
“Kamu tidak ingin masuk?”
“Tidak. Aku masih ingin menikmati udara di taman.”
Ken memelukku dari belakang. Aku tidak menepis pelukannya. Pelukan yang sudah lama hilang darinya. Aku tidak tahu apa yang Ken pikirkan, air matanya membasahi leherku. Dia menangis dalam diam. Aku tidak akan bertanya apapun padanya karena aku tahu Ken bukan tipikal orang yang akan membagi masalahnya begitu saja.
Jika dengan memelukku bisa membuatnya sedikit tenang, aku akan membiarkannya. Setidaknya, hidupku bisa berguna bagi orang lain. Aku juga ingin menangis saat ini tapi aku tidak bisa menangis di hadapan Ken ataupun Sarah. Aku ingin menangis dalam kesendirianku. Tanpa diketahui orang lain dan aku bisa berdoa pada Tuhan tentang keinginanku.
Ken melepas pelukannya. Dia mendorong kursi rodaku. Dia bahkan tidak bertanya lagi apakah aku sudah ingin masuk. Air mata Ken masih terasa basah di leherku. Air mata yang selalu ingin aku lihat. Air mata yang menyimpan banyak kesedihannya. Air mata yang tak pernah bisa kugapai. Ya, itulah air mata Ken. Sangat mahal dan sulit dilihat.
“Boleh aku meminta sesuatu?”
“Apa?”
“Tentang Kevin. Apa kamu akan membiarkanku memukulnya?”
“Pukullah sesuka hatimu, Ken. Aku rasa Kevin takkan melawanmu karena dia tahu kesalahannya.”
“Really? You won’t angry, don’t you?”
“Yeah.”
Seseorang memarkir mobilnya di halaman rumah. Aku kenal mobil itu. Mobil milik Kevin. Kevin keluar dari dalam mobil dan langsung melihat ke arahku dan Ken. Dia tidak melangkahkan kakinya untuk menghampiriku. Dia hanya menungguku di pintu masuk. Ken melambatkan dorongannya atau mungkin sekarang Ken menghentikkan langkah kakinya. Dia tidak lagi mendorong kursi roda yang aku duduki dan hanya diam membisu.
“Ken?” panggilku.
“Janji padaku, kamu tidak akan pernah meneteskan air mata karena Kevin.”
“Aku tidak bisa berjanji.”
“Fan……”
“Bisa saja aku menangis karena bahagia, aku tidak bisa menahan air mata bahagiaku, bukan? Karena itu aku tidak bisa berjanji.”
Ken melangkahkan kakinya ke depanku. Sekarang dia berjongkok di depanku dan memegang erat tanganku. Dia menatap ke dalam mataku. Sekali lagi, dia mencoba meniru tatapan penuh kelembutan milik Kevin. Sampai kapanpun, Ken tidak akan pernah bisa memiliki tatapan lembut milik Kevin. Tatapan itu hanya milik Kevin dan takkan ada orang yang bisa menirunya.
“Fan, jika terjadi sesuatu padamu, aku akan memukul Kevin sampai dia tidak bisa berjalan lagi.”
“Ken, aku bahagia sekarang. Kumohon padamu, carilah kebahagianmu. Stephanie, kamu bisa memulai hubungan dengannya. Aku tidak ingin melihatmu terus menatapku dengan tatapan itu, banyak perempuan di luar sana yang juga menginginkan tatapan itu. Kumohon, bukalah hatimu untuk Stephanie.”
Ken hanya diam membisu. Dia terus menggenggam erat tanganku dan tidak melepaskan tanganku. Dia hanya menatap kosong ke atas langit. Dia selalu melakukan itu ketika dia akan menangis, dia pasti akan mengalihkan pandangannya ke atas. Dia bertindak seolah-olah tidak ada yang tahu jika dia ingin menangis. Dia bertindak kuat padahal aku dan Sarah sangat tahu jika dia terluka di dalam hatinya. Luka yang aku sendiri tidak bisa menyentuhnya apalagi menyembuhkannya. Aku hanya bisa melihat luka itu tapi aku tidak bisa memasuki luka itu karena terdapat dinding yang sangat kuat dan tebal yang menutupi luka itu.
Kualihkan pandanganku ke arah Kevin. Dia juga melihat ke arahku dan tersenyum lembut. Dia tetap berdiri di depan pintu dan tidak mencoba menghampiriku. Mungkin, dia tidak ingin mengganggu waktuku dan Ken.
“Kenapa harus Stephanie? Masih banyak…..”
“Because I like her.”
“Hah?”
“Aku menyukai Stephanie. Kamu harus mencobanya Ken. Kumohon, kamu pasti juga akan menyukai Stephanie. Aku tahu itu. Cobalah membuka hatimu untuknya dan aku yakin kamu tidak akan pernah menyesal karena telah membuka hatimu. Jangan terpaku padaku. Aku sudah menemukan kebahagiaanku.”
“Kamu tidak bisa memaksaku dan kamu tahu itu, Fan.”
“Ya. Aku tahu itu tapi aku yakin kamu akan membuka hatimu, karena kamu juga tertarik dengan Stephanie. Aku tahu jika kamu menyimpan alamat e-mail miliknya dan bahkan membaca semua e-mail darinya. Jika kamu tidak tertarik kepadanya, kamu tidak akan melakukan hal itu. Aku tahu kamu akan membuka hati untuknya. Terima kasih sudah menahannya hingga sejauh ini hanya untuk kebahagianku. Terima kasih sudah merelakan kebahagianmu hanya untuk adikmu ini. Aku mencintaimu, Ken.”
Ken langsung berdiri dan mendorong kursi rodaku.
Apa dia malu karena aku sudah tahu semua tentang perasaannya kepada Stephanie?
Aku tahu dari awal bahwa Ken pasti akan menyukai Stephanie. Aku hanya merasakan bagaimana Ken tampak ragu saat mengatakan kata-kata kasar untuk Stephanie. Lagipula wajar jika dia menyukai Stephanie, karena Stephanie terlalu jujur mengatakan perasaannya walaupun awalnya dia menjadikan perasaannya sebagai ajang perjudian tapi aku yakin perasaan cinta Stephanie tulus untuk Ken. Dan Ken, dia sangat menyukai perempuan yang jujur dengan perasaannya.
Tepat satu meter sebelum menghampiri Kevin, Ken menghentikkan kursi roda dan melangkah pergi. Dia melangkahkan kakinya ke arah Kevin, menepuk pundaknya dan masuk ke dalam rumah. Kevin langsung mengalihkan pandangannya padaku. Dia tetap diam, tidak bergerak. Aku dan dia hanya saling tatap tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Kamu tidak ingin membawaku ke dalam? Aku sudah kedinginan,” ucapku.
Hanya senyum manis miliknya yang dia tunjukkan. Dia melangkahkan kakinya menghampiriku. Dia tidak berjalan ke belakang kursi rodaku. Sekarang dia berada di depanku dan mengusap rambutku yang berantakan tertiup angin. Dia mengangkat tubuhku.
Kenapa dia sangat suka mengangkat tubuhku?
Apa semenyenangkan itu?
“Kamu bisa mendorong kursi rodaku.”
“Aku tidak akan pernah melakukan itu.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin menggendongmu.”
“Memang. Fanya?”
“Ya?”
“I love you.”
...-----...
“Kamu yakin Ken tidak akan marah?” tanya Kevin untuk kesekian kalinya.
Kevin terus menggenggam erat tanganku sembari memotong kue di depannya menjadi potongan kecil-kecil. Sepertinya dia tidak terlalu serius saat menanyakan pertanyaannya. Entahlah, Kevin orang yang sangat sulit dibaca keseriusannya. Jika aku mengira dia sedang serius ternyata dia hanya bercanda. Dan terkadang itu membuatku tidak bisa berkata apa-apa.
“Kenapa dia harus marah?”
“Kamu mempermainkan hatinya.”
“Maksudnya?”
Seseorang masuk ke dalam café dan membuat Kevin mengalihkan pandangannya. Aku mengikuti arah pandangannya. Itu Stephanie. Dia sedang mencari-cariku. Kuangkat tanganku dan melambaikannya ke arah Stephanie. Dia melihat ke arahku dan tersenyum. Sebenarnya senyum yang cukup dipaksa.
Dia duduk tepat di depanku. Dia menatap ke arah Kevin sekilas dan langsung mengabaikannya. Kevin hanya mengernyitkan kening saat mendapat tatapan risih dari Stephanie tapi dia tidak terlalu ambil pusing dengan tatapan itu. Karena bagi Kevin, dia tidak akan peduli dengan apa yang orang lain lakukan padanya selama dia tidak melakukan kesalahan dan selama dia tidak mengenal orang yang memberikan tatapan seperti itu.
“Kenapa kamu ingin bertemu denganku?”
“Kamu masih menyukai Ken?”
“Tidak.”
Kevin melepas genggaman tangannya, mengambil cokelat panas miliknya dan menyeruputnya. Sepertinya dia tidak tertarik dengan obrolanku. Dia mengambil sendok dan mulai memainkannya menimbulkan suara bising namun penuh irama. Sekali lagi, Stephanie melihat ke arah Kevin dan lagi-lagi Kevin kembali mengabaikannya. Bahkan sekarang Stephanie menatapnya dengan tatapan tajam.
“Benarkah?” balasku membuat perhatian Stephanie kembali teralih kepadaku.
“Bisakah kamu to the point?”
“Aku dan Ken memiliki janji untuk bertemu di taman kampus. Aku tidak bisa datang, bisakah kamu menggantikanku?”
“Apa kamu ingin membuat Ken menganggapku sebagai orang yang sudah mencelakaimu?”
“Kamu masih menyukainya, kenapa harus bohong. Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Ken berada di bandara, dia akan pergi ke London, dia memiliki rencana untuk menetap di London. Aku tidak bisa membujuknya, aku rasa kamu bisa membujuknya.”
“Aku tidak tertarik. Aku pergi.”
Stephanie pergi begitu saja tanpa keraguan. Kevin menyuapiku dengan kue yang sudah dia potong kecil-kecil itu untuk kesekian kalinya. Dia sama sekali tidak berkomentar tentang percakapan yang baru terjadi.
“Kenapa kamu hanya diam saja?” tanyaku kesal.
“Perempuan itu pasti akan datang. Sudahlah, kamu harus banyak istirahat. Ayo, pulang.”
“Tunggu, darimana kamu tahu dia akan datang?”
Kevin mencubit pipiku. Dia tidak menjawab pertanyaanku dan langsung mengangkat tubuhku membuat semua pengunjung di café itu terkejut dan kemudian melemparkan senyum ke arah kami, seolah ikut berbahagia dengan kebahagiaan kami. Aku benci Kevin, setidaknya aku bisa menggunakan kursi roda milikku. Aku tidak ingin terus diangkat seperti ini. Memalukan, benar-benar memalukan.
“Bisakah kamu membuka pintu mobil?”
“Kevin, aku benar-benar membencimu.”
“Benarkah?” tanyanya dengan nada jahil.
Kubuka pintu mobil. Sebelum Kevin mendudukkan ke atas kursi mobil, seseorang memanggil namaku. Kevin mencari asal suara itu dan aku hanya diam. Tidak tertarik dengan suara itu karena aku sudah sangat lelah dan ingin tertidur kembali.
“Bukankah itu perempuan tadi?”
“Eh?”
Kualihkan pandanganku ke arah yang Kevin tunjuk. Benar, itu Stephanie. Dia sedang berlari seolah mengejar sesuatu.
Untuk apa dia berlari? Lagipula, dia baru keluar dari café sepuluh menit yang lalu tapi kenapa wajahnya sudah penuh dengan keringat.
Kevin kembali mengangkat tubuhku dan membawaku ke Stephanie.
“Antar aku ke bandara. Tidak ada taksi.”
“Benarkan? Perempuan itu pasti akan datang,” bisik Kevin.
Hanya senyuman yang aku berikan pada Kevin. Stephanie terus menatap ke arahku dengan penuh harap. Aku menganggukkan kepala dan menyuruh Stephanie masuk ke dalam mobil milik Kevin. Sekarang tujuannya bukan kembali ke rumah tapi ke bandara.
...-----...