
Sabrina menatap Kevin dengan tatapan yang membuatku sedikit tidak nyaman dengannya. Daniel hanya menyeruput kopi dari cangkir di tangannya. Ken hanya mendengarkan lagu lewat earphone. Sarah hanya memandang Sabrina dengan tatapan tajam. Dan aku? Aku hanya mengamati semuanya.
Pertemuan macam apa ini. Aku hanya merasa sebentar lagi akan ada perang diantara Daniel dan Kevin sama halnya seperti yang dulu mereka lakukan. Aku tidak tertarik dengan peperangan yang akan terjadi. Aku juga tidak tertarik dengan siapa akhirnya Sabrina akan bertunangan. Aku hanya tertarik dengan satu hal, siapa yang akan mengalah diantara Daniel dan Kevin.
Apa Kevin akan kembali mengalah seperti dulu dia lakukan atau dia akan berjuang untuk saat ini?
Ken menatap ke arahku. Sudah berulang kali dia memberiku kode untuk pulang. Ya, situasi seperti ini adalah situasi yang sangat Ken benci. Dia benci saat harus berada di zona percintaan seperti ini. Dan aku? Aku sudah muak dengan drama percintaan ini.
“Boleh aku dan Kevin pergi sebentar?"
Daniel mengalihkan pandangannya padaku. Dia meletakkan cangkir yang dia pegang. Dia menutup matanya sebentar sebelum akhirnya berdiri dan berjalan keluar restoran. Suasana diantara keduanya juga terlihat tidak baik. Sabrina juga tidak bergerak dari tempat duduknya untuk mengejar Daniel.
Ken menarik tanganku dan membawaku keluar dari restoran. Sekarang hanya ada Sarah, Sabrina, dan Ken. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi di dalam restoran itu. Aku sudah mengantuk dan ini sudah melanggar jam malam yang Ayah tetapkan. Sebaiknya aku dan Ken lekas pulang. Lupakan tentang Sarah, dia bisa menyusup masuk ke dalam rumah sesuka hatinya.
“Kenapa sedari tadi kamu hanya mendengarkan lagu?”
“Aku tidak tertarik dengan kisah cinta mereka. Aku tertarik dengan ekspresimu. Aku takut jika kamu pingsan setelah mendengar sesuatu keluar dari mulut Daniel atau Kevin.”
Ken menggenggam tanganku. Hari sudah sangat malam. Aku ingin berbaring di tempat tidurku. Aku sudah sangat mengantuk.
“Ken? Maukah kamu menggendongku? Aku sangat mengantuk.”
Tanpa menjawab pertanyaanku, Ken sudah mengangkat tubuhku. Aku rasa berat badanku sangat ringan, melihat Ken mengangkatku tanpa adanya beban. Kupejamkan mataku. Wah… mataku sudah sangat berat, hanya dengan memejamkannya sebentar sudah bisa membuatku merasa sangat nyaman. Ken melangkahkan kakinya dengan sangat pelan.
“Apa kamu tidak lelah?” tanyaku.
“Tidak, aku menikmatinya. Aku takut di masa depan akan sulit mendapatkan momen seperti sekarang. Apa kamu ingat saat kita masih di Jepang? Saat kamu selalu memintaku untuk menggendongmu karena kamu sudah sangat kelelahan karena bermain? Dan kita berdua sering terjatuh karena aku yang belum sekuat sekarang."
“Ah… aku ingat. Aku merindukan hari itu. Terutama hari ulang tahun kita.”
“Ah.. hari dimana kamu dan Yoshida bersembunyi selama satu hari dan membuat semua orang cemas. Seharusnya kamu juga mengajakku, kenapa hanya Yoshida?”
“Karena dulu, hanya Ayah dan Yoshida yang aku percayai. Aku belum mempercayaimu.”
“Benarkah? Ternyata sangat sulit mendapat kepercayaan dari saudara kembarku ini.”
Hanya senyuman yang aku berikan padanya. Kualihkan pandanganku menatap langit malam. Banyak bintang malam ini. Aku tidak pernah keluar sampai selarut ini. Aku sangat bersyukur malam ini aku bisa keluar malam dan bisa melihat bintang-bintang yang sangat indah.
Kupejamkan lagi mataku. Ken masih berjalan dengan kecepatan yang sama seperti tadi. Dia sama sekali tidak berusaha menambah kecepatan langkah kakinya. Aku tahu dia sama sekali tidak terbebani dengan beratku, dia hanya ingin menikmati malam ini. Ya, aku juga menikmati malam ini.
Tiba-tiba Ken menghentikan langkah kakinya. Kubuka perlahan kedua mataku. Sesosok laki-laki sudah menghadang kami.
“Kalian seperti sepasang kekasih," ucap Daniel.
“Ya, kami memang sepasang kekasih,” jawab Ken dengan nada sarkas.
Daniel hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Dia mendekat ke arahku dan menatap lurus ke dalam mataku. Tatapan matanya sangat menginterogasi, seolah aku telah melakukan kesalahan yang sangat besar kepadanya. Kesalahan yang mengubah hidupnya.
Apa yang dia coba ingin temukan di dalam mataku? Aku tidak menyembunyikan apapun darinya.
Kenapa tatapannya berubah menjadi sangat tajam dan menakutkan? Kualihkan pandanganku menatap ke Ken, menatap wajahnya yang mulai mengeras.
“Apa kamu pernah menyukaiku, Fanya?”
Kembali kualihkan tatapan mataku ke arah mata Ken. Daniel mengikuti arah tatapanku. Ken sekali lagi mengeraskan rahangnya. Ah… aku lupa satu hal, aku tidak membawa obatku. Bagaimana jika penyakitku kambuh di sini? Aku tidak bisa membiarkan Daniel tahu tentang penyakitku.
“Aku dan Fanya sudah sangat lelah. Biarkan kami pulang. Kita bicara besok lagi,” ucap Ken mencoba bernegosiasi dengan Daniel.
“Fanya, kenapa kamu membohongiku? Semua e-mail itu, kamu yang mengirimkannya bukan? Kenapa kamu melakukan semua itu?” tanya Daniel sembari melangkahkan kakinya kembali mendekati Ken. Ken terus menatap ke arahku. Jika terus seperti ini aku bisa kehilangan kesadaranku. Pertanyaan tiba-tiba ini membuat jantungku bekerja dengan keras. Kepalaku benar-benar pusing.
Kugenggam erat baju Ken. Sakit, pusing, aku tidak tahu lagi. Aku ingin pulang dan tidur di atas tempat tidurku yang hangat. Aku ingin bermimpi indah dan membuang semua hal yang terjadi padaku malam ini. Melupakan semua pertanyaan yang diajukan Daniel. Melupakan semua kenangan malam ini termasuk bintang-bintang yang selalu ingin kulihat.
“Ken, ayo kita pulang,” ucapku.
“Daniel, aku dan Fanya harus pulang. Terimakasih untuk makan malamnya. Aku pasti akan membalas makan malam itu.”
“Dengan apa? Kabur dan tidak menjawab pertanyaanku?"
Kenapa Daniel tidak mau melepaskanku dan Ken?
Kepalaku serasa sudah mau pecah. Aku benar-benar pusing, aku harus bisa mempertahankan kesadaranku tetapi sekarang aku benar-benar tidak kuat. Aku ingin menutup mataku.
“Aku akan datang ke acara pertunanganmu. Bisakah kamu biarkan aku dan Fanya pergi? Jangan sampai kamu menyesal karena menghalangiku dan Fanya. Dan hal yang kamu tanyakan, Fanya pasti akan menjawabnya tetapi tidak hari ini."
Setelah itu aku tidak tahu apa yang Daniel dan Ken ucapkan. Aku menutup mataku.
...-----...
Sarah kembali duduk di samping jendela. Tatapan matanya melihat jauh keluar, mungkin dia sedang melihat langit atau taman di bawah. Aku baru bangun dan sudah disambut dengan pemandangan seperti ini, sangat ironis.
Sebenarnya, apa yang Sarah lakukan di dalam kamarku? Bukankah dia tahu jika aku sangat membenci orang yang berada di kamarku saat aku masih tertidur?
“Kenapa?” tanyaku.
“Maafkan aku.”
“Sarah?” panggilku khawatir mendengar nada bersalah miliknya.
“Seharusnya aku mengikutimu dan Ken saat keluar. Apa kamu baik-baik saja? Kamu kehilangan kesadaranmu selama tiga hari. Ayah sangat cemas.”
Tiga hari?
Kenapa aku tidak merasa selama itu?
Apakah waktu benar-benar berlalu secepat ini?
Kualihkan pandanganku mencari jam di dinding. Pukul enam pagi. Seharusnya aroma makanan sudah bisa kucium di jam-jam seperti ini. Kenapa aku sama sekali tidak bisa mencium baunya?
Dimana Ken? Kenapa aku tidak melihatnya?
Kuambil handphone di samping tempat tidurku. Delapan panggilan? Dan 10 pesan? Semuanya dari Kevin melihat namanya ada di bawah pesan yang dia kirimkan.
Tunggu, darimana Kevin mendapatkan nomorku? Aku tidak pernah bertukar nomor dengannya.
“Kenapa?” tanya Sarah was-was begitu melihat raut wajah terkejut milikku.
“Ken dimana?”
“Di kamarnya.”
Kucoba untuk berdiri dengan selang infus yang masih menempel di tanganku. Tidak mungkin aku mencabutnya. Kuambil infus itu dan membawanya bersamaku. Sarah hanya menatapku. Dia tidak mencoba menghentikan apa yang sedang kucoba lakukan. Tidak seperti yang biasa dia lakukan, yang selalu menghentikan langkahku begitu aku bangun dari tidur panjangku, sekarang Sarah hanya diam membisu sembari mengamati setiap langkahku.
Membutuhkan banyak tenaga ternyata untuk jalan ke kamar Ken walaupun kamarnya tepat di sebelah kamarku. Pintunya tertutup atau mungkin terkunci. Apa aku harus mengetuknya terlebih dahulu seperti yang selama ini Ken lakukan saat berkunjung ke kamarku? Aku tidak tahu karena aku jarang berkunjung ke kamar kedua saudara kembarku.
Kuketuk pintu kamar Ken, tidak ada respon. Sekali lagi kuketuk pintu kamar Ken, tetap tidak ada respon. Kupegang gagang pintu.
Apa ini tidak masalah? Apa ini sopan?
Walaupun dia kakakku, aku tetap merasa harus ada batas kesopanan diantara kami. Baik aku ataupun dia tidak bisa begitu saja masuk ke dalam kamar kami tanpa adanya permintaan izin seperti sebuah ketukan ataupun suara. Tapi, jika aku tidak langsung membuka pintu di hadapanku ini maka aku tidak akan bisa melihat Ken. Baiklah, sudah kuputuskan. Aku akan tetap masuk ke dalam kamar Ken. Kubuka pintu kamar Ken.
Tidak dikunci? Seperti bukan dirinya yang selalu mengunci kamarnya kapanpun.
Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar. Ken sedang berbaring di atas tempat tidurnya.
“Ken?”
Ada apa dengan wajah Ken? Kenapa banyak memar di wajahnya? Dan, ada apa dengan tangannya? Apa dia berkelahi dengan seseorang? Apa dengan Ayah?
Ken membuka matanya dan menatapku. Dia terkejut melihat kehadiranku. Dia hanya menghembuskan nafasnya dan kembali menutup matanya hanya untuk beberapa detik.
“Ada apa dengan wajahmu?” tanyaku khawatir sembari memegang wajahnya yang penuh luka.
“Apa kamu ingat kejadian tiga hari lalu? Saat Daniel mencoba menghalangi kita pulang?”
“Ya," balasku masih dengan memegang semua luka di wajahnya.
“....”
Ken mencoba duduk. Kubantu dia. Dia justru membawaku ke dalam pelukannya. Tidak apa, aku menyukai pelukannya yang menenangkan dan menghangatkan.
“Kamu tidak memelukku saat aku masuk ke dalam kamarmu,” ucap seseorang memecah hening.
Kualihkan pandanganku ke arah pintu. Sekarang Sarah berdiri tepat di depan pintu. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Sepertinya, basecamp yang biasanya berpindah ke kamarku akan berganti ke kamar Ken.
“Kamu tidak pernah mau aku peluk,” ucap Ken.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku.
“Ken berkelahi dengan Daniel. Daniel hampir membunuhmu. Dia benar-benar bersikeras untuk menahanmu dan Ken. Kamu pasti tahu yang Ken lakukan. Tidak mungkin dia membiarkanmu yang pingsan tetap berada di luar.”
“Ada apa ini? Sarah, bukankah Ayah mengatakan jika Fanya bangun, panggil Ayah.”
Sarah diam membisu. Wajahnya menegang. Aku tahu ekspresi itu, dia selalu saja bertindak seolah-olah dia baik-baik saja padahal dia sedang takut akan amarah yang mungkin Ayah tujukan kepadanya. Ayah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Ken. Beliau memeriksa kondisiku dan juga Ken. Beliau memeriksa kami dalam diam, aku tahu dibalik diamnya Ayah tersimpan banyak kecemasan.
“Sudah tidak apa-apa. Ken, kamu sudah cukup untuk beristirahat. Kamu bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Dasar anak nakal.”
Ibu masuk ke dalam kamar Ken dengan membawa beberapa camilan. Kami memakan semua camilan itu hingga pelayan membawakan sarapan ke kamar Ken. Sepertinya, kamar Ken akan berubah menjadi kapal pecah seperti kamarku setiap kali aku sakit.
...-----...