H(Our)S

H(Our)S
Penasaran



Kuhirup aroma kopi di depanku. Aku merindukan aroma ini. Aroma yang dulu selalu menemani pagiku karena ayah selalu meminumnya. Bisakah aku juga meminum kopi ini? Bisakah aku meminum kopi ini tanpa ada kecemasan akan mengganggu kesehatanku?


Jam dinding terus berdetak. Aku penasaran, kapan jam dinding itu akan berhenti berdetak. Berhenti memberi tahu waktu pagi, siang, dan malam. Aku ingin tahu, apa ketika jam dinding itu berhenti berdetak, jantungku juga akan berhenti berdetak. Aku membenci bunyi detak jam dinding itu, ya aku sangat membencinya karena detak jam itu mengingatkanku dengan detak jantungku sendiri. Mengingatkanku kapanpun detak jantungku akan berhenti seperti jam yang kehilangan baterainya.


“Maafkan aku.”


Kualihkan pandanganku kepada perempuan di depanku. Aku tidak penasaran darimana dia mendapat alamat rumahku, aku hanya penasaran kenapa perempuan ini begitu mencintai Ken. Ken sudah mengatakan dengan jelas penolakannya tapi perempuan ini terus berusaha seakan-akan dia tahu bahwa Ken akan memberikan jawaban yang berbeda jika dia terus berusaha.


“Boleh aku bertanya?”


“Tanyakan apa saja yang ingin kamu tanyakan, Fanya.”


“Apa yang kamu sukai dari Ken?”


Stephanie terdiam. Aku tidak akan menerima jawaban, ‘cinta tidak memerlukan sebuah alasan’. Aku membenci jawaban seperti itu. Setidaknya setiap orang harus memiliki satu alasan untuk jatuh cinta, karena dengan satu alasan itu seseorang bisa mempertahankan cintanya. Banyak yang mengatakan, jika aku mencintai seseorang karena sebuah alasan dan jika alasan itu hilang maka cintaku juga akan hilang, aku tidak sependapat dengan pernyataan itu tapi di sisi lain aku juga sependapat dengan pernyataan itu.


Alasan dibutuhkan untuk mencintai karena tiga hal, pertama untuk mempertahankan rasa cinta itu sendiri, kedua sebagai dasar kualifikasi diri sendiri, dan terakhir sebagai dasar untuk bisa menyejajarkan langkah dengan orang yang kucintai. Tanpa ada alasan, aku tidak akan pernah mau berusaha untuk menggapai posisi yang sama dengan orang yang kucintai. Aku hanya akan bertahan pada posisiku yang sekarang, aku tidak akan bisa melangkah maju.


“Karena Ken orang yang menolongku.”


Kualihkan pandanganku dari cangkir di hadapanku pada Sabrina.


Karena Ken menolongnya?


“Bukankah Ken sudah mengatakan jika bukan karena aku yang memintanya maka dia tidak akan pernah menolongmu?”


“Aku tahu tetapi bagiku semua itu sama saja. Aku tertarik pada Ken karena kamu. Aku ingin tahu apakah Ken akan terus bersamamu walaupun dia mempunyai seseorang yang dia cintai. Apakah Ken akan terus berada di sisimu saat orang yang Ken cintai meminta Ken untuk berada di sisinya. Aku ingin tahu itu.”


“Kamu menjadikan perasaanmu sendiri sebagai ajang perjudian?”


“Tidak,” balasanya cepat.


“Bagiku itu yang sedang kamu lakukan. Kamu bukan hanya menjadikan hatimu sebagai ajang perjudian, tetapi juga orang yang kamu cintai. Kamu hanya ingin melihat keseriusan Ken ketika mencintai seseorang, apa kamu setega itu melihat Ken harus memilih keluarganya atau orang yang dia cintai? Jika kamu setega itu, maka bagiku perasaan yang kamu miliki bukanlah cinta tapi hanyalah sebuah rasa penasaran.”


Wajah Stephanie berubah. Dia mengambil cangkir kopi dari atas meja. Tangannya bergetar. Dia menyeruput kopi itu dan membuatku juga ingin menyeruput kopi di hadapanku.


Ah… kenapa hidup begitu kejam?


Tidak, hidup sama sekali tidak kejam, itu hanya pemikiranku. Jika aku menganggap semuanya akan baik-baik saja maka semuanya akan baik-baik saja.


Seseorang melangkahkan kakinya mendekat ke arahku dan Stephanie. Stephanie membelalakkan matanya dan langsung menundukkan wajahnya. Kuputar kepalaku dan melihat Ken. Bukan hanya Ken, Sarah juga berada di samping Ken. Mereka berdua menatap tajam ke arah Stephanie. Jujur, wajah mereka berdua seperti seorang mafia yang baru saja mendapatkan buruan mereka.


“Apa kamu ingin tahu jawabanku?”


Ucapan Ken membuat Stephanie kembali mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Ken. Lagi-lagi tatapan kagum itu.


“Jawaban apa?”


“Aku pernah menyukai, tidak, bukan hanya menyukai tetapi juga mencintai seseorang. Seseorang itu menjauhkanku dari Fanya. Aku lebih memilih perempuan itu daripada Fanya dan itu adalah hal terlalu terbodoh yang aku lakukan. Untuk sekarang, aku tidak akan mencintai siapapun sebelum perempuan itu bisa membuatku tetap bersama Fanya. Aku akan mencintai perempuan yang membuat Fanya nyaman dengannya.”


“Itu akan membuatmu tidak bisa mencintai siapapun. Tidak ada seorangpun yang ingin berbagi orang yang dia cintai bahkan dengan keluarganya sendiri.”


Sarah duduk di sampingku. Dia mengambil secangkir kopi di hadapanku dan menyeruputnya. Aku tahu apa yang sekarang ada di pikiran Sarah dan aku juga sependapat dengannya. Ken, dia tipikal orang yang akan terus berpikir ulang untuk melakukan tindakan yang sama setelah melakukan kesalahan.


Stephanie, dia mungkin perempuan yang tidak beruntung saat ini. Dia hanya akan mendapat rasa sakit dari mencintai Ken. Aku tidak menginginkan hal itu terjadi tetapi aku tidak bisa memaksa Ken, hati yang Ken miliki akan terus berlari ke arahku sekuat apapun aku mendorongnya. Hatinya sudah menjadi milikku.


Aku tahu, jika hati Ken memang milikku seharusnya aku bisa memaksanya untuk membalas perasaan Stephanie. Hanya saja, sedalam apapun aku menyentuh hati Ken, sebanyak apapun aku memiliki hati Ken, hatinya tetaplah miliknya. Aku tidak pernah memiliki hatinya secara utuh. Biarlah hati Ken menjadi milik dan harta yang paling berharga baginya. Aku tidak akan mengambil semua hal yang berhubungan dengan Ken.


“Bukan cinta? Lalu apa perasaan yang sekarang kamu miliki untukku itu cinta?”


Sarah menempelkan earphone ke telinganya.


“Ken, hentikan,” ucapku.


“Jika ini bukan cinta, menurutmu apa?” balas Stephanie dengan nada yang tajam tetapi tatapan penuh rasa takut.


“Obsesi. Kamu hanya menyimpan rasa pensaran tentang siapa aku. Tentang bagaimana hidupku. Kamu hanya penasaran dengan tindakan-tindakanku tapi kamu tidak pernah sedikitpun penasaran dengan hatiku.”


“Aku selalu penasa……”


“Kamu penasaran dengan hatiku? Kamu hanya penasaran dengan apa yang akan aku lakukan jika aku menemukan orang yang kucintai.”


“Aku….”


“Kamu hanya penasaran dengan jalan pikiran, perilaku, penampilan, dan sifatku bukan hatiku.”


“Ta…”


“Jika kamu cukup pintar kamu tidak akan menjadikanku obsesimu. Sekali kamu menjadikanku obsesimu maka hidupmu akan hancur.”


Stephanie mengepalkan tangannya. Tujuan dia datang ke rumah ini untuk menemuiku tapi kenapa sekarang aku hanya menjadi penonton percakapan aneh ini? Ingin rasanya aku menyela percakapan mereka tapi melihat raut wajah Ken, aku mengurungkan niatku.


“Hidupku hancur? Tidak akan pernah.”


“Kamu hampir membunuh Fanya dengan memberinya kopi. Bagaimana jika Fanya meminum kopi itu? Bukankah kamu selangkah maju masuk ke dalam penjara?”


Tunggu, ada apa dengan Ken? Stephanie tidak tahu jika aku…


“Kamu tahu jika Fanya alergi dengan kopi. Kamu tahu hal itu dengan pasti,” lanjut Ken.


“Aku sama sekali……”


“Jika kamu sama sekali tidak tahu, kenapa kamu meminta kepada pelayan rumah ini untuk menyiapkan kopi yang kamu bawa. Apa ini hanya kebetulan? Karena yang aku tahu, kamu bukan pecinta black coffee.”


Sarah melepas earphone dari telinganya. Dia menatap tajam ke arah Stephanie. Tidak kali ini. Aku akan menghalangi Sarah kali ini.


“Pintu keluar sama dengan pintu masuk,” ucapku.


Sarah dan Ken terkejut mendengar ucapanku. Ya, ini kali pertama dalam hidupku mengusir seseorang. Apalagi orang yang berniat untuk meminta maaf kepadaku. Aku sudah lelah mendengar ocehan-ocehan yang hanya akan membuatku membenci seseorang. Aku tidak ingin menghabiskan waktu hidupku hanya untuk membenci seseorang, terlalu menguras tenaga dan juga membenci seseorang adalah pekerjaan paling merugikan di dunia ini.


...-----...


Ken duduk diam. Aku tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Sudah tiga hari dia hanya menghabiskan waktunya dengan duduk, makan, mendengarkan musik, dan tidur. Dia tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan. Dia hanya melakukan kegiatan yang biasa orang normal lakukan tapi bagiku kegiatan yang dia lakukan adalah kegiatan yang abnormal.


Kuambil kue di atas piring. Ayah dan ibu sedang berkunjung ke London, mengunjungi kakek dan nenekku. Rumah ini menjadi sangat sepi. Hanya ada aku, Ken, dan Sarah. Sepertinya, yang benar-benar hidup di rumah ini hanya aku dan Sarah. Ken seperti mayat hidup. Sarah selalu menggodanya tapi dia hanya diam tak menanggapi apapun. Sepertinya, sensor kepekaan dalam tubuh Ken hilang.


“Kemana?”


“Heidelberg.”


“Kapan?”


Bruk!!


Aku dan Sarah menatap Ken. Ken melangkahkan kakinya menuju kamar. Dia benar-benar mayat hidup. Aku dan Sarah hanya bisa saling berpandangan. Kami sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Ken dan kami sama-sama tidak tahu bagaimana caranya mengetahui perasaan apa yang sedang Ken rasakan saat ini. Dia selalu menutup dirinya saat menghadapi masalah, sama seperti yang sedang dia lakukan saat ini.


“Ooo….”


“Kenapa?” tanyaku terkejut.


“Bobby ada di depan. Dia mengajakku kencan.”


“Pergilah.”


“Maafkan aku. Aku akan membelikanmu roti yang kamu sukai.”


Aku hanya mengangguk sembari melepas kepergian Sarah.


...-----...


Sudah sepuluh menit kucoba memejamkan mataku, tetap saja aku tidak bisa tidur. Kulirik jam di dinding, sudah pukul sepuluh malam. Biasanya di jam-jam seperti ini, aku sudah bisa tidur dengan sangat pulas.


Kenapa sekarang aku tidak bisa?


Kuambil handphone di meja samping tempat tidur. Tidak mungkin aku menghubungi Sarah, dia sedang pergi berlibur dengan Bobby dan baru akan pulang lusa. Tidak mungkin pula aku menghubungi ayah dan ibu, mereka bisa cemas dan mungkin akan mengambil penerbangan atau mungkin menggunakan pesawat pribadi untuk membawa mereka kembali ke Berlin.


Tunggu, apa aku mencoba meminum susu putih hangat?


Kadang-kadang itu bekerja padaku. Lebih baik aku turun ke dapur. Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Sekilas, aku melihat kamar Ken. Sangat hening dan tenang.


Apa dia sudah tidur? Sepertinya begitu melihat betapa hening dan gelap kamarnya.


Kulangkahkan kakiku dengan ringan sambil sesekali menyanyikan lagu Twinkle Twinkle Little Star.


“Apa yang Nona lakukan malam-malam seperti ini?”


“Ah.. hanya ingin minum susu hangat. Kenapa Bibi belum tidur?”


“Ada pekerjaan yang harus Bibi lakukan. Apa Nona membutuhkan bantuan Bibi untuk menyiapkan susu hangat?”


“Tidak usah. Lebih baik Bibi menyelesaikan pekerjaan Bibi. Sekarang sudah larut malam.”


“Baiklah. Kalau begitu, saya permisi.”


Kubuka lemari es di hadapanku. Kuambil susu sapi murni dari dalam lemari es dan mulai menghangatkannya. Sekali lagi, bunyi detak jam di dinding mengganggu pikiranku. Bunyi detak itu memiliki irama yang sama dengan bunyi detak jantungku saat ini. Sungguh, ingin rasanya aku mengambil jam itu dan membantingnya.


“Apa yang kamu lakukan?”


Ken mematikan kompor yang sedang kugunakan. Dia terus menatap ke arah kompor itu. Ah… susunya sudah sampai mendidih. Kenapa aku tidak mendengar bunyi susu yang mendidih? Kenapa justru bunyi detak jam yang terdengar olehku?


“Tidak ada, hanya saja aku tak bisa tidur. Biasanya jika aku minum susu putih hangat, aku akan langsung mengantuk dan akhirnya tertidur.”


“Lalu kenapa kamu tidak menggunakan microwave? Kenapa harus menggunakan kompor?” balas Ken sembari berjalan ke arahku dengan panci berisi susu di tangannya.


Gelas yang sudah kusiapkan di meja perlahan terisi susu. Ken juga mengambil gelas dan menuangkan susu itu ke dalam gelas yang baru dia ambil. Kulangkahkan kakiku menuju ruang keluarga. Ken membawa dua gelas susu dan memberikan satu gelas kepadaku.


“Kamu juga tidak bisa tidur?”


“Fan, apa rasanya akan sesakit ini?”


“Sakit?”


Hanya hembusan nafas panjang yang Ken berikan. Dia melangkahkan kakinya mendekati jendela. Dia membuka jendela dan membiarkan udara malam masuk. Dia masih berdiri di depan jendela. Dia memandang jauh ke depan. Tatapan yang kosong dan membosankan.


Kuminum susu di gelasku. Aku tidak akan menanyakannya apapun. Aku hanya akan menunggu sampai Ken menceritakan semuanya, baru aku akan menanggapi dan memberikan komentar. Suasananya sangat hening dan detak jam dinding mulai terdengar lagi olehku.


Kenapa banyak jam dinding di rumah ini?


“Stephanie,” ucap Ken.


Kuletakan gelas yang sedang kupegang ke meja. Jangan-jangan Ken menjadi seperti ini karena Stephanie. Jangan-jangan Ken menyukai Stephanie. Tapi, itu tidak mungkin, Ken bukan tipikal orang yang bisa langsung jatuh cinta dengan seseorang. Dan lagi, Ken dan Stephanie baru bertemu beberapa minggu yang lalu dan kejadian satu tahun yang lalu itu sama sekali……..tunggu, apa setelah kejadian satu tahun yang lalu Ken dan Stephanie berkomunikasi? Tidak mungkin, Ken bukan orang yang suka memberikan nomor telepon ataupun alamat e-mail-nya dengan mudah.


"Ada apa dengan Stephanie?” tanyaku.


“Dia mengingatkanku pada Clara.”


“Mengingatkan?”


“Saat pertama kali aku bertemu Clara, dia sama seperti Stephanie. Dia hanya ingin tahu apa yang akan aku lakukan jika aku menemukan orang yang kucintai. Aku mengabaikannya, tapi semakin aku mengabaikannya semakin dalam aku jatuh ke dalam dirinya. Clara, dia cinta pertamaku, dan dia perempuan pertama yang menipuku.”


“Menipu?”


“Dia menjadikanku taruhan. Dia dan teman-temannya bertaruh, jika aku tidak meninggalkanmu demi Clara, Clara akan mengundurkan diri dari dewan mahasiswa. Karena itu, Clara mati-matian mengejarku.”


Jadi, Clara termasuk bagian dari dewan mahasiswa. Pantas saja aku pernah mendengar namanya. Wow.. jika dia dewan mahasiswa, pantas saja Ken tertarik dengannya, dengan menjadi dewan mahasiswa, Clara pasti memiliki banyak informasi tentang Ken dan juga Ken menyukai perempuan yang tahu tentang dirinya lebih dari keluarganya sendiri. Perempuan benar-benar menakutkan.


“Kamu masih menyukai Clara? Kamu membiarkan Clara menghancurkan hidupmu? Aku membenci ketika kamu ataupun Sarah meminta nasehat tentang cinta kepadaku, karena aku sama sekali belum pernah merasakan jatuh cinta seperti yang kalian rasakan. Mungkin aku memang pernah menyukai Kevin dan Daniel tapi aku tidak yakin jika aku benar-benar menyukai mereka dari dalam hatiku. Kamu tahu? Cinta tidak bertahan lama. Yang membuatmu bertahan adalah alasan kenapa kamu jatuh cinta.


Jika alasan kamu jatuh cinta karena wajah, maka cintamu tidak akan bertahan lama karena wajah bisa berubah. Jika alasan kamu jatuh cinta karena harta, cintamu pun tak akan bertahan lama. Aku tidak tahu alasan apa yang bisa mempertahankan cinta. Tapi, aku yakin, kamu hanya butuh satu alasan untuk mencintai yaitu meyakini jika seseorang yang kamu cintai juga mencintaimu, sedalam dan selama kamu mencintainya, maka cintamu akan bertahan untuk waktu yang lama.”


Ken tetap berdiri di depan jendela. Udara malam benar-benar dingin. Aku kedinginan.


“Ken, aku kedinginan.”


Seperti orang yang baru bangun tidur dari tidur panjangnya, Ken menutup jendela dan tersenyum ke arahku. Warna matanya kembali, matanya bukan lagi mata seseorang yang penuh dengan rasa sakit ataupun mata seseorang yang penuh dengan kehampaan. Sekarang, matanya kembali menjadi mata yang bisa menenangkanku.


Aku hanya tidak paham dengan pemikiran orang lain tentang cinta karena bagiku cinta yang benar-benar cinta hanyalah cinta dari Tuhan. Tidak ada kepalsuan, tidak ada kebencian, dan yang ada hanyalah sebuah ketulusan. Aku hanya mengenal tiga macam cinta, cinta dari Tuhan, cinta dari orang tua, dan cinta dari saudara kandung. Ah… ada satu lagi cinta yang Tuhan berikan sebagai hadiah yaitu cinta dari orang-orang disekitarku.


...-----...