
“Aku kira kamu mengambil semester pendek," ucap Sarah membuatku langsung bergeser, memberi tempat untuknya duduk.
Sarah, dia melihatku berjalan keluar dari ruangan dan akhirnya mengikutiku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, seharusnya dia tidak mengikutiku bersantai di taman. Dua mata kuliah yang diujikan beberapa bulan yang lalu, dia mendapat nilai D dan dia seharusnya sedang dalam proses perbaikan.
“Aku malas. Aku butuh ketenangan.”
“Dari novel?”
Kuhembuskan nafasku. Lambat laun topik ini akan berubah menjadi perdebatan panjang yang tak akan pernah usai. Haruskah aku mengakhiri semuanya di sini atau haruskah aku berdebat dengan Sarah. Sepertinya aku membutuhkan beberapa perdebatan untuk membuat jantungku sedikit merasakan pemanasan .
“Bukankah kamu tahu, aku lebih percaya pada novel daripada apapun di dunia ini?” tanyaku membuka kembali percakapan.
“Benarkah? Bagiku novel hanyalah kumpulan kata yang sangat memuakkan. Terlalu lama kamu hidup di dalam dunianya semakin lama pula kamu akan hidup dalam dunia penuh imajinasi. Dan aku rasa kamu tahu jika aku membenci orang yang terlalu lama hidup dalam dunia imajinasi.”
“Walaupun hidup dalam dunia imajinasi, bukankah itu tak masalah selama merasa bahagia?”
“Jika kamu merasakan kebahagiaan hanya dari dunia imajinasi, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kebahagiaan dari dunia nyata.”
“Sayangnya, aku lari ke dalam dunia imajinasi karena aku sudah merasakan banyak hal di dunia nyata.”
Sarah melepaskan jaket yang sedang dia kenakan. Dia mengambil gelas berisi susu yang tadi Ken berikan untukku. Dia meminumnya dalam satu kali tenggak. Sepertinya dia sudah mulai serius. Seperti yang aku harapkan, membuat Sarah mendidih sangat mudah. Dia tipikal orang yang mudah terpancing.
“Bukankah itu sama halnya dengan melarikan diri?”
Kusunggingkan senyum ke arahnya. Dia terkejut melihat senyumanku. Selama ini aku belum pernah memberikan siapapun senyuman saat sedang berdebat. Bukan karena aku tidak bisa tersenyum dan cukup serius saat sedang berdebat melainkan karena aku tidak tahu bagaimana caranya tersenyum dengan lembut kepada musuhku.
Novel di hadapanku sekarang berubah menjadi sebuah pajangan. Aku tidak tahu kenapa Sarah dan Ken sangat membenci novel. Hal yang paling lucu dari semua itu adalah Ken dan juga Sarah mengambil jurusan Sastra Bahasa padahal mereka membenci segala jenis sastra. Sekali lagi mungkin aku yang berada dibalik alasan mereka memilih Sastra Bahasa.
“Melarikan diri? Untuk apa melarikan diri dari dunia nyata? Satu peraturan dari dunia nyata adalah semakin kamu berlari menjauh darinya maka semakin dekat kamu dengan dunia nyata. Aku tidak mencoba melarikan diri, aku menghadapi dunia nyata sehingga sampai sekarang aku sangat menyadari bahwa aku adalah seorang penderita jantung. Saat aku berada di dunia imajinasi, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan tanpa takut penyakitku kambuh."
“Fanya, apa kamu tahu alasan kenapa aku dan Ken sangat membenci novel?”
Sarah mengalihkan pandangannya. Dia menatapku dengan sangat tajam. Lagi-lagi saat aku menatap ke arah wajahnya, membuatku seperti menatap wajahku sendiri walaupun kami tidak identik. Padahal saat aku menatap mata Ken, aku tidak merasa seperti menatap wajahku sendiri, mungkin ini efek karena Ken adalah laki-laki.
“Tidak.”
“Karena, terlalu banyak novel yang digambarkan dengan happy ending. Memang ada novel yang berakhir dengan sad ending tetapi satu yang pasti akhir hidup dari manusia bukanlah kebahagiaan ataupun kesedihan melainkan sebuah kehampaan.”
“Kehampaan?”
“Apa kamu mau kuberi contoh? Aku akan memberitahumu sesuatu tentang Ken yang tidak kamu tahu, atau mungkin tidak ingin kamu tahu. Ken memukul dirinya sendiri selama satu minggu setelah kejadian itu. Dia mengabiskan waktunya bersama Clara selama empat hari tapi dia tidak mendapatkan kebahagiaan seperti yang dia bayangkan. Ken mendapatkan rasa sakit karena telah menodai kasih sayang tulus milikmu hanya karena seorang perempuan yang hadir sejenak dalam hidupnya. Dia menyiksa dirinya sendiri. Dia tidak merasakan kesedihan, yang dia rasakan adalah kehampaan, kekosongan karena tidak ada lagi adik manisnya yang memberikan dia semangat. Apa kamu faham?”
Kehampaan? Apa aku pernah merasakan hal seperti itu?
Hidup manusia berakhir dengan kehampaan? Bukan kebagiaan ataupun kesedihan?
Perasaan seperti apa itu kehampaan?
Apa itu perasaan yang sama saat aku kehilangan jalanku dan aku membutuhkan seseorang untuk membawaku kembali ke jalanku?
Saat sesuatu yang aku anggap biasa saja dalam kehidupan sehari-hari ternyata saat aku kehilangannya terasa begitu berarti, apa seperti itu rasanya kehampaan?
Kuamati telapak tanganku. Setiap orang memiliki takdir yang sudah ditetapkan Tuhan untuknya. Sekeras apapun manusia berusaha tetap akan ada hal yang tidak bisa kembali dengan kerja keras dan ada hal yang tetap akan terjadi sekuat apapun manusia berusaha mencegahnya. Kematian dan kekecewaan adalah dua hal yang takkan bisa dihindari manusia sekeras apapun usaha yang dilakukannya.
Semilir angin perlahan menggerak-gerakkan rambutku dan Sarah. Sangat indah. Keindahan yang Tuhan ciptakan sangatlah menakjubkan. Aku hanya ingin menggapai sejengkal keindahan yang telah Tuhan ciptakan. Bukankah itu tidak masalah jika hanya menggapainya?
Aku tidak akan bisa mengambil keindahan yang telah Tuhan ciptakan. Aku hanya ingin menggapainya karena aku sadar hanya sampai batas menggapainyalah aku bisa terus bersama dengan keindahan itu. Walaupun hanya menggapainya aku sudah merasa bahwa aku memiliki keindahan itu.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Sarah menyadarkanku dari lamunan.
“Hanya, bukankah dunia ini indah? Kenapa harus ada tangis air mata saat seseorang pergi meninggalkan dunia ini? Bukankah Tuhan sudah menyiapkan pengganti yang lebih indah?”
“Fanya, kehilangan adalah sisi lain dari rasa sakit. Tuhan memang telah memberikan ganti yang lebih baik tetapi luka yang ditinggalkan tidak akan bisa disembuhkan begitu saja. Saat luka itu kamu biarkan hilang oleh waktu sama halnya kamu membiarkan senyuman terakhir dari orang yang meninggalkan kita hilang. Kehilangan sama halnya dengan sebuah pilihan, bertahan untuk luka dan kenangan atau melepaskan sebuah senyuman terakhir.”
Aku tidak pernah berpikir Ken bisa mengucapkan kata-kata seindah itu. Sarah terus menatap Ken dengan tatapan takjub. Akupun sama dengan Sarah, jawaban yang Ken berikan sangat menyentuh. Aku kira dia tidak pernah mengikuti mata kuliah dengan benar, kenapa sekarang dia tiba-tiba menjadi sangat puitis seperti ini?
Sama seperti sebelumnya, Ken melepaskan jaket yang dia kenakan dan memakaikannya kembali ke tubuhku. Begitu selesai memakaikan jaket miliknya, dia mengambil jaket milik Sarah yang dia letakkan di atas rumput dan memakaikan jaket itu ke tubuh Sarah. Aku sangat menyukai wajah Sarah saat ini, Sarah sama sekali tidak melawan seperti yang biasa dia lakukan. Saat ini dia sangat tenang ketika Ken memakaikan jaket miliknya.
“Kalian sudah baikan?”
Ucapan Sarah menyadarkanku. Ken menatap ke arahku. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Sarah, sepertinya dia masih menungguku mengakui jika aku sudah sepenuhnya memaafkannya. Entahlah, aku takut jika nantinya maaf yang aku berikan pada Ken hanya akan Ken buang seperti tisu setelah dia gunakan.
Kulepaskan jaket milik Ken. Aku masih membutuhkan waktu. Ternyata aku sangat egois. Ken selalu memberikan waktunya dan sekarang saat Ken mencoba meminta waktuku, aku justru menghalanginya.
“Ada luka di dunia ini yang tidak bisa langsung sembuh. Aku tidak akan menghalangi Ken jika dia ingin bersamaku tapi aku masih belum bisa menerima Ken sama seperti dulu. Aku pergi dulu.”
...-----...
Sekarang aku tidak tahu apakah yang telah aku lakukan benar. Kuamati Ken dan Sarah dari jendela kantin. Jujur, aku merasa muak dengan kemunafikan yang aku miliki. Jika aku memang tidak bisa hidup tanpa Ken dan Sarah seharusnya aku bersama mereka, lagipula Sarah dan Ken sudah berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengan mereka. Harga diri yang aku milikinya ternyata cukup tinggi.
Kualihkan pandanganku keluar jendela. Tepat saat itu Ken dan Sarah sedang menatap ke arahku. Mereka langsung berlari masuk ke dalam universitas.
Apa yang sedang mereka lakukan?
Apa mereka sedang berlomba?
“Hei.”
Tidak bisakah satu hari saja aku mendapatkan ketenangan sama seperti ketenangan yang aku dapatkan di rumah?
Perempuan itu membawa dua gelas minuman. Aku tidak tahu apa yang berada di dalam gelas itu. Aku rasa bukan hal yang baik untuk menerima minuman itu.
“Untukmu. Aku ingin berteman denganmu. Namaku Stephanie, namamu Fanya bukan? Oya, kertas apa yang tadi diberikan dosen? Saat aku bertanya pada teman-teman, mereka mengatakan itu kertas hukuman. Apa maksudnya?”
Aku bisa tahu jika perempuan di depanku ini sedang berpura-pura. Sifatnya yang berpura-pura baik hanya untuk mendapatkan informasi tentang Ken. Walaupun sekarang dia tidak mengatakan dengan jelas kemauannya tapi aku tahu dengan pasti dia sedang mencoba menggali informasi apakah Ken akan tetap ikut masuk kelas karena surat skors yang aku terima.
“Entah. Apa kamu begitu menyukai Ken?” tanyaku.
Perempuan ini atau mungkin aku bisa memanggilnya Stephanie terdiam. Sepertinya benar, dia sangat menyukai Ken. Mungkin lebih dari sekedar sangat menyukai.
“Ken pernah menolongku tahun lalu, saat itu musim dingin. Aku tidak tahu siapa perempuan yang sedang bersamanya tapi sekarang aku tahu dengan pasti bahwa perempuan itu adalah kamu. Ken berlari menyelamatkanku, dia berlari menjauh darimu, bukankah itu berarti bagi Ken aku lebih penting darimu? Dia meninggalkanmu untuk menyelamatkan orang asing, bukankah artinya kedudukan orang asing lebih tinggi darimu?”
Apa ini bualan? Bagaimana bisa kedudukan orang asing bisa lebih tinggi dibandingkan keluarga? Apa otaknya bermasalah?
Dan, musim dingin tahun lalu, sekarang aku mengingatnya. Saat itu ada seorang perempuan yang mencoba menyeberang jalan padahal lampu hijau untuk kendaraan sudah menyala. Aku dan Ken berjalan dan melihat perempuan itu. Lebih tepatnya hanya aku yang melihat kejadian itu dan aku meminta Ken menyelamatkan perempuan itu. Ken menolak untuk beberapa detik sampai akhirnya dia mau menolong perempuan itu saat aku mengatakan bagaimana jika perempuan itu adalah aku.
Ah… dunia ini sangat kejam. Jika aku mengatakan kebenarannya pada perempuan ini, apa yang akan terjadi padanya?
Tunggu, penampilan perempuan ini berbeda dengan wanita yang dulu Ken tolong. Apa dia sengaja berubah hanya karena ingin mendekati Ken dengan wajah cantiknya?
Kuambil gelas di hadapanku. Perempuan di depanku tersenyum kecil, lebih seperti dia tidak sengaja menunjukkan sebuah senyuman.
Apa ini? Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan senyumannya?
Kudekatkan gelas itu ke mulutku.
“Ah… ini untukku kan Fan. Wah.. aku sangat haus. Aku minum yaa," ucap Ken tiba-tiba membuatku sedikit terkejut.
Ken merebut gelas di tanganku dengan paksa. Kuamati wajah perempuan di depanku ini. Dia sangat terkejut. Sekarang wajahnya menegang. Tunggu, kuambil gelas yang akan Ken minum. Kubuka tutup gelas plastik itu.
Ah… apa dia mencoba membunuhku?
Ken menatap ke arahku dengan was-was. Suara gebrakan pintu terdengar, Sarah baru sampai dan dia langsung menatap ke arahku. Suara gebrakan itu bisa membuat semua yang ada di ruangan ini mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara.
Sekarang, apa yang harus aku lakukan dengan segelas kopi dingin di tanganku?
Tanpa kusadari, tanganku sudah melemparkan gelas di tanganku ke arah Stephanie. Semua yang berada di ruangan terkejut melihat ke arahku. Dan, aku tahu semua orang terkejut dengan sikapku karena selama ini aku dikenal sebagai perempuan yang sangat tenang dan sekarang aku melemparkan segelas kopi ke orang lain. Hari ini aku sudah membuat banyak pertunjukan gratis untuk orang-orang.
“Apa kamu ingin membunuhku? Apa sebegitunya kamu ingin bersama dengan Ken?”
“Ya, aku selalu iri denganmu yang berada didekatnya. Aku seperti ini karena dia pernah menolongku.”
“Menolongmu? Ah… apa kamu perempuan di musim dingin tahun lalu? Bukan aku yang menolongmu, jika saja Fanya tidak memaksaku untuk menolongmu aku tidak akan pernah menolongmu. Aku kira kamu tahu jika apa yang aku lakukan merupakan keinginan Fanya.
Berbuat baik? Sayangnya aku tidak sebaik itu. Aku menjadi baik dimata kalian karena Fanya yang memintaku melakukan kebaikan saat Fanya sendiri tidak bisa melakukannya.
Apa kalian semua tahu? Kebaikan yang aku tunjukkan selama ini adalah palsu. Aku memakai sebuah topeng dan hanya Fanya, Sarah, dan orang tuaku saja yang tahu siapa aku di balik topeng itu. Jika kalian ingin membuka topeng itu, setidaknya kalian harus berusaha mengambil hati Fanya agar Fanya membiarkan kalian mendekatiku.”
Aku menatap ke arah Ken. Apa yang dia lakukan? Jika dia mengatakan semua hal seperti ini disaat semua mata sedang menatapnya, dia akan dibenci. Sarah menatap ke arah Ken sambil tersenyum, apa maksud senyuman itu? Ah…. aku sangat membenci situasi seperti ini.
“Apa maksudmu?”
Pertanyaan Stephanie mengalihkan perhatianku. Kuamati wajah Stephanie, wajahnya sekarang merah. Tapi, wajah merah itu bukanlah wajah merah karena dipermalukan tapi wajah merah karena Ken mengingatnya. Entahlah aku tidak bisa membaca pikiran orang hanya dengan melihat wajahnya.
Ken melangkahkan kakinya menuju Stephanie. Dia mengambil gelas yang sedari tadi Stephanie pegang. Ken meremas gelas itu dan mendekatkan wajahnya ke telinga Stephanie. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan tapi aku tahu Ken membisikkan sesuatu kepada Stephanie. Sesuatu yang tidak aku tahu. Apa itu ancaman?
Kutarik tangan Ken. Ken sedikit terkejut melihatku. Tapi detik berikutnya dia sudah bisa tersenyum seperti biasanya. Langkahku terhenti saat Sarah menghadangku di depan pintu ruangan. Dia tersenyum. Senyuman yang dia berikan bukanlah senyuman hangat yang biasa dia berikan untukku. Sepertinya dia akan melakukan sesuatu yang buruk.
“Pulanglah. Aku harus mengurus sesuatu.”
Baru kali ini Sarah mengucapkan kalimat itu. Nada bicaranya pun berubah. Aku tidak tahu apapun. Sungguh, apa ini semua ada hubungannya dengan Stephanie? Jika memang ada, aku harap semuanya bisa diselesaikan dengan baik.
Ken mengeratkan pegangan tanganku. Dia menarik tubuhku dengan paksa untuk mengikuti tubuhnya yang besar. Dia menghalangi pandanganku saat aku ingin melihat ke arah Sarah.
Apa ini, kenapa perasaan yang kurasakan saat ini sangat tidak menyenangkan?
...-----...