
Dua hari berlalu dan tidak ada satupun keluargaku yang menanyakan kabarku. Walaupun aku ingin menghabiskan waktuku bersama Kevin bukan berarti mereka harus membatasi diri mereka untuk menghubungiku. Jika aku tahu hal seperti ini yang akan terjadi lebih baik aku tetap diam di rumah dan membiarkan waktuku dihabiskan di rumah bersama Kevin dan keluargaku.
Banyak suara di rumah Kevin. Aku tidak tahu jika rumah Kevin akan sangat bising seperti ini. Sebenarnya kebisingan yang tidak diperlukan. Banyak pelayan di rumah Kevin yang tampak seperti orang baru. Hampir semua pelayan di rumah ini membuat banyak kesalahan. Di hari pertama aku datang ke sini, sudah ada dua belas piring dan sepuluh gelas yang dipecahkan.
Masakan di rumah ini memang lezat hanya saja masakannya terlalu pedas. Sudah lima kali aku mengatakan pada koki di rumah ini untuk membuatkan makanan yang sedikit lebih manis tapi jawaban koki itu membuatku bingung. Koki itu mengiyakan permintaanku tapi tiba-tiba saja dia meralat ucapannya dan tidak akan mengganti resep pedas miliknya. Aku sempat berpikir koki itu diancam oleh seseorang. Tapi, mengingat tidak ada seorangpun yang memiliki kebencian terhadap Kevin, aku mengubur hidup-hidup pikiran tidak rasionalku itu.
Dan juga, tukang kebun di rumah ini benar-benar aneh. Disaat bunga-bunga mulai bermekaran justru tukang kebun itu merusak semua bunga di taman dan menatap ke arahku seakan-akan aku adalah orang yang akan membawa kesialan. Aku menceritakan semua ini pada Kevin, tapi Kevin hanya mengatakan semua itu hanya perasaanku saja. Mungkin memang hanya perasaanku saja.
Ah…. tempat yang aku kira akan tenang berubah perlahan-lahan menjadi neraka bagiku.
Seorang pelayan masuk ke kamarku, dia membawa makanan untukku. Dia tetap berdiri di depan pintu dan tidak masuk ke dalam. Dia menatap ke arahku dengan takut.
Apa ada yang aneh dengan wajahku? Apa aku membuat wajah yang menakutkan? Atau memang wajahku sangat menakutkan?
“Kamu tidak masuk?”
Pertanyaanku membuat pelayan itu melangkahkan kakinya dan meletakkan nampan berisi makanan di meja samping tempat tidurku. Dia kembali mencuri pandang ke arahku dengan takut. Dia terus menundukkan wajahnya ke bawah. Tiba-tiba dia mengambil tanganku. Nafasnya berubah menjadi nafas orang ketakutan. Sekarang dia menatap ke arahku.
“No…nona, jangan makan makanan ini. Saya mohon Nona.”
“Kenapa aku tidak boleh memakan makanan ini? Bukankah kamu membawakannya kepadaku agar aku memakannya?”
Pelayan itu mengambil sesuatu di dalam kantong bajunya. Sebuah kertas atau lebih tepatnya kertas foto. Tangan pelayan itu bergetar, kugenggam tangan yang satunya. Pelayan itu hanya tersenyum penuh ketakutan ke arahku. Sekarang dia menyodorkan sebuah foto ke arahku. Foto itu, foto Sabrina dan Kevin yang diambil di taman.
Kenapa pelayan ini menunjukkan foto ini?
“Apa Nona mengenali perempuan ini? Beberapa bulan yang lalu perempuan ini berkunjung ke rumah ini dan mengatakan jika dia adalah kekasih dan calon istri tuan muda. Dan karena semua pelayan di sini adalah orang-orang yang sangat polos mereka menganggap…..”
Sekarang aku mengerti dengan semua situasi ini. Sabrina, kenapa dia tidak bisa melepaskan Kevin? Dia sudah memiliki Daniel, setidaknya dia harus menjaga kesetiaannya.
“Apa semua pelayan di rumah ini menganggapku sebagai orang yang merusak hubungan mereka berdua?”
Pelayan itu hanya mengangguk. Dia kembali menundukkan kepalanya ke bawah. Kuangkat tanganku dan menarik tubuh pelayan itu ke arahku. Pelayan itu tersentak.
“Kamu tidak perlu melakukan semua ini. Tataplah wajahku, aku bukan seorang penjahat.”
“Nona, maafkan saya.”
“Tidak apa. Apa yang Sabrina lakukan saat itu?”
“Dia hanya meminum teh bersama tuan muda tapi semua pelayan di sini menyukai perempuan itu karena dia sangat baik, ramah, dan bukan pesakitan seperti Nona. Maafkan saya. Saya mohon pada Nona jangan makan makanan ini, perut Nona akan sakit. Saya permisi.”
Aku hanya menghembuskan nafas sembari melihat makanan di sampingku. Sekali lagi, orang-orang hanya akan menganggap dan melihat orang yang sehat sedangkan orang yang memiliki penyakit mereka akan mengucilkannya. Jika aku menjadi pengamat, aku juga pasti akan lebih memilih orang yang sehat dibandingkan orang yang berpenyakitan. Sayangnya, aku bukanlah seorang pengamat melainkan tokoh utama yang sedang dibicarakan.
Seseorang melangkahkan kakinya mendekat ke kamar. Itu bukan langkah kaki milik Kevin. Langkah kaki itu terlalu cepat dan langkah kaki Kevin begitu pelan tetapi lebar. Aku memiliki firasat buruk tentang orang ini. Kuambil handphone yang sedari tadi kutelakkan di meja, kumasukkan ke dalam saku bajuku atau lebih tepatnya saku piyamaku.
“Lihatlah, pengganggu ini bahkan hanya bisa terbaring di sini,” bisik salah satu pelayan.
Dua orang masuk ke dalam kamarku. Seperti dugaanku, itu bukan langkah kaki milik Kevin melainkan milik dua orang pelayan perempuan di rumah ini. Satu pelayan yang mengikat rambutnya dengan kuciran mendekat ke arahku. Dia tersenyum sinis ke arahku. Pelayan yang satunya mengambil kursi roda dan mendekatkannya ke arah tempat tidur.
Pelayan itu mengangkat tubuhku dan mendudukkanku ke kursi roda. Aku tidak melawan apa yang mereka lakukan padaku. Aku tidak berniat untuk melawan dan aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Dua pelayan itu membawa kursi rodaku dengan sangat cepat, kutenangkan diriku dan mulai mengatur nafasku agar kembali normal.
“Kita mau kemana?”
“Ke tempat dimana Anda akan mengetahui kenapa Anda tidak layak untuk tuan muda.”
Muncul satu pertanyaan di benakku, kapan Sabrina berada di rumah ini? Aku hanya bisa mengamati semua kejadian ini dalam diam. Dua pelayan itu, aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.
“Nona, bukankah mereka berdua pasangan yang serasi? Bahkan saat nona datang kemari, tuan muda tidak menyiapkan acara seperti ini. Apa benar Nona adalah orang yang tuan muda cintai?”
“Ya, mereka berdua sangat serasi. Bisakah kalian membawaku kembali ke kamar? Aku sudah sangat mengantuk.”
“Nona, saya hanya ingin menegaskan, kehadiran Nona Sabrina, bukankah Anda tidak tahu? Dan juga semua ini, Nona juga tidak tahu bukan? Jika nona cukup pintar lebih baik nona menyerah dengan tuan muda. Nona hanyalah seseorang dengan penyakit di dalam tubuh Nona dan hanya akan menghambat tuan muda. Jadi, saya mohon, bukan hanya saya tapi kami mohon, tinggalkan tuan muda.”
Sekarang emosiku sudah tidak bisa aku tahan. Kudorong kursi roda yang kunaiki sendiri. Dua pelayan itu cukup terkejut dengan gerakan yang aku lakukan. Mereka mendekat ke arahku, aku hanya menatap tajam ke arah mereka, mereka sudah langsung memundurkan diri mereka dan menundukkan kepalanya.
Sampai di depan tangga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kucoba berdiri, aku memang sudah bisa berdiri tapi aku tidak bisa melangkahkan kakiku. Apa yang harus kulakukan?
Apa aku harus kembali ke taman dan meminta tolong pada Kevin yang nantinya hanya tatapan penuh kebencian milik para pelayan yang akan aku dapatkan dan mungkin tatapan penuh rasa kasihan dari Sabrina? Aku tidak akan pernah melakukan hal itu.
“Nona?”
“Tinggalkan aku sendiri.”
“Apa Nona membutuhkan bantuan?”
“Kubilang tinggalkan aku sendiri,” teriakku.
Kepalaku benar-benar pusing, sepertinya aku baru merasakan rasanya ditimpuk dengan batu seberat ratusan kilogram. Banyak bintang-bintang bertebangan di kepalaku. Kuamati tangga di depanku. Begitu jauh dan begitu memerlukan tenaga. Kuambil handphone dari dalam saku piyamaku.
“Halo?”
“Ken, bawa aku pergi dari sini.”
“Ada apa? Apa sesuatu yang buruk terjadi padamu?”
“Ken, aku hanya ingin bersama laki-laki yang aku cintai, apa semua itu terlalu berlebihan untukku? Apa aku tidak boleh melakukan itu? Ken, kumohon bawa aku pergi dari sini.”
“I know, I will go to you, just wait and don’t go anywhere.”
...-----...
“Apa ada sesuatu yang terjadi? Dan juga, kenapa Ken pulang dengan wajah babak belur?” tanya Sarah khawatir.
Stephanie menepuk pundak Sarah. Dia membawa makanan untukku. Dia mulai menyuapiku. Aku merindukan masakan ini, aku merindukan masakan yang tidak pedas dan aku merindukan kehangatan rumah ini.
Apa sekali lagi aku terlalu bodoh karena lebih memilih orang yang kucintai daripada keluargaku sendiri? Apa aku benar-benar sebodoh itu? Jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya dan itu menyakitkan.
“Apa kamu ingin minum teh?”
“Tidak, terima kasih. Stephanie, apa Ken menceritakan semua yang terjadi?” tanyaku.
“Apa kamu tahu, Fanya. Ken tetap memilihmu apapun yang terjadi. Dia memang mengatakan ingin menghabiskan waktunya denganku, tapi dua hari yang lalu saat kamu meneleponnya, aku dan dia sedang berkencan dan dia meninggalkanku begitu saja. Jangan merasa bersalah, aku hanya ingin mengatakan, seberapa banyak Ken menyukaiku, sedalam apapun Ken mencintaiku, dia belum siap berbagi rahasia keluarganya kepadaku dan dia belum siap untuk meninggalkanmu.”
Kuhembuskan nafasku. Terlalu banyak kepura-puraan di sini. Sungguh, terlalu banyak sampai sekarang aku tidak bisa mengetahui siapa yang tulus dan siapa yang hanya berpura-pura. Kuamati dinding, jam dinding itu memang mati, tidak bisa menunjukkan waktu yang benar tapi walaupun jam dinding itu mati, setidaknya jam itu masih bisa menunjukkan waktu yang benar sebanyak dua kali, diwaktu pagi dan malam. Jam delapan pagi dan delapan malam.
Kenapa aku tidak bisa menunjukkan jalan yang benar untuk diriku sendiri? Kenapa aku terjebak di jalan penuh liku yang aku buat sendiri? Kenapa aku tidak mencoba membuat jalan yang sederhana? Dan kenapa aku lebih memilih mengambil jalan yang rumit? Jalan yang bahkan tak bisa kupahami.
...-----...