H(Our)S

H(Our)S
Akhir Harapan



Ayah dan Ken terus menatap ke arahku. Aku tidak tahu apa yang sekarang mereka pikirkan. Aku hanya diam membisu dalam balutan dress yang sekarang aku pakai. Stephanie, Sarah, dan Ibu muncul, pakaian yang mereka kenakan sangat cantik. Lebih dari sekadar cantik. Kami sekeluarga bersama dengan Stephanie berencana melakukan foto keluarga. Sangat ironis untuk melakukannya disaat seperti ini tapi hanya waktu ini yang kami miliki.


“Apa Ayah dan Ken tidak ingin menjemput pujaan hati kalian?”


Pertanyaanku menyadarkan Ayah dan Ken yang terpukau dengan penampilan ketiga wanita di depan pintu. Ayah dan Ken melangkahkan kaki mereka meninggalkanku, Sarah terus melihat ke arahku, dia berlari menghampiriku dan membantuku masuk ke dalam mobilnya. Dia langsung menutup pintu mobil dan menyalakan mesin mobil. Perbuatan yang sekarang Sarah lakukan membuat Ayah dan Ken kembali memfokuskan pandangan mereka menatap ke arahku yang sekarang berada di dalam mobil. Aku hanya diam melihat tatapan mematikan milik Ayah yang sudah lama beliau sembunyikan.


Sarah mulai melajukan mobil. Aku hanya mengikuti apa yang sedang Sarah lakukan. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang menentangnya atau lebih tepatnya aku tidak ingin membuang tenaga yang aku miliki hanya untuk menolak apa yang sekarang sedang Sarah lakukan karena aku tahu Sarah melakukan semua ini karena tidak tahan dengan semua perhatian yang Stephanie terima.


Alunan musik klasik yang mengisi mobil ini


membuatku melupakan semua masalahku, walau hanya sejenak. Kualihkan tatapanku pada Sarah yang terus melihat ke arah jalan. Dia mengingatkanku pada Ken dan Kevin yang selalu fokus dengan satu hal.


“Kenapa kamu membawa Stephanie ke dalam keluarga kita?”


“Bukankah aku sudah mengatakannya? Dia bisa menjadi penggantiku.”


Di tengah jalan seperti ini, Sarah menghentikan mobilnya, membuat banyak orang membunyikan klakson. Dia mengepalkan tangannya dan memukul dengan keras klakson dan tentu saja membuat bunyi yang sangat keras dan panjang. Banyak orang yang sudah mengumpat dengan apa yang Sarah lakukan. Jujur, sekarang aku takut hanya berdua dengannya.


“Pengganti? Tidak bisakah kali ini kamu memahami perasaanku? Tidak akan pernah ada tempat untuk orang lain.”


“Aku tahu, aku sangat tahu dan paham akan hal itu, Sarah. Apa yang sekarang aku lakukan adalah keputusanku. Aku hanya ingin kamu tahu satu hal, aku ingin mengubah harapanku. Aku ingin membuat harapan dimana kamu bisa menerima Stephanie, tidak.. tentu saja aku hanya bercanda. Aku sudah terlalu sering membuat harapan dan mengubahnya sesuka hati. Aku hanya akan membuat harapan dimana kita semua bisa bahagia. Ah.. bagaimana jika kita membeli balon dan menerbangkannya seperti yang selama ini kita lakukan jika memiliki harapan? Siapa tahu dengan seperti itu Tuhan akan mengabulkan harapanku?”


Sarah menghembuskan nafas dan langsung memutar arah. Sekali lagi, keegoisan yang aku miliki melukai hati seseorang, hati yang selalu ingin kulindungi bukan karena hati itu lemah tetapi karena hati itu terlalu kuat, aku takut begitu hati kuat itu hancur dan berubah menjadi pecahan-pecahan, hati itu tidak akan bisa menentukan kemana lagi harus melangkah. Aku ingin melindungi hati kuat itu sekuat tenaga tetapi aku justru menambah luka yang bisa membuat hati itu bertambah kuat dan akan semakin hancur berkeping-keping, bukan lagi menjadi pecahan tapi menjadi serpihan.


“Sarah, aku ingin terus melihatmu tersenyum, apapun yang terjadi. Smile because you are happy not because you have to hide your pain, your weakness, and your sadness.”


...-----...


Sarah terus berada di sisiku, bahkan ketika Ayah dan Ken menghampiriku, Sarah langsung mendorong kursi rodaku dan membawaku pergi. Dia terus melakukan hal itu bahkan saat sesi foto dimulai dan sekarang di tempat ini dia juga melakukannya lagi. Tatapannya berubah menjadi sangat tajam ketika menatap semua orang. Bahkan Bobby yang tidak tahu apa-apa tetap mendapat tatapan tajam dan komentar sinis karena terus berada diantara Daniel, Sabrina, dan Kevin.


Kuambil earphone di dalam tas kecil yang kubawa. Kevin terus mengawasiku dari kejauhan. Luka pukul di wajahnya belum sembuh, masih bengkak. Sejujurnya aku penasaran akan satu hal, alasan Kevin membalas pukulan yang Ken berikan saat dia tahu dimana letak kesalahannya. Aku rasa bertemu dengan Sabrina dan mengadakan dinner dengannya bukanlah sebuah kesalahan baginya. Mungkin bagi Kevin semua itu adalah hal yang wajar dilakukan. Atau mungkin ada sesuatu yang tidak aku ketahui hingga membuat Kevin menganggap semua yang telah terjadi bukan kesalahannya.


Beberapa pelayan yang pernah melihatku menatap ke arahku dengan takut. Acara ini benar-benar membosankan. Dan lagi, kenapa acara ini harus diadakan di rumah Kevin, acara yang tidak pernah dilewatkan ayahku, acara reuni. Kualihkan pandanganku pada seorang pelayan yang aku kenal. Pelayan yang mengantarkan makanan ke kamarku dan pelayan yang mendapatkan teriakan dariku. Kudorong kursi rodaku tanpa sepengetahuan Sarah. Kuhampiri pelayan itu.


“Maafkan aku.”


“Ah.. Nona. Maaf untuk apa?”


“Karena berteriak padamu waktu itu.”


“Tidak apa, Nona. Seharusnya saya tahu jika Nona sedang tidak ingin diganggu. Saya permisi, masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan.”


Pelayan itu berjalan menjauh dariku tapi dia terus kembali melihat ke arahku dengan tatapan bersalah. Dia terus menatap ke arahku sampai dia menabrak orang di depannya dan menumpahkan semua gelas yang dia bawa. Semua itu menyita banyak perhatian dari tamu lainnya, mereka ingin melihat pelayan seperti apa yang membuat masalah sebesar itu.


Kenapa hanya kesalahan yang menyita perhatian semua orang?


Kenapa mereka tidak melihat kebaikan yang pelayan itu lakukan dengan mengantar makanan dan minuman?


Tanpa pelayan, makanan dan minuman di acara ini tidak akan bisa mereka makan.


Dari tempat aku berada sekarang, aku bisa melihat Sarah yang cemas mencariku. Sama halnya dengan Sarah, Ayah dan Ken juga mencari-cari dimana aku berada. Ken sampai mencariku di bawah meja, apa yang sebenarnya dia pikirkan? Bagaimana mungkin aku bisa berada di bawah meja jika untuk berdiri saja aku tidak memiliki tenaga?


Lima menit berlalu, Sarah masih terus mencariku. Sampai saat mataku dan matanya bertemu, dia bernafas lega dan menghampiriku tapi sebelum dia mencapai tempat aku berada, kursi roda milikku sudah didorong oleh seseorang yang tidak aku kenali. Aku hanya melihat ke depan, aku tidak berani melihat ke belakang ataupun mendongakkan kepalaku ke atas.


“Hai, lama bertemu. Ah.. kita belum bertemu lagi setelah pertunanganku.”


“Sabrina?” panggilku ragu.


“Kamu ingin ini? Cupcake kesukaanmu.”


Sabrina memberikanku sebuah cupcake. Dia memakan cupcake yang berada di tangannya. Tempat ini, ini tempat yang paling sepi dari semua tempat yang ada di rumah ini. Kuamati wajah Sabrina yang begitu tenang. Dia tersenyum ketika menyadari aku terus menatap ke arahnya.


Kubuka kertas roti yang membungkus cupcake itu dan mulai memasukkannya ke dalam mulutku.


“Daniel memutuskan pertunangannya denganku dan aku kembali kesini untuk mengambil kembali Kevin. Aku dengar, para pelayan di sini tidak menerimamu dengan baik. Mereka lebih memilihku daripada kamu. Sangat ironis, bukan?”


“Aku lebih suka jika kamu to the point.”


“Benarkah?”


“…”


“Aku ingin memulai semuanya dari awal dengan Kevin tapi aku mendengar jika kamu dan Kevin baru memulai hubungan. Bisakah kamu melepaskan Kevin sama seperti kamu melepaskan Daniel untukku?”


“..."


“Aku selalu iri denganmu, Fanya. Kamu bisa mendapatkan semua yang kamu inginkan. Daniel, dia membuangku dan aku tahu dia lebih memilihmu. Dia bahkan berpura-pura bahagia saat kami berdua berlibur ke Jepang. Setelah aku mengirimkan surel kepadamu, tanpa aku tahu alasannya Daniel langsung menghubungi keluargaku dan meminta pembatalan pertunangan. Tidak bisakah aku bahagia, Fanya?”


Tiba-tiba kepalaku pusing. Pusing ini bukan karena penyakit jantungku tapi karena alergiku sepertinya kambuh. Daritadi aku tidak memakan hal yang berbau kopi. Tunggu, cupcake yang baru saja aku makan. Tidak mungkin cupcake itu mengandung kopi atau kafein karena aku tidak mencium bau kopi apapun, jika kepalaku terus menerus pusing, dan sesak nafas mulai muncul, keringat dingin akan keluar dari tubuhku, penyakit jantungku bisa kambuh.


Apa aku tidak memberitahu orang-orang jika aku memiliki alergi terhadap kafein?


Apa mereka masih menganggapku bisa meminum atau memakan sesuatu yang berbau kafein?


Ah….aku mulai kesulitan bernafas.


“Apa cupcake ini berisi kopi?”


“Ah… tentu di dalamnya terdapat serbuk kopi karena aku sangat menyukai kopi. Aku memintanya langsung pada Kevin untuk menyediakannya, tidak kusangka dia benar-benar menyediakannya. Mungkin, Kevin tidak benar-benar mencintaimu.”


“Hah?!” teriakku.


Jika kebaikan seperti itu diartikan sebagai sebuah rasa cinta, tidak heran banyak kesalahpahaman di dunia ini. Hati manusia benar-benar lemah terhadap kebaikan. Dan hati manusia benar-benar sangat mudah untuk membuat kesimpulan yang hanya akan menyakiti banyak orang.


Sekarang aku kesulitan bernafas, jika seperti ini terus aku bisa pingsan. Ah….jantungku, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tidak bisa melihat semuanya dengan jelas. Pandanganku kabur.


“Sabrina, kumohon…..”


“Hmm?”


“Kumohon panggilkan Sarah,” ucapku dengan terengah-engah.


“Tidak bisakah kamu mengucapkan jawaban dari apa yang aku katakan?”


“Kamu bisa mendapatkan semuanya.”


“Tepati janjimu.”


“Kumohon panggilkan Sarah.”


“Baiklah, aku pergi ke depan dulu tapi paling tidak dua puluh menit lagi Sarah baru akan ke sini, aku ingin ke kamar mandi dahulu. Nikmatilah cupcakes dan pemandangan di sini.”


Sabrina mulai melangkahkan kakinya menjauh dariku. Dua puluh menit terlalu lama. Aku tidak bisa. Tidak, aku bisa. Aku hanya perlu mengatur nafasku, aku hanya perlu memikirkan sesuatu yang membuatku bahagia. Aku bisa menahannya.


Kutatap langit yang gelap, setidaknya masih ada bintang dan rembulan yang menemaniku. Balon yang baru aku terbangkan bersama Sarah, apa Tuhan sudah mengetahui harapanku? Apa Tuhan akan menggenggam erat harapan terakhir yang telah aku buat? Apa Tuhan akan mengabulkan harapan itu tepat saat ini?


Harapan yang kubuat hanya satu, aku bisa kembali ke dalam pelukan-Nya dengan sebuah senyum penuh kebahagiaan, tanpa penyesalan, tanpa kebencian, aku hanya ingin jika waktuku sudah tiba, Tuhan akan memelukku dengan erat dan memberikan ganti yang lebih baik bagi keluargaku dan orang-orang yang kucintai. Tuhan, tidak peduli seberapa banyak aku menyalahkan-Mu tentang takdirku, aku tahu Engkau selalu ada untuk melindungiku.


...-----...