H(Our)S

H(Our)S
Bertahan



“Apa Ayah akan terus seperti ini? Menyerah pada Fanya?”


“Dia yang menyerah bukan Ayah.”


“Oh ya? Kalau begitu, aku punya pertanyaan untuk Ayah. Pernahkah Ayah memahami perasaan Fanya sebagai seorang pasien bukan sebagai seorang anak? Pernahkan Ayah melihat Fanya sebagai pasien Ayah? Pernahkan Ayah berpikir bahwa Fanya ingin hidup seperti pasien Ayah yang lainnya bukan hanya sebagai seorang anak yang menerima semua keputusan ayahnya yang seorang dokter? Pernahkah?”


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, bahkan disaat aku seperti ini, keluargaku sendiri bertengkar. Mereka seperti menganggapku tidak pernah ada. Mereka menganggap jika aku tidak mendengar apa yang mereka ucapkan. Mereka bertindak seperti apa yang mereka inginkan. Aku tidak bisa menyalahkan mereka karena semua ini salahku untuk terus berpura-pura tidak sadarkan diri.


“Sarah, hentikan,” teriak Ken.


Bahkan di rumah sakit, aku tidak bisa mendapatkan ketenangan yang aku inginkan. Duniaku tetap bising. Aku akan menerima jika kebisingan yang aku rasakan hanya kebisingan penuh kebahagiaan, tapi semua kebisingan yang kurasakan hanyalah sebuah kebisingan penuh air mata.


“Kamu menyuruhku untuk menghentikan semua ini? Baik, aku akan menghentikan semua ini, tapi aku akan mengatakan semua ini, harapan terakhir Fanya bukan lagi harapan yang dia buat enam bulan yang lalu.”


“Aku tidak peduli dengan semua harapan milik Fanya. Harapan bodoh miliknya…….”


“Ingin kembali ke dalam pelukan Tuhan dengan penuh senyum kebahagiaan, itu harapan terakhir Fanya,” potong Sarah.


Ruangan ini menjadi hening. Sekitar satu menit setelah mengatakan itu, suara bantingan pintu terdengar. Mungkin itu Sarah, karena dia selalu menggunakan tenaga yang dia miliki saat emosi menguasai dirinya.


“Ken, kejarlah Sarah.”


“Tapi…..”


“Ken.”


Kembali suara pintu tertutup terdengar. Aku tidak tahu apa yang Ayah lakukan tapi detik berikutnya, terdengar detak suara jam. Detak yang sudah lama tidak aku dengar. Bahkan saat aku pertama kali sadarkan diri aku tidak mendengar detak itu.


Apa Ayah mengganti jam dindingnya? Atau Ayah hanya mengganti baterainya?


“Sampai kapan kamu akan berpura-pura, Fanya?”


Ah.. ternyata ayah sudah tahu. Kubuka mataku. Bukan wajah ayah yang pertama kali aku cari tapi jam dinding. Aku hanya ingin melihat sekarang jam berapa. Ayah melangkahkan kakinya mendekat ke ranjangku. Beliau duduk di kursi dan terus menatap ke arahku.


“Kenapa kamu melakukan semua ini? Sangat menyakitkan, Fanya.”


“Fanya hanya ingin memberi waktu.”


“Waktu untuk siapa?”


“Waktu bagi Ayah untuk melihat Fanya sebagai seorang pasien bukan hanya anak perempuan Ayah. Waktu bagi Ibu untuk mempersiapkan dirinya saat waktu yang Fanya miliki sudah habis. Waktu bagi Ken untuk menyadari jika saudara kembarnya tidak akan lama lagi bersamanya. Waktu bagi Sarah untuk berhenti berpura-pura menjadi kuat. Dan waktu bagi Kevin untuk berhenti memaksa hatinya menerima jika waktu yang Fanya miliki tinggal sebentar lagi.”


Ayah terdiam. Beliau mengalihkaan pandangannya dariku. Sekarang beliau berdiri dan membalikkan tubuhnya menatap tembok, bukan menatapku. Kulihat tangan ayah bergetar. Tangan yang sudah lama kunantikan untuk menggenggamku sebagai seorang pasiennya sekaligus sebagai seorang putrinya.


Sudah lama aku menyadari jika ayah belum menganggapku sebagai pasiennya. Ayah selalu menganggapku sebagai putrinya karena itu beliau tidak bisa mengobatiku. Ayah tidak ingin aku terluka dengan berbagai macam pengobatan yang menyakitkan. Ayah selalu memaksa dirinya dengan mengatakan aku akan baik-baik saja. Kondisiku yang semakin memburuk adalah alarm pengingat bagi ayah hingga akhirnya ayah bisa memvonis sisa hidupku.


Berulang kali aku mencoba memahami perasaan ayah. Saat aku sudah mulai bisa memahami kenapa ayah belum bisa menerimaku sebagai pasiennya, selalu muncul satu pertanyaan, “Apakah Ayah tidak ingin melukaiku hingga membuatku kesakitan seperti sekarang?”. Aku tidak pernah bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sendiri. Itu sangat menyiksaku. Dan lebih menyiksa saat aku tahu jika aku sama sekali tidak berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaanku.


“Kenapa kamu harus melakukan semua itu? Apa kamu tahu………..”


“Ayah, lihat diri Ayah dan tanyakan pada diri Ayah. Apa Ayah sudah mencoba yang terbaik untuk mengobati Fanya? Apa Ayah pernah berhenti sekali saja untuk mempedulikan rasa sakit yang akan Fanya terima saat menjalani pengobatan dengan Ayah? Fanya ingin Ayah menerima Fanya, bukan hanya menerima, Fanya ingin Ayah memperlakukan Fanya sama seperti saat Ayah menggenggam dan tersenyum pada pasien Ayah. Jangan menganggap Fanya hanya sebagai seorang anak perempuan Ayah hingga Ayah tidak bisa melakukan apapun yang akan


menyakiti Fanya.”


“Fanya….”


“Semua ini juga sangat menyakitkan untuk Fanya mendapati dokter Fanya adalah Ayah.”


Ayah melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini dan membanting pintu saat menutupnya. Aku tidak tahan dengan semua perasaan yang sudah aku bohongi. Aku tidak bisa melakukan semua ini lagi. Diam. Berpura-pura. Dan tersenyum tanpa pernah aku mencoba mengatakan apa yang aku rasakan sebenarnya.


Kulepas selang infus di tanganku, berdarah. Maafkan aku tubuhku, aku tidak bisa menjaga tubuhku sendiri seperti yang dulu aku lakukan. Kucoba bangun dari tempat tidurku, berulang kali aku terjatuh. Kucoba sekali lagi dan bisa. Sekarang, aku hanya perlu turun dari tempat tidur ini dan berjalan keluar dari ruangan ini.


Hanya butuh waktu sepuluh menit sampai aku benar-benar bisa berdiri. Aku mencoba melangkahkan kakiku dengan semua tenaga yang aku miliki. Kugeser tubuhku mendekati tembok yang akan kujadikan tumpuanku. Perlahan kulangkahkan kakiku mendekat ke arah pintu. Kubuka pintu itu. Kulangkahkan kakiku keluar dari ruangan ini.


Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi, aku hanya bisa terus melangkahkan kakiku tanpa tahu kemana aku harus pergi. Aku tidak tahu jika aku bisa berjalan sampai keluar dari rumah sakit. Langit sangat cerah, berwarna biru dan menenangkan. Kulangkahkan kakiku menuju taman di rumah sakit ini dengan darah yang terus menetes dari pergelangan tanganku.


Terlalu banyak anak kecil yang berada di taman, aku rasa beberapa orang yang berkunjung ke rumah sakit lebih memilih membiarkan anak-anak yang mereka bawa untuk bermain di taman dibandingkan masuk ke dalam rumah sakit yang penuh akan penyakit. Kulangkahkan kakiku menyusuri setiap sudut taman. Aku mencoba mencari tempat yang sunyi. Aku hanya ingin tertidur di bawah warna langit yang biru dan di atas rumput hijau. Ada satu tempat yang sangat sunyi, tepi danau buatan. Kulangkahkan kakiku mendekat ke tempat itu dan perlahan kubaringkan tubuhku di atas rumput hijau. Kuangkat tangan kiriku dan darah masih terus menetes dari pergelangan tanganku. Kutangkupkan kedua tanganku ke atas perutku. Sangat nyaman.


“Fanya.”


Seseorang memanggil namaku. Apa itu orang yang aku kenal? Siapa? Apa aku mengenal seseorang di area rumah sakit ini? Suara itu sedikit bergetar sehingga aku tidak bisa mengenalinya dengan jelas siapa yang sudah memanggil namaku. Aku berharap itu bukan seorang perawat ataupun seseorang yang aku kenal.


Orang itu melangkahkan kakinya mendekat ke arahku. Aku hafal bau parfum ini. Bau parfum yang tidak pernah dia ganti selama lima tahun terakhir ini. Bau parfum yang selalu berlari ke arahku saat tidak ada seorangpun di sisiku.


“Sarah?”


“Hanya menatap langit.”


“Aku akan memanggil ayah dan perawat.”


“Di sini sangat nyaman dan membuatku ingin menutup mataku sekarang juga.”


“Apa maksudmu?” tanyanya sembari menghentikan ketukan jarinya di handphone.


“Tidurlah. Jika kamu baringkan tubuhmu sama seperti yang aku lakukan, kamu akan melihat keindahan. Keindahan yang telah kulupakan.”


Sarah membaringkan tubuhnya di sampingku. Dia menatap sekilas ke arahku. Aku hanya tersenyum mendapatkan tatapan penuh tanda tanya itu. Aku merasa saat dia menatapku dengan tatapan itu, aku bisa melihat satu sisi di dalam diri Sarah, satu sisi yang selalu ingin kulihat, sisi kewanitaan miliknya yang penuh dengan rasa ingin tahu.


“Hei, maukah kamu menceritakan tentang Tembok Berlin yang kamu kunjungi kepadaku?”


“Kenapa?” tanyanya dengan suara serak.


“Aku sangat ingin pergi ke Tembok Berlin tetapi ayah melarangku. Aku bahkan tidak tahu alasan kenapa Ayah terus menerus melarangku melakukan hal yang dilakukan orang lain. Aku hanya ingin sekali saja dianggap sebagai orang normal. Aku kira jika kamu menceritakan sedikit tentang Tembok Berlin, aku bisa sedikit merasakan perasaan seperti aku pernah benar-benar pergi ke sana.”


Sarah menghembuskan nafas dan kemudian memutar badannya menghadapku.


“Jujur, aku membenci kata-katamu. Tapi, baiklah aku akan menceritakannya. Apa kamu tahu Tembok Berlin juga dikenal sebagai Tembok Kematian?”


“Bagaimana bisa?” tanyaku tertarik.


“Yang aku dengar dari Bobby ada sekitar 136 orang yang meninggal, dan ada pula anak-anak yang tidak bersalah di sepanjang tembok saat Perang Dingin terjadi. Beberapa dari mereka ditembak petugas perbatasan Jerman Timur, sedangkan yang lainnya tenggelam di Sungai Spree. Korban terakhir yang tewas adalah Chris Gueffroy. Dia ditembak mati sembilan bulan sebelum runtuhnya Tembok Berlin. Aku rasa karena banyaknya kematian itu, akhirnya Tembok Berlin mendapat julukan baru.”


“Kamu bahkan tahu korban terakhirnya?”


“Bobby menceritakan semuanya padaku, aku hanya bisa mendengarkan semuanya dan diam karena aku tidak tahu apapun.”


Kualihkan pandanganku ke langit. Sarah terus menatap ke arahku sampai dia menyadari pergelangan tanganku berlimpah darah. Dia memekik kecil, dia bangkit dari tempat dia berdiri dan mengambil tanganku. Aku hanya diam terus menatap ke arah langit.


“Kamu….”


“Sarah, impianku terwujud. Aku ingin memandang langit biru yang cerah seperti saat ini.”


“Fanya!!!”


“Aku tidak tahu bagaimana akhir dari hidupku. Aku mengira aku akan meninggal di dalam pelukan Ken atau Kevin. Sekarang aku tahu, Tuhan tidak menginginkanku bersama dengan orang yang kucintai, Tuhan menginginkanku menikmati hidupku dengan mulai membuka kembali mataku untuk melihat keindahan yang telah Tuhan ciptakan.”


Sarah terdiam. Dia melepaskan tanganku. Dia kembali membaringkan tubuhnya di atas rumput. Wajahnya sudah merah padam. Apa dia mengira aku akan meninggal saat ini juga? Detik ini juga? Ingin rasanya aku mengatakan jika aku tidak akan meninggal saat ini tapi aku sadar bukan aku penentu dari kematianku.


“Aku akan memberikan banyak waktu bagi Ayah, Ibu, Ken, dan Kevin untuk berpikir. Aku akan meninggalkan mereka. Tapi, aku tidak ingin meninggalkanmu.”


Kualihkan pandanganku pada Sarah. Dia sama sekali tidak menatap ke arahku. Dia terus menatap jauh ke atas langit. Kupegang tangannya yang lagi-lagi sudah sedingin es. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang berlawanan dengan keinginan hatiku sendiri. Aku sudah berjanji tentang hal itu pada Sarah.


“Kamu bisa terus bersama Bobby dan aku.”


“Hidupku, sudah terlalu lama aku menyia-nyiakannya. Aku ingin melihat keindahan dunia ini. Sarah, kamu mau berjanji padaku satu hal?” lanjutku.


“Apa?”


“Temani aku dan ayo kita kabur seperti yang selama ini ingin kamu ingin lakukan bersamaku. Kita pergi ke tempat dimana tidak penuh dengan aturan. Kita pergi ke tempat dimana jika kita jatuh karena sebuah aturan kita bisa bangkit lagi. Bawa Bobby bersamamu. Ayo, kita bertiga pergi dari Jerman.”


Sarah terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya memberikan sebuah anggukan. Aku dan dia kembali terdiam untuk waktu yang lama. Sama-sama menikmati langit yang cerah dan udara yang sejuk. Sama-sama menciptakan sebuah imajinasi tentang kehidupan yang ingin dijalani tanpa sebuah aturan. Aku tahu tindakan yang aku lakukan akan sangat berisiko tapi setidaknya aku ingin mencoba memandang dunia dengan cara yang lebih sederhana yaitu dengan mulai mensyukuri dan menikmati semua yang Tuhan berikan kepadaku dan kepada keluargaku.


“Dan kamu harus berjanji padaku satu hal,” ucap Sarah memecah hening.


“Apa?”


“Tetaplah hidup.”


Sekali lagi aku menganggukan permintaan yang bahkan aku tidak tahu kebenaran dan kepastiannya. Tuhan, mungkin sekarang bukan saatnya Engkau mengabulkan harapanku karena itu aku akan menikmati hidupku lebih dari yang sekarang aku nikmati. Terima kasih untuk kesempatan yang telah Engkau berikan padaku sampai saat ini.


Kutatap langit. Mungkin mulai saat ini aku tidak akan bisa mendapatkan kasih sayang dari seluruh keluargaku tapi setidaknya aku tahu aku telah mendapatkan kasih sayang yang tulus dari mereka. Aku juga tidak akan bisa terus merasakan cinta yang tulus dari orang yang kucintai tapi setidaknya aku bahagia hanya dengan mengetahui fakta bahwa orang yang kucintai selama ini juga mencintaiku. Aku akan memberi waktu bagi mereka dengan menghilang sejenak dari hidup mereka. Akan ada saatnya, hanya dengan menghilangkan diri, orang-orang yang kucintai akan menyadari arti sebuah kehadiran yang telah kuberikan pada mereka.


Kututup mataku dan mulai tertidur dalam buaian keindahan yang telah Tuhan berikan untukku. Terkadang bukan hanya Tuhan yang menentukan takdirku, aku bisa menentukan takdirku sendiri. Ingin menjadi apa aku, ingin dengan siapa aku menjalani hidupku, bukan hanya Tuhan yang menentukan semua itu. Tuhan hanya mempertemukanku dengan orang-orang yang menyayangiku dan keputusan terakhir untuk tetap berada di sisi mereka atau tidak, tetap menjadi keputusanku.


Aku hanya ingin sebuah ketenangan……


...-----...