H(Our)S

H(Our)S
Hubungan



Sudah pukul 12 malam dan aku masih belum bisa memejamkan kedua mataku. Hari ini Kevin memutuskan untuk bermalam di rumah ayahnya yang juga dokterku. Hubungan Kevin dengan ayahnya bukanlah sebuah hubungan yang bisa dikatakan baik. Kevin selalu menyalahkan ayahnya atas kematian ibunya dan karena itu aku sedikit takut jika suatu saat nanti Kevin akan menyalahkan dirinya sendiri atas kematianku.


Bagi seorang dokter, prioritas dalam hidupnya akan terbagi menjadi keluarga dan pasien. Ada kalanya pasien mengalahkan keluarga dan itulah yang terjadi pada Paman Frank. Jika aku diberi satu kesempatan untuk berada diposisinya, aku tidak akan mengambil kesempatan itu karena kesempatan itu berhubungan dengan 2 nyawa dan aku tidak yakin bisa bertahan diposisi Paman Frank. Saat itu Kevin masih kecil, jika aku tidak salah ingat saat itu usianya 10 tahun. Usia yang aku kira hanya akan memikirkan permainan macam apa yang akan aku mainkan dalam satu hari tetapi bagi Kevin usia 10 tahun adalah usia dimana dia membenci ayahnya hingga saat ini. Usia dimana untuk kali pertama dalam hidupnya dia membenci seseorang.


Ibu Kevin sama denganku yang memiliki penyakit jantung, atau lebih spesifiknya penyakit katup jantung dimana katup jantung miliknya tidak dapat membuka dan menutup dengan sempurna. Tentu saja penyakit itu mempengaruhi seluruh aktivitas Tante Rachel. Hal yang paling menyedihkan dari penyakit itu adalah Tante Rachel yang selalu meminta Paman Frank untuk menjadi dokternya. Paman Frank selalu menolak karena beliau tahu perasaan miliknya akan menguasai dirinya dalam memberikan pengobatan kepada Tante Rachel. Saat aku mendengar cerita ini, aku memiliki pemikiran yang sama dengan Kevin yang tidak bisa memahami alasan Paman Frank tetapi begitu aku mengalami sendiri semua hal itu dengan ayahku, aku langsung tahu bagaimana rasanya berada diposisi Paman Frank. Paman Frank tidak akan tega dan berani memberikan pengobatan terbaik yang menimbulkan rasa sakit sama halnya dengan ayahku yang selalu memberikan pengobatan yang tidak menimbulkan rasa sakit tetapi membuatku terus menerus merasakan sakit sedikit demi sedikit untuk waktu yang lama dan semua itu lebih menyakitkan.


Hal yang lebih menyakitkan adalah saat itu Paman Frank harus memilih antara nyawa pasiennya atau nyawa istrinya. Tante Rachel mengalami kecelakaan mobil ketika mencoba menyelamatkan anak-anak yang sedang menyebrang di jalan dari truk yang lepas kendali dan membuat mobil serta tubuhnya sebagai tameng. Hal itu membuat dirinya berada dalam kondisi kritis. Tidak ada satupun dokter spesialis jantung yang berani melakukan operasi kepada Tante Rachel karena konsekuensi kematiannya yang tinggi akibat kecelakaan. Atau lebih tepatnya tidak ada dokter spesialis senior yang bisa melakukan operasi dan dokter-dokter muda belum berani untuk mengambil risiko sebesar itu.


Paman Frank menerima semua kabar itu saat sedang melakukan operasi pada pasien gagal jantung. Jika saat itu Paman Frank memutuskan keluar dari ruang operasi pasiennya dan masuk ke dalam ruang operasi istrinya, maka istrinya akan selamat melihat betapa handalnya Paman Frank sebagai dokter spesialis jantung, bahkan lebih handal dari ayahku. Tetapi saat Paman Frank memutuskan untuk membiarkan dokter lainnya mengoperasi pasiennya, saat itu Tante Rachel mengalah dengan mengatakan ‘aku baik-baik saja, jangan pernah tinggalkan pasienmu untukku’. Saat mendengar suara Tante Rachel, Paman Frank tetap memutuskan untuk berlari masuk ke ruang operasi istrinya karena saat itu Paman Frank sudah tahu dengan pasti bahwa istri tercintanya sudah menyerah akan dirinya dan juga hidupnya. Tetapi belum sempat Paman Frank membuka pintu ruang operasi tiba-tiba kondisi pasiennya semakin memburuk dan mau tidak mau Paman Frank harus melanjutkan operasi pasiennya.


Membutuhkan waktu sekitar 1 jam hingga akhirnya kondisi pasien Paman Frank lebih stabil. Dalam waktu 1 jam itu juga kondisi Tante Rachel semakin kritis. Paman Frank langsung berlari menuju ruang operasi Tante Rachel, bahkan ayah mengatakan jika Paman Frank sempat melakukan operasi tetapi golden time Tante Rachel sudah lewat dan tepat pukul 00.00 Tante Rachel meninggal. Tante Rachel meninggal dihari ulang tahun pernikahan mereka dan Paman Frank sendiri yang mengumumkan waktu kematian istrinya. Tidak ada satu orangpun yang mengira hari itu adalah hari pernikahan keduanya. Sangat ironis ketika hari penyatuan dua insan juga merupakan hari perpisahan dua insan yang saling mencintai.


Paman Frank langsung meninggalkan ruang operasi dan menyembunyikan dirinya sendiri hingga tidak ada satu orangpun yang bisa menemukan keberadaannya. Tidak ada satu orangpun yang menghibur Paman Frank, bahkan ayahku tidak diberi satupun kesempatan untuk menghiburnya. Begitu juga dengan Kevin, Paman Frank tidak memberi satupun kesempatan kepada Kevin untuk mengetahui jika dirinya masuk ke ruang operasi Tante Rachel. Hal itulah yang membuat Kevin menganggap ayahnya tidak berusaha untuk menyelamatkan ibunya. Dia menganggap ayahnya egois karena hanya ingin menyelamatkan pasiennya. Dia membenci fakta bahwa ayahnya menolak semua keinginan ibunya. Keinginan dimana Paman Frank menjadi dokter Tante Rachel. Dan sejak saat itu, Kevin membenci ayahnya dan juga semua hal yang berhubungan dengan kesehatan.


Hanya satu hal yang aku tahu, hingga saat ini Paman Frank masih larut dalam perasaan bersalah. Paman Frank tidak pernah satu kalipun mencoba untuk keluar dari bayang-bayang kegagalan itu. Bahkan bisa aku katakan jika Paman Frank hidup di dalam rasa bersalah dan bayang-bayang kegagalannya menyelamatkan istrinya. Dirinya yang selalu berharap untuk melakukan satu kesalahan setelah kematian istrinya untuk menebus apa yang telah terjadi tetapi Tuhan berkehendak lain, tidak ada kegagalan dalam operasinya setelah kematian istrinya. Aku rasa itu lebih menyakitkan, saat dimana bisa menyelamatkan orang lain tetapi tidak dengan satu-satunya perempuan yang merubah hidup bahkan memberikan kehidupan lainnya dalam hidupnya.


Bagaimana aku bisa tahu semua ini?


Tentu saja dari ayahku yang melihat secara langsung operasi penuh air mata itu. Aku juga berjanji pada ayah untuk tidak menceritakannya kepada Kevin dan karena itu hingga saat ini Kevin belum tahu kebenaran yang terjadi dibalik ruang operasi ibunya. Aku takut jika dia akan menyesali semua kebencian yang telah dia berikan kepada ayahnya dan menganggap semua hal yang telah dia lakukan selama ini hanya membuang-buang waktu sama seperti saat dia menjauhiku. Aku sudah mencoba bahkan memohon kepada Paman Frank untuk menceritakan semua yang terjadi kepada Kevin tetapi beliau menolak dan hanya tersenyum.


Ting…


‘Apa kamu sudah tidur? Aku yakin kamu sudah tidur


Aku lupa mengatakan jika aku mencintaimu..


Selamat malam atau mungkin selamat pagi. Balas saat kamu bangun ^^’


Lebih baik aku tidak membalas pesan itu atau Kevin akan langsung meneleponku dan memarahiku kenapa sampai sekarang belum tidur. Kuletakkan handphone ke atas meja rias dan berjalan keluar menuju dapur. Disaat seperti ini hanya susu hangat yang akan bisa membuatku tertidur.


“Hai?”


“Wahhh!! Kamu mengagetkanku. Apa yang kamu lakukan di sini, Bobby?” tanyaku.


“Berpikir.”


“Dalam gelap?”


Tidak ada jawaban.


Aku sibuk mengambil susu dari dalam kulkas, menuangkannya ke gelas, dan memasukkannya ke dalam microwave. Hanya butuh waktu 30 detik bagiku untuk bisa menikmati susu hangat. Aku masih berdiri di depan microwave karena bimbang haruskah duduk menemani Bobby atau langsung masuk ke dalam kamar. Aku rasa tidak etis untukku dijam seperti ini mengobrol hanya berdua dengan kekasih saudara kembarku. Lebih baik aku langsung kembali ke kamar.


“Fanya, apakah Sarah akan baik-baik saja?”


Pertanyaan Bobby berhasil menghentikkan langkah kakiku. Kuletakkan gelas berisi penuh susu ke atas meja makan. Aku memutuskan untuk duduk mengobrol dengannya.


“Apa ada masalah antara kalian berdua?”


“Dia akan baik-baik saja.”


“…”


“Dulu aku sangat takut untuk membayangkan seperti apa Sarah saat aku tidak ada. ‘Hatinya yang sangat kuat apakah akan baik-baik saja?’, aku selalu menanyakan pertanyaan itu setiap kali melihat senyumnya. Aku sangat yakin dia akan baik-baik saja, dia mungkin akan membutuhkan waktu, waktu untuknya menata kembali hatinya tapi setelah itu semua akan baik-baik saja.”


“Bagaimana bisa kamu yakin? Aku yang selalu bersama dengannya saja tidak tahu akan seperti apa rupanya saat kamu tidak ada.”


“Hanya karena kamu selalu bersama dengannya bukan berarti kamu menjadi satu dengan hati dan pikirannya. Cobalah keluar dari pola pikir itu dan lihatlah Sarah sebagai adikku maka kamu akan menemukan apa yang ada dipikirannya. Membutuhkan waktu dua tahun bagi Sarah untuk bisa menerima semuanya, sama halnya denganku. Dan karena sekarang aku baik-baik saja, aku sangat yakin Sarah juga akan baik-baik saja. Cukup percayai itu dan Sarah akan membuktikannya. Berikan dia waktu.”


Bobby terdiam. Ini kali pertama dalam hidup kami berdua bisa mengobrol seperti sekarang. Aku selalu merasa Bobby berusaha menjaga jarak denganku, baik dahulu maupun sekarang. Aku tahu dengan pasti alasannya, dahulu dia takut Ken akan memukulnya jika membuat masalah denganku dan sekarang dia takut Kevin akan membunuhnya jika menyakitiku.


“Aku selalu penasaran bagaimana bisa seorang hidung belang sepertimu jatuh cinta kepada Sarah dan membuatnya jatuh cinta hingga seperti ini. Apa rahasiamu?”


“Wajahku?” jawab Bobby ragu.


“Masih banyak laki-laki yang lebih tampan darimu.”


“Hei!!” balasnya membuat kami berdua terkekeh.


“Dia pernah melihatmu menolong seekor kucing di jalan. Sejak saat itu dia selalu mengawasimu. Dia jatuh cinta kepada kebaikanmu hingga dia tidak sadar telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu yang aku tahu tentang Sarah, bagaimana denganmu?”


“…”


Baiklah, aku rasa Bobby masih belum mau seterbuka ini denganku. Aku juga tidak memaksa untuk kami menjadi dekat dalam waktu satu malam karena aku sangat paham betapa berlawanannya karakter kami berdua. Kuambil gelas berisi susu dihadapanku dan langsung meminum setengahnya. Susu yang awalnya hangat sudah berubah menjadi lebih dingin.


“Aku menyukainya dari saat aku berusia 7 tahun, saat kalian di airport, aku rasa saat kalian kembali dari Jepang melihat kimono yang dikenakan Sarah. Sarah mengambil kalung milikku yang tidak sengaja aku jatuhkan. Aku tidak berharap akan bertemu dengannya lagi saat kami dewasa tapi siapa sangka Tuhan begitu baik mempertemukan kami untuk kedua kalinya. Aku mendapat julukan ‘hidung belang’ karena aku ingin menarik perhatiannya. Seseorang yang tomboi sepertinya tidak akan tertarik dengan laki-laki baik bukan?”


Kali ini aku yang terdiam untuk waktu yang cukup slama. Bobby hanya menyunggingkan sebuah senyum setiap kali aku menatap tidak percaya dirinya. Aku bahkan tidak tahu jika kami pernah bertemu saat masih kecil, atau mungkin hanya Sarah yang bertemu dengannya. Dan aku lebih terkejut dengan fakta dia masih mengingat pakaian yang dikenakan Sarah.


Aku ingin menghidupkan kembali suasana yang saat ini berubah menjadi sangat canggung karena ketidakpercayaanku padanya tapi aku rasa sudah terlambat. Saat ini suasana benar-benar canggung, bahkan untuk mengangkat kembali gelas berisi susu milikku, aku tidak bisa. Aku hanya bisa menelan ludah.


“Bobby? Dimana kamu?”


“Sarah terbangun, temui dia. Aku akan kembali ke kamar.”


“Fanya.”


“Ya?”


“Maafkan aku sudah membahas sesuatu yang bahkan belum terjadi, sesuatu yang mungkin tidak ingin kamu bahas. Maafkan aku.”


Hanya senyuman yang aku berikan sebagai jawaban sebelum aku menghilang ke dalam kamar.


...-----...