
Ken terus menggenggam tanganku. Kevin hanya mengamati dari tempat dia duduk. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Ken. Genggaman tangan yang biasa dia berikan padaku seperti bukan genggaman tangannya. Sekarang, genggaman tangan yang dia berikan hanya seperti seseorang yang sedang menolong orang lain yang membutuhkan genggaman hangat miliknya.
Detak jam kembali terdengar di telingaku. Kualihkan pandanganku untuk mencari letak jam dinding itu tetapi aku tidak menemukannya. Kuamati wajah Kevin. Dia terus menatapku dengan tatapannya, tidak ada yang berubah darinya. Seperti mengerti arti tatapan mataku, Kevin berjalan ke arah jendela dan tepat di atas jendela terdapat sebuah jam dinding, tanpa ragu Kevin melepas baterai di jam itu dan meletakkan jam itu di sembarang tempat.
Sarah hanya mengernyitkan keningnya melihat tingkah Kevin. Kepalaku masih sangat pusing dan kenapa banyak sekali alat yang menempel di tubuhku? Apa kondisiku kemarin benar-benar mengkhawatirkan hingga harus seperti ini?
“Ken…..”
“Ya?”
“Aku ingin menggenggam tangan Kevin.”
Ken hanya menatap jauh ke dalam mataku. Dia tidak berkata apa-apa dan langsung melepas genggaman tangannya dan memberikan tanganku pada Kevin. Kevin tersenyum ke arahku. Jujur, sekarang aku tidak tahu dimana hatiku berada.
Apakah aku pernah benar-benar berusaha untuk melupakan Kevin dan membuangnya jauh-jauh dari hatiku?
Sepertinya aku tidak pernah melakukan hal itu, aku hanya berpura-pura melakukannya. Selama ini aku hanya berusaha mengatakan telah melupakan Kevin. Aku tidak pernah berpikir jika kehadiran Kevin yang hanya sebentar mampu membuatku kembali merasakan apa yang dulu aku rasakan untuknya.
Kevin mempererat genggaman tangannya. Dia tetap menatap lembut ke arahku. Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan mengusap rambutku. Aku merasa sangat nyaman dengan sikap Kevin yang memberikan perhatian padaku. Aku hanya bisa tersenyum. Ken dan Sarah, mereka berdua menyadari senyumanku dan memutuskan untuk meninggalkanku berdua dengan Kevin. Aku masih sangat mengantuk. Aku ingin terlelap sekali lagi dan bangun dengan genggaman hangat milik Kevin. Ya, itu yang aku inginkan.
“Apa kamu ingin tidur lagi?”
Hanya anggukan kecil yang aku berikan. Kevin hanya tersenyum dan terus melihat ke arahku. Aku tidak membalas tatapannya karena aku takut jatuh lebih dalam ke dalam hatinya untuk kesekian kalinya.
“Kamu ingin mendengarkan lagu?”
“Kevin, aku hanya ingin tidur. Tetaplah menggenggam tanganku sampai aku terbangun.”
“Aku harus terus melakukan itu?”
Sekali lagi, aku memberikan anggukan kecil. Kevin kembali mencondongkan tubuhnya ke arahku dan mencium lembut keningku. Cukup lama dia mencium keningku sampai aku menutup kembali mataku. Sebelum aku benar-benar tidur, aku masih mendengar Kevin mengucapkan sesuatu.
“Have a nice dream.”
...-----...
“Kamu tidak ingin makan sesuatu?”
Pertanyaan Sarah hanya aku anggap seperti angin lalu. Aku terus melihat jauh keluar jendela. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang aku lihat di luar sana. Hanya saja, entahlah. Mungkin aku hanya ingin keluar dari kamar ini. Sekarang aku benar-benar seperti seorang narapidana yang di penjara, hanya saja aku di penjara di dalam kamarku sendiri.
“Kamu tidak ingin susu dan cookies ini?”
Sekali lagi pertanyaan Sarah aku abaikan. Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku tidak tertarik siapa yang datang. Kalau tidak Ken pasti ayah, dan aku sedang malas bertemu dengan mereka berdua. Bukan malas tetapi marah pada mereka.
Sarah melangkahkan kakinya ke arah pintu. Aku hanya mendengar suara tawa kecil milik Sarah dan aku sama sekali tidak mendengar suara orang yang datang. Pintu kamar sudah tertutup, aku tidak tahu siapa yang menutupnya. Sarah atau orang yang baru datang, aku masih tidak ingin mengalihkan pandanganku.
Seseorang menjongkokkan tubuhnya agar sejajar dengan tubuhku. Sekarang aku bisa mengalihkan pandanganku ke orang itu. Dia tersenyum ke arahku. Sekarang aku benar-benar membencinya. Bagaimana bisa dia datang seperti ini disaat dia sendiri melarangku untuk menemuinya? Dia sungguh sangat egois.
“Hai,” sapanya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin memberitahumu semua yang kamu ingin tahu.”
“Kenapa kamu melarangku menemuimu?”
“Aku tidak ingin melihatmu menangis.”
“Apa salahnya jika aku menangis?”
“Karena aku tidak bisa menghapus air matamu. Aku tidak ingin menjadi alasan dibalik tangismu. Aku ingin menjadi seseorang yang menghapus air matamu.”
Dia mengambil teh dan cookies yang sedari tadi berada di samping tempat tidurku. Dia memotong cookies itu menjadi potongan kecil. Dia seperti sedang mengalihkan perhatiannya.
“Apa kamu masih ingat janjiku saat di rumah sakit?” tanyanya sembari meletekan kembali garpu di tangannya ke atas piring.
“Ya.”
“Aku kembali jatuh cinta padamu.”
Kepalaku kembali pusing. Aku tidak bisa menerima semua ini begitu saja. Walaupun aku ingin bertemu dengannya bukan berarti dia bisa mempermainkanku seperti ini. Aku bukan mainan yang bisa dia mainkan seperti yang dia mau.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Fan, aku sama sepertimu. Penderita penyakit jantung. Aku memilih ayahmu sebagai dokterku karena aku ingin tahu keadaanmu. Kata ayahmu, kamu semakin membaik dan itu membuatku ingin menjadi lebih baik juga. Mungkin perasaan yang aku miliki bukan hanya perasaan cinta tapi perasaan dimana aku ingin menjadi sepertimu. Selalu tersenyum walau tahu kapan saja kamu bisa meninggal. Aku ingin hidup seperti itu. Hidup sepertimu.”
Tanpa kusadari tanganku sudah mengepal. Ternyata benar yang Ken ucapkan waktu itu. Yoshida memang mencintaiku tapi cintanya hanya penuh dengan motivasi untuk bisa sepertiku. Bagiku itu sama sekali bukan cinta.
Aku tidak bisa terus marah kepadanya. Dia tidak salah, dia hanya membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya terus bertahan hidup. Sama halnya denganku. Aku membutuhkan Ayah, Ibu, Ken, dan Sarah sebagai motivasiku untuk terus hidup. Dan Yoshida menjadikanku motivasinya. Aku tidak bisa terus marah atau menyimpan amarahku padanya.
“You have your own life. Kamu bisa terus menjadikanku motivasimu tapi kamu tidak boleh terperangkap dalam motivasi yang kamu buat. Perasaanmu, aku tidak bisa menerimanya. Aku sangat ingin memenuhi harapanmu tapi sekarang aku tidak bisa, karena kamu hidup di dalam hidupku. Kamu membuat alur yang sama dengan hidupku. Bagaimana mungkin aku bisa memenuhi harapan dari orang yang meniru hidupku? Itu sama saja aku menerima kehidupan yang sama denganku.”
Yoshida tersenyum ke arahku. Dia menyuapiku dengan potongan kecil cookies yang baru dia potong. Dia tidak berbicara apapun dan menutup rapat mulutnya untuk waktu yang lama.
Apa dia terluka dengan kata-kataku?
Apa aku terlalu kasar padanya?
“Fan, terima kasih. Maafkan aku, karena aku, Kevin terus berpura-pura menolak perasaanmu.”
“Apa maksudmu?” tanyaku kebingungan.
“Kevin mengenalku, tentu saja dari ayahmu. Dia sudah lama menyukaimu tetapi ayahmu meminta kepadanya untuk menyembunyikan perasaannya karena keberadaanku. Dia bahkan meninggalkan Berlin dan pergi ke Heidelberg karenaku. Tapi, satu hal yang pasti, dia masuk ke fakultas kedokteran karena dia ingin bisa merawatmu. Aku benar-benar egois bukan karena hanya memikirkan dirimu sendiri dan membuat kalian berdua memiliki jarak?"
Aku terdiam tidak tahu apa yang harus aku ucapkan. Terlalu banyak hal baru yang aku terima. Tubuh dan otakku belum bisa sepenuhnya memproses semua yang saat ini sedang terjadi.
“Egois? Kamu hanya tidak memiliki pilihan lain,” jawabku akhirnya.
“Aku senang, bisa bertemu denganmu lagi. Terima kasih. Aku harap suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Aku mengambil penerbangan ke Tokyo hari ini, aku berharap kita bisa bermain seperti dulu saat kita masih kecil.”
“Yoshida, seseorang di luar sana pasti peduli padamu. Bukan aku memang, tapi akan ada seseorang.”
Hanya senyuman yang Yoshida berikan sebelum tubuhnya menghilang dari hadapanku.
...-----...