
Aku tidak pernah tahu jika ayah memiliki sebuah apartemen di Heidelberg. Apartemen yang ayah miliki sangat tenang dan tentunya dilengkapi dengan pemandangan alam yang bisa menyejukkan mata yang lelah ini. Perabotan di apartemen ini juga sangat lengkap dan ruangan ini tertata dengan sangat baik dan juga rapi. Apartemen ini seperti apartemen impianku selama ini.
Kuamati selembar kertas di atas meja telepon.
Jadwal? Jadwal apa? Ah.. ternyata ayah menyewa agen kebersihan untuk membersihkan apartemen ini setiap harinya. Pantas saja apartemen ini sangat bersih walaupun tidak ditinggali.
Ken melepas jaket yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Dia baru selesai memindahkan barang-barang ke dalam ruangan. Kulangkahkan kakiku mendekati lemari es. Wow.. di dalam lemari es terdapat banyak makanan dan minuman.
Apa ayah telah menyiapkan semua ini?
Apa Ayah benar-benar menyiapkan liburan ini khusus untukku?
Gelas-gelas dan semua perabot makan di apartemen ini sangat lucu. Beberapa bergambar Winnie The Pooh dan sisanya bergambar Doraemon. Ayah benar-benar menyiapkan liburanku kali ini.
“Ini.”
Kusodorkan segelas jus jeruk ke Ken. Ken menerimanya dengan wajah penuh senyuman. Dia menggeser tubuhnya dan membiarkanku duduk di sampingnya. Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Fanya, apa kamu ingat dengan Kevin?”
Kevin?
Lagi-lagi jantungku masih berdebar walau hanya mendengar namanya.
“Mungkin,” balasku canggung.
“Apa kamu yakin sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya? Maksudku, apa kamu benar-benar sudah yakin bahwa hatimu sepenuhnya sudah melupakan dia? Aku hanya merasa, hubunganmu dengan Daniel hanya sebatas sahabat seperti yang selalu kamu ucapkan karena di dalam hatimu masih ada orang lain dan orang itu adalah Kevin. Kamu tahu, aku selalu merasa, kamu ingin orang-orang disekitar kita percaya jika kamu memiliki perasaan untuk Daniel saat dimana perasaan milik kamu hanya milik Kevin.”
Bagaimana mungkin dia mengatakan semua itu seakan dia tahu tentangku? Bagaimana mungkin dia mengatakan semua itu seolah dia pernah sekali saja berada di posisiku?
Aku tahu jika dia kembaranku tetapi bukan berarti dia tahu semua perasaanku. Hanya karena dia selalu berada di sampingku bukan berarti dia tahu segalanya tentangku. Dia tidak tahu apapun tentang perasaanku. Dia hanya bisa mengamatiku dari dekat dan dia hanya bisa menjadi pengamat bukan menjadi pembaca perasaanku. Dan kalaupun dia bisa membaca perasaanku, dia tidak akan pernah bisa memahami dan mengerti perasaan yang kumiliki karena diriku sendiri tidak tahu lagi perasaan apa yang ada di dalam hatiku.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengucapkan semua itu. Mulutku berbicara sebelum otakku mencernanya,” ucap Ken begitu mendapati diamku sebagai balasan atas ucapannya.
“Ken, bawa aku ke kamar. Aku pusing.”
Seketika itu juga Ken mengangkat kepalanya dari bahuku. Dia langsung menatap ke arahku dan menempelkan tangannya ke kepalaku. Dia langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar. Dia menurunkanku ke atas kasur dengan sangat pelan dan lembut lalu langsung menggenggam tanganku. Selama lima menit Ken terus menggenggam tanganku. Setelah itu dia keluar mengambil air hangat dan obat. Dia kembali ke dalam kamar dan langsung membantuku meminum obatku.
Ada apa dengan tubuhku? Apa hanya memikirkan Kevin membuatku jatuh sakit? Apa hanya mengingat laki-laki yang pernah mengisi hatiku membuat jantungku menjadi tidak berdaya?
Dan, apa ucapan Ken benar tentang perasaan yang aku miliki?
“Apa kamu kelelahan?” tanya Ken begitu bisa mengatur detak jantungku.
Raut wajah Ken penuh dengan kecemasan. Aku tidak tahu sekarang menatap Ken dengan wajah yang sangat lemas atau dengan wajah yang penuh dengan kesakitan. Kepalaku sangat pusing tetapi untungnya jantungku baik-baik saja.
“Aku tidak kelelahan. Mungkin karena kamu membahas Kevin dan apa yang kamu ucapkan itu benar sedangkan aku berusaha menyangkalnya," balasku membuat Ken terdiam.
Ken memejamkan matanya selama beberapa detik. Dia kembali menggenggam erat jemari tanganku dan mendekatkan wajahnya ke arahku.
Apa dia akan menempelkan dahinya ke dahiku?
Benar, Ken menempelkan dahinya ke dahiku. Dia selalu melakukan hal seperti ini setiap kali aku mengakui kesehatanku terganggu karena ucapannya. Aku pernah menanyakan alasan kenapa dia melakukan hal ini, dia hanya mengatakan dia harus mengambil apa yang telah dia ucapkan dengan menempelkan dahinya. Dia harus mengambil kembali rasa sakit akibat ucapannya.
Ken, dia selalu seperti itu. Dia selalu mengorbankan apa yang menjadi miliknya hanya untuk melindungiku, melindungi adik yang sama sekali tidak berguna. Melindungi adik yang selalu membuatnya kesusahan.
Aku ingin tahu berapa banyak yang dia korbankan hanya untukku?
Aku ingin tahu hal itu karena Ken selalu menutup rapat mulutnya jika dia memiliki masalah.
Ken menarik kembali wajahnya. Sekarang dia menatapku dengan sendu. Sungguh, aku benci tatapan mata itu.
“Rasa sakitnya sudah berkurang. Waah… Mr. perfect took away my pain,” ucapku.
Ken menatapku. Dia menghembuskan nafasnya. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Aku tidak tahu mengapa dia bisa memahami semua yang aku rasakan. Selama ini aku kira, Ken tidak pernah tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya.
Kenapa dia bisa begitu memahami perasaanku?
“Kamu tahu? Selama ini aku selalu mengira pelangi di matamu hadir kembali karena Daniel. Tapi, sekarang aku sadar pelangi di matamu hanyalah pelangi semu. Pelangi yang hanya menampakkan kebahagiaan fisik bukan kebahagiaan hati. Sampai kapan kamu akan terus menipuku dan juga keluarga kita, Fanya?”
“Bukan itu maksudku. Kevin memang selalu berada di hatiku. Seberapa keras aku mencoba melupakan dia, dia selalu muncul dalam benakku. Kamu tahu, aku selalu ingin mencoba menghubungi Kevin dan melupakan semuanya. Tetapi, kemudian aku tersadar, aku adalah seorang monster yang telah menghalangi hubungan Kevin dengan Sabrina dimana aku justru membuat Sabrina kembali ke dalam pelukan Daniel, bukan ke dalam pelukan Kevin. Aku hanyalah monster yang mengambil keuntungan dari hubungan Daniel dan Sabrina untuk kepentinganku sendiri.”
“Tidak. Fanya, satu hal yang paling aku benci darimu adalah kamu tidak pernah menyadari bahwa pelangi sudah muncul di dalam hidup orang lain dan kamu masih terpaku untuk mendatangkan hujan dan matahari secara bersamaan. Semua ini bukan kesalahanmu, kamu berhak untuk bahagia. Aku mohon, buat pelangi milikmu sendiri. Aku ingin melihat pelangi indah milikmu bukan lagi hujan di matamu.”
“Maafkan aku,” ucapku pelan.
“Tidurlah, aku akan terus berada di sampingmu.”
...-----...
Sudah pukul satu siang tetapi matahari tetap belum menampakkan sinarnya. Siang ini aku dan Ken memiliki rencana jalan-jalan mengelilingi kota. Sebenarnya aku dan Ken membutuhkan bahan makanan untuk membuat sup. Dimusim dingin seperti ini lebih enak menyantap sup, terutama sup kerang buatan Ken.
Ken bisa memasak, bahkan masakan Ken jauh lebih enak daripada masakan ibu, tentunya hanya untuk sup kerang sisanya masih enak masakan ibu. Aku tidak tahu darimana Ken belajar memasak tetapi satu hal yang pasti Ken mulai tertarik memasak karena nenekku yang berada di Jepang. Dulu, waktu keluargaku masih menetap di Jepang, Ken lebih sering menghabiskan waktunya bersama Nenek untuk mencicipi berbagai masakan khas Jepang. Dan, karena hal itu Ken lebih menyukai memasak makanan Jepang atau Asia daripada Western.
“Sudah siap?”
Hanya anggukan yang aku berikan kepada Ken. Ken membuka payung dan menggandeng tanganku. Kami menyusuri sepanjang jalan dengan earphone di salah satu telinga kami. Alunan piano dan musik klasik yang aku dengarkan sangat indah. Melodi-melodi yang dimainkan sangat rapi, teratur, dan irama yang dihasilkan memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Itu penilaianku tentang musik klasik, walaupun aku sendiri tidak begitu paham tentang musik klasik. Aku hanya seorang penikmat.
“Ken?”
“Ya?”
“Hm? Tempat yang ingin aku kunjungi? Banyak tempat yang ingin aku kunjungi. Tapi, aku ingin pergi ke Cliffs Rugen.”
“Cliffs Rugen? Di Jerman?”
“Yap. Aku tidak ingin pergi jauh-jauh karena…….”
“Karenaku?” potongku membuat Ken terdiam sebentar.
“Bukan, karena aku malas melakukan perjalanan jauh dan juga Cliffs Rugen merupakan tebing. Kamu tahu betapa aku menyukai tebing bukan? Aku ingin ke sana dan ingin berteriak dari puncak tebingnya. Aku juga ingin mengambil beberapa foto dari Konigsstuhl.”
“Konigsstuhl?”
“Hmmmm.. seperti kursi raja? Walaupun hanya namanya saja dan Konigsstuhl merupakan tempat yang paling indah dari Cliffs Rugen.”
“Apa jiwa petualanganmu sedang bangkit?” godaku.
Hanya cengiran khas miliknya yang dia berikan.
Akhirnya setelah berjalan selama lima belas menit, aku dan Ken menemukan sebuah toserba. Ken kembali menutup payung dan mengikatnya. Dia menggenggam erat tanganku dan memasukkannya ke dalam saku jaket miliknya.
“Apa dingin?"
“Sudah tidak. Bagaimana kamu tahu jika aku kedinginan?” tanyaku.
Jujur, aku selalu penasaran darimana dia tahu jika aku kedinginan. Padahal saat aku kedinginan aku tidak menunjukkan ekspresi apapun. Atau mungkin, saat aku kedinginan wajahku pucat? Entahlah. Aku tidak pernah menatap wajahku di cermin saat aku kedinginan. Mungkin sesekali aku harus mengamati perubahan wajahku jika aku kedinginan.
“Karena aku orang yang selalu berada di sampingmu selama 20 tahun. Oke, apa yang akan kita cari terlebih dahulu?”
“Kerang!!” pekikku.
Ken menuntunku menuju tempat ikan. Sekilas, hanya sekilas aku melihat seseorang, seseorang yang cukup aku kenal. Tidak mungkin. Hanya kebetulan saja. Kuatur nafasku agar tidak berpengaruh pada jantungku.
“Ada apa?” tanya Ken begitu menyadari aku menatap ke arah lain, membuatnya ikut menatap ke arah itu.
“Tidak ada," balasku dengan nada canggung.
Ken kembali mengalihkan pandangannya menuju berbagai macam kerang di depannya. Dia sangat pandai dalam memilih bahan makanan seperti ini. Aku saja yang seorang perempuan kalah dengannya.
Seseorang mendorong tubuhku ke depan. Ken langsung melindungiku. Detik itu juga kurasakan tubuh Ken mengeras. Dia tidak merespon semua sentuhan tanganku yang mencoba membebaskan diri dari pelukannya. Dia tetap diam membisu dan aku masih berada di dalam pelukannya.
Ada apa dengan Ken?
Sekuat tenaga kucoba membalikkan tubuhku. Sungguh membutuhkan banyak tenaga karena tubuh Ken yang besar dan kuat. Seperti sadar dengan gerakanku, Ken langsung menarikku kembali ke dalam pelukannya.
Ada apa? Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Ken?
“Ken?” panggilku dengan tetap mencoba melepaskan diri dari pelukan Ken.
“Ayo, kita pergi mencari di bahan lain.”
“Tapi, bagaimana dengan kerangnya?”
“Kita bisa kembali lagi nanti.”
“Ken!!!” teriakku.
Ken memaksaku berjalan. Dia tetap memelukku. Bahkan sekarang dia membuatku tidak bisa melihat apa yang berada di hadapanku karena tangannya yang menutupi seluruh wajahku. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku atau lebih tepatnya dia sedang menghalangi pandanganku.
Apa yang sebenarnya dia lihat?
“Ken?” panggil seseorang.
Tubuh Ken menegang, aku bisa langsung merasakannya. Ken, menghentikan langkahnya dan diam membatu. Dia tetap berusaha menghalangi pandanganku. Aku ingin melihat siapa yang menyapanya karena aku tidak terlalu jelas mendengar suara orang yang menyapanya. Ken menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Perlahan aku bisa merasakan tubuhnya sudah mulai rileks. Sepertinya dia kembali menemukan kesadaran rasional miliknya yang tiba-tiba menghilang.
Ken membalikkan tubuhnya. Walaupun Ken membalikkan tubuhnya, dia tidak membawaku ikut serta. Sekarang aku berada di belakang tubuhnya yang besar.
Ah… bagaimana mungkin aku bisa melihat orang yang sekarang bertukar pandang dengan Ken dari balik badan Ken yang besar seperti ini?
“Ya?” balas Ken akhirnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Dan Siapa yang berada di belakangmu? Apakah itu Sarah?”
Kucubit pergelangan tangan Ken untuk kesekian kalinya. Ken tetap tidak merespon dan hanya diam membisu selama satu menit. Dia tidak menjawab pertanyaan orang yang menyapanya. Detik berikutnya dia menggeser tubuhnya ke kanan dan membuatku bisa melihat siapa yang menyapa Ken.
“Kevin?” panggilku terkejut.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan jantungku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Jantung ini kembali merasakan sesuatu yang pernah dirasakannya, jantung ini kembali berdetak dengan kencang dan membuat otakku kembali mengingat setiap detik kejadian yang kuhabiskan dengan laki-laki di depanku ini.
Apakah pelangiku akan kembali datang setelah ini atau justru hujan yang akan datang?
...-----...