
“Hai, Fanyaa….
Terimakasih untuk kejutan dan waktu yang sudah kamu berikan untukku dan juga Daniel. Aku sangat senang karena akhirnya aku dan Daniel bisa berbaikan seperti dulu lagi. Yah, walaupun aku tahu jika itu bukan karena bantuanmu semua itu tidak akan terwujud.
Kemarin setelah kamu membiarkanku dan Daniel berbicara empat mata, apa kamu tahu apa yang terjadi? Suasana menjadi sangat canggung. Aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan dan lakukan. Walaupun aku tahu semua ini terjadi karena kesalahanku yang meninggalkan Daniel. Tapi, kemarin berkat bantuanmu yang selalu mengirimi Daniel e-mail atas namaku, Daniel mau memaafkanku dan juga apa kamu tahu? Hm… dia mencoba ingin memulai hubungan yang baru denganku. Tapi, bukan hubungan yang spesial. Aku akan terus menunggu dia untuk memintaku menjadi kekasihnya kembali…
Daniel bilang dia masih butuh waktu untuk beradaptasi dan tentunya untuk kembali bisa menerimaku sebagai bagian dari hidupnya. Yaah.. walaupun aku tahu selama ini belum ada perempuan manapun yang bisa menggantikan posisiku di hatinya. Benarkan?
Sejujurnya, aku mau meminta tolong padamu. Bisakah untuk satu minggu ke depan kamu tidak mengganggu Daniel. Maksudku aku masih harus menghabiskan waktu lebih banyak dengan Daniel sebelum akhirnya aku kembali ke Italia. Aku tahu kamu pasti paham apa yang aku mau..:)
Yours,
Sabrina “
Semua orang juga akan meminta hal yang sama untuk bisa menghabiskan waktu berdua hanya dengan orang yang dicintainya. Aku sangat mengerti hal itu dan mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Sabrina.
Tok.. Tok..
“Siapa?”
“Ken.”
“Masuklah.”
Ken membawakanku makanan. Dia tidak pernah membiarkan bibi yang mengantarkan makanan ke kamarku. Dia yang selalu mengantarkan makanan ke kamarku untuk mengawasiku memakan setiap sendok makanan itu hingga habis tidak bersisa. Dia seperti ayah yang sangat protektif terhadap kesehatanku. Yah, walaupun diriku sendiri tidak terlalu mempedulikan kesehatanku, hal yang tidak seharusnya aku lakukan.
“Makanlah,” ucapnya setelah meletakkan nampan berisi makanan ke atas meja tempatku biasa membaca buku.
“Apa kamu tahu, setiap kali kamu mengantarkan makanan untukku, ekspresi wajahmu sama seperti saat memberi makan kuda kesayanganmu?”
Ken hanya terkekeh dan menatap lembut ke arahku. Dia mengambil sendok dan sepertinya dia akan menyuapiku. Apa aku seperti bayi baginya? Atau mungkin diriku sendiri yang menampakkan ketidakberdayaanku untuk menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutku?
“Ken, aku bisa makan sendiri. Berikan aku sendoknya.”
“Tidak. Wajahmu sangat pucat. Apa kamu kelelahan?” tanyanya sembari berjalan menghampiriku yang sedari tadi duduk di kursi rias. Dia memegang keningku dan aku tahu dia merasakan keringat dingin yang sudah sedari tadi keluar dari tubuhku. Dia meletakan sendok yang sudah berisi makanan ke atas meja rias dan langsung memeriksa nadi di pergelangan tanganku begitu merasakan keringat dingin. Dia lalu mengangkat tubuhku menuju tempat tidur tanpa meminta persetujuan dariku.
“Akan kupanggilkan Sarah untuk menemanimu. Tetaplah terjaga.”
“Ken, aku tidak apa-apa,” ucapku pelan karena aku sudah tidak bertenaga.
Lima menit sejak Ken pergi, Sarah sudah berada di kamarku. Dia membawa selang infus. Aku tidak mau diinfus. Kumohon, jangan lakukan itu padaku. Tuhan, kenapa aku tidak bisa membuka mulutku untuk mengatakan hal itu. Apa tubuhku benar-benar sudah sangat kelelahan?
Jarum suntik mulai menusuk kulitku. Keringat dingin kembali mengalir, sekarang keringat dingin membasahi bajuku dan sekali lagi aku sangat kedinginan. Sarah menatapku. Dia menggenggam erat tanganku.
Sarah menatapku dengan berkaca-kaca. Aku tahu, dia katakutan. Walaupun dia mengatakan jika semua akan baik-baik saja, aku tahu bahwa di dalam hatinya dia meyakini sesuatu. Sesuatu yang juga aku yakini. Sekeras apapun kita mencoba percaya. Sekeras apapun kita mencoba bertahan. Tetap akan ada hal yang tidak bisa dihindari manusia yaitu takdir, waktu, dan kematian. Aku yakin semua hal yang tidak bisa dihindari manusia adalah kehendak Tuhan yang sudah sangat mutlak.
Entah apa yang terjadi setelah itu. Aku sudah memejamkan mataku dan terlelap.
...-----...
Kurasakan genggaman erat tangan seseorang. Rasanya aku ingin membuka mataku tapi entah apa yang menahanku untuk tetap menutup kedua mataku. Rasanya membutuhkan banyak tenaga hanya untuk membuka mataku.
Apa aku harus memaksa diriku untuk membuka mataku?
Apa aku hanya perlu menerima kenyataan bahwa untuk membuka mataku sendiri aku tak bisa?
Atau apakah aku hanya perlu terus menutup mataku seperti ini?
Bayangan Ken, Sarah, Ayah, dan Ibu memasuki pikiranku. Entahlah apakah bayangan mereka masuk ke pikiranku atau masuk ke dalam mimpiku. Aku tidak tahu. Tunggu, pengorbanan mereka untuk terus mendampingiku. Aku tidak boleh menerima semua ini begitu saja. Aku harus terus berjuang walaupun pada akhirnya aku tidak bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginanku. Aku harus mencoba. Aku harus memaksa membuka mataku.
Perlahan kubuka mataku. Sangat silau. Mataku belum terbiasa dengan cahaya lampu di kamar. Kualihkan pandanganku ke tanganku. Ternyata tangan ayah yang menggenggam tanganku begitu erat. Ayah tertidur di samping ranjangku. Aku yakin ayah terus terjaga sepanjang malam hanya untuk menjagaku. Sebagai seorang dokter spesialis jantung, ayah sangat menanggung derita ini, derita karena fakta dimana beliau tidak mampu mengobati anaknya sendiri tetapi mampu mengobati orang lain.
“Ayah?” panggilku.
Ayah tidak menjawab, sepertinya ayah sangat lelah, mengingat ayah pasti baru kembali dari London. Bagiku ayah adalah malaikat yang rela melakukan apa saja hanya untuk anaknya. Beliau rela memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Beliau rela mengorbankan dirinya hanya untuk memberi kebahagiaan bagi keluarganya. Bagiku ayah adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku. Setiap kali aku menyalahkan Tuhan akan takdir yang aku terima, aku selalu teringat akan malaikat yang Tuhan berikan untuk menjagaku yakni ayah.
Dan satu lagi malaikat yang Tuhan kirimkan untukku yaitu seorang ibu. Seorang malaikat yang lebih mulia daripada apapun. Seorang wanita yang mengorbankan nyawanya untuk melahirkanku dan dua saudara kembarku. Bagiku, wanita terhebat di dunia adalah ibuku. Ibu adalah malaikat pertama di dalam hidupku yang juga merupakan pahlawanku.
“Kamu sudah bangun, Sayang.”
Aku mengalihkan pandangan ke arah pintu. Sudah pasti ibu mengawasi kamarku lewat CCTV. Tidak mungkin ibu bisa tahu jika aku sudah bangun saat ini dan melihat bagaimana ibu membawa nampan penuh berisi makanan, sudah bisa dipastikan ibu mengawasiku untuk waktu yang sangat lama.
“Kapan Ayah dan Ibu kembali dari London?” tanyaku sembari mencoba bangun dari posisi tidur yang langsung disambut dengan gelengan kepala oleh ibu.
“Lupakan itu. Pikirkan kondisimu terlebih dahulu. Ibu harus bangunkan Ayah.”
“Jangan, ayah pasti lelah. Saat ini Fanya baik-baik saja. Tunggu sampai ayah bangun dengan sendirinya.”
“Biarkan Ibu mencubit pipimu.”
Hanya senyuman yang bisa aku berikan. Terkadang, aku memang harus memaksa diriku sendiri untuk melakukan sebuah perubahan. Aku tidak boleh terpaku pada takdir yang telah Tuhan berikan. Ada kalanya takdir yang Tuhan berikan bisa aku ubah dengan usaha keras dan semangatku sendiri.
Dan, hanya ada satu hal di dunia ini yang sangat ingin kulakukan, melihat senyum keempat malaikatku. Karena itu, aku akan terus berjuang hingga takdir lelah dengan usahaku.
...----...