
“Wahhh, pernikahan ini benar-benar pernikahan impian Sabrina,” gumam Sarah.
Aku tidak pernah menyangka jika langkah pertamaku setelah pelarian selama dua tahun adalah rumah Sabrina, rumah seseorang yang hampir membunuhku. Aku tahu jika aku tidak akan pernah bisa bersahabat kembali dengan Sabrina tetapi aku juga tahu jika aku harus datang ke pernikahannya.
Aku harus menepati janji yang sudah kami buat untuk hadir baik dipernikahan atau pemakaman kami, apapun yang terjadi dan siapapun yang memulainya. Setidaknya aku harus menepati janji untuk hadir ke pernikahannya karena bisa jadi aku tidak akan bisa menghadiri pemakamannya. Hanya janji itu yang tersisa dalam persabahatan kami.
Pernikahan Sabrina dan Daniel adalah pernikahan impian Sabrina. Pernikahan bergaya garden dengan beralaskan rumput-rumput hijau dan beratapkan langit biru. Kursi-kursi kayu berwarna putih disepanjang altar. Bunga dan balon yang menggantung dibagian atas altar. Pernikahan impian yang selalu dia ceritakan setiap malam akhirnya menjadi kenyataan.
Hanya satu yang tidak terwujud dari pernikahan impiannya, senyum dari mempelai pria yang hilang. Bukan hanya aku yang menyadari ketidakhadiran senyum itu, kedua orang tua Daniel juga menyadarinya. Senyum anak mereka di hari paling bersejarah dalam hidupnya telah hilang.
“Kenapa Daniel memaksa menikahinya jika dia memasang wajah seperti itu?”
Pertanyaan Bobby menyadarkanku dari lamunan. Sarah sudah memberikan kuncian kepala pada Bobby begitu pertanyaan itu terlontar. Aku rasa pertanyaan Bobby mewakili pertanyaan sebagian besar orang yang hadir dalam pernikahan ini, terlebih berita pembatalan pertunangan mereka juga sudah menyebar dua tahun yang lalu. Bukan hal yang aneh jika orang-orang mengira ada sesuatu yang salah dari pernikahan ini. Seseorang yang membatalkan pertunangannya tiba-tiba kembali untuk memperbaikinya dan bahkan melanjutkan ketahap untuk sehidup semati.
“Kita tidak tahu selama dua tahun apa yang sudah terjadi pada mereka. Kita hanya orang luar yang bisa mengamati. Jika kita tidak bisa mendoakan mereka setidaknya jangan menghakimi dan mengutuk mereka.”
Kualihkan pandanganku pada Ken yang membawa piring penuh berisi kue. Apa yang baru saja dia katakan benar. Aku juga sudah memutuskan untuk tidak mencari tahu apapun tentang alasan Daniel tetap menikahi Sabrina. Aku tidak ingin tahu sebanyak apa rasa sakit yang harus Daniel dan Sabrina rasakan untuk bisa memutuskan sebuah pernikahan.
“Kevin kemana?” tanya Ken.
Sarah menatap tajam Ken diikuti dengan pukulan kecil ke perut Ken. Bobby hanya menepuk-nepuk bahu Ken seolah memberi tahu setelah ini akan ada pukulan lainnya yang lebih keras. Kuambil piring dari tangan Ken dan berjalan menuju kursi kosong. Beberapa orang sudah mulai meninggalkan tempat ini. Sejujurnya aku juga ingin segera pergi dari tempat ini karena aku sudah merasa sangat sesak tetapi ayah dan ibu masih berbincang-bincang dengan orang tua Daniel dan Sarah.
Kevin ikut denganku kembali ke Jerman tetapi dia menolak untuk datang ke pernikahan ini. Dia tidak ingin hatinya yang sudah tenang kembali terisi dengan kebencian. Jujur, aku juga takut untuk datang ke pernikahan ini. Aku takut akan merasakan kembali rasa sakit yang dulu aku rasakan tetapi begitu melihat Sabrina, bukan perasaan benci ataupun sakit yang muncul kembali tetapi perasaan rindu. Seburuk apapun perlakuan Sabrina kepadaku di masa lalu, bagiku dia tetaplah sahabat masa kecilku. Dia adalah sahabat yang menemaniku tumbuh hingga sekarang.
“Boleh aku duduk?”
Kudongakan wajahku ke atas dan mendapati seorang pengantin wanita dalam balutan gaun berwarna putih. Aku hanya mengangguk sembari menyingkirkan piring yang mengisi kursi di sebelahku. Begitu Sabrina duduk, Sarah dan Ken langsung melangkahkan kaki mereka mendekat ke arah kami. Hanya gelengan kecil yang aku berikan kepada mereka. Aku tidak ingin Sabrina merasa tidak nyaman dengan kehadiran kedua saudara kembarku.
Sabrina masih diam, tangannya terus memutar-mutar cincin di jari manisnya. Dia selalu memainkan perhiasan yang dia gunakan saat berada disuasana canggung. Aku mengikuti diamnya. Aku tidak akan membuka mulutku sebelum dia membuka kembali mulutnya.
Daniel melihat ke arah kami, atau lebih tepatnya ke arah Sabrina. Sekarang aku yakin, pernikahan ini tidak akan membawa kebahagiaan bagi siapapun jika aku tidak ikut campur. Pernikahan ini hanya untuk melindungiku. Daniel masih menganggap Sabrina akan melakukan sesuatu yang buruk padaku dan mengikatnya dalam sebuah pernikahan adalah salah satu cara membuat Sabrina berhenti untuk melakukan hal-hal buruk padaku.
“Hati Daniel dan Kevin selalu menjadi milikmu.”
“…”
“Alasan kepindahanku saat itu adalah aku ingin melihat siapa diantara kedua laki-laki itu yang akan kehilanganku. Mereka selalu menatap ke arahmu dengan tatapan penuh cinta dan karena itu aku iri padamu, pada semua yang kamu miliki. Kevin menyadari perasaannya dengan cepat, berbeda dengan Daniel yang selalu menganggap hatinya telah jatuh untukku.”
Sabrina kembali diam. Aku tidak tahu respon seperti apa yang harus aku berikan. Aku merasa semua yang dia ucapkan hanyalah omong kosong. Aku tidak ingin mengetahui sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Aku ingin menutup rapat pintu masa laluku. Aku tidak ingin mengetahui sesuatu yang memang seharusnya tidak aku ketahui.
“Apa kalian akan baik-baik saja?” tanyaku memecah hening.
Hanya pertanyaan itu yang terlintas dalam otakku. Bahkan aku merasa Sabrina sama terkejutnya denganku begitu pertanyaan itu keluar dari mulutku. Aku tidak tahu kenapa pertanyaan klise seperti itu muncul disaat-saat seperti ini. Sepertinya otakku benar-benar tidak bisa memikirkan hal lainnya.
“Kalian membuat perjanjian pernikahan?”
Kutatap Sabrina yang sekarang hanya tersenyum. Dia kembali memainkan cincin di jari manisnya. Kuamati wajahnya yang berubah. Aku tidak menyadari jika wajah Sabrina juga tidak memancarkan kebahagiaan seorang pengantin. Aku hanya terfokus pada Daniel tanpa mencoba melihat Sabrina lebih jauh. Seharusnya aku tahu, diantara kami berempat yang paling pandai menyembunyikan perasaannya adalah Sabrina.
“Maafkan aku, Fanya.”
“…”
“Aku selalu mencintai Daniel dan itu adalah fakta yang selalu aku tahu sama halnya dengan fakta dimana kamu dan Kevin sudah saling mencintai sejak dahulu. Keegoisan dan rasa iriku padamu membuat rasa cintaku pada Daniel tertutupi. Aku menginginkan kamu untuk menderita karena aku tidak bisa mendapatkan cinta seperti kamu mendapatkan cinta dari keduanya.”
“Sabrina," panggilku tegas.
“Ya?”
“Kamu salah akan satu hal. Daniel selalu mencintaimu. Tatapan penuh cinta yang dia berikan kepadaku adalah milikmu bukan milikku. Kamu selalu berada di sampingku dan Daniel selalu menatap penuh cinta pada seseorang yang berada di sampingku. Dia tidak pernah melihat ke arahku, satu kalipun tidak pernah. Betapa ironis ketika kalian berdua saling menatap penuh cinta tetapi tatapan itu tidak pernah sampai ke hati kalian. Dia mencintaimu Sabrina, selalu dan selamanya. Bahkan hingga detik ini, Daniel melihat ke arahmu bukan ke arahku.”
Sabrina mengalihkan padangannya ke arah Daniel. Mereka berdua bertatapan untuk waktu yang cukup lama seolah menyelami kembali perasaan yang sudah menjauh dan mencoba menyusun kembali hati yang sudah menjadi kepingan-kepingan. Mereka mencintai dengan cara yang menyedihkan. Akan membutuhkan waktu untuk merubah cinta itu. Satu hal yang pasti, cinta menyedihkan itu akan berubah menjadi cinta kebahagiaan. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan tetapi aku tahu cinta menyedihkan itu perlahan akan merubah hati yang sudah berkeping-keping dan memberi kembali hati itu sebuah harapan. Harapan yang tidak bisa mereka berikan saat ini. Suatu saat harapan itu akan muncul dan aku percaya akan hal itu.
“Berbahagialah, Sabrina.”
Tepat sebelum aku melangkahkan kaki menuju tempat Sarah, Ken, dan Bobby, tangan Sabrina sudah menarik lembut tasku. Dia menatapku dengan tatapan mata anjing miliknya, tatapan yang tidak akan pernah bisa aku tolak. Tatapan itu membuatku kembali duduk.
“Hari dimana kamu berada dalam koma karena taruhan Daniel dan Kevin, aku kembali ke Jerman dan hari itu adalah kali pertama dalam hidupku melihat Kevin menangis. Dia berdoa kepada Tuhan, ‘jika dengan ketidakhadiranku, Fanya bisa tetap hidup maka aku akan pergi’. Aku selalu bercerita hanya sampai sini, bukan?”
“...”
“Kalimat lain dalam doa Kevin yang tidak pernah aku ceritakan pada siapapun adalah ‘tetapi aku tidak akan pergi selamanya karena aku akan kembali dengan sebuah gelar dokter dan membuatnya tetap hidup bersamaku, hidup bersama anak-anak kami’. Dia menjadi dokter karenamu, Fanya.”
Aku tahu, aku sudah lama tahu akan hal itu. Hal yang tidak ingin aku tahu kejelasannya dan selalu aku tutupi kebenarannya. Kebenaran yang akan menyakiti Kevin di masa depan dan kebenaran yang akan membutakan Kevin disetiap langkahnya.
“Terima kasih sudah mau menceritakannya. Sarah dan Ken sudah menatap tajam ke arahmu, aku harus pergi. Sampai jumpa,” ucapku sembari beranjak dari tempatku duduk dan melangkahkan kaki menjauhi Sabrina.
“Fanya?”
“Ya?”
“Tetaplah hidup sampai aku tidak malu untuk memintamu menjadi sahabatku kembali.”
Hanya sebuah senyum dan gelengan yang aku berikan sebagai sebuah jawaban. Senyum karena akhirnya aku tahu kebenaran di dalam hati Sabrina yang masih menganggapku sebagai sahabatnya dan gelengan karena aku tidak yakin sampai kapan akan hidup. Setidaknya aku bisa menunggu walaupun aku tidak tahu apakah saat itu Sabrina sudah memiliki keberanian atau belum. Hanya menunggu dan menunggu.
...-----...