H(Our)S

H(Our)S
Kenyataan



Aku selalu ingin tahu bagaimana perasaan setiap perempuan terhadap kehamilannya. Aku juga ingin tahu perasaan ibu ketika harus mengandung ketiga anaknya. Aku ingin menanyakan banyak pertanyaan kepada ibu yang hampir menyerah kepada Ken. Tetapi diatas semua itu aku lebih ingin tahu perasaanku sendiri terhadap kehamilanku saat ini.


Apakah semelelahkan ini?


Apakah semenyakitkan ini?


Dan apakah sebahagia ini?


Sudah 7 bulan menuju 8 bulan usia kehamilanku. Dua kali aku mengatakan tidak sanggup kepada ibu tentang kehamilanku dan beliau selalu berada di sisiku memelukku serta menyemangatiku. Beberapa kali kondisiku memburuk terlebih karena obat yang sekarang aku konsumsi tidak bisa memperbaiki kondisi jantungku yang semakin melemah. Bahkan saat ini aku hanya bisa berada di atas kursi roda dan aku dilarang untuk beraktivitas.


Aku rasa Kevin dan ayah sedang merencanakan sesuatu dengan dokter kandunganku karena beberapa kali setiap selesai memeriksaku, dokter kandunganku akan berada di ruang kerja ayah untuk waktu yang bahkan lebih lama dibandingkan saat dia sedang memeriksaku dan kandunganku. Aku ingin sekali menanyakan apa yang dibahas mereka tetapi aku sadar semakin aku ingin tahu maka semakin sedikit jawaban yang akan aku dapatkan. Sekarang aku hanya bisa menunggu untuk mereka jujur padaku.


Sejujurnya aku tidak terlalu penasaran dengan rencana dokter-dokter yang menanganiku karena saat ini ada hal lain yang membuatku bahagia, Sarah sudah membuka hatinya. Pertama kali dia membuka hatinya adalah saat aku menangis mengatakan jika aku sudah tidak sanggup pada ibu, saat itu dia melihat betapa tidak berdayanya kondisiku dan sejak saat itu dia perlahan membuka hatinya karena dia tahu perjuangan seperti apa yang sudah dan sedang aku lakukan. Sekarang dia selalu ikut menemaniku bersama dengan ibu. Dia bahkan sudah berani menyentuh perutku yang semakin membuncit setiap harinya dan bercanda dengan mengatakan jika perut buncitku terasa seperti balon.


Sarah juga menunda pertunangan yang akan dia lakukan bersama Bobby. Aku baru tahu 2 bulan yang lalu jika Sarah dan Bobby berencana untuk melangsungkan pertunangan sebelum mereka menikah tahun depan. Sangat jelas alasan pembatalan pertunangan mereka adalah aku. Untuk kesekian kalinya aku merasa bersalah kepada Bobby karena sudah menghalangi cintanya kepada adikku. Setiap kali aku mencoba membahas topik pertunangan dan pernikahan mereka, Sarah selalu menghentikanku dan mengatakan bahwa semua itu adalah keinginannya. Semua itu memang keinginannya untuk lebih memilih merawat dan menjagaku dibandingkan bersama dengan cintanya tetapi tetap saja aku sudah menjadi penghalang baginya.


Untuk Ken sendiri, dia masih sama dengan Kevin dan ayah, masih tidak mau mendekat lebih jauh kepada bayi yang ada di kandunganku. Setidaknya Ken masih mau menemaniku membahas hal-hal berbau pernak-pernik bayi. Aku selalu membahas tentang pakaian apa yang harus aku beli dan sebagainya dengan ibu, Ken, dan Sarah. Kevin selalu menghindari topik itu dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu berdua denganku membahas hal lainnya, membahas sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan anak kami. Ken juga selalu menemaniku setiap kali Kevin pergi. Dia kembali menjadi kakak yang siaga 24 jam. Terkadang aku merasa bersalah kepada Stephanie sama halnya dengan Bobby karena sudah mengambil waktu dari orang yang mereka cintai.


Ken dan Stephanie juga sudah mendaftarkan pernikahan mereka tetapi mereka tidak ingin mengadakan pesta apapun untuk merayakan pernikahan mereka. Alasan dibalik semua itu lagi-lagi adalah aku, walaupun mereka selalu mengatakan bahwa semua itu adalah pernikahan yang mereka inginkan dan lebih memilih uang untuk pesta akan disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan. Entah semua yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran atau hanya karena tidak ingin menyakitiku.


Stephanie juga sering menemaniku mengobrol tentang kandunganku, dia juga berencana untuk hamil dalam waktu dekat, sesuatu yang belum Ken inginkan. Stephanie sangat menyukai anak kecil, dia berulang kali mengatakan sudah tidak sabar menunggu bayiku lahir. Dia bahkan memanggil bayi di perutku dengan nama 'Anna', ketika aku menanyakan alasan dibalik nama 'Anna', dia hanya menjawab jika nama 'Anna' yang pertama kali terlintas dipikirannya begitu mengetahui jenis kelamin bayiku adalah perempuan.


Ayah beberapa kali menemaniku di kamar, tentunya hanya membahas seputar masa lalu ataupun cerita-cerita selama pelarianku. Ayah memang sudah tidak menyebut bayi dikandunganku dengan sebutan 'sesuatu' tetapi tetap saja ayah tidak mau membahas apapun tentangnya. Bahkan setiap kali aku menanyakan perihal arti medis yang dokter kandunganku sebutkan, ayah tidak pernah menjawabnya dan langsung mengalihkan topik. Untuk saat ini, aku tidak bisa mengharapkan apapun tetapi aku yakin ayah akan langsung jatuh hati begitu melihat anakku.


Saat ini perawat sedang menyuntikkan beberapa obat. Sudah lebih dari satu bulan aku menerima 10 jenis obat setiap harinya. Hal yang menyebalkan dari obat-obat itu adalah hampir separuhnya merupakan obat intavena dan itu membuatku selalu merasakan sakit karena suntikan. Aku selalu meminta untuk mengganti obat menjadi obat oral tetapi Dokter Claire, dokter kandunganku, dan Paman Frank selalu mengatakan jika aku membutuhkan obat dengan aksi yang cepat dan obat yang tepat hanya obat intravena.


"Apakah Nona merasakan rasa sakit seperti terakhir kali?"


"Tidak, sudah lebih baik. Apa Dokter Claire tidak kesini?" tanyaku setelah menahan diri cukup lama untuk menanyakan pertanyaan itu. Dokter Claire selalu masuk ke kamarku bersama dengan perawat dan hari ini adalah kali pertama hanya perawat yang masuk ke dalam kamarku.


"Suami Nona tadi memanggil Dokter Claire karena ada sesuatu yang harus didiskusikan. Sepertinya Nona sudah ingin menanyakan pertanyaan itu saat pertama kali saya masuk ke dalam kamar."


"Bagaimana Anda tahu?" tanyaku sembari tersenyum kecil.


"Nona sebenarnya mudah dibaca. Ah....maaf Nona, sudah ada telepon lainnya untuk kunjungan rumah lainnya."


"Tidak apa, saya juga sudah lebih baik."


Perawat itu mulai merapikan beberapa peralatan medis yang baru dia gunakan.


Aku melupakan sesuatu.


"Boleh saya meminta tolong?"


"Apa yang bisa saya bantu?"


"Tentu saja, Nona. Tunggu sebentar, saya harus membereskan barang-barang saya."


Aku ingin mengembalikan buku milik ayah yang sudah dua hari berada di kamarku. Aku selalu lupa meminta ayah untuk membawa bukunya setiap kali ayah masuk ke dalam kamarku. Sudah dua hari juga ayah uring-uringan mencari buku itu dan setiap kali aku mencoba mengatakan jika buku miliknya berada di kamarku, ayah sudah mengganti topik lainnya.


Perawat itu mendorong kursi rodaku begitu selesai merapikan semua barang-barang yang dia gunakan. Kamarku saat ini berada di lantai satu dan cukup dekat dengan ruang kerja ayah dan juga kamar kedua orang tuaku, tentunya hal itu agar lebih mudah mengawasiku. Aku juga akan merasa kesulitan jika berada di kamar lantai 2, aku tidak akan bisa bebas untuk naik turun tangga.


Saat perawat itu hendak mengetuk pintu, aku langsung mencegahnya dan membiarkan perawat itu untuk pergi. Aku ingin mengejutkan ayah dan sedikit menakut-nakutinya karena aku bisa berada di depan pintu kerja ayah. Sudah lama aku tidak bercanda dengan ayah.


"Tunggu hingga masuk bulan ke-8, beberapa perkembangan organ janin yang Fanya kandung sedikit terlambat. Jika kita memaksa mengeluarkannya di minggu ini, aku takut jika bayinya tidak akan bertahan. Hanya 1 minggu sebelum Fanya memasuki kehamilannya yang ke-8 bulan," suara Dokter Claire menghentikan tanganku yang hendak mengetuk pintu, membiarkan tanganku mengambang di udara.


"Maka saat itu kondisi jantung Fanya sudah sangat parah. Kondisi tubuhnya memang terlihat baik-baik saja tetapi hasil pemeriksaan menyeluruh menunjukkan hal sebaliknya," jawab Paman Frank.


"Aku minta maaf untuk mengatakan hal ini, tetapi untuk saat ini persen keberhasilan janin Fanya untuk bertahan lebih besar dibandingkan Fanya. Kenapa kita tidak....."


"Jangan pernah mengatakan itu lagi, Claire."


Suara berat ayah membuat ruangan itu menjadi hening. Aku baru tahu jika kondisiku sangat buruk. Selama ini aku kira kondisiku baik-baik saja walaupun beberapa kali aku sempat kehilangan kesadaran dalam satu bulan. Aku mengira itu hal yang wajar karena Paman Frank dan ayah tidak mengatakan apapun.


Aku ingin pergi dari tempatku sekarang berada. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Mengetahui jika anak yang aku kandung berada dalam kondisi yang baik, sudah cukup bagiku. Aku tidak ingin mendengar apapun tentang kondisiku lebih lanjut.


"Saat kalian semua memutuskan untuk mempertahankan kandungannya, saat itu juga kalian tahu dengan pasti setiap harinya persen kehidupan Fanya akan berpindah ke anak yang dikandungnya. Jika kita melakukan operasi bersamaan, bukankah itu sudah terlambat Frank? Batas akhir dia harus dioperasi adalah 2 bulan yang lalu dan sekarang dia tidak mengonsumsi obat-obat yang bisa mencegah kondisinya memburuk saat operasi. Kalian benar-benar mengambil keputusan terburuk dan kalian tahu itu bukan?"


"Tante Claire..."


"Kevin, bayangkan dia harus mengeluarkan anak kalian dan kemudian menjalani operasi jantungnya. Berapa banyak beban dan rasa sakit yang tubuhnya harus rasakan? Bahkan saat ini, aku rasa kalian semua tahu bagaimana rasa sakit yang dia rasakan. Dia tidak mengatakan apapun tetapi matanya memancarkan rasa sakit itu. Dan apa kamu tahu apa yang lebih mengejutkan, Kevin? Matanya juga memancarkan kebahagiaan. Rasa sakit yang dia rasakan tertutupi oleh kebahagiannya. Kenapa kalian tidak bisa menerima keputusan yang dia ambil? Dan kamu, Kevin, bukankah kamu juga menyetujui semua ini?"


"Aku memang menyetujuinya tetapi aku tidak bilang akan menyerah pada keduanya."


"Tapi saat ini kita dihadapkan pada pilihan sang anak atau ibu anak."


Pilihan itu akhirnya menampakkan diri ke permukaan. Pilihan yang selama ini selalu Kevin dan ayah coba sembunyikan. Pilihan yang selalu mereka coba hindari. Aku tidak bisa lagi berada di sini, aku harus mendorong kursi rodaku masuk ke dalam kamar kembali.


"Claire, sama halnya dengan Fanya yang memilih anaknya, aku juga akan memilih anakku. Aku akan menyelamatkannya seperti dia mencoba menyelamatkan anaknya. Karena itu aku hanya meminta bantuanmu mengeluarkan bayi yang ada di dalam perutnya dan serahkan sisanya kepada kami."


"Apa Ibu Fanya tahu? Dia juga berhak tahu karena Fanya juga anaknya. Apa dia setuju akan rasa sakit yang akan Fanya rasakan? Jangan lupakan jika bukan hanya kamu orang tua Fanya dan bukan hanya kamu yang akan paling merasa kehilangan Fanya."


Aku langsung memutar kursi rodaku menuju kamar. Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi. Aku sudah tahu cepat atau lambat, situasi seperti ini tidak akan terhindari dan karena itu aku harus bisa mengabaikan situasi saat ini. Aku harus menenangkan diriku dan membuang jauh-jauh semua yang baru saja aku dengar.


Tuhan, aku hanya ingin anak ini terlahir dengan selamat. Aku tidak peduli rasa sakit yang akan aku rasakan setelahnya. Aku hanya memohon agar anak ini akan baik-baik saja...


...-----...