
“Apa kamu sedang menjaga jarak?” tanyaku begitu melihat Kevin tetap diam di samping pintu.
Kami berdua memutuskan untuk pindah dari apartemen dan tinggal bersama dengan anggota keluarga yang lain. Lebih tepatnya ayah yang memaksa kami untuk meninggalkan apartemen. Tentu aku paham alasannya, ayah ingin memonitoriku selama 24 jam.
“Aku…”
Kevin kembali terdiam setelah mengucapkan satu kata itu. Dia menatapku yang sedang terbaring dengan infus menancap di tanganku. Selama beberapa hari terakhir, aku tidak bisa memasukkan makanan apapun ke dalam tubuhku karena aku langsung memuntahkannya begitu makanan itu menyentuh lidahku. Kondisi yang selalu dirasakan wanita hamil lainnya hanya saja kondisiku lebih parah sehingga mau tidak mau aku harus menerima nutrisi parenteral dan juga beberapa antiemetik untuk mengatasi rasa mual dan muntah yang aku rasakan.
Aku ingin memulai kembali percakapan dengan Kevin tetapi aku sudah sangat lemas. Aku tidak memiliki tenaga untuk membuka mulutku kembali dan Kevin tahu hal itu. Kami berdua hanya mengobrol selama 10 menit selama lima hari terakhir ini karena dia tidak bisa menatap mataku lebih dari itu. Lebih seperti dia baru mengingat kehamilanku setelah 10 menit kami berbicara dan semua itu cukup menyiksaku.
“Apa kamu masih membutuhkan waktu?” tanyaku setelah berhasil mengumpulkan semua tenaga yang aku miliki.
“Tidak,” ucapnya sembari berjalan ke arahku.
Kevin langsung menggenggam kedua tanganku. Dia kembali tidak menatap mataku dan hanya memandangi tanganku yang sekarang berada di tangannya. Dia memegang cincin pernikahan yang sekarang menjadi begitu longgar di tanganku.
“Baru lima hari dan kamu sudah banyak kehilangan berat badan.”
Kali ini Kevin menatapku. Aku tidak bisa mengartikan arti tatapannya.
“Kamu menyesal?”
“…”
“Kevin, apa kamu mau menyentuh perutku?”
Kevin terdiam tidak mereaksi pertanyaanku. Aku mengambil tangan miliknya yang sedari tadi menggenggam tanganku dan meletakkannya diatas perutku. Aku terus memegangi tangannya karena aku tahu dia akan langsung menarik tangannya begitu menyentuh perutku. Dia masih belum bisa menerima janin yang sekarang berada di perutku. Dia dan ayah masih menyebut janin ini dengan ‘sesuatu’.
“Apa yang harus aku lakukan Fanya? Semua ini menyiksaku. Perasaan benci ini mulai tumbuh, aku tidak bisa Fanya.”
“Fokus padaku seperti yang kamu lakukan selama ini. Jika kamu belum bisa melihat anak ini, maka fokus padaku. Anggap tidak ada kehidupan lain di dalam perutku.”
“Bagaimana aku bisa melakukan itu saat aku melihatmu menderita seperti ini karena 'sesuatu' ini.”
“Apa aku terlihat menderita?”
“Tidak, kamu terlihat bahagia bahkan lebih bahagia dari hari pernikahan kita dan karena itu aku membenci 'sesuatu' ini. Bagaimana bisa kamu lebih mencintai 'sesuatu' yang membahayakan hidupmu daripada mencintaiku?”
Kevin menarik tangannya dari atas perutku. Dia beranjak dari tempatnya duduk dan hendak berjalan meninggalkanku sebelum aku menahannya. Dia kembali duduk begitu melihat tangan kecilku menyentuh jemarinya. Aku memainkan jemari tangan miliknya dan membuatnya langsung menggenggam tanganku dengan erat.
“Aku tidak akan memaksamu untuk menyukai anak ini begitu lahir karena aku tahu fokusmu akan lebih padaku saat itu terjadi. Aku juga tidak akan memintamu untuk langsung mencintai anak ini. Aku tahu kamu akan membutuhkan waktu tetapi aku mohon padamu selama apapun waktu yang kamu butuhkan, aku mohon jangan membohongi dirimu saat kamu sudah membuka hatimu untuknya. Jangan biarkan dia menunggu begitu lama saat hatimu sudah mencintainya.”
“…”
“Kevin?” panggilku begitu mendapati Kevin yang terdiam sembari berpikir.
“Apa kamu tahu alasanku akhirnya mempertahankan kehamilanmu?” tanyanya membuatku sedikit terkejut.
“Karena kamu tidak ingin aku menyesal seumur hidupku?”
“Aku mencoba memahamimu lebih dalam. Kamu juga dihadapkan pada pilihan antara nyawamu atau anak kita. Aku menyadari bukan aku yang paling tersiksa dari pilihan yang Tuhan berikan tetapi kamu, Fanya. Kamu bahkan dihadapkan pada tiga pilihan antara nyawamu, anak kita, atau diriku. Aku bersyukur kamu memilih diriku diatas semuanya tetapi aku tahu memilihku adalah rasa sakit terbesar yang akan kamu terima. Kamu lebih rela mengorbankan nyawamu untuk anak kita karena kamu juga melihat ke dalam hatiku ada sebuah keraguan. Maafkan aku karena ragu dan tidak langsung memilihmu.”
“Aku tahu keraguanmu muncul karena diriku, karena anak kita separuhnya adalah diriku. Maafkan aku karena memanfaatkan keraguan yang kamu miliki. Maafkan aku karena pada akhirnya kamu mengikuti keinginanku untuk kesekian kalinya. Maafkan aku karena tidak membiarkanmu memilihku. Maafkan aku karena membuatmu seakan-akan memiliki pilihan. Maafkan…..”
Kevin langsung memelukku untuk menghentikkan mulutku mengeluarkan lebih banyak kata maaf. Dia hanya tidak ingin mendengar kata ‘maaf’ muncul dari mulutku mulai detik ini. Aku tahu itu tetapi aku harus mengatakannya, aku ingin mengatakannya secara langsung betapa bersalahnya diriku padanya.
“Aku mencintaimu.”
Tok..tok…
“Apa Ibu menganggu kalian?”
Kevin melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah ibu yang kesulitan membawa beberapa perlengkapan mandi. Kevin langsung meninggalkan ruangan begitu selesai membantu ibu. Sekarang ibu mengusap wajahku dan memegang perutku selama beberapa detik sebelum akhirnya menatap lembut ke arahku.
Bagiku support system utamaku adalah ibu, beliau yang selalu menemani dan menerima semua keputusanku. Beliau tidak masalah untuk kehilangan diriku dan beliau berusaha untuk mencintai calon cucunya. Hanya ibu yang selalu menemaniku membahas hal-hal berbau perlengkapan anak dan hal lainnya seputar bayi. Sarah masih belum bisa dan dia masih berusaha menerima semua ini. Untuk saat ini, hanya ibu yang merasakan apa yang aku rasakan dan aku bersyukur karena setidaknya ada satu orang malaikat yang mendukung dan menyemangatiku.
“Saat Ibu mengandung kalian bertiga, Ibu hampir menyerah. Ibu hampir ingin melepaskan Ken karena Ibu merasa tidak sanggup dan Ibu pernah merasa terpaksa untuk mempertahan Ken, jangan beri tahu Ken akan hal ini.”
“Fanya tidak akan memberi tahu Ken,” jawabku diikuti tawa kecil.
Ibu menatap jauh ke dalam mataku seolah berusaha menemukan kebenaran dari kebahagiaan yang aku rasakan. Aku ingin melihat seperti apa mataku saat ini, setiap orang yang masuk ke dalam kamarku selalu mencoba menyelami kebahagiaan yang sedang aku rasakan saat ini seolah mereka mengharapkan kebahagiaan yang terlihat di mataku hanya sebuah kebohongan. Aku takut dan sedih sama halnya dengan mereka tetapi aku lebih merasakan kebahagiaan dalam diriku, seperti akhirnya aku menemukan apa yang aku inginkan walaupun aku harus mengorbankan semuanya.
“Jika Fanya merasa sudah tidak sanggup, tidak masalah untuk menyerah. Tidak ada yang salah dengan menyerah, menyerah tidak selamanya menunjukkan ketidakmampuan Fanya tetapi menyerah bisa membuat Fanya menemukan pintu kesempatan lainnya.”
“Tetapi Fanya tidak boleh menyerah bukan?”
“Siapa bilang? Fanya boleh menyerah kapanpun Fanya mau. Ibu di sini mendukung setiap keputusan yang akan diambil Fanya.”
“Ibu, hanya ini kesempatan pertama dan terakhir dalam hidup Fanya, jika Fanya menyerah, tidak akan ada pintu lain yang terbuka.”
“Sayang…”
“Ibu, Fanya akan mengatakan ‘sakit’ saat Fanya merasakan sakit. Fanya juga akan mengatakan ‘tidak sanggup’ saat Fanya merasakan hal itu tetapi Fanya tidak bisa menyerah. Karena itu Fanya ingin Ibu selalu di sisi Fanya, mendukung setiap langkah Fanya dan memeluk Fanya,” potongku.
“Pasti, Ibu akan selalu di sisi Fanya.”
“Boleh Fanya tanya satu hal?”
Ibu hanya mengangguk.
“Bagaimana perasaan Ibu begitu tahu Fanya lebih memilih anak Fanya?”
“Adakah yang salah dengan Fanya lebih memilih anak Fanya?”
“Ibu akan kehilangan Fanya.”
Ibu terdiam selama beberapa detik hingga akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Beliau berjalan menuju jendela dan membuka tirai yang selalu tertutup karena aku tidak ingin melihat langit. Aku takut begitu aku melihat langit rasa ingin keluar dari rumah akan semakin tinggi. Aku hanya ingin menjaga kondisi tubuhku dengan baik hingga tidak ada yang perlu dicemaskan oleh Kevin dan kedua ayahku. Ibu membalikkan tubuhnya menghadapku yang sedang menatap langit. Sangat tenang ternyata untuk melihat langit biru setelah beberapa hari tidak melihatnya.
“Ibu ingin menjadi egois seperti ayah, Ibu juga ingin lebih memilih Fanya karena Fanya adalah anak Ibu tetapi Ibu tersadar jika Fanya sama halnya dengan Ibu yang akan memilih dan memprioritaskan anaknya. Jika Ibu saja boleh memilih anak Ibu kenapa tidak dengan Fanya? Ibu tidak akan kehilangan Fanya, Fanya selamanya akan ada di dalam hidup Ibu apapun yang terjadi dan sejauh apapun Fanya pergi.”
“Terima kasih dan maafkan Fanya.”
“Tidak, sayang. Ibu yang seharusnya meminta maaf karena membiarkan Fanya sendirian saat dihadapkan pada keputusan itu. Maafkan Ibu yang tidak menepati janji Ibu untuk selalu berada di sisi Fanya,” ucap Ibu sembari berjalan mendekatiku dan mengelus lembut rambutku.
“Karena itu, jika Fanya merasa tidak akan bisa membuka pintu manapun setelah ini maka cukup buka jendela yang Fanya rasa bisa membukanya. Ibu yakin akan banyak jendela-jendela yang mengisi hidup Fanya dan Fanya bisa membukanya. Tetapi jika Fanya tetap tidak bisa membuka satupun jendela, Fanya bisa meminta tolong Ibu untuk membukanya karena Fanya tidak sendirian menghadapi semua ini,” lanjut Ibu.
...-----...