H(Our)S

H(Our)S
Seorang Anak



Seorang anak, aku tidak pernah memikirkannya, bahkan untuk sampai ditahap menjadi seorang istri juga bukan hal yang aku impikan. Aku juga tidak pernah iri kepada mereka yang selalu bercerita tentang pernikahan impian ataupun keluarga impian mereka. Aku sadar jika aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang istri maupun ibu yang baik.


Aku hanya ingin menjadi seorang anak perempuan yang baik untuk kedua orang tuaku. Aku rasa beban itu sudah cukup berat, aku tidak ingin menambah bebanku dengan menjadi seorang istri dan ibu. Tapi, di sinilah sekarang aku berada tanpa bisa memutar kembali waktu dan aku tidak menyesali kondisi saat ini.


Untuk menjadi seorang istri yang baik aku harus mengorbankan anakku sendiri dan untuk menjadi seorang ibu yang baik aku harus menyakiti hati suamiku. Tidak ada keputusan yang tepat untuk saat ini, bahkan keputusan yang sudah ada di kepalaku sejak saat aku mendengar berita kehamilanku juga bukan keputusan yang tepat. Aku tidak ingin menyakiti Kevin untuk kesekian kalinya tetapi aku juga tidak bisa mengorbankan anak yang bahkan tidak tahu apapun.


Sudah satu minggu berlalu dan besok mau tidak mau aku harus kembali menemui Paman Frank. Hari ini aku sudah harus mendapatkan sebuah keputusan atas apa yang akan terjadi padaku dan juga pada calon anakku. Hari ini juga hari dimana Kevin melakukan ujian spesialisnya, aku menunda untuk memberi tahu tentang kehamilanku hingga hari ini karena aku tidak ingin fokusnya teralihkan padaku. Aku ingin dia mengejar sesuatu yang selalu dia cita-citakan sebelum aku melukai hatinya untuk kesekian kalinya.


Aku sangat egois bukan?


“Otakku seperti akan meledak," keluh Kevin.


“Tapi kamu bahagia bukan?”


“Tentu, aku sudah berjuang semampuku dan aku tidak akan menyesal apapun hasilnya.”


Kevin menyelimuti tubuhku dan kembali fokus memilih film yang akan kami tonton. Wajah lelahnya selama beberapa bulan terakhir ini sudah berubah menjadi wajah ceria dan senyum kembali menghiasi wajahnya. Aku akan menghancurkan wajah itu dalam hitungan detik. Kevin menyeruput kopi dari cangkir sesaat setelah film dimulai. Untuk kesekian kalinya dia kembali memilih Harry Potter, film yang akan selalu dia pilih kapanpun dia menonton film. Dia sangat menyukai film itu.


Haruskah aku mengatakannya saat ini?


Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak bisa menundanya lagi atau aku tidak akan mengatakan apapun hingga besok, hingga akhirnya Kevin mengetahui hal ini dari orang lain. Aku tidak bisa membiarkan dia mengetahui hal ini dari orang lain. Aku tidak ingin dia merasa tidak dibutuhkan dan tidak dianggap olehku.


Perlahan aku meletakkan foto hasil USG ke atas meja. Kevin masih memfokuskan dirinya menonton film yang sudah ratusan kali dia tonton itu. Aku rasa dia akan melihat foto hasil USG saat mengambil camilan dari atas meja. Fokusku saat ini hanya pada Kevin yang sekarang sedang tersenyum kecil menyaksikan pertengkaran Hermione dengan Ron.


Aku tidak ingin dia cepat menyadari keberadaan foto hasil USG yang aku letakkan, aku ingin dia menyadarinya setelah film ini selesai. Aku belum ingin melihat senyumnya hilang. Kevin melirikku sekilas yang sedang mengamati foto hasil USG, membuatnya ikut melihat apa yang sedang aku lihat.


“Apa ini?”


Wajah Kevin langsung mengeras begitu tahu apa yang sekarang berada di tangannya. Kami diam untuk waktu yang sangat lama, mungkin sekitar 10 menit. Hanya suara percakapan Harry, Ron, dan Hermione yang terdengar di ruang keluarga ini. Aku terus menatap Kevin yang mengabaikanku. Dia terbenam dalam pikirannya sendiri.


“Apa yang kamu mau?”


Kevin menatapku dengan lembut. Aku tidak menyangka dia akan menanyakan pendapatku dan bahkan menatapku dengan lembut. Aku tidak tahu jawaban apa yang harus aku berikan untuk pertanyaan tidak terduga itu. Aku hanya membalas tatapan miliknya dan kembali membiarkan ruangan ini diisi oleh suara Harry, Ron, dan Hermione.


Kevin mengambil remote televisi di atas meja dan mematikan televisi seakan tidak ingin pembicaraan kami terganggu. Dia kembali diam sebelum akhirnya kembali menatapku dengan lembut. Tatapan lembut miliknya seolah memberi tahuku jika dia sedang memberi jarak, bukan jarak denganku tetapi dengan sesuatu yang sekarang ada di dalam rahimku.


“Aku tidak pernah membenci Tuhan atas semua yang terjadi dalam hidupku karena hanya Tuhan yang bisa membawamu mendekat kepadaku. Aku selalu bepikir saat dimana aku membenci-Nya maka saat itu juga Tuhan akan membawamu pergi. Aku juga tidak pernah memiliki pikiran apapun untuk membenci Tuhan karena hanya Dia yang bisa memberikanmu hidup. Tetapi, bukankah semua ini sudah cukup untukku, Fanya?”


“Maafkan aku.”


“Dalam waktu lima bulan kamu harus melakukan operasi kembali dan selama waktu itu kamu harus meminum banyak obat untuk mencegah hal buruk terjadi selama operasi. Sekarang melihat bagaimana kamu meletakkan hasil USG ini, aku rasa operasi itu tidak akan pernah terjadi.”


“Kevin, aku akan mengikuti semua keinginanmu. Aku akan menggugurkannya seperti yang ayah dan kamu mau.”


Kevin berdiri dari tempatnya duduk. Dia terus menggigit bibir bawahnya, menahan setiap untaian kata yang ingin dia ucapkan. Dia tidak ingin untaian kata yang sekarang mengisi otaknya akan menyakitiku. Dia hanya tidak ingin emosinya saat ini menguasai dirinya dan memperparah situasi saat ini.


“Kevin.”


“Bukankah ini terlalu kejam untukku, Fanya? Dari sekian banyak manusia kenapa Tuhan memberikan pilihan ini padaku? Kenapa Tuhan tidak pernah memberikanku waktu satu tahun penuh untuk bersamamu? Dan kenapa kamu tidak pernah mempermasalahkan hal itu?”


“…”


“Jika aku memilih sesuatu yang sekarang ada di dalam tubuhmu, apakah aku akan bisa merawatnya tanpamu? Apakah aku akan bisa melihat ke arahnya tanpa perasaan benci? Apakah aku akan bisa menggenggam tangannya tanpa perasaan bersalah karena telah membunuh ibunya? Dan yang terpenting apakah aku akan bisa menerimanya saat aku tahu dia yang membuatmu pergi dari hidupku?”


Aku langsung memeluk tubuh Kevin yang sekarang jatuh bersama denganku. Aku tahu kalimat seperti itu akan keluar dari mulutnya tetapi aku tidak tahu jika dia akan meneteskan air mata saat mengucapkan kalimat itu. Aku terlalu egois untuk berpikir hal ini tidak akan sangat menyakitinya.


Aku memegang wajahnya yang sekarang berubah sendu dan menghapus air mata yang perlahan turun mengisi wajah lelahnya. Hanya gelengan kepala yang terus aku berikan sebagai jawaban atas semua pertanyaan yang baru dia ucapkan. Otakku masih belum bisa memikirkan satu kalimat yang bisa aku ucapkan untuk menenangkannya. Aku takut kalimat yang akan aku keluarkan justru menyakitinya lebih jauh.


“Aku tidak akan membuatmu memilih, aku akan menggugurkan kandungan ini. Kita bisa memilikinya setelah kondisiku membaik,” ucapku akhirnya.


Aku tahu jawabanku tidak akan memperbaiki kondisi ini. Bahkan jawaban yang baru terlontar keluar dari mulutku tidak akan bisa memberikan ketenangan untuk Kevin. Pada akhirnya keputusan akhir akan berada di tangan Kevin, dia yang akan menandatangi seluruh dokumen persetujuan. Keputusan apapun yang aku buat saat ini bukanlah keputusan akhir yang akan mempengaruhi hidup kami.


“Fanya….”


Kevin tidak melanjutkan kalimatnya, dia hanya memanggil namaku dengan sendu.


“Kevin, aku tidak bisa membiarkanmu memilih antara anakmu atau istrimu. Biarkan aku yang memilih, aku akan memilih diriku sendiri. Aku ingin hidup.”


“…”


“Kevin, kamu sudah menjadi suami terbaik untukku dan selamanya kamu akan menjadi suami terbaik. Semua ini bukan salahmu dan aku juga tidak akan menyalahkan diriku, semua ini juga bukan salah Tuhan. Kamu yang selalu mengatakan kepadaku betapa baiknya Tuhan kepada kita dan karena itu aku tidak ingin ada sebersit pemikiran dalam dirimu untuk membenci Tuhan. Seperti yang selalu kamu katakan padaku, Tuhan adalah perencana terbaik dalam hidup kita.”


“Maafkan aku, aku tidak bisa hidup hanya dengan anak yang sekarang berada di dalam rahimmu. Aku membutuhkanmu untuk merawatnya bersama. Aku bisa menjadi seorang suami yang baik untukmu tetapi aku tidak bisa menjadi ayah yang baik tanpamu. Aku minta maaf tidak bisa membuatmu mempertahankan anak kita. Maafkan aku.”


“Kevin, lihat aku.”


“Kamu sudah menjadi ayah yang baik dengan memilihku.”


“Tidak…”


“Kevin, kumohon lihat aku.”


Kevin mengangkat wajahnya dan menatapku hanya untuk beberapa detik. Dia membenamkan dirinya ke dalam pelukanku. Dia sedang berusaha menahan tangisnya, tangis yang akan dia keluarkan saat tidak ada diriku. Tangis yang bahkan tidak bisa aku hapus seluruhnya.


...-----...