
Sarah terus menatapku. Aku tahu yang sekarang aku lakukan salah, tapi ayolah semua orang juga masih menginginkan Ken berada di rumah ini. Aku sangat tahu itu, walaupun ayah dan ibu mengizinkan Ken pergi tapi kedua orang tuaku itu tidak sepenuhnya merelakan kepergian Ken.
“Kenapa harus Stephanie?”
“Apa maksudmu?”
“Kamu bisa meminta pada Clara tapi kenapa pada Stephanie? Apa kamu yakin Ken akan kembali? Apa kamu tidak salah memilih orang?”
Aku kira Sarah marah padaku. Ternyata hanya karena aku lebih memilih Stephanie. Sarah melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. Dia membantuku duduk. Dia terus menatap ke arahku. Banyak alasan kenapa aku lebih memilih Stephanie daripada Clara. Entahlah, sekarang aku sudah kehilangan alasan-alasan itu.
Apa yang akan aku katakan untuk menjawab pertanyaan Sarah?
“Sarah, kita semua tidak akan pernah tahu isi hati Ken. Tapi, aku merasa Ken menyukai Stephanie. Dia bahkan menyimpan alamat e-mail Stephanie.”
“Benarkah? Ken melakukan itu?” tanyanya terkejut.
“Iya.”
Sarah menghembuskan nafasnya. Dia terdiam cukup lama dan akhirnya mencium keningku.
Ada apa dengan semua orang? Semua ini karena Kevin, jika saja dia tidak memulai mencium keningku pasti semua keluargaku tidak akan melakukan semua ini.
“Aku akan pergi.”
“Kemana?”
“Bandara. Aku hanya ingin melihat Ken. Bye bye, don’t forget eat your lunch.”
Kualihkan pandanganku ke arah jam di dinding. Jam itu berhenti berdetak dari kemarin. Aku tidak tahu apakah jam itu berhenti berdetak karena baterainya habis atau karena Kevin yang melepas baterainya. Tapi, jika Kevin yang melepaskan baterainya, dia pasti akan ikut membuang jam dinding itu bukan hanya membuang baterainya.
Apa seperti itu yang akan terjadi padaku saat jantungku berhenti berdetak?
Apa aku akan diam seperti jam itu saat jantung berhenti memompa darah ke seluruh tubuhku?
Apa aku akan berhenti hidup? Sudah pasti aku akan berhenti hidup.
Kenapa aku begitu tidak takut untuk menerima takdir yang akan aku hadapi? Bahkan takdir kematian bukan hanya takdirku tapi takdir semua manusia.
Kenapa aku harus begitu takut?
Sekarang aku sadar, irama detak jam dinding dan jantungku memang sama tapi terdapat banyak perbedaan setelah itu. Jam dinding itu tetap terus berdetak jika aku mengganti baterai yang telah habis dayanya tapi jika jantungku berhenti berdetak aku tidak bisa kembali mengumpulkan nyawaku. Aku akan berakhir jika jantungku berhenti. Aku tidak akan bisa kembali hidup.
Aku terlalu bodoh untuk berpura-pura tidak tahu itu. Sudah lama aku sadar jika aku pasti akan meninggal. Aku pasti akan meninggalkan dunia ini tapi kenapa hanya memikirkannya membuatku merasakan rasa sakit? Kenapa aku tidak bisa bersikap seperti dulu saat aku dengan tenang menerima semua takdirku. Menerima jika aku akan meninggal saat itu. Kenapa aku sangat takut sekarang?
Seseorang melangkahkan kakinya masuk ke kamarku. Seseorang itu hanya melihat sekilas ke arahku. Dia mengambil jam dinding itu dan mengganti baterai yang lama dengan yang baru. Dia melihat jam di tangannya dan menyesuaikan jam dinding itu dengan jam sekarang. Jam itu kembali berdetak, masih dengan irama yang sama dengan jantungku.
“Maafkan saya Nona. Kemarin jam dinding ini mati. Saya permisi.”
Tubuhku lemas. Jam dinding itu benar-benar mati karena baterainya. Aku benci ini. Hanya sebuah jam dinding bisa mempengaruhi perasaanku. Aku benci ini, kenapa aku menaruh perasaan iri pada benda yang bahkan tidak pernah hidup?
Kuambil pisau di atas piring buah. Aku tidak akan bunuh diri hanya karena perasaan ini. Aku hanya ingin menghentikan bunyi detak jam itu. Aku tidak sanggup hidup dalam bayang-bayang sebuah jam dinding. Kuangkat tanganku dan kulemparkan pisau itu ke arah jam dinding. Tepat saat pisau itu mengenai jam dinding seseorang kembali masuk ke dalam kamarku.
“Kamu ingin pergi?”
“Kamu tidak bertanya apa yang aku lakukan?”
Kevin melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. Dia menatapku, bukan dengan tatapan penuh kelembutannya tapi dengan tatapan dinginnya. Ada apa dengannya? Aku membutuhkan tatapan penuh kelembutan miliknya.
“Aku tidak akan menanyakan apapun.”
“Kenapa? Aku menghancurkan……”
“Kamu menghancurkan barang? Aku tidak peduli. Aku akan peduli jika kamu menghancurkan dirimu sendiri. Fanya, detak jam dinding itu dan detak jantungmu, abaikan semua itu, sama seperti yang dulu kamu lakukan.”
“…”
“Apa kamu ingin pergi ke taman?”
Aku mengangguk. Kevin kembali mengangkat tubuhku. Dia menuruni tangga dan hanya tersenyum saat ayah menanyakan akan membawaku kemana. Dia menjadi pribadi yang tenang dan tidak terburu-buru. Dia menjadi orang yang lebih dewasa.
Kapan aku bisa menjadi orang seperti itu?
Ken medudukkanku di atas kursi. Dia melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuhku. Dia tersenyum. Dia beranjak pergi, yang bisa aku lakukan hanya mencegahnya pergi. Walaupun aku tahu dia hanya ingin mengambil susu hangat dan cemilan tapi aku tidak bisa membiarkannya pergi. Dia menghentikan langkahnya dan kembali duduk di sampingku.
Kusandarkan kepalaku di bahunya. Aku harap sekarang Ken dan Sarah sedang menuju rumah. Aku harap Stephanie bisa membujuk Ken seperti yang aku inginkan. Dan aku harap Ken mau mengakui perasaan miliknya untuk Stephanie.
Apa harapanku akan Tuhan kabulkan?
Apa Tuhan akan mengabulkan permintaanku kali ini?
Apa Tuhan akan mendengarkan harapanku?
“Kamu tidak ingin berlibur ke suatu tempat yang hanya ada kita berdua?”
“Kevin, berjanjilah padaku.”
“Aku rasa kamu tahu, aku bukan tipikal orang yang akan membuat sebuah janji.”
“Genggamlah tanganku ketika aku menutup mataku untuk terakhir kalinya. Tataplah aku dengan tatapan penuh kelembutanmu agar aku bisa mengenangnya untuk terakhir kali. Jangan jatuhkan air matamu saat menatapku, tersenyumlah agar aku bisa membawa kebahagiaanmu bersamaku. Kamu bisa melakukannya, bukan?”
Apa dia tidak akan menjawab permintaanku?
Kujatuhkan tanganku ke bawah. Hanya sampai di sini tenaga yang aku miliki.
“Aku janji.”
“Benarkah?”
“Ya, ini akan menjadi janji pertama dan terakhir dalam hidupku. Kamu tidak ingin tidur di bahuku?”
Kembali, ya aku kembali menjatuhkan kepalaku ke bahunya. Dua puluh menit kututup mataku. Sangat nyaman.
Perlahan, isak tangis milik Kevin terdengar. Selama ini dia menahan semuanya sendirian. Saat inipun yang bisa aku lakukan hanya berpura-pura tidur dan mendengarkan isak tangisnya. Membiarkan air matanya jatuh dan melepaskan kesempatanku untuk menghapus air matanya.
Bagaimana bisa aku menghapus air matanya saat aku menjadi alasan dibalik air matanya itu? Aku terlalu egois menginginkan hal itu.
“Fanya, kenapa kamu membuatku melakukan semua itu? Bagaimana mungkin aku bisa membiarkanmu menutup matamu untuk terakhir kalinya di depan mataku? Aku tidak akan pernah bisa melakukan janji itu. Fanya, tidak bisakah aku kembali ke waktu yang sudah aku buang untuk menjauhimu? Tidak bisakah aku kembali ke waktu dimana aku melepaskanmu dan menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa kita miliki bersama? Aku tidak sanggup untuk berpisah denganmu. Aku benar-benar mencintaimu. Sekarang aku membenci diriku sendiri.”
Ingin rasanya aku menangis bersama Kevin. Aku benar-benar egois. Aku tidak mengetahui isi hati Kevin. Aku hanya seseorang dengan penyakit jantung di dalam tubuhnya yang tidak bisa membahagiakan orang yang aku cintai. Maafkan aku Kevin, membuat janji itu juga membuatku menangis. Aku tidak pernah ingin menutup mataku untuk terakhir kalinya di hadapanmu. Tapi, hanya kamu yang ingin kulihat sebelum aku benar-benar menutup mataku untuk terakhir kalinya. Dan aku yakin, Kevin akan menepati janjinya.
...-----...
“Ken, jangan egois,” teriak Sarah.
“Kamu bilang jangan egois? Apa kamu tahu seberapa egoisnya Fanya?”
“Ken, jangan berteriak. Fanya bisa mendengarmu,” ucap Kevin.
Aku hanya menghembuskan nafas. Aku sudah mendengarnya. Ini pukul satu dini hari dan mereka bertiga bersama kedua orang tuaku melakukan pertemuan yang aku sama sekali tidak tahu. Aku hanya turun untuk mengambil secangkir susu putih hangat karena aku kembali tidak bisa tidur. Tapi, siapa sangka aku mendapati pemandangan seperti ini di ruang keluarga.
Sudah satu minggu sejak Ken memutuskan untuk tidak pergi ke London tetapi dia tidak ingin kembali ke rumah. Dia meminta untuk tinggal di apartemen dekat kampus. Dan aku sangat yakin, selama satu minggu terakhir ini, Ken banyak menghabiskan waktunya bersama Stephanie.
“Apa yang membuatku menjadi egois? Aku tahu Ayah telah memvonis hidup Fanya, tapi seorang dokter apalagi seorang ayah tidak pantas memvonis hidup anaknya sendiri. Aku egois karena meninggalkan Fanya? Ya, aku memang egois tapi Fanya lebih egois, dia akan meninggalkan kita selamanya. Apa kamu tahu betapa itu menyakitkan untukku?”
“Ken, Ayah tahu Ayah telah salah dengan memvonis hidup Fanya tapi satu hal yang Ayah ingin kamu tahu, Fanya sangat terluka. Hanya mendengar detak jam saja membuat dia menangis. Apa kamu tahu kenapa? Karena detak jam itu mengingatkannya dengan detak jantung miliknya sendiri. Fanya egois karena akan meninggalkan kita selamanya? Look into her heart. She never want to leave us. Never.”
Darimana Ayah tahu tentang detak jam?
Apa Kevin memberitahu Ayah? Tapi, wajah Kevin sekarangpun sama terkejutnya denganku setelah mendengar ucapan Ayah.
Apa yang harus aku lakukan? Kembali ke kamarku atau tetap mendengarkan pembicaraan ini. Jika aku tetap mendengarkan pembicaraan ini, aku akan memasuki lebih jauh privasi yang sudah mereka coba tutupi dariku.
Kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat ini menuju kamarku.
“Aku tidak peduli dengan itu semua, Ayah. Aku tidak akan pernah kembali ke rumah ini lagi.”
Langkahku kembali terhenti setelah mendengar ucapan itu. Ken, sekarang dia benar-benar membatasi dirinya sendiri denganku. Sekarang dia membuat jarak yang sangat jauh denganku. Usahaku untuk selalu mempertahankan jarak yang kecil dengannya ternyata tidak berhasil, sekarang jarak yang sudah kupertahankan menjadi semakin lebar dan menjauh. Lebih baik aku masuk ke dalam ruangan itu.
“Lakukan apapun yang kamu inginkan, Ken. Aku telah menyuruhmu untuk mencari kebahagiaanmu sendiri. Jika dengan menjauhiku, kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu, aku akan tetap mempertahankan jarak yang telah kamu buat. Pergilah, kamu telah menemukan orang yang kamu cintai dan kamu memang harus menjaga jarak denganku sebelum aku menyakitimu lebih jauh dengan kepergianku.”
Semuanya menatap ke arahku dengan terkejut. Kevin langsung berdiri menghampiriku. Dia langsung memegang pinggangku, sepertinya dia tahu jika aku sudah tidak bisa berdiri lagi. Ayah dan Ibu hanya memalingkan wajahnya dariku.
Apa kedua orang tuaku tidak menginginkanku untuk melihat wajah sedih mereka? Padahal aku sangat ingin melihat wajah sedih mereka, bukan hanya wajah penuh kebahagiaan yang terus mereka tunjukkan padaku. Aku juga ingin melihat luka kedua orang tuaku yang telah aku ukir di dalam hati mereka.
“Ken, aku senang kamu selalu berada di sisiku namun jika sekarang kamu tidak ingin berada di sisiku tidak apa. Satu yang pasti, aku takkan pernah melupakanmu. Aku akan selalu mengingatmu bahkan untuk yang terakhir kalinya. Aku akan terus membayangkan wajahmu.”
“Kenapa kamu melakukan semua ini padaku? Kamu tahu……….”
“Aku tahu betapa kamu menyayangiku, Ken. Jika Tuhan telah memutuskan takdir-Nya untukku, aku takkan bisa mengelaknya. Kuasa Tuhan lebih besar dari kuasa manusia. Aku bisa apa? Aku sama denganmu yang tidak ingin semua kemungkinan buruk itu terjadi. Semua ini juga menyakitkan untukku.”
“Fan, apakah kamu tahu betapa egoisnya dirimu?”
“Aku tahu. Tapi inilah aku. Kamu, tidak, bukan hanya kamu, tapi kamu, Sarah, Kevin, Ayah, Ibu, dan semua yang mengenalku, kalian harus mencoba melupakan kenangan yang kita buat agar saat aku pergi takkan terlalu menyakitkan rasanya. Aku tahu semua kenangan bahagia yang sekarang aku rasakan adalah satu-satunya cara kalian untuk membuatku tetap hidup. Karena itu…..”
“Aku tidak akan pernah melupakan kenanganku bersamamu,” potong Kevin.
Sekarang aku menatap wajah Kevin yang mengeras. Rahangnya mengeras dan ekspresinya sangat dingin. Seperti seekor singa yang siap memangsa mangsanya. Begitu serius dan fokus menatap satu objek. Kuangkat tanganku dan kusentuh pipinya. Perlahan wajahnya kembali hangat, tidak begitu dingin lagi. Sekarang, dia menjadi Kevin yang aku tahu.
“Kenapa?” tanyaku.
“Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kenanganku bersamamu. Kenangan itu adalah satu-satunya hal yang kamu tinggalkan untukku. Dan kumohon padamu Fanya, berhenti berbicara tentang akhir yang menyedihkan, kumohon kita jalani hidup kita seperti dulu. Jika kematian memang akan datang, tak apa, semua manusia akan meninggal. Kumohon, hentikan semua ini, Fanya.”
Yang Kevin ucapkan benar. Aku terlalu fokus pada kematian yang bahkan aku tidak tahu dengan pasti kapan akan menjemputku. Aku membuat orang-orang di sekelilingku cemas denganku tapi aku tidak mencemaskan perasaan mereka. Seperti yang Ken ucapkan, aku memang sangat egois.
“Dan Ken, lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Menjaga jarak dengan Fanya? Lakukan jika itu keinginanmu. Satu hal yang ingin kukatakan padamu, saat aku membuat jarak dengan Fanya aku sangat menyesalinya, bahkan sampai sekarang aku masih menyesali mengapa aku harus membuat sebuah jarak dengan Fanya. Aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dan mendapatkan lebih banyak kenangan jika aku tidak membuat jarak dengannya selama ini. Ken, jangan menyesali keputusan yang sudah kamu buat dalam hidupmu, jika kamu menyesalinya, hanya rasa sakit yang akan terus datang kepadamu,” lanjut Kevin dan menciptakan keheningan di ruangan ini.
Kutatap wajah Ken. Sekarang wajahnya berubah. Dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi di sampingnya. Sarah hanya menatapku dengan tersenyum. Aku membalas senyuman itu. Aku sangat lelah hari ini. Aku sudah mengantuk. Sekarang aku tidak membutuhkan susu putih hangat lagi, aku hanya membutuhkan tempat tidur, bantal, dan selimut untukku tidur dengan lelap.
“Kevin, bawa aku kembali ke kamarku.”
“Fan, aku takkan pernah meninggalkanmu. Kumohon padamu, tunggulah aku sebentar lagi,” ucap Ken.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sekarang aku bisa melihat wajah Ayah dan Ibu. Mereka sekarang tersenyum ke arahku walaupun wajah Ibu sudah memerah karena menangis. Maafkan aku, aku janji takkan pernah membawa-bawa kematian lagi.
...-----...