H(Our)S

H(Our)S
Jawaban



Jadi ini yang Ayah maksud dengan liburan. Bagiku semua ini seperti mengulang kembali kenangan yang sudah lama aku coba lupakan. Aku hanya berharap kenangan itu tidak mencoba untuk kembali.


Ken duduk di sampingku sedangkan Kevin duduk di depanku. Dia bersama dengan seseorang. Aku tidak tahu siapa itu tapi aku rasa wanita yang Kevin bawa adalah wanita yang sekarang cukup berharga dalam hidupnya.


Ken terus menggenggam tanganku. Sudah berulang kali Ken menatapku dengan cemas. Bagaimana mungkin dia tidak cemas melihatku bertemu kembali dengan Kevin. Terlebih kemarin hanya mendengar namanya sudah cukup membuatku pusing dan sekarang aku bertemu langsung dengan pemilik nama itu.


Kevin menyeruput cokelat panas dari cangkirnya. Wanita di sampingnya juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua terlihat begitu serasi. Pakaian yang mereka pakai juga pakaian dua orang yang sengaja pergi jalan-jalan. Kuhembuskan nafas yang sedari tadi tertahan. Kuambil secangkir susu panasku dan meminumnya. Ken tetap diam membisu. Kugerakkan tanganku melepas genggaman tangan Ken. Ken sedikit tersentak. Aku hanya mengangguk.


Kenapa sangat sulit baginya untuk membiarkanku berdiri dengan kakiku sendiri dan berdiri dengan kepercayaanku sendiri?


“Jadi, apa yang kalian berdua lakukan di sini?”


Pertanyaan Kevin membuat Ken meminum cokelat panas miliknya. Ken menghabiskan cokelat panas miliknya dalam sekali tengguk.


Apa dia gila? Susu panas milikku saja masih terlalu panas untuk diminum.


“Hanya liburan,” jawabku akhirnya setelah dihujani tatapan penuh rasa ingin tahu.


“Oya? Wah… sudah berapa lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabar Sabrina dan Daniel?”


Aku hanya tersenyum begitu mendengar pertanyaan itu. Aku dan Ken yang berada dihadapannya tidak dia tanya tentang kabar kami tapi Sabrina dan Daniel yang berada ratusan kilometer darinya dia tanyai. Ketidakhadiranku di mata orang lain benar-benar menakutkan.


Apakah jarak sedekat ini tidak mampu membuat dia melihatku?


Apa waktu selama ini tidak bisa membuat dia mengingatku?


Apa aku terlalu bodoh karena tetap mencintainya?


Atau aku terlalu munafik untuk mencintainya padahal aku tahu dengan pasti siapa yang dia cintai?


Apa ini isi hatiku sendiri untuk terus bertahan pada sesuatu yang bahkan tidak pernah melihat ke arahku dan menganggapku ada?


“Kabar Sabrina dan Daniel baik. Mereka berdua bahkan sudah merencanakan untuk bertunangan.”


Sekarang suara tegas Ken yang menjawab pertanyaan Kevin. Aku bisa merasakan ada kemarahan di dalam ucapannya. Sepertinya dia merasakan hal yang sama denganku, tidak dianggap walaupun tepat di depan mata. Tapi, aku rasa Ken bukan marah karena itu, dia tidak peduli jika dia dianggap ataupun tidak oleh Kevin, dia marah karena Kevin sama sekali tidak melihat ke arahku sebagai seorang teman lama.


“Oya, kenalkan, dia Jennifer,” ucap Kevin setelah hening beberapa saat.


Wanita yang bernama Jennifer itu tersenyum ramah ke arahku dan Ken. Aku membalasnya tapi Ken sama sekali tidak membalas senyuman itu, membuat suasana bertambah canggung. Ken sangat dingin dan membuat wanita itu kembali duduk diam hanya mendengarkan obrolan yang sama sekali tidak dia mengerti.


“Universitas Ruprecht Karl Heidelberg, apa itu nama universitasmu?”


Pertanyaan Ken mengingatkanku dengan universitas yang aku dan ayah bahas. Langsung kualihkan pandanganku menatap Kevin. Kevin hanya tersenyum sembari mengembalikan cangkir berisi cokelat panas kembali ke atas meja.


“Jurusan apa yang kamu ambil?”


“Kesehatan atau lebih tepatnya kedokteran.”


Kedokteran?


Kevin sangat benci semua hal yang berbau kesehatan. Saat dia masih di Berlin dia selalu mengatakan tidak akan pernah masuk kedokteran. Hanya saja, saat Sabrina mengatakan akan masuk ke kedokteran, Kevin langsung mengubah pandangannya tentang kesehatan. Pengaruh Sabrina ternyata sangat besar dalam hidupnya. Aku tidak pernah mengira hal ini akan terjadi. Sungguh, terkadang keajaiban dan musuh terbesar dalam diri manusia adalah perasaan cinta yang terlalu besar karena bisa mengubah segala ketidakmungkinan menjadi sebuah kemungkinan.


“Ken, ayo kita pulang. Aku lelah," ucapku setengah berbisik.


Kevin menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Ken mengeluarkan uang untuk membayar minuman kami. Setelah itu, dia kembali menggenggam tanganku dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Ken membantuku berdiri.


Sekarang bukan hanya Kevin yang menatapku tetapi juga Jennifer menatapku dengan tatapan penasaran. Kevin ikut berdiri. Dia menghalangi langkah kakiku dan juga Ken. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Aku sudah sangat lelah, apa dia tidak bisa melihat raut wajahku yang sudah sangat kelelahan?


“Kalian seperti dua orang yang sedang berkencan. Apa itu tidak menjadi masalah?”


“Apa itu menjadi masalah untukmu?” balas Ken dengan penuh amarah.


Aku menatap Ken. Rahangnya mengeras. Aku harus membawa Ken keluar sekarang atau dia akan memukul Kevin.


“Tidak. Hanya saja hubungan kalian seperti sepasang kekasih. Dan aku rasa itu tidak baik untuk Fanya dan juga untukmu. Akan banyak laki-laki yang menghindari Fanya karena kamu selalu berada di sampingnya dan akan banyak wanita yang berhenti mendekatimu karena kamu selalu menghabiskan waktu dengan Fanya.”


Ken semakin mengeraskan rahangnya. Bahkan genggaman tangannya sekarang mengeras. Aku ingin memekik karena jariku seperti akan patah tetapi melihat wajah Ken yang sangat marah membuatku mengurungkan niatku.


“Apa yang kamu tahu tentang kami?” balas Ken menahan amarah yang sudah memuncak di kepalanya.


“Itu yang Sabrina ceritakan padaku lewat e-mail.”


Jantungku, aku tidak tahu jika rasanya akan sesakit ini. Ken menatap ke arahku. Tuhan, jangan sekarang. Kumohon beri aku kekuatan agar tidak pingsan sekarang. Kumohon. Beri aku sedikit waktu, tidak, kumohon beri aku kekuatan sampai Ken mengatakan apa yang harus dia katakan.


“Sabrina? Ah… apa kamu masih berhubungan dengan Sabrina? Kamu tahu, bagaimana mungkin orang yang sudah meninggalkanku dan Fanya selama lima tahun bisa tahu segalanya hanya dengan mengamati dalam waktu 1 minggu? Aku dan Fanya seperti saudara yang saling mencintai? Ya.. karena aku kakaknya dan Fanya adikku.


Kamu, sama sekali tidak memiliki hak untuk berbicara apapun tentang Fanya. Kamu bisa berbicara apapun sesukamu tentangku tapi tidak tentang Fanya. Sekarang aku membenci fakta dimana kamulah orang yang bisa membuat pelangi dimata Fanya kembali. Aku harap ini menjadi pertemuan terakhir kita. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Jangan mengomentari kehidupan Fanya tanpa tahu bagaimana rasanya menjadi dirinya.”


Kevin terdiam. Jennifer hanya menghembuskan nafas dengan sangat panjang. Aku tahu, Jennifer pasti merasa berada di tempat yang salah. Akupun merasa begitu, aku merasa jika aku yang membiarkan Kevin tetap berada di hatiku adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku terlalu bodoh dengan terus berharap pada harapan yang kubuat sendiri. Aku terlalu berani untuk terus mencintainya seakan aku menganggapnya sebagai takdirku. Keberanian yang kubuat justru membuatku merasakan sakit yang sangat dalam dan juga menimbulkan rasa sakit untuk keluargaku sendiri.


“Ken, pelangi di mataku bukanlah milik Kevin. Pelangi di mataku adalah milikmu, Sarah, ayah, dan ibu. Sekarang, ayo kita pergi. Sudah tidak ada gunanya lagi kita di sini. Rencana awal kita adalah untuk liburan bukan untuk berdebat dengan orang yang bahkan sudah tidak kita kenal lagi. Ayo kita kembali ke apartemen,” ucapku.


...-----...