tidak butuh rasa bersalah dari siapapun.


Ah… kepalaku benar-benar mendidih sekarang. Kupukul-pukul pipiku dengan keras.


Tanpa kuduga, reaksi Ken, Kevin dan Sarah sangat berlebihan. Mereka bertiga seketika melangkahkan kaki mereka mendekat ke arahku dan menghentikan tanganku yang terus meronta untuk memukul-mukul kembali pipiku.


“Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja setidaknya sampai sekarang. Jadi, beritahu aku semua tentang Yoshida.”


Ken menghembuskan nafasnya. Aku tahu jika Ken dan Yoshida membuat sebuah janji tapi aku tidak tahu dengan pasti janji apa yang mereka buat. Setidaknya janji itu mengikat Ken untuk tidak mengatakan apapun tentang Yoshida.


Kualihkan pandanganku pada Sarah. Dia hanya menggeleng.


Apa Yoshida hanya membuat janji dengan Ken dan tidak memberitahu atau bahkan menampakkan wajahnya di hadapan Sarah?


Kenapa dia begitu membuatku tersiksa? Apa hanya dengan menyiksaku dia bisa merasa puas dan penyakitnya akan sembuh?


“Yoshida, mungkin dia menyukaimu atau bahkan mencintaimu, itu yang dia rasakan. Tapi, apa yang aku rasakan sebagai seorang kakak, perasaan yang Yoshida miliki bukanlah perasaan cinta untukmu.”


“Lalu perasaan apa itu?” tanya Sarah tiba-tiba.


“Perasaan seseorang yang ingin berjalan berdampingan dengan Fanya tapi dia tidak memiliki kekuatan apapun dan akhirnya menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam manipulasi cinta. Seberapa banyak dia mengatakan mencintai Fanya, bagiku itu hanya omong kosong. Dan liontin itu, Yoshida hanya ingin kamu terus menganggap dia sebagai orang yang berjasa dalam hidupmu.”


“Maksudmu?”


“Aku tidak tahu apalagi yang harus kukatakan padamu. Satu yang pasti, cinta yang Yoshida miliki untukmu memang tulus tapi Yoshida tidak menginginkan kehadiranmu dalam hidupnya.”


Sarah menampar Ken. Ken sama sekali tidak bereaksi. Dia hanya menundukkan kepalanya setelah mendapat tamparan yang cukup keras dari Sarah. Kevin, dia duduk tepat di depanku. Dia juga tidak berbicara apapun padahal aku sangat yakin dia memiliki informasi tentang Yoshida.


“Yoshida menjadikanmu cinta pertamanya, obsesinya, dan warna biru pertamanya.”


“Warna biru?”


“Warna matamu. Biru. Itu alasan kenapa Yoshida menyukai warna biru. Your eyes, Fanya.”


Mataku adalah penyebab Yoshida menyukai warna biru dan Yoshida adalah alasan untukku, Ken, dan Sarah menyukai warna biru. Sangat lucu, jika seperti ini sama saja aku, Ken, dan Sarah menyukai warna mataku.


“Hanya itu?”


“Fan, Ayah mengatakan Yoshida tidak akan bisa bertahan lagi.”


“Berapa lama dia akan bertahan?”


“Hingga bulan depan.”


Kevin menangkap tubuhku. Yoshida, aku benar-benar akan membenci dia seumur hidupku. Dia sama sekali tidak mengizinkanku melihatnya tapi dia sudah divonis. Ah…. Tuhan jantungku akan baik-baik saja bukan?


Ken terus menundukkan kepalanya ke bawah. Kevin mengambil infus.


Tunggu, darimana dia memiliki infus yang sering ayah gunakan untukku?


Kevin mulai menusukkan jarum suntik ke pergelangan tanganku dan mulai membiarkan cairan infus masuk ke dalam tubuhku. Sarah terus memegang tanganku, dia mencoba membuatku tetap sadar. Aku tidak tahu lagi jika pada akhirnya aku tidak bisa menjaga kesadaranku apa yang akan terjadi. Mataku sudah sangat lelah.


Sekali lagi, bahkan di rumah ini aku bisa mendengar irama yang sama antara detak jam dengan detak jantungku sendiri. Apa irama jantungku benar-benar sama dengan irama jam dinding? Dan kenapa hanya suara jam dinding yang aku dengar? Kenapa aku tidak bisa mendengar suara Sarah yang biasanya menenangkanku? Kenapa aku tidak bisa mendengar musik yang sedari tadi pagi dimainkan di rumah ini? Kenapa? Kenapa harus detak jam yang aku dengar?


“Kevin, kumohon matikan jam dinding.”


Kevin beranjak dari sampingku. Dia mengambil baterai dari jam dinding. Detaknya berhenti. Entah kenapa, perasaanku lebih tenang tidak mendengar detak jam itu lagi, detak jam yang selalu memberitahuku waktu. Kevin kembali berada di sampingku. Dia mengusap dahiku. Biasanya Ken yang akan melakukan itu.


Kualihkan tatapanku pada Ken. Dia juga sedang menatapku dengan khawatir.


Jika dia khawatir, kenapa dia tidak menghampiriku? Kenapa dia tidak mengambil rasa sakit yang aku rasakan karena ucapannya? Kenapa? Detik itu juga aku sudah tidak bisa mengendalikan tubuhku. Aku jatuh pingsan.


...-----...