
Hal pertama yang aku temui begitu masuk ke dalam kamar adalah Ken. Saat ini dia duduk di atas tempat tidurku dan memainkan boneka kelinci milikku, boneka yang aku tinggalkan selama dua tahun. Aku berjalan ke arah meja di dekat jendela dan mengambil vas berisi bunga tulip yang masih segar. Sepertinya bunga ini selalu ada di kamarku sejak kepergianku.
Selama ini aku tidak pernah meletakan bunga di dalam kamar karena aku terlalu malas untuk menggantinya setiap kali bunga itu menjadi layu.
Kuputar tubuhku ke arah Ken yang masih sibuk memainkan boneka kelinciku. Dia menarik kedua telinga panjang bonekaku, seperti seorang anak kecil yang baru mendapatkan boneka kesayangannya. Kuputuskan mendekat ke arahnya karena dia tidak akan berjalan mendekat ke arahku. Dia bukan lagi Ken yang selalu ada baik saat aku membutuhkannya ataupun tidak, sekarang dia berubah menjadi Ken yang selalu ada hanya saat aku membutuhkannya. Dan aku lebih menyukai sisi itu dari dirinya.
Aku duduk di hadapan Ken yang masih belum mau melihat ke arahku. Kepergianku selama dua tahun ternyata membuatnya menjadi seseorang yang mudah kesal. Berbeda dengan Sarah yang memang mudah kesal, selama ini Ken selalu menutupi setiap kali dia kesal akan sesuatu. Aku rasa kepergianku selama dua tahun dari hidupnya dan kehadiran Stephanie yang mengisi hari-harinya selama dua tahun membuatnya menjadi individu yang lebih terbuka akan emosinya. Dia bukan lagi seorang laki-laki yang dingin. Aku bisa merasakan sedikit kehangatan dalam dirinya. Kehangatan yang tidak bisa aku munculkan dari dalam dirinya. Bahkan kedua orang tuaku juga tidak bisa memunculkan kehangatan itu.
“Apa kakak tersayangku ini marah?” tanyaku sembari memegang pipi Ken dan mengangkat wajahnya agar menatapku.
Ken berhenti memainkan telinga boneka kelinci dan meletakkan boneka itu ke pangkuannya. Dia menatapku dengan wajah penuh kerutan seolah aku telah menjahilinya dan saat ini dia sedang merajuk. Sangat lucu melihatnya seperti ini. Hal yang tidak pernah aku lihat setelah kami beranjak dewasa. Terakhir kali dia menunjukkan wajah seperti ini, mungkin saat kami berusia 5 tahun.
“Aku hanya ingin mereka berdua akrab.”
Aku melepaskan kedua tanganku dari wajahnya dan mengambil boneka kelinci dari pangkuannya. Aku meletakan boneka itu ke atas meja rias. Ken hanya terdiam bingung dengan tingkahku saat ini.
“Ken, jarak antara boneka ini denganmu saat ini adalah jarak terdekat yang bisa mereka lalui. Mereka tidak bisa melangkahkan kaki mereka mendekat.”
“Kenapa?”
“Satu, mereka tidak terikat seperti halnya Sarah dengan Stephanie ataupun aku dengan Stephanie. Dua, mereka tidak bisa terbuka satu sama lain. Tiga, Kevin adalah seseorang yang akan kehilangan diriku tanpa ada satu orangpun yang bisa menghiburnya dan Stephanie adalah seseorang yang akan menghiburmu di saat aku pergi jauh. Empat, Stephanie adalah seseorang yang akan membuat kalian perlahan melupakanku dan Kevin adalah seseorang yang tidak akan bisa melupakanku. Mereka berdua adalah dua kutub yang tidak akan bisa menyatu. Jika kamu ingin membuat mereka berdua akrab, bagaimana dengan Bobby? Hubungan Stephanie dengan Bobby juga canggung, kenapa hanya Kevin yang menjadi masalah?”
Raut wajah Ken berubah, entah karena dia akhirnya tahu alasan dibalik hubungan canggung Stephanie dengan Kevin atau karena dia baru menyadari jika hubungan Stephanie dengan Bobby juga cukup canggung. Melihat raut wajahnya saat ini, aku yakin dia sedang memikirkan kedua hal itu. Aku tahu dengan pasti bagaimana Ken menganggap Kevin sebagai saudara, bukan berarti Ken tidak menganggap Bobby sebagai saudara. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika, hal yang bisa dilihat melalui perasaan. Hatinya dengan hati Kevin terhubung karenaku dan karena itu Ken ingin membuat semua hal dalam hidupnya juga terhubung dengan Kevin sebagaimana mereka berdua terhubung denganku.
Aku melangkahkan kakiku kembali mendekat ke arah Ken dan duduk dihadapannya. Aku juga kembali meletakkan boneka kelinci ke pangkuannya. Dia mengambil boneka kelinci dan kembali memainkan kedua telinga panjangnya.
“Ken, aku menyukai dirimu yang sekarang.”
“…”
“Kamu menjadi seseorang yang lebih terbuka dan aku menyukainya. Aku juga berharap Kevin bisa terbuka dengan perasaannya.”
“Maafkan aku.”
“Untuk apa? Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu.”
“Tidak, kamu tidak memiliki kesalahan hingga membuatmu harus meminta maaf padaku. Aku baru tersadar jika Kevin yang akan paling menderita karena kepergianmu. Ayah masih memiliki ibu, aku memiliki Stephanie, dan Sarah memiliki Bobby tetapi Kevin tidak memiliki siapapun.”
“Dia memiliki kalian tetapi dia tidak akan membuka dirinya untuk siapapun.”
Ken menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Bukan hanya dirinya yang semakin terbuka tetapi dia juga menjadi seseorang yang lebih dewasa. Setelah kami bertemu kembali setelah dua tahun, aku selalu menghindari topik ‘kematian’ karena aku takut hal itu akan mempengaruhinya tetapi saat ini dia tidak masalah. Aku seperti melihat sosok ayah di dalam dirinya.
“Bagaimana aku bisa membuatnya membuka diri?”
Aku terkejut dengan pertanyaan yang baru saja Ken ajukan. Aku tidak pernah menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulutnya. Pertanyaan untuk memahami orang lain, pertanyaan yang selama ini tidak pernah dia tanyakan atau mungkin dia pikirkanpun tidak pernah.
“Biarkan dia, dia tidak akan mendengarkan siapapun. Dia sama dengan Paman Frank, dia tidak akan membiarkan orang lain menghibur dirinya. Biarkan dia saat hal itu terjadi, jangan mencoba menghiburnya dan jangan mencoba mencarinya.”
“Mencari?”
“Dia akan menghilang selama beberapa hari setelah kepergianku.”
“…”
“Aku ingin kamu berjanji satu hal padaku.”
“Berjanji akan?”
“Lima tahun setelah kepergianku, carikan dia seorang perempuan yang menurutmu bisa menggantikanku.”
“Aku tidak bisa berjanji.”
“Ken, akan sangat menyakitkan untuk terus hidup dalam bayang-bayang diriku dan lima tahun adalah waktu yang cukup.”
Tok…tok…
Pandangan dan perhatian kami teralihkan pada seseorang yang sekarang berdiri di dekat pintu. Seseorang yang aku kira akan mengabaikanku selama satu minggu ke depan ternyata sudah berada di kamarku hanya dalam waktu 2 jam setelah kami semua sampai rumah. Seseorang itu mendekat ke arah kami dan langsung memelukku.
“Tidak akan pernah. Sekarang giliranku, pergi dari sini.”
Satu pukulan kecil mendarat di kening Sarah. Sarah berpura-pura kesakitan dengan mengaduh kecil yang kembali dibalas dengan sebuah cubitan di pinggangnya. Sudah lama aku tidak melihat dan merasakan suasana seperti ini. Dua tahun terakhir aku hanya melihat Sarah dan Bobby yang selalu bertengkar kecil. Aku tidak tahu jika aku akan merindukan momen seperti ini.
Kutarik tangan Ken dan membawa tubuhnya keluar dari kamar. Ken menatapku tidak percaya karena aku mengusirnya. Sarah mengejek Ken dengan memberikan juluran lidah ke arah Ken. Tepat sebelum Ken akan berlari kembali ke dalam kamar, aku langsung menutup pintu kamar yang meninggalkan tawa bagi kami bertiga.
“Kenapa 5 tahun?” tanya Sarah begitu aku duduk.
“Paman Frank mengatakan padaku jika Kevin selalu membutuhkan waktu 5 tahun untuk membuka dirinya. Kevin membutuhkan waktu 5 tahun untuk memulai pertemanan setelah dia pergi dari Jerman. Dia juga membutuhkan waktu 5 tahun untuk akhirnya berbicara dengan Paman Frank walaupun dia masih memendam benci saat itu. Aku rasa dia juga akan membutuhkan waktu 5 tahun untuk membiarkan orang lain memasuki hidupnya setelah kepergianku.”
“Bagaimana jika kamu salah?”
“Maka jangan pernah mengenalkan dia pada siapapun dan biarkan dia hanya mencintaiku selama sisa hidupnya,” jawabku asal.
Sarah tiba-tiba memelukku, menghangatkan tubuhku yang perlahan mulai kedinginan. Aku tidak tahu dia memelukku karena ingin menghiburku atau tahu jika aku mulai kedinginan. Apapun alasannya, aku sangat menyukai pelukan miliknya. Pelukan yang perlahan menggantikan pelukan Ken.
Dalam waktu dua tahun aku menemukan banyak hal dalam hidup termasuk karma. Hidupku selalu diisi oleh Ken, aku bahkan mengira tidak akan bisa hidup tanpa Ken dan selamanya hidupku hanya akan dipenuhi oleh Ken. Tapi lihat saat ini, aku bahkan bisa merasakan kehangatan selain milik Ken, kehangatan yang selama ini aku kira tidak membutuhkannya ternyata aku membutuhkannya. Aku yang selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak akan bisa hidup bersama dengan Sarah karena kepribadian kami yang sangat berlawanan ternyata dia adalah teman pelarian terbaik dalam hidupku.
Aku tidak akan pernah mengatakan hal-hal yang belum aku tahu dengan pasti ke depannya atau Tuhan akan menunjukkan bahwa semua yang aku kira benar adalah sebuah kesalahan. Sangat menyakitkan dan memalukan ketika Tuhan langsung menegurku. Menyakitkan karena Tuhan menyadarkanku bahwa semua yang aku percayai adalah kesalahan dan memalukan karena aku berpikir apa yang aku percayai adalah kebenaran. Tetapi di sisi lain aku bersyukur karena Tuhan masih mau memberikanku sebuah jawaban, jawaban yang bahkan tidak pernah aku minta dan tidak pernah aku tanyakan.
“Aku kira kamu akan mengabaikanku,” ucapku.
Sarah melepaskan pelukan kami dan menyubit kedua pipiku. Dia menggelengkan kepalanya sembari jari telunjuknya mengikuti gelengan kepalanya. Wajah cerianya sudah kembali.
“Semua itu salahku, aku juga sudah meminta maaf.”
“Meminta maaf?”
“Yup, aku meminta maaf ke Ken, Stephanie, dan Kevin.”
“Kapan kamu menjadi dewasa seperti ini?” balasku terkejut.
“Aku selalu dewasa!!!” teriak Sarah.
Keheningan perlahan mengisi kamarku, kamar yang sudah aku tinggalkan selama dua tahun. Aku kira saat aku melangkahkan kakiku kembali ke dalam rumah setelah 2 tahun akan merubah perasaanku. Aku salah, perasaanku tetap sama, perasaan hangat dan penuh cinta.
Aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku ke atas kasur, sangat nyaman. Tubuhku sudah sangat pegal karena berdiri sepanjang acara pernikahan Sabrina. Posisiku dan juga kasur yang sudah lama aku rindukan sungguh sangat nyaman, membuatku ingin tidur. Kulihat Sarah yang terdiam sembari memainkan boneka kelinciku. Kuambil boneka itu dari tangannya dan menepuk-nepuk kasur, menyuruhnya ikut berbaring denganku. Sarah menurutiku dan kami berbaring untuk waktu yang lama. Sangat nyaman dan tenang.
“Kevin sangat ingin menikah denganmu,” ucap Sarah memecah hening.
Aku juga tahu itu.
Aku belum memberikan jawaban apapun kepada Kevin karena aku takut, takut akan masa depan. Aku tahu Kevin tidak memikirkan masa depan kami, dia hanya ingin hidup bersamaku di masa sekarang. Aku ingin mengatakan kepadanya untuk tidak mengikat hubungan kami dalam sebuah pernikahan karena yang terpenting bagi kami saat ini adalah untuk terus bersama. Tapi aku tahu apa jawaban yang akan dia berikan begitu aku mengeluarkan kalimat itu. Dia tidak ingin Tuhan marah kepadanya karena menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata.
“Haruskah aku menikah dengannya?” gumamku.
Sarah langsung menggenggam tanganku.
“Sepertinya aku benar-benar akan menikah dengannya.”
“Berbahagialah dan aku akan menyusul kalian.”
“Sarah.”
“Ya?”
“Terima kasih dan maafkan aku.”
“Berhentilah, berapa kali aku harus mengatakan tidak ada kata ‘terima kasih’ dan ‘maaf’ dalam keluarga?”
“Hmmm….aku akan terus mengatakannya,” ucapku sembari tertawa pelan.
...-----...