
Rintik hujan mulai turun membasahi tanah yang bertumpukkan salju. Kuamati bunga di taman. Beberapa diantaranya layu.
Kenapa layu? Apa dinginnya musim dingin benar-benar memakan semua kehidupan? Semua keindahan?
Jika setiap musim dingin seperti ini bagaimana mungkin aku bisa mulai menyukai musim dingin seperti yang Ken ucapkan. Aku tidak senaif dan sepolos itu untuk bisa menyukai kepedihan, untuk menyukai luka, dan untuk memaafkan kesalahan. Tidak, sebenarnya aku bisa melakukan ketiga hal itu karena hanya dengan melakukan hal itu bisa membuatku kembali hidup seperti dulu.
Kuamati handphone di tanganku. Saat ini Kevin berada di Berlin. Dia ingin bertemu denganku untuk meminta maaf.
Maaf?
Lagi-lagi ada yang menginginkan maaf dariku. Aku bahkan tidak tahu apa yang mereka perbuat hingga harus meminta maaf dariku. Aku juga sudah melupakan kejadian-kejadian yang menyakitkan tapi jika mereka terus menerus datang padaku dan meminta maaf, aku tidak akan bisa mengobati luka yang aku rasakan.
“Hai!!”
“Sarah? Ada apa dengan wajahmu?” tanyaku khawatir begitu melihat wajah Sarah penuh dengan luka.
“Hanya mengurus beberapa hal.”
“Stephanie?”
Sarah duduk di sampingku. Dia hanya diam membisu. Sama seperti yang aku lakukan, dia mengamati bunga yang layu. Dia tidak peduli dengan rintik hujannya, dia terus mengamati bunga itu. Sarah mengulurkan tangannya, dia mencoba menggapai bunga itu tapi diantara tangan Sarah yang telah terulur dan bunga itu terdapat jendela. Tepat sebelum tangannya menyentuh jendela, Sarah menarik kembali tangannya.
“Bukankah itu menyakitkan?”
“Huh?" balasku bingung.
“Saat kita berusaha sekeras kemampuan kita tapi ternyata kita masih belum bisa menggapai apa yang kita inginkan.”
“Apa ini berhubungan dengan kejadian hari ini?”
“Stephanie, dia selalu berusaha untuk menggapai Ken. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah Ken. Dia sangat menyukai Ken. Tapi, dia tidak pernah mencoba untuk menggapai Ken dengan cara yang sebenarnya sangat mudah, yaitu menjadi dirinya sendiri. Apa kamu tahu kenapa Ken jatuh cinta pada Clara?”
“Tidak, aku tidak ingin tahu.”
“Tapi sayangnya kamu harus tahu. Semua itu karena Clara menjadi dirinya sendiri hingga dia kehilangan dirinya dan mulai menirumu. Meniru tingkah lakumu. Meniru kasih sayang yang kamu berikan untuk Ken. Tapi, Clara tidak pernah memikirkan satu hal dari menirumu yakni dia bukanlah seseorang yang membuat Ken jatuh hati karena kedalaman cintanya untuk Ken. Yang dia lakukan hanya untuk membuktikan pada dunia bahwa dia bisa mengalahkanmu, Fanya.”
Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak bisa mengikuti alur pembicaraan yang Sarah buat jika Sarah tidak memberitahuku hal yang sebenarnya terjadi. Aku hanya akan menjadi boneka yang kebingungan jika Sarah terus melanjutkan percakapan ini.
“Apa kamu mau mengatakan jika diriku yang sekarang bukanlah diriku yang sebenarnya?”
Sarah menatapku. Dia menatapku dengan kedua mata birunya yang dalam. Tatapan matanya sekarang penuh dengan kasih sayang yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Sepertinya aku memang bodoh karena tidak bisa menyadari kasih sayang dari orang-orang di sekelilingku.
“Tidak. Dirimu yang sekarang adalah dirimu. Hanya saja, dirimu yang sekarang tidak lengkap tanpa Ken. Semua orang membicarakan kalian. Awalnya kukira mereka akan senang karena kamu dan Ken sudah bisa terpisahkan tetapi aku salah, mereka justru merasa aneh hanya dengan melihatmu ataupun Ken berjalan seorang diri. Melangkahkan kaki kalian untuk saling menjauh satu sama lain.”
Setiap orang pasti memiliki luka mereka masing-masing. Luka karena terlalu dalam mencintai seseorang. Luka karena terlalu percaya pada seseorang. Luka karena terlalu menggantungkan hidupnya pada seseorang. Dan luka karena tidak pernah mau memaafkan. Aku sudah merasakan banyak luka dan aku tidak ingin merasakan luka karena aku tidak bisa memaafkan disaat aku masih bisa memaafkan.
Kenapa aku tidak menyadari semua ini dari awal?
Kulangkahkan kakiku menuju pintu. Ayah dan ibu melihat ke arahku, mereka sedang menikmati teh hangat dengan camilan beberapa potong cookies. Aku hanya memberikan senyum yang biasa aku berikan untuk mereka. Mereka terkejut melihat kembali senyuman di wajahku yang telah hilang selama satu bulan ini tetapi mereka segera membalasnya dengan senyuman khas milik mereka.
Kuambil jaket tebal milikku yang menggantung dan dua buah payung. Sudah pukul empat sore, biasanya Ken pulang lebih awal dari jam empat tapi sekarang dia belum pulang. Aku harus menunggu dia di depan toko roti itu lagi. Ya, sama seperti saat salju pertama turun. Aku akan menunggu dia di sana dan aku memang harus menunggunya di sana.
Aku kira aku lebih membenci salju daripada hujan, ternyata aku salah. Hujan ataupun salju aku membenci keduanya. Sangat dingin. Kumasukkan tangan kananku kedalam saku. Aah… tangan kiriku juga kedinginan, jika aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku, lalu siapa yang akan memegang payung?
Kenapa aku tidak menyadari tubuh Ken yang sedari tadi diam di seberang toko?
Kulangkahkan kaki mendekat ke arahnya. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiranku. Apa yang sedang dia pikirkan?
Tepat satu meter sebelum aku mendekat ke arahnya, Ken melihatku. Tatapan mata apa itu? Kenapa sinar biru itu hilang? Sinar biru yang selalu dia tunjukkan padaku, kenapa sekarang berganti menjadi awan kelabu? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?
“Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku.
Aku masih diam di tempatku berdiri, aku tidak melanjutkan langkahku mendekat ke arahnya. Mungkin aku akan mengganggunya, sebaiknya seperti ini saja. Ada jarak yang bisa membuatku berlari jika aku memang mengganggunya.
“Aku membutuhkanmu. Kenapa sekarang baru aku sadari, detak jantung ini juga milikmu? Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak bisa menyadari detak jantung milikmu juga berada di dalam jantungku? Kenapa aku tidak bisa dengan tulus menyayangimu?”
Kuamati wajah Ken dengan teliti. Ada luka di pipinya.
Apa dia baru saja berkelahi dengan seseorang? Tapi siapa?
“Ken?” panggilku khawatir.
“Aku tidak bisa menanggung semua ini, Fanya. Aku tidak bisa menjaga jarak denganmu. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Aku merindukanmu.”
Kulangkahkan kakiku mendekat ke arah Ken. Kupeluk tubuhnya yang lebih besar dan tinggi dariku. Ternyata benar, Ken menanggung penyesalan yang sangat dalam. Ken merasakan kehampaan dalam dirinya saat kasih sayang yang selama ini aku berikan padanya hilang.
Apa benar hidup semua manusia akan berakhir dengan kehampaan?
Ken membalas pelukanku. Dia mengeratkan pelukannya. Aku tidak peduli jika tubuhku akan basah kuyub. Aku tidak peduli jika aku akan kedinginan. Luka ini, luka yang aku buat, seharusnya aku bisa mengobati luka ini dengan cepat. Seharusnya aku bisa memaafkan Ken lebih cepat dari hari ini. Seharusnya aku tidak membuat luka ini dengan hanya mendengarkan percakapan Ken dengan Clara. Seharusnya, luka ini tidak pernah aku buat. Aku tidak akan membuat luka yang sama seperti ini lagi karena rasanya sangat menyakitkan baik untukku dan juga orang lain.
Seberapa keras aku mencoba membenci Ken, mencoba membenci saudara kembarku, aku tetap tidak bisa. Darah yang mengalir di dalam tubuhnya sama dengan darah yang mengalir di dalam tubuhku. Aku tidak bisa membenci keluargaku sendiri dan itu sudah menjadi hukum mutlak setiap manusia. Aku memang bisa merasakan kekecewaan pada keluargaku sendiri tetapi aku tidak bisa benar-benar membenci mereka. Aku menyayangi mereka. Aku mencintai keluargaku lebih dari saat aku mencintai orang yang menjadi cinta pertamaku. Pada akhirnya, kalimat yang selalu ingin aku ucapkan adalah ‘aku mencintai keluargaku seperti mereka mencintaiku’. Aku tidak akan lari lagi.
...-----...