H(Our)S

H(Our)S
Rapuh



“Mulai minggu depan kamu akan kembali menjalani rehabilitasi jantung. Apa kamu setuju?”


“Tidak masalah untuk Fanya.”


“…”


“Apa ada masalah antara Paman dengan Kevin?”


Hanya bunyi ketukan jari di atas meja bersamaan dengan suara goresan pena di atas kertas yang terdengar di ruangan. Paman Frank mengabaikan pertanyaanku dan fokus menuliskan resep obat milikku, obat untuk satu bulan ke depan. Kualihkan pandanganku dari kertas yang sekarang penuh dengan resep obat pada sebuah foto, foto Tante Rachel. Aku ingin menyentuh bingkai foto itu tetapi aku takut akan merusaknya melihat betapa rapuh dan tuanya bingkai foto itu.


“Paman memberi tahu Kevin semuanya.”


Aku terdiam begitu mendengar ucapan Paman Frank. Saat ini beliau sedang menatapku dengan mata sendu. Untuk kali pertama, aku bisa merasakan betapa sedihnya mata itu. Selama ini, mata hijau yang diturunkan ke Kevin itu selalu berpura-pura memancarkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang mungkin sudah hilang bersamaan dengan hilangnya satu-satunya kunci kebahagiaan miliknya.


“Paman masih belum bisa menghubungi dia.”


“Ah… tadi pagi Kevin mengatakan ingin pergi ke perpustakaan karena sebentar lagi dia akan mengambil ujian untuk spesialis,” jawabku sedikit gagap.


“Dan sekarang kamu tahu jika dia berbohong, bukan?”


“Apakah Fanya sudah boleh pergi?”


“Fanya, terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada Kevin untuk hidup.”


Aku terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya paman memberikan satu senyuman untuk menyadarkanku. Aku memeluk paman untuk kali pertama dalam hidupku dan langsung melangkahkan kakiku keluar. Aku tidak tahu kemana harus melangkahkan kakiku saat ini karena London bukan tempat dimana aku bisa menemukan Kevin dengan mudah. Belum ada tempat dimana Kevin bisa bersembunyi.


Apakah Kevin berada di apartemenku?


Hanya itu satu-satunya tempat yang Kevin tahu dan kenal dengan baik. Tunggu, mungkinkah saat ini Kevin berada di Natural History Museum, lebih baik sekarang aku menuju tempat itu. Tidak, haruskah aku mengecek apartemen dahulu. Kuambil handphone.


“Halo?”


“Hai, ada apa sayang?”


“Apakah ada Kevin di apartemen?”


“Ibu tidak tahu, saat ini Ibu, Ayah, dan Ken berada di bandara untuk menjemput Stephanie. Ada apa sayang?”


“Ah… Fanya lupa jika Stephanie ke London hari ini.”


“Ada apa sayang?”


“Tidak apa-apa. Fanya hanya rindu Kevin hehehe. Fanya harus menutup telepon, hati-hati di jalan dan sampai jumpa di apartemen.”


Tepat saat aku menutup telepon, kembali handphoneku berbunyi karena sebuah panggilan masuk. Aku lupa jika aku ke rumah sakit bersama dengan Sarah dan Bobby. Aku meninggalkan mereka dan saat ini berada di dalam taksi tanpa tahu kemana tujuan yang harus aku tuju terlebih dahulu.


“Dimana kamu?!” teriak Sarah.


“Maafkan aku, aku benar-benar lupa. Saat ini aku di dalam taksi.”


“Huh?!!!!”


“Maafkan aku, sesuatu terjadi. Kamu dan Bobby bisa berkencan. Aku baik-baik saja, sesuatu yang terjadi hanya sesuatu yang tidak penting. Ah.. aku rasa kamu akan terus menanyakan sesuatu apa itu dan sesuatu itu adalah aku lupa mematikan laptop.”


“Kamu gila, Fanya?!!”


“Aku sedang menonton film sebelum ke rumah sakit dan kamu tahu betapa bencinya aku saat aku lupa sampai dimana aku menonton filmnya.”


“Baiklah, aku akan pergi kencan dengan Bobby.”


“Oh… sampai jumpa di rumah.”


Kuberikan selembar kertas ke supir di depanku. Aku tidak bisa menghafal alamat apartemenku dan membuatku selalu membawa kertas yang berisikan alamat apartemen. Hatiku mengatakan jika saat ini Kevin berada di apartemenku. Sangat tidak mungkin untuknya berada di Natural History Museum karena tempat itu bukanlah tempat yang sunyi. Saat ini yang Kevin butuhkan adalah tempat yang bisa membuang semua beban pikirannya.


Satu-satunya tempat yang bisa membuang beban pikirannya adalah tempat yang sepi. Aku rasa apartemenku masuk ke dalam kriteria itu.


Kukeluarkan dua lembar uang dari dalam dompetku dan langsung berjalan cepat menuju apartemen. Aku sangat takut apa yang aku pikirkan menjadi kenyataan. Aku tidak ingin Kevin menyalahkan dirinya kembali atas apa yang telah terjadi. Aku hanya ingin dia menerimanya dengan lapang dada tanpa perlu menyalahkan dirinya sendiri.


“Kevin,” ucapku begitu membuka pintu apartemen.


Mataku sibuk menyapu rumah. Pandanganku terhenti pada sepatu yang sangat aku kenal. Terima kasih untuk datang ke apartemen ini dan bukan ke tempat lainnya.


“Kevin?”


Sekali lagi tetap tidak ada sahutan. Kulangkahkan kakiku menyusuri setiap ruang di apartemen dan aku tetap tidak bisa menemukannya. Bahkan di dalam kamarku, aku tetap tidak bisa menemukannya. Aku melihat sepatu miliknya di depan dan aku tidak bisa menemukan tubuhnya yang sangat besar di dalam ruangan ini.


Tunggu….


Tidak mungkin….


Aku kembali melangkahkan kaki ke dalam kamarku. Kupegang gagang pintu kamar mandi dan kubuka perlahan. Sepasang mata sudah menatapku seolah tahu aku akan menemukannya. Sepasang mata yang saat ini basah oleh air mata. Sepasang mata yang membutuhkan seseorang untuk menghiburnya. Dan sepasang mata yang tidak ingin ditemukan oleh orang lain selain diriku.


Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar mandi dan langsung memeluknya. Dia kembali menangis, kali ini dia menangis dengan suara yang terdengar sangat menyakitkan. Berapa lama dia menahan diri untuk tidak mengeluarkan semua emosi miliknya?


“Aku…”


“Semua akan baik-baik saja," potongku.


Kutepuk punggungnya yang sekarang bergetar. Kali pertama dalam hidupku aku melihat dirinya yang tidak berdaya. Seseorang yang selalu percaya dengan tindakannya sekarang dihancurkan oleh fakta yang tidak pernah dia yakini keberadaannya.


“Aku di sini. Semua akan baik-baik saja.”


...-----...