H(Our)S

H(Our)S
Hubungan



‘Hai… hai…


Apa kabarmu dan keluargamu, Fanya?? Kenapa kamu dan keluargamu tidak memenuhi undangan keluargaku untuk makan malam bersama?? Apa kamu tidak tahu jika aku sangat merindukanmu?? Aku juga merindukan Ken dan Sarah, tapi daripada mereka berdua, aku sangat merindukanmu. Kamu sudah menghabiskan liburanmu di Heidelberg dan sekarang kamu sibuk dengan kuliahmu. Kapan kamu memiliki waktu untukku??


Baiklah, aku tidak akan basa-basi lagi. Aku bertemu dengan Kevin. Lebih tepatnya kemarin aku bertemu dengan Kevin. Dia menceritakan semuanya padaku, mulai dari saat dia bertemu denganmu dan Ken sampai saat Ken memarahi Kevin. Aku tahu yang Kevin lakukan itu salah tetapi setidaknya kalian bisa membicarakannya lagi bukan? Kalian sudah lama tidak bertemu, Kevin juga pasti merindukan kalian.


Sebenarnya ada hal yang membuatku marah saat bertemu dengan Kevin. Aku membenci tatapan yang Sabrina berikan padanya. Kamu tahu, seperti tatapan para perempuan pemuja Ken. Aku membenci tatapan itu. Seakan-akan aku tidak ada di samping Sabrina dan aku tidak dianggap.


Tapi, baiklah, aku akan menerima semuanya. Lagipula hari pertunanganku dengan Sabrina sudah ditentukan. Aku dan Sabrina akan bertunangan bulan ini dan aku berharap Sabrina memakai kalung yang dulu aku berikan padanya.


Oh ya… aku lupa, apa kamu ingat kalung yang pernah aku berikan padamu? Sebenarnya itu bukan dariku melainkan dari Ken. Ken memintaku untuk berpura-pura jika itu pemberian dariku saat dia tahu aku akan memberikan sebuah kalung pada Sabrina. Aku memberi tahumu karena aku merasa kamu perlu tahu hal ini. Dan maaf aku baru memberitahumu sekarang karena aku lupa. Aku baru ingat saat Sabrina tiba-tiba membahas perbedaan kalung yang aku berikan kepadanya dengan yang aku berikan kepadamu.


Jangan sampai kamu tidak datang di acara paling penting dalam hidup sahabatmu ini. Jika kamu tidak datang, aku akan terus meneror rumahmu sampai kamu memohon-mohon maafku. Oke, Sabrina sudah mulai mengomel.


By the way, sekarang aku berada di Paris hanya untuk melihat hasil rancangan baju untuk pertunangan. Aku sungguh sial bertemu dengan perempuan seperti Sabrina yang semuanya harus sempurna. Oke… see you next week.


Yours,


Daniel. ‘


Kalung itu pemberian Ken?


Kenapa Ken tidak mengatakan apapun tentang hal itu?


Sebuah suara lesu kembali terdengar untuk ketiga kalinya, membuatku mengalihkan perhatian ke Sarah yang saat ini sedang duduk di samping jendela kamarku. Wajahnya sudah seperti zombie, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan manusia.


Apa dia bertengkar dengan Bobby?


Tidak mungkin Sarah bisa bertengkar dengan Bobby, hubungan mereka sangatlah baik dan hampir mendekati kata mustahil untuk mereka bertengkar. Kalaupun mereka bertengkar, bisa dipastikan saat ini Bobby berada di rumah ini untuk membujuknya.


“Ada apa dengan wajahmu?" tanyaku menyerah menunggunya berbicara.


Hanya hembusan nafas yang Sarah berikan padaku. Apa-apaan itu, dia tidak menjawab pertanyaan kakak kembarnya ini dan memilih menatap keluar jendela. Dia sama sekali tidak menganggap keberadaanku.


“Hei, kamu sudah mendengarnya?” tanyanya tepat saat aku berdiri untuk meninggalkannya.


“Mendengar tentang apa?”


“Daniel dan Sabrina akan bertunangan.”


Aku sudah mendapatkan jawabannya. Sarah lesu hanya karena berita pertunangan Daniel dan Sabrina. Aku tidak menemukan masalah pada kabar pertunangan itu. Lagipula, Sarah sama sekali tidak pernah memiliki ketertarikan dengan Daniel apalagi ketertarikan dengan hubungan yang Daniel miliki.


“Lalu?” tanyaku bingung dengan apa yang menjadi masalah.


“Aku juga ingin bertunangan. Aku ingin mengikat Bobby ke dalam hidupku. Aku tidak ingin melihat perempuan-perempuan lain berkeliaran di halaman rumah Bobby.”


“Halaman rumah? Maksudmu perempuan-perempuan itu masuk ke dalam rumah Bobby dan…….”


“Fanya!! Itu hanya paribahasa. Aku hanya sudah muak dengan perempuan-perempuan yang selalu berusaha merebut Bobby dariku. Aku lelah harus terus menyingkirkan perempuan-perempuan itu.”


Jadi karena ini. Jujur aku membenci hubungan yang telah terikat dengan orang lain. Serasa hidupku tidak akan bebas lagi. Jika memang aku nantinya memiliki orang yang kucintai aku tidak akan bertunangan dengannya, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya dan melakukan hal-hal seperti kencan ataupun yang lain. Dan setelah menjalin hubungan selama beberapa tahun, baru aku akan memutuskan untuk menikah. Aku benci terikat dengan orang lain selain dengan pernikahan.


Tunggu, kenapa aku ikut memikirkan topik seperti ini?


Aku lebih ingin tahu tentang kalung yang Ken berikan padaku. Kenapa Ken harus menyembunyikan semua itu? Kenapa dia tidak memberikan kalung itu padaku secara langsung? Kenapa dia membuatku mengira kalung itu adalah pemberian Daniel?


Sudah jam satu siang dan Ken masih berada di luar. Tadi Ken meminta izin kepada ayah untuk mengurus sesuatu dan sayangnya ayah tidak bertanya urusan apa yang akan Ken selesaikan.


Ah… Ayah memang selalu seperti itu. Dia selalu memberi izin tetapi tidak tahu izin yang telah beliau berikan akan digunakan untuk apa. Ayah terlalu percaya kepada anak-anaknya, bahkan sampai aku tidak bisa menemukan sedikit celahpun jika ayah tidak percaya padaku, Ken, ataupun Sarah.


“Hei,” ucap Sarah meminta perhatianku.


Sarah kembali terdiam. Dia kembali melihat keluar jendela. Luka-luka di wajahnya masih membekas. Aku tidak bertanya apapun pada Sarah tentang luka di wajahnya begitu pula dengan Ken, aku tidak bertanya asal usul luka yang berada di pipinya waktu itu.


Tok…Tok..


Ken memasukkan kepalanya ke dalam kamar. Dia hanya mengintip. Bukan mengintip sebenarnya yang dia lakukan karena aku ataupun Sarah sudah tahu keberadaannya. Dia masuk ke dalam kamarku dan duduk di sampingku. Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Sarah masih tetap melihat keluar jendela. Ada apa dengan saudara-saudara kembarku hari ini? Kenapa mereka sangat aneh?


“Ada apa denganmu, Ken?” tanyaku.


“Tidak. Aku hanya merindukan bahumu. Aku ingin tidur di bahumu seperti waktu itu. Oya, kamu menerima e-mail dari Daniel? Aku tidak akan datang ke acara pertunangannya."


“Kenapa?” tanya Sarah ketus.


Sekarang Sarah menatap ke arahku dan Ken. Tatapan matanya sangat menakutkan, aku rasa tatapannya bisa membunuh seseorang. Sepertinya dia benar-benar akan bertunangan dengan Bobby dalam waktu dekat ini. Aku berharap dari dalam lubuk hatiku itu akan menjadi kenyataan.


“Aku malas melihat hubungan mereka menjadi serius.”


Ken mengambil sepiring pudding di samping tempat tidurku. Dia memotong pudding itu menjadi bagian-bagian kecil dan memasukkannya ke dalam mulutku dan mulutnya. Dia selalu saja menyuapiku tanpa bertanya apakah aku menginginkan makanan yang akan dia suapkan ke mulutku atau tidak.


“Seharusnya kamu senang karena melihat hubungan seseorang beranjak menuju tingkat yang lebih dewasa.”


Sendok yang berisi pudding itu mengambang di udara. Kumajukan wajahku untuk memakan pudding itu. Aku tidak akan membiarkan pudding itu jatuh di atas tempat tidur milikku. Aku tidak bisa melihat pudding coklat itu mengotori selimut kesayanganku dan aku tidak ingin semut-semut berkeliaran di dalam kamarku.


“Hubungan mereka menjadi lebih dewasa? Benarkah? Apa kamu mau bertaruh denganku?”


“Bertaruh?”


“Ya.. Kevin akan merebut Sabrina dari Daniel. Aku jamin itu akan terjadi.”


“Kamu mau bertaruh hal seperti itu? Hal itu tidak akan pernah terjadi!” jawab Sarah sambil setengah berteriak.


“Bukankah tidak baik menjadikan hubungan seseorang sebagai taruhan. Sudahlah Ken, Sarah tidak tertarik dengan hubungan Daniel dan Sabrina dia hanya iri dengan pertunangan yang akan mereka lakukan,” potongku sebelum perkelahian muncul ke permukaan.


Ken mengalihkan pandangannya padaku. Dia kembali fokus ke pudding-pudding mungil di hadapannya dan mulai memasukkannya lagi ke dalam mulutku dan mulutnya. Sarah yang sedari tadi hanya diam melihat keluar jendela perlahan mendekat ke tempat tidur lalu merampas sendok di tangan Ken dan mulai memasukkan pudding-pudding itu ke dalam mulutnya.


“Ada apa dengannya?”


“Bukankah sudah aku katakan? Sarah hanya iri dengan pertunangannya, dia ingin bertunangan dengan Bobby.”


“Untuk apa menjalin hubungan yang serius jika pada akhirnya hanya akan menambah beban. Just let it flow, you can enjoy it without any rules. Bukankah sebuah hubungan seperti itu? Jika dalam sebuah hubungan terdapat aturan, bukankah itu tidak menarik?” ucap Ken membuat Sarah melemparkan bantal kepadanya.


Aku dan Ken mengalihkan pandangan ke arah Sarah. Dia memasang wajah cemberut. Sarah benar-benar sedang badmood hari ini.


“Apa kamu tahu, Ken?” tanya Sarah.


“Tentu saja tidak.”


“Aku mempelajari aturan bukan untuk mematuhinya tapi untuk memanfaatkannya. Jadi, aku akan tetap bisa menikmati hubunganku dengan Bobby.”


“Sarah, bagaimana jika aturan yang kamu pelajari nantinya membuatmu jatuh?” tanyaku.


“Aku masih memiliki dua kaki untuk bangkit. So, I don’t care, aku hanya membenci fakta dimana banyak perempuan yang mencoba mendekati Bobby. Aku ingin mengikat Bobby dalam sebuah pertunangan. Lihat saja nanti.”


Ken menggenggam tanganku. Dia menatap ke dalam mataku. Cukup lama dan aku tidak tahu apa yang dia lihat dari mataku. Dia tersenyum dan mendekatkan mulutnya ke telingaku.


“Kamu tahu. Sarah dan Bobby pasti akan bertunangan dan saat itu apa kamu sudah memiliki kekasih?”


Pertanyaan itu. Ken mengujiku. Lihat saja tanggal mainnya, Ken. Aku akui, aku akan tetap sendiri saat itu terjadi.


...-----...