
Dua tahun kemudian…
Ternyata berlari tidak semelahkan yang aku kira selama ini. Aku menikmati pelarian ini, lebih dari sekadar menikmati. Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Walaupun aku tahu jauh di dalam dasar hatiku, aku masih menginginkan untuk terus bersama keluargaku. Jika aku tidak melarikan diri, aku mungkin tidak akan pernah bisa merasakan kehidupan normal yang selama ini aku inginkan.
Bersama dengan Sarah dan Bobby, aku bisa perlahan menerima diriku kembali. Menerima bahwa penyakit yang sudah melekat dalam hidupku bukanlah sebuah kemalangan tapi sebuah anugerah. Tuhan tidak berbaik hati untuk memberikan anugerah seperti ini kepada semua orang, aku bersyukur menjadi satu diantara beberapa orang yang Dia beri anugerah ini.
Aku masih sama seperti dua tahun yang lalu, terkadang aku harus menggunakan kursi roda tetapi ada saat dimana aku bisa berjalan dengan penuh semangat. Aku mengikuti semua program pengobatan yang diberikan dokterku saat ini dan aku yakin ayah juga mengetahui kondisiku yang membaik. Sejauh apapun aku berlari, aku akan tetap meninggalkan jejak.
“Ohh… sangat dingin di luar.”
Kualihkan perhatianku dari jalanan di luar ke Sarah dan Bobby yang menggigil. Sudah masuk musim dingin lagi rupanya, waktu benar-benar berjalan dengan cepat saat aku bahagia. Kulangkahkan kakiku menuju pintu berusaha membantu Sarah membawakan belanjaan yang baru dia beli, tapi seperti biasa Sarah langsung menolak bantuanku.
“Aku membeli roti yang terakhir kali kita makan. Aku lihat kalian menyukainya,” ucap Bobby sembari mengeluarkan bungkus roti dari dalam belanjaan yang dia bawa.
Kuambil roti itu dan menyuapi Sarah maupun Bobby yang sedang sibuk mengatur barang-barang. Terkadang aku berpikir jika aku hanya menjadi penghalang bagi mereka berdua tapi kemudian aku kembali sadar jika tanpa diriku maka mereka berdua mungkin tidak akan bisa bersama selama 24 jam. Bobby selalu memperlakukanku dengan baik, awalnya memang sulit untukku dan Bobby menjadi lebih dekat terlebih setelah Sarah menceritakan tentang penyakitku. Bobby mulai memperlakukanku dengan hati-hati, dia bahkan tidak pernah bergurau denganku lagi, takut gurauannya akan menyakitiku dan membuatku jatuh sakit kembali.
“Tadi aku bertemu dengan Dokter Frank,” ucap Sarah begitu selesai mengatur belanjaan.
“Apa yang dia katakan?”
“Dia memintaku memberikan tiket ini padamu.”
Kuamati tiket masuk Natural History Museum yang sekarang berada di tanganku.
“Apa kamu memilih Dokter Frank karena dia adalah Ayah Kevin?”
“Hah? Ayah Kevin? Maksudmu ayah kandungnya?” tanya Bobby tidak percaya.
Hanya senyuman yang aku berikan sebagai jawaban. Aku meninggalkan mereka berdua yang menatapku penuh rasa ingin tahu dan memilih berdiam diri di kamar. Kembali kulihat tiket yang masih aku genggam.
Apakah sudah cukup untukku berlari?
Apakah sekarang waktu untukku berhenti?
Kubuka laptop yang sedari tadi di atas kasur. Aku kembali membaca e-mail yang selama satu tahun terakhir terus menghantuiku. E-mail yang tidak pernah ada habisnya dan terus masuk selama 365 hari. Aku rasa membutuhkan waktu satu tahun bagi keluargaku dan juga Kevin untuk menemukan dimana diriku berada. Selama dua tahun pelarianku, pesan-pesan ataupun tanda keberadaan keluargaku dan Kevin disekitarku baru muncul sejak satu tahun yang lalu.
1 Januari
‘Apa dengan melarikan diri, kamu akan bahagia?’
2 Januari
‘Aku tidak tahu apa yang harus aku tulis. Aku merindukanmu.’
3 Januari
‘Fanya…………’
4 Januari
‘Apa semua ini hukuman dari Tuhan untukku karena sudah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh-Nya? Jika memang ini adalah hukuman untukku, aku akan menerima. Aku akan menerimanya dengan lapang dada hingga akhirnya Tuhan akan mempertemukan kita kembali.
Kenapa kamu tidak memberitahu siapapun dimana kamu berada?
Bagaimana aku akan hidup tanpamu?’
5 Januari
‘Kumohon kembalilah padaku…….
Kumohon……’
6 Januari
‘Kamu di London? Aku mendapat informasi jika kamu berobat dengan ayahku. Ayahku menghubungiku.
Terima kasih untuk tidak melarang ayahku memberitahuku dimana kamu berada. Terima kasih untuk tetap melanjutkan pengobatanmu. Terima kasih untuk tidak menyerah. Terima kasih……..’
Tok…Tok..
“Apa kamu membaca e-mail itu lagi?"
“Sarah," panggilku.
“Kenapa?”
“Aku memilih London karena aku ingin tahu kota seperti apa yang selalu ayah dan ibu kunjungi untuk melepas penat mereka.”
Sarah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarku dan memelukku.
“Semua akan baik-baik saja sekarang. Percayalah pada Tuhan.”
“Aku mempercayai Tuhan sampai rasanya aku ingin terus berdoa kepada-Nya. Aku sangat mempercayai Tuhan, Sarah.”
...-----...
Laki-laki yang selalu memohon padaku untuk kembali padanya, sekarang dia berdiri 1 meter dariku. Laki-laki yang menerima semua keputusanku dan tidak pernah mencoba mengubahnya. Laki-laki yang selalu menungguku hingga aku siap untuk menerima semuanya. Laki-laki yang sekarang menatapku dengan penuh rindu. Kulangkahkan kakiku mendekat padanya, aku tahu jarak 1 meter yang dia buat untuk mengujiku, apakah aku sudah bisa menerima dia kembali atau tidak.
“Kemana mata indah itu pergi?” tanyaku membuka percakapan.
Kevin hanya diam membisu, dia terus menatapku untuk waktu yang lama, mungkin selama 3 menit sebelum dia membawaku ke dalam pelukannya. Pelukannya masih sama seperti dulu, masih sangat hangat. Mungkin pelukan yang sekarang lebih erat dari yang dulu, seolah dia tidak ingin melepaskannya.
“Kevin, aku ingin melihat Dippy. Dinosaurus yang selalu ingin kamu lihat saat kecil.”
Kevin melepaskan pelukannya dan kembali menatapku untuk kesekian kalinya. Seperti seseorang yang telah menemukan kembali hidupnya, mata hijau miliknya kembali berbinar seperti dulu. Mata yang selama ini aku kira tidak aku rindukan, aku salah. Aku sangat merindukan kedua matanya. Mata yang selalu memberikanku harapan dan ketenangan.
“Aku mencintaimu.”
Setelah mengucapkan satu kalimat itu, dia langsung menciumku. Ciuman pertama kami, ciuman yang tidak pernah aku harapkan. Ciuman yang bahkan bisa aku rasakan kesedihannya. Aku rasa baik diriku dan Kevin sama-sama tahu bahwa pertemuan kami bukanlah pertemuan penuh suka cita. Pertemuan kami saat ini adalah nama lain dari perpisahan yang akan lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya. Pertemuan yang perlahan akan memakan cahaya dalam hidup kami.
Tuhan, untuk saat ini, aku mohon biarkan kami bersama hingga maut yang memisahkan kami.
...-----...