H(Our)S

H(Our)S
H(our)s



"Sarah," panggilku terbata-bata.


"Kumohon jangan bicara apapun."


Kugenggam erat tangan Sarah yang terus bergetar. Dia sedang mencoba menenangkan dirinya saat ini dan aku juga sedang berusaha sekuat tenaga agar kesadaran ku tidak hilang. Saat ini tubuh bagian bawahku dipenuhi dengan darah, membuat dress putih panjang yang aku kenakan berubah menjadi warna merah. Bukan hanya dress-ku yang berubah warna, tangan Sarah juga dipenuhi noda darah milikku. Aku rasa saat ini jantung miliknya berdetak sama kencangnya dengan milikku.


Pagi tadi saat ibu dan Sarah akan memandikanku, saat aku berdiri dari kursi rodaku, kakiku tidak sengaja menyentuh tumpahan sabun. Sabun yang licin membuat tubuhku kehilangan keseimbangan dan langsung membuatku terjatuh. Air ketubanku langsung pecah, membuat cairan berwarna bening dan merah mengalir keluar dari tubuhku. Ibu dan Sarah langsung panik memanggil Kevin dan ayah. Kevin menemaniku selama beberapa menit untuk memastikan jika aku tetap terjaga sebelum akhirnya dia pergi dahulu ke rumah sakit bersama dengan Ayah.


Detak jantungku saat ini berdetak secara tidak beraturan. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Pandanganku mulai kabur dan mataku tidak bisa lagi melihat cahaya lebih dari 5 detik. Aku harus menutup mataku setiap kali cahaya mengenai mataku. Ibu dan Sarah terus berada di sampingku, aku bisa melihat betapa ketakutannya mereka. Ibu yang selama ini tenang perlahan mulai meneteskan air mata yang langsung dihapus olehnya. Ken berada di kursi depan ambulans, beberapa kali aku bisa mendengar suaranya yang meminta supir untuk lebih cepat dan hati-hati dalam mengemudi ambulans yang membawaku. Suara Ken memang terdengar sama seperti sebelumnya tetapi aku bisa mendengar sedikit getaran ketakutan di suara.


"Sarah," panggilku untuk kedua kalinya.


"Aku mohon jangan katakan apapun, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Ayah dan Paman Frank akan....."


Sarah menghentikan kalimatnya, digantikan oleh air mata yang perlahan jatuh menghiasi wajahnya yang sudah merah padam. Aku kembali mengeratkan genggaman tanganku sekuat yang aku bisa, berusaha untuk memberikan kekuatan terakhirku kepada Sarah. Aku tidak boleh ikut menangis dan mengatakan betapa menyakitkan apa yang aku rasakan saat ini atau ibu dan Sarah akan selalu mengingat kenangan ini. Kenangan yang mungkin akan menghantui mereka.


"Sarah, novel yang selalu aku baca di atas meja riasku. Aku titipkan itu padamu," ucapku akhirnya.


Ibu mendekatkan dirinya kepadaku, beliau berdoa di sampingku dan menggenggam tangan kananku yang penuh dengan selang infus. Air mata sudah tidak muncul lagi di mata penuh kasih itu. Sekarang hanya kasih sayang yang muncul dan terus ibu berikan kepadaku melalui kedua matanya. Ibu mengeratkan genggaman tangannya setiap kali aku menutup mataku seolah memintaku untuk bertahan sebentar lagi. Bertahan untuk sesuatu yang selama hampir 8 bulan ini aku usahakan.


"Fanya bisa mengatakan sakit atau tidak sanggup jika memang saat ini Fanya merasakan keduanya. Fanya ingat bukan jika Ibu berjanji akan terus berada di sisi Fanya? Katakan Sayang jika memang Fanya kesakitan dan tidak sanggup."


"Ibu, Fanya sangat kesakitan dan Fanya ingin menyerah sekarang. Fanya ingin membuka pintu kesempatan lain."


Ibu terdiam dan hanya mengangguk setelah satu menit terdiam. Ibu sangat tahu apa maksud dari kata 'menyerah’ yang aku ucapkan saat ini. Satu bulan yang lalu, aku mengatakan kepada ibu jika satu-satunya kata 'menyerah' yang aku ucapkan dikemudian hari akan memiliki arti aku ingin membuka pintu kesempatan lainnya, pintu untuk tidak merasakan rasa sakit, pintu yang tidak akan membuatku kembali mengatakan 'aku tidak sanggup', dan pintu yang akan membawaku kembali kepada Tuhan. Aku sudah sangat ingin menyerah tetapi bayi di dalam kandunganku harus aku keluarkan dahulu. Aku harus melihat anakku lahir dengan selamat sebelum menyerah.


"Ibu," panggilku terbata-bata. Nafasku sudah mulai sesak kembali walaupun oksigen sudah diberikan kepadaku.


"Kumohon Fan..."


"Sarah, biarkan Fanya bicara," potong ibu.


"Ibu...." ucap Sarah sembari menangis.


Ibu hanya mengangguk seolah mengatakan semua akan baik-baik saja kepada Sarah.


"Selamatkan anak Fanya apapun yang terjadi."


Sekali lagi hanya anggukan yang ibu berikan. Aku tahu aku sangat egois untuk meminta ibuku memilih anakku dibandingkan diriku. Aku tahu akan sangat menyakitkan untuk ibu tetapi aku tidak memiliki pilihan lainnya. Aku sudah sangat kesulitan bernafas dan jantungku berdetak sangat kencang seakan-akan bisa pecah kapan saja. Aku sudah mencapai batasku dan aku tidak akan bisa membuat orang lain mempertahankanku. Hanya ibu yang akan didengar oleh ayah dan Kevin karena bagi mereka ibu adalah satu-satunya orang yang paling mengenal dan memahami diriku.


Ken membuka pintu belakang ambulans yang membawa kami. Dia membantu petugas lainnya mengangkat tubuhku ke atas brankar rumah sakit. Aku tidak bisa melihat semuanya dengan jelas, aku hanya melihat wajah Ken yang mengeras. Dia mencoba memegang tanganku tetapi dia langsung melepaskannya begitu tangannya menyentuh tanganku yang begitu dingin.


Aku sudah tidak bisa menahan kesadaranku lebih lama dari ini. Pandanganku sudah kabur. Saat aku akan mencoba menutup mataku, sebuah tangan memegangku dengan sangat erat. Tangan itu berusaha membawaku kembali kekesadaranku. Tangan yang untuk kali pertama menunjukkan keinginannya akan hidupku. Kevin mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Semua akan baik-baik saja. Aku akan menyelamatkanmu."


Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak ingin dia mengatakan sesuatu yang tidak akan bisa dia lakukan. Aku tidak ingin dia akan menyalahkan dirinya untuk kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Aku hanya ingin dia mengatakan sesuatu yang tidak akan membebaninya di masa depan.


"Aku mencintaimu, Kevin. Sangat mencintaimu," ucapku sangat pelan.


Kevin menarik tubuhnya menjauhiku dan menghindari tatapan mataku selama beberapa detik. Ken menggantikan Kevin menggenggam tanganku, memberikanku kekuatan yang bahkan sudah tidak bisa aku rasakan lagi. Tubuhku dan hatiku sudah mencapai batas, aku tidak bisa menambah batas lagi. Aku tidak bisa menambah rasa sakit yang sekarang sedang aku rasakan. Aku benar-benar ingin menyerah.


Kulihat ayah, Paman Frank, dan Dokter Claire keluar dari ruang operasi. Mereka berbincang sebentar dengan ibu. Ibu yang saat ini sedang menatapku dengan ragu. Aku tahu, saat ini ibu sudah mengetahui keadaanku. Aku tahu saat ini aku membuat ibu harus mengambil keputusan yang sulit, keputusan yang aku paksaan untuk ibu memilihnya.


"Selamatkan anak Fanya."


"Ibu?!!"


"Sayang?!"


Hanya Ken yang tidak bereaksi dengan ucapan ibu. Dia tetap menggenggam tanganku dan menatap lembut ke arahku. Tatapan matanya seolah memberi tahuku jika dia tidak akan meminta apapun lagi, dia sudah bahagia dengan mengetahui fakta jika aku juga bahagia. Dia menatap lembut diriku seolah mengatakan bahwa setelah ini, semua akan baik-baik saja dan aku tidak akan merasakan sakit lagi. Dia menatap lembut diriku seolah berterima kasih karena aku sudah hadir dan mengisi separuh hidupnya. Dia bahkan tidak meneteskan satu air matapun, sesuatu yang aku takutkan. Dia akan menyimpan rapat-rapat rasa sakit yang saat ini dia rasakan, rasa sakit yang tidak akan pernah diketahui orang lain selain dirinya sendiri.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah ibu yang sedang berjalan mendekat ke arahku. Aku sangat ingin mengucapkan betapa berterima kasihnya diriku kepada beliau tetapi hanya senyuman yang bisa aku berikan. Senyuman yang mungkin lebih seperti sebuah ucapan perpisahan.


"Biarkan Fanya pergi. Kevin, saat kamu memutuskan untuk mempertahankan anak kalian, kamu pernah mengatakan tidak ingin mempertahankan Fanya karena dia tidak ingin dipertahankan. Selama kehamilannya, apakah kamu bisa membuat Fanya ingin dipertahankan?"


Kevin terdiam menatap lembut ke arahku, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan ibu. Jawaban yang sudah dia tahu dari dulu dan jawaban yang tidak pernah ingin dia katakana secara jelas. Hanya gelengan kecil yang Kevin berikan sebagai jawaban, jawaban yang tidak bersuara.


"Kita harus membawa Fanya sekarang ke dalam ruang operasi," potong ayah yang langsung mendorong brankar. Aku tahu jika ayah tidak ingin mendengar ucapan ibu lebih lanjut, ucapan yang mungkin terdengar seperti omong kosong bagi ayah saat ini.


Aku melepaskan tangan Ken, tangan yang mungkin akan aku genggam untuk kali terakhir dalam hidupku. Sarah berlari mengikuti tubuhku yang mulai memasuki ruang operasi. Ken harus menahan tubuh Sarah agar tidak masuk ke dalam ruang operasi. Untuk terakhir kali aku menyapa wajahnya, wajah yang berubah hanya dalam hitungan jam. Wajah yang selama ini menunjukkan betapa kuat dirinya, sekarang berubah menunjukkan betapa lemah dirinya. Wajah yang saat ini menunjukkan betapa hancur dirinya.


Ibu hanya diam di tempat setelah mengatakan kalimat yang sekarang perlahan mengisi hati ayah. Aku rasa bukan hanya hati ayah, tetapi juga hati Kevin. Saat ini tubuh Kevin memang menemaniku tetapi aku tahu dirinya sedang tidak berada di sampingku. Dirinya ikut pergi bersama dengan pikirannya.


"Bolehkah Fanya hanya dianastesi lokal?" tanyaku sekuat tenaga.


Semua orang yang berada di ruang operasi terdiam menunggu keputusan ayah dan Paman Frank. Aku rasa semua yang berada di ruang operasi sudah tahu keputusan apa yang aku ambil. Keputusan yang mungkin sangat ditentang oleh ayah dan suamiku. Dokter Claire melihat ke arah Kevin, aku rasa sekarang semua keputusan ada di tangan Kevin. Kevin hanya menganggukkan kepalanya.


Seorang perawat memberikan satu suntikan kepadaku dan Dokter Claire mulai membedah perutku begitu memastikan aku tidak merasakan sakit apapun dibagian rahimku. Aku tidak tahu apa lagi yang sedang terjadi di ruang operasi ini karena pandanganku semakin kabur. Beberapa peralatan di ruang operasi berbunyi, menandakan tanda-tanda vitalku yang memburuk. Beberapa suntikan kembali disuntikkan ke dalam tubuhku tetapi tanda-tanda vitalku tetap tidak membaik. Aku tahu, aku sangat tahu betapa tubuhku sudah tidak bisa menahan semua ini. Tubuhku sudah lelah dengan semua obat yang masuk ke dalamnya. Tubuh yang sudah berjuang selama 25 tahun hidupku.


Kualihkan pandanganku ke Kevin yang sedang terdiam menatapku.


"Kevin," panggilku dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki.


Kevin membungkukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan mulutku. Dia mencoba mendengar setiap ucapan yang akan aku keluarkan dengan suara yang sangat kecil. Bahkan mungkin suara yang akan sulit untuk didengar olehnya.


"Aku sangat kesakitan."


"Jangan katakan apapun."


"Aku ingin terbang bebas."


"Fanya," panggilnya putus asa.


"Aku ingin memberi tahumu beberapa rahasia."


"Apa itu?" tanyanya diikuti dengan tatapan beberapa orang yang berada di ruang operasi.


"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu bahkan saat di hatiku ada orang lain. Kamu selalu dan selamanya akan ada di dalam hatiku. Kamu menjadi salah satu kesempurnaan dalam hidupku yang penuh dengan kemalangan."


"Aku tahu."


"Setiap jam yang aku habiskan denganmu adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan. Setiap jam yang kamu habiskan untuk mengusap lembut perutku adalah kebahagiaan terindah yang aku rasakan selama kehamilanku. Dan setiap jam aku selalu mencintaimu sebagai bagian dari hidupku. Terima kasih."


"...."


Kevin menarik tubuhnya kembali menjauhiku. Dia memalingkan wajahnya selama beberapa detik hingga seorang perawat mendatanginya. Sekarang dia menatap Dokter Claire yang sedang menunggunya, menunggunya untuk melihat anak kami. Kevin mendekati Dokter Claire dan kembali berjalan ke arahku dengan membawa seorang bayi yang selama ini aku perjuangkan. Seorang bayi yang sangat indah, aku bisa melihat perpaduan wajahku dan Kevin padanya. Aku bisa melihatnya dengan kedua mataku. Kenangan yang akan aku ingat dan kenangan terakhir yang akan kurindukan.


"Sangat indah," ucapku.


"..."


"Ayah," panggilku begitu melihat ayah sedang menatapku.


"Ada apa, Sayang?"


"Dia sangat mirip dengan Fanya. Fanya yakin Ayah akan mencintainya sebesar cinta Ayah kepada Fanya. Jadi, jangan salahkan diri Ayah, Ayah yang mempertahankan dan merawat hidup Fanya tetapi Tuhan yang memberikan dan mengambil hidup Fanya. Jangan menyesal...." ucapanku terhenti diikuti dengan bunyi peralatan medis.


"Fanyaaaaa?!"


Aku menutup kedua mataku. Aku sudah tidak sanggup lagi. Kevin langsung memberikan anak kami ke Dokter Claire untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Aku bisa merasakan dinginnya tangan Kevin yang sekarang menyentuhku. Baru kali ini aku bisa merasakan suhu tubuh yang sama dengannya.


Kevin meremas tanganku. Aku tahu tahu saat ini dia sedang berperang melawan dirinya sendiri. Aku tahu saat ini dia sedang mencoba mengambil keputusan tersulit dalam hidupnya. Keputusan yang tidak pernah ingin dia buat dalam hidupnya. Keputusan yang tidak pernah dia kira akan hadir dalam hidupnya. Dia melepas remasan tangannya setelah 5 detik dan menghembuskan nafasnya dengan sangat dalam dan panjang.


"Ayah, jika saat operasi jantung Fanya berhenti untuk kali pertama, biarkan saja dan hentikan operasi. Biarkan Fanya berisitirahat, Ayah."


"Kevin..."


"Dia sudah berjuang selama ini, biarkan dia beristirahat, Ayah."


Air mata mengalir keluar dari mataku yang sudah menutup. Kevin terus memegang tanganku tanpa mencoba melepaskannya. Dia mengusap lembut rambutku dan mencium keningku untuk waktu yang sangat lama. Ciuman yang akan selalu aku rindukan dimanapun aku berada.


Tuhan, akhirnya aku bisa menemui-Mu dengan wajah penuh senyuman.


...-----...