
Sarah dan Bobby duduk diam tidak bersuara, begitu melihatku masuk ke dalam apartemen, mereka langsung berlari ke arahku dan bersembunyi di belakangku. Kulihat ayah, ibu, dan Ken yang duduk diam menahan amarah. Kulangkahkan kakiku mendekat ke arah mereka dan memeluk mereka satu per satu. Aku tahu, amarah yang ada dalam diri mereka ditujukan untukku.
“Maafkan, Fanya,” ucapku setelah selesai memeluk Ken.
Ibu kembali memelukku dengan sangat erat. Beliau menghembuskan nafas berulang kali, nafas lega bahwa aku baik-baik saja selama ini. Kulihat Ayah yang terdiam menatapku, beliau menatapku dengan mata teduh dan sedih miliknya seakan aku bisa pergi kapan saja meninggalkannya.
Aku tahu selama ini bukan hanya aku yang tersiksa tetapi semuanya. Disaat semuanya sedang mengatur perasaan mereka justru dengan mudahnya aku meninggalkan mereka. Akan lebih baik jika aku meninggalkan mereka dengan sebuah surat tapi aku meninggalkan mereka tanpa sepatah kata apapun, dan menyisakan sebuah luka yang besar.
“Jangan lakukan hal ini lagi. Ibu tidak bisa hidup tanpamu.”
“Fanya janji tidak akan melakukan hal ini lagi. Maafkan, Fanya.”
Ibu menggeleng dan kembali memelukku untuk kesekian kalinya. Aku hanya bisa membalas pelukan Ibu. Aku sudah lama tidak merasakan kehangatan seperti ini. Sangat menyenangkan ternyata bersama dengan keluargaku.
“Berhentilah memeluk Fanya. Dia membutuhkan ruang untuk bernafas,” ucap Ayah.
Ibu langsung melepas pelukannya dan mengusap lembut rambutku. Kulihat Ayah yang berjalan pergi menjauh dari ruang tamu menuju balkon. Seperti tahu apa yang ada di dalam pikiranku, Ibu tersenyum padaku dan membiarkanku pergi.
“Ayah.”
“Ayah Kevin mengatakan jika kondisimu semakin membaik, dia bahkan mengatakan kamu bisa berlari seperti dulu lagi.”
“Ayah tahu betapa suka becandanya Paman Frank bukan?”
“….”
“Maafkan untuk semua yang telah Fanya ucapkan. Fanya tidak pernah mencoba untuk berada diposisi Ayah. Tidak ada satupun ayah di dunia yang menginginkan putrinya kesakitan. Ayah sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi Fanya dari rasa sakit. Terima kasih.”
Kutatap Ayah yang berusaha menahan tangis. Aku tahu betapa egoisnya diriku di masa lalu, mengatakan hal-hal yang sangat menyakitkan pada satu-satunya laki-laki di dunia ini yang tidak pernah menyakitiku. Aku telah menyakiti satu-satunya lelaki yang selalu mengharapkan kebahagiaanku diatas kebahagiannya. Aku dengan bodohnya sudah menyakiti malaikat yang Tuhan kirimkan untukku.
“Maafkan, Fanya,” ucapku kembali.
Ayah memelukku.
“Tidak, Fanya. Ayah yang seharusnya meminta maaf. Maafkan Ayah karena tidak bisa memberikan kehidupan yang kamu inginkan. Maafkan Ayah yang selalu melindungimu tanpa tahu jika kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Maafkan Ayah yang selalu menganggapmu sebagai putri kecil Ayah yang tidak bisa hidup tanpa bantuan Ayah. Maafkan Ayah yang sudah menyakiti putri kecil Ayah.”
Sekarang aku tahu, sampai kapanpun aku akan selalu menjadi putri kecil bagi ayah. Berapapun usiaku, ayah akan selalu melihatku sebagai seorang bayi yang baru lahir yang harus dia jaga hingga kapanpun. Sampai kapanpun, ayah akan selalu mencintaiku.
“Terima kasih sudah menjadi Ayah untuk Fanya.”
...-----...
“Tidak seperti itu, aku tidak pernah berduaan hanya dengan Bobby,” ucap Sarah dengan nada merajuk.
Ternyata sebelum aku pulang, kedua orang tuaku dan Ken sedang melakukan interogasi pada Sarah dan Bobby. Aku bisa melihat betapa kikuknya Sarah dalam menjawab pertanyaan ayah. Sepertinya sesuatu sudah terjadi sebelum aku pulang. Sesuatu yang tidak ingin aku bayangkan.
“Mereka tidur bersama di kamar,” ucap Ken sembari memberiku segelas susu hangat miliknya.
“Mereka hanya tidur biasa. Mereka tidak melakukan apapun, aku bisa menjaminnya,” jawabku sembari menerima gelas dari tangan Ken.
“….”
“Haruskah kita jalan-jalan seperti dulu?” tanyaku.
Ken tersenyum dan langsung mengambil jaket tebal miliknya dan milikku. Dia langsung menarik tanganku pergi keluar, bahkan dia tidak menghiraukan panggilan Ayah dan Ibu. Dia seperti seseorang yang sudah menunggu saat seperti ini terjadi. Sepertinya kepekaanku masih sama seperti dulu, tidak berubah.
Ken terus menggenggam tanganku, dia bahkan memasukkan tanganku ke dalam saku jaketnya. Dia sama sekali belum berubah, dia masih menjadi Ken yang aku kenal, bahkan mungkin menjadi Ken yang dulu lagi. Aku rasa hubungannya dengan Stephanie membantunya menjadi dirinya yang dulu. Aku bersyukur sudah memilihkan seseorang yang tepat untuknya.
“Kenapa kamu memilih kabur dengan Sarah?”
“Aku selalu menghabiskan waktuku denganmu. Sarah memang tidak pernah mengatakannya secara langsung padaku tapi aku tahu jauh di dalam hatinya dia ingin bersamaku tanpa gangguan darimu walau hanya satu hari. Dan saat itu, aku tahu betapa kamu sangat menderita dengan vonis yang Ayah berikan padaku. Aku ingin memberimu lebih banyak waktu dan membuktikan bahwa aku akan terus hidup meskipun kamu sudah memiliki orang lain dalam hidupmu.”
“Maafkan aku.”
“Tidak, Ken. Kamu tidak perlu mengatakan maaf karena aku sangat bahagia selama 2 tahun ini bersama dengan Sarah.”
“Lalu saat denganku?”
“Sangaaaaaaaat bahagia,” ucapku sembari tertawa.
Ken melepaskan genggaman tangannya dan memakaikan syal yang sedari tadi dia pegang kepadaku. Selesai memakaikan syal, dia memegang pipiku dengan kedua tangannya yang sangat.
Bagaimana dia tahu jika aku kedinginan?
Aku rasa selamanya dia akan tahu kapan aku kedinginan dan aku selamanya tidak akan pernah tahu kapan dia kedinginan. Sangat ironis dan aku menerima semua ini dengan senang hati.
“Berhentilah menyentuh kekasihku.”
Kuarahkan tubuhku ke sumber suara. Kevin berjalan ke arah kami dengan sebungkus roti hangat di tangannya. Dia menarik tanganku menjauh dari Ken dan membuat Ken kembali menarik tanganku. Sepertinya mereka akan terus menarikku ke sisi mereka jika aku tidak segera menghentikannya.
“Tidak bisakah kamu membiarkan aku melepas rindu dengan adikku?”
“Tidak. Aku sangat ingin membawanya pergi, hanya berdua denganku.”
Ken langsung menarik tanganku dan berjalan menjauh dari Kevin. Kevin langsung mengejar kami dan berjalan disebelahku. Aku meletakkan kedua tanganku di lengan mereka. Mereka sama-sama tersenyum dengan apa yang aku lakukan.
“Aku mencintai kalian,” ucapku.
“Aku juga mencintaimu,” jawab Ken dan Kevin berbarengan.
“Aku lebih mencintaimu,” ucap Ken.
“Tidak, aku yang lebih mencintaimu,” ucap Kevin membalas Ken.
Sepertinya kali ini aku benar-benar bisa menyukai musim dingin.
...-----...