H(Our)S

H(Our)S
Jarak



Selama sarapan tidak ada suara apapun. Semuanya menyantap sarapan dalam diam. Padahal, sebulan yang lalu, meja makan ini penuh dengan canda tawa. Aku rasa akulah penyebab dari keheningan ini.


“Pukul berapa kamu akan pulang, Fan?” tanya Sarah membuat semua pandangan beralih padaku.


“Aku tidak tahu. Sepertinya malam.”


“Kenapa malam?”


Kali ini pertanyaan Ken aku abaikan. Sarah berhenti memakan sarapannya. Dia terdiam. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya.


Apa dia akan memarahiku karena mengabaikan pertanyaan Ken? Lalu, jika dia akan memarahiku, apa peduliku?


“Apa kamu mau berangkat ke kampus bersamaku, Fanya?”


Apa ini? Aku kira dia akan memarahiku.


“Tidak, terima kasih. Aku lebih suka bersama dengan supir," balasku diikuti hembusan nafas berat milik ayah.


...-----...


Kupejamkan mataku sejenak. Aku tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranku. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang akan aku lakukan untuk menyakiti diriku sendiri. Aku tahu, memaafkan Ken adalah satu satunya jalan agar aku tidak menderita dan jalan itu yang akan kembali membawa kebahagiaan dalam hidupku. Tapi, aku tidak tahu bagaimana dan darimana aku bisa memulainya.


Satu minggu yang lalu atau tepatnya sebelum aku keluar dari rumah sakit, Ken menghabiskan waktunya bersama perempuan itu, atau seharusnya aku menyebut namanya, Clara. Aku tidak terlalu peduli tentang hal itu, hanya saja yang menggangguku adalah Sarah. Satu minggu yang lalu dia selalu memohon padaku untuk memaafkan Ken dan kembali seperti dulu. Dia tidak ingin semua kebahagiaan yang sudah aku rasakan hancur hanya karena perempuan yang bahkan tidak tahu apapun tentang keluarga kami, keluarga yang selalu memberikanku perlindungan. Tidak salah apa yang Sarah bilang tetapi aku masih belum siap dan yakin untuk memaafkan Ken.


Sekarang aku hanya ingin merasakan ketenangan. Ketenangan dimana aku bisa merasakan kembali kasih sayang keluarga hanya dengan mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah aku lalui bersama mereka. Ternyata benar, aku benar-benar orang yang munafik. Kenapa aku tidak mengatakan saja bahwa aku sudah memaafkan Ken dan aku merindukan kasih sayang mereka.


Apa sebegitu tinggi ego yang aku miliki?


“Kudengar, perempuan itu sudah tidak menempel kepada Ken. Sungguh, aku benci perempuan itu, aku tahu jika dia saudara kembarnya tapi setidaknya dia harus memberi ruang untuk Ken. Ken juga memiliki hak untuk bebas.”


“Benarkah? Perempuan itu sudah menjauh? Wow… apa ada masalah? Tapi, itu tidak penting yang penting sekarang kita bisa lebih dekat dengan Ken. Aku sangat bersyukur perempuan itu mau melepas Ken. Selama ini, aku merasa jika Ken adalah anjing peliharaan perempuan itu.”


“Betul. Sangat betul.”


Seseorang menempelkan earphone ke telingaku. Kubuka mataku. Mata biru itu lagi, mata biru yang selalu kurindukan. Mata biru yang selalu ingin kulihat. Mata biru yang selalu bisa menenangkan hatiku. Dan mata biru yang sudah lama meninggalkanku entah kemana.


Ken berjalan menjauh dariku. Dia menghampiri perempuan-perempuan yang tadi membicarakanku. Aku tidak tahu apa yang Ken ucapkan kepada mereka, tapi wajah semua perempuan di sana berubah merah padam. Ada dua kemungkinan dibalik wajah merah itu, pertama Ken mengucapkan kata-kata yang menyindir mereka, dan kedua Ken mengejek mereka dengan sebuah ejekan yang dia samarkan dengan menggunakan kata-kata sopan dan manis tetapi menusuk.


Pandangan mataku tetap menatap ke arah Ken dan perempuan-perempuan itu. Ingin kulepas earphone di telingaku ini tapi aku tahu aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin mendengar apa yang Ken dan para perempuan itu bicarakan. Bukan karena aku takut jika aku akan mendengar hal buruk tentangku tetapi karena aku takut mendengar setiap rangkaian kata yang Ken keluarkan hanya untuk membelaku. Aku membenci rangkaian kata yang keluar dari mulutnya untuk saat ini. Aku takut akan semakin menyesal karena menjauhinya.


Ken melepas earphone yang menempel di telingaku dengan sangat lembut. Dia tetap berdiri di belakangku. Semua pasang mata yang tadinya sibuk dengan laptop dan tugas di hadapan mereka beralih menatap ke arah kami. Dari belakang Ken memelukku atau lebih tepatnya dia hanya memeluk leherku.


“Maafkan aku. Aku bukan kakak yang baik.”


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Lebih baik aku pergi dari taman atau semua orang yang tadinya sibuk akan terganggu olehku. Kulepaskan tangan Ken yang memelukku.


“Ken, aku merindukanmu. Aku merindukan semua hal tentangmu. Semua kasih sayang yang kamu berikan. Aku hanya belum bisa menerima satu hal, kasih sayangmu untukku bisa hilang begitu saja hanya karena seorang perempuan. Aku tidak akan membatasi jarak diantara kita seperti yang aku lakukan padamu beberapa minggu terakhir tapi aku harap kamu bisa memberiku waktu.”


...-----...


“Kamu tidak bersama Ken?”


Pertanyaan seseorang di sampingku mengalihkan pandanganku dari novel yang sedang kubaca. Perempuan yang duduk di sampingku memiliki penampilan yang sangat cantik, aku rasa dia seorang model melihat dari proporsi tubuhnya. Kembali kubaca novel di hadapanku. Kuabaikan pertanyaan perempuan itu, setidaknya dia harus memanggil namaku baru kujawab pertanyaannya.


“Apa novel lebih menarik dari pertanyaanku?”


“Tidak,” jawabku menyerah, aku tidak ingin waktu membacaku sia-sia karena perempuan di sampingku pasti akan terus mengajak berbicara.


“Lalu? Kenapa kamu mengabaikan pertanyaanku? Jika novel tidak menarik kenapa kamu tetap membacanya?”


Terlalu banyak pertanyaan yang dia ajukan. Lagipula, siapa dia? Aku tidak mengenalnya.


“Karena aku membenci orang dan lebih menyukai dunia fiktif. Kamu memulai obrolan hanya karena ingin tahu tentang Ken, kamu tidak menyebut namaku saat bertanya. Aku ragu jika kamu bahkan tahu namaku," balasku membuatnya diam.


Sepertinya benar, dia sama sekali tidak tahu siapa namaku. Wah.. apa di dunia ini hanya orang yang kita cintai saja yang akan kita cari tahu lebih dalam, sedangkan yang lainnya dianggap angin lalu, bahkan keluarga dari orang yang dicintai. Aku heran dengan orang-orang yang mendekati Ken, kenapa begitu banyak dan tidak ada habisnya?


Kembali, kualihkan pandanganku ke novel. Sekarang, mulut perempuan di sampingku terkunci rapat. Apa ini yang membuat aku sulit bersosialisasi dengan orang lain? Apakah karena aku terlalu menutup diriku dari mereka? Atau karena aku tidak pernah menjawab pertanyaan mereka yang benar-benar menginginkan jawaban dariku?


Aku benci dengan semua itu, fakta bahwa mereka mendekatiku karena aku saudara kembar Sarah dan Ken. Fakta bahwa aku adalah anak dari dokter jantung terkenal. Aku beruntung, mereka tidak tahu tentang penyakitku, jika saja mereka tahu, aku akan sangat membenci fakta ketika mereka mendekatiku hanya karena kasihan padaku.


Seseorang masuk ke dalam ruangan. Ken, seenaknya sendiri duduk di sampingku. Dia membawa dua bungkus roti dan dua gelas susu panas. Sekarang, semua pandangan mata tertuju ke arah kami. Hanya menghembuskan nafas yang bisa aku lakukan untuk saat ini. Aku memang akan perlahan menghilangkan jarak diantara aku dan Ken tapi tidak secepat ini juga.


“Makanlah, tadi saat sarapan kamu hanya makan sedikit.”


Kualihkan pandanganku menatap perempuan di sampingku. Tatapan macam apa yang dia berikan pada Ken, aku ingin tahu. Dia menatap Ken seolah-olah Ken adalah pusat dari dunianya. Aku sangat membenci tatapan seperti itu. Perlahan, kualihkan pandanganku ke seluruh ruangan. Aku menyerah, kenapa terlalu banyak pasang mata yang menatapku dengan tatapan membunuh?


Apa datang ke universitas adalah sebuah kesalahan?


Rasanya begitu berbeda saat aku berada di universitas dengan saat aku berada di dalam rumah. Aku tidak bisa menemukan ketenangan yang sangat aku inginkan. Sungguh, aku menginginkan sebuah ketenangan.


Pintu kembali terbuka, sekarang bukan seorang mahasiswa yang masuk melainkan seorang dosen. Kuamati dosen itu dari atas rambutnya sampai sepatu yang dia pakai, terlalu banyak wanita yang sempurna di dunia ini. Tunggu, memang banyak wanita yang sempurna di dunia ini tapi bagiku menjadi diriku sendiri itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi sempurna.


Dan, jika aku membutuhkan sebuah ketenangan, kenapa tidak aku coba saja cara itu?


“I’m so sorry Mom. Sepertinya saya tidak membawa buku panduan dasar. Bolehkah saya pergi untuk mengambilnya di loker?”


Semua mahasiswa menatap ke arahku, termasuk Ken. Ken menatapku dengan tatapan sangat terkejut begitu pula dengan mahasiswa lainnya. Dosen yang saat ini berdiri di depan kelas adalah dosen yang sangat killer. Satu kali saja ketahuan tidak membawa buku panduan dasar pasti akan dikeluarkan dari kelas dan sekarang aku mengakui secara sukarela bahwa aku tidak membawa buku itu, mereka pasti berpikir betapa gila diriku. Apa boleh buat, aku bosan berada di dalam ruangan ini. Bukan hanya bosan tetapi berada di ruangan ini sudah cukup untuk membunuhku hanya dengan tatapan orang-orang di dalamnya.


Dosen itu menurunkan sedikit kaca matanya dan melihat ke arahku. Dia menulis sesuatu di secarik kertas. Aku tahu apa yang sedang dosen itu tulis. Perlahan, kulangkahkan kakiku mendekati dosen itu. Dosen itu tersenyum sinis ke arahku sembari memberiku secarik kertas itu. Kuambil kertas itu dan kumasukkan ke dalam tasku. Akhirnya, aku bisa keluar dari kelas membosankan ini.


...-----...