
Banyak hal di dunia ini yang selalu ingin kutanyakan pada Tuhan. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa aku mengerti. Banyak hal di dunia ini yang ingin aku rubah. Tetapi hanya dengan kekuatan yang bahkan tidak bisa kugunakan untuk berjalan, mana mungkin semua itu akan terjadi. Aku tahu, kekuatan yang kumiliki takkan pernah cukup untuk melampaui kuasa yang Tuhan miliki, karena itu aku hanya ingin bertanya, ‘Tuhan, kenapa Engkau masih membiarkanku hidup?’.
Untuk membuka mataku sekarang, aku bahkan tidak memiliki keberanian. Aku terlalu pengecut untuk kembali melihat dunia yang sudah lama kutinggali. Dunia yang begitu kuidamkan, dunia yang begitu kunantikan, tapi setelah semua kejadian ini cara terbaik untukku tetap menikmati hidup adalah dengan berpura-pura, berpura-pura hingga saat ini aku masih belum sadarkan diri, hanya itu yang bisa aku lakukan. Seharusnya sekarang aku bisa membuka mataku dan memulai hari-hariku lagi. Membuat kenangan dan meninggalkan banyak kesan indah pada orang-orang yang kucintai tapi nyatanya sekarang aku hanya berpura-pura seolah aku sudah mati.
Apa Ayah yang seorang dokter akan menyadari jika aku sudah sadar dan justru tetap diam berpura-pura terus menutup mataku tanpa memberikan satu penjelasan padanya?
Salju pertama di musim dingin, aku hampir menyukai musim dingin karena melihat turunnya salju pertama. Aku terpukau dengan kuasa Tuhan yang menurunkan salju tapi rasa sukaku hanya berlangsung selama satu menit. Kenangan-kenangan yang paling aku benci kembali bermunculan setiap saat aku mulai menyukai musim dingin. Kenangan dimana perasaan dan diriku tidak memiliki arti apapun.
Saudara kembar yang selalu menjagaku, aku selalu menantikan satu kesempatan dimana aku bisa menjaga mereka. Setiap kali aku mencoba menjaga mereka, justru mereka yang akan berbalik menjagaku. Hanya ada satu cara agar aku bisa menjaga saudaraku, hanya dengan menjaga jarak dari mereka dan memberikan mereka kesempatan untuk menikmati hidup mereka. Hanya dengan begitu, aku bisa melindungi hidup mereka yang telah aku hancurkan karena penyakit ini dan aku bisa memberikan kehidupan baru bagi mereka tanpa kehadiranku dalam hidup mereka untuk saat ini.
Orang yang kucintai, seberapa banyak dia mengatakan mencintaiku tetap saja aku tidak akan bisa bersama dengannya. Seberapa banyak, seberapa sering, dan seberapa keras aku berdoa pada Tuhan, aku tidak akan meminta pada-Nya untuk menyatukanku dengan orang yang kucintai, aku hanya akan meminta Tuhan menghapus semua perasaan yang dia miliki untukku karena aku tahu pada akhirnya aku ataupun dia akan terluka. Tapi, sekarang semuanya berbeda, aku tidak ingin perasaan cinta milik Kevin padaku hilang begitu saja. Aku ingin, dia menyimpanku di dalam hatinya walaupun hanya sebagai bayangan. Bayangan yang akan terus dia sembunyikan tanpa ada keinginan untuk menghidupkan kembali bayangan itu. Aku hanya menginginkan itu dari Kevin.
Kesempatan, seandainya aku bisa meminta kesempatan sebagai hadiah ulang tahunku. Pastinya, setiap tahun aku akan meminta hadiah sebuah kesempatan untukku agar bisa terus bersama orang-orang yang kusayangi. Aku akan meminta sebuah kesempatan dimana jika aku harus pergi meninggalkan mereka, maka mereka tidak perlu melihat kepergianku. Aku akan meminta kesempatan dimana aku ingin semua kenangan yang mereka miliki tentangku hilang bersama dengan ketidakhadiranku tetapi disatu sisi aku tidak menginginkan diriku hilang dari ingatan mereka.
Kenapa aku begitu egois?
Kenapa aku tidak bisa meminta semua yang aku inginkan?
Kenapa aku terus bersembunyi tanpa tahu kapan aku akan ditemukan?
Kenapa aku tetap diam tanpa tahu kapan mereka akan mendengarkan apa yang akan aku ucapkan?
Kenapa aku hanya menikmati takdirku tanpa berusaha merubahnya menjadi takdir yang lebih baik?
Seseorang membuka pintu, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Dia tidak langsung duduk di sampingku. Aku hanya menebak, dia sedang mengganti bunga di dalam vas. Sekarang dia sudah berada di samping tempat tidurku. Dia memegang erat tanganku. Aku tahu siapa yang memegang tanganku. Kevin.
“Fan, apa kamu tahu betapa egoisnya diriku? Aku bodoh karena mempercayai semua perkataan Sabrina. Saat itu aku sedang menyiapkan kejutan untukmu dan Sabrina tiba-tiba datang. Tanpa mengatakan apapun dia langsung memelukku dan kamu langsung pergi begitu melihatnya. Aku ingin menjelaskan semua ini padamu tapi kamu menjauh sebelum aku sempat mendekat. Kamu pernah mengatakan akan membuatku merasakan kenangan yang tidak bisa aku rasakan karena menjauh dari hidupmu tapi sepertinya sekarang aku akan bersyukur dan bahagia hanya dengan kenangan yang kita buat dalam waktu yang singkat ini.
Jika kamu bangun, aku berjanji padamu akan membawamu ke tempat yang tenang. Ke tempat yang selalu kamu inginkan. Ke tempat dimana hanya ada kita tanpa penganggu. Ah… aku harus pergi, hari ini aku harus menemui Ayahku. Ya, kamu tahu bukan bagaimana hubunganku dengan Ayahku? Kali ini, aku pasti benar-benar akan menjadi diriku. Maafkan aku dan aku mencintaimu.”
Kevin mengecup keningku dengan lembut. Dia terus menggenggam erat tanganku. Dia masih berada di samping tempat tidurku selama dua puluh menit. Aku rasa dia melupakan pertemuannya dengan ayahnya untuk beberapa saat. Kevin melepaskan pegangan tangannya dan derap langkah kaki meninggalkan ruangan ini terdengar.
Rasanya aku ingin membuka mataku sekarang. Sangat tidak menyenangkan saat aku sudah bangun dari tidur panjangku tapi aku tidak bisa membuka mataku untuk melihat duniaku. Sangat menyakitkan.
...-----...