H(Our)S

H(Our)S
Kebenaran



Sudah satu minggu sejak kejadian itu, Ken sama sekali tidak membahasnya. Dia selalu mengalihkan pembicaraan saat aku mencoba memulai topik itu. Aku tidak tahu apa yang Ken pikirkan. Aku selalu berusaha memahami jalan pikirannya tetapi tetap saja aku tidak bisa.


Kuulurkan tanganku ke depan. Salju kembali


turun walaupun sudah tidak sebanyak mingu-minggu kemarin. Ken meninggalkanku begitu saja di stasiun. Aku tidak tahu apa yang terjadi tetapi begitu dia melihat handphone miliknya, dia langsung berlari seperti suatu hal buruk terjadi.


Perlahan kulangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak. Liburan ini sama sekali bukan liburan yang aku bayangkan. Aku mengira akan mendapat banyak kebahagiaan di liburan kali ini tetapi kenapa justru hal seperti ini yang aku dapatkan. Kenapa otakku terus menerus mengulang kenangan di masa lalu, kenangan yang sangat ingin kulupakan.


Kuhentikan langkahku begitu melihat seseorang yang tidak asing. Saat ini Ken sedang berjalan dengan seorang perempuan. Perempuan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


Kuputuskan untuk membuntuti Ken bersama perempuan itu. Kulihat Ken menggenggam jemari tangan perempuan itu. Rasanya berbeda. Entahlah, sekarang aku merasa genggaman erat yang selalu Ken berikan padaku hanyalah genggaman yang tidak berarti. Ken dan perempuan itu berhenti disebuah toko. Aku tidak tahu toko apa itu tapi sepertinya toko peralatan melukis. Sampai saat ini aku belum melihat wajah perempuan itu.


“Ken, sampai kapan kamu akan terus bersama Fanya? Tidak bisakah kamu meninggalkan dia dan bersamaku saja?”


Pertanyaan perempuan itu menghentikan langkahku. Siapa sebenarnya perempuan itu?Bagaimana bisa dia mengajukan pertanyaan seperti itu?


Ken pasti akan sangat marah.


“Hm…….entahlah. Aku lelah bermain terus sebagai penjaganya," balas Ken sembari menyunggingkan senyum.


Apa ini? Ada apa dengan jawabannya?


Kenapa dia tidak marah seperti waktu itu?


Apa selama ini Ken tersiksa karena aku berada di dekatnya?


Apa selama ini Ken hanya berpura-pura membutuhkanku?


Apa selama ini Ken hanya berusaha menjaga perasaanku?


“Kapan kamu akan mengenalkanku kepada keluargamu? Aku harap kita bisa secepatnya bersama-sama tanpa ada gangguan dari Fanya.”


“Clara, aku harap hal seperti itu bisa terjadi. Aku sudah sangat muak menjadi penjaga yang tidak dibayar untuk mengurus Fanya. By the way, hanya ini yang ingin kamu beli? Atau ada lagi?”


Muak menjadi penjaga yang tidak dibayar?


Bagiku saat ini, Ken adalah seseorang yang sangat menakutkan. Seseorang yang sudah tidak aku kenal lagi. Seseorang yang selama ini membohongiku. Aku kira dia selalu berada di sisiku karena dia memang benar-benar ada untukku. Aku kira semua kalimat yang keluar dari mulutnya adalah sebuah ketulusan tetapi sekarang semuanya adalah kebohongan.


Apa Sarah juga merasakan hal yang sama dengan Ken?


Apa ayah dan ibu juga merasakan hal yang sama?


Apa mereka semua muak dengan penyakit jantungku ini?


Kuambil handphone di dalam tasku.


Dimana handphone-ku? Oh.. tidak, apa aku meninggalkannya di stasiun?


Kulangkahkan kakiku dengan cepat keluar dari toko. Tepat saat aku menginjakan kakiku keluar dari toko, seseorang menyodorkan handphone milikku. Seseorang itu terus menatap ke arahku. Dia tidak mengalihkan pandangannya dariku.


“Terima kasih,” ucapku sembari mengambil handphone milikku dari tangan laki-laki di hadapanku dengan ragu.


“Apa laki-laki yang kamu ikuti itu saudara kembarmu?”


“...”


“Apa dia sangat berarti untukmu?”


“Apa maksudmu?” tanyaku dengan takut.


“Aku hanya merasa kamu sedang dibohongi oleh kasih sayang palsu milik saudara kembarmu. Ketika berada di stasiun, dia langsung meninggalkanmu karena mendapat telepon dari perempuan yang aku rasa adalah kekasihnya dan sekarang kamu menguping pembicaraan mereka. Apa kamu baik-baik saja? Maksudku dengan penyakit jantungmu,” ucap laki-laki di depanku dengan sebuah senyum pahit terukir di wajahnya.


Bagaimana mungkin dia tahu tentang penyakit jantung milikku?


“Kamu tidak mengingatku sama sekali?”


Pertanyaan laki-laki itu berhasil menghentikan langkah kakiku.


Mengingat? Apa aku pernah bertemu dengannya?


Aku merasa tidak pernah bertemu dengan laki-laki ini, bagaimana mungkin dia mengajukkan pertanyaan yang sangat……..


Tunggu, laki-laki di hadapanku ini. Kuamati lagi wajah laki-laki itu.


“Yoshida Tanaka?” ucapku ragu.


“Secepat itukah kamu melupakanku?” balasnya dengan sebuah senyuman ramah tersungging di wajahnya.


Yoshida Tanaka, aku mengenalnya saat aku masih berada di Jepang. Dia selalu bermain denganku. Dia adalah laki-laki kedua setelah ayahku yang selalu memberikanku perlindungan saat aku masih kecil dan dia juga satu-satunya orang diluar keluargaku yang tahu tentang kondisi jantungku.


Yoshida Tanaka, cinta pertama Sarah. Sarah selalu mencoba bermain dengannya tetapi dia selalu menolak dan lebih memilih bermain denganku. Saat musim gugur di Jepang, atau mungkin saat usiaku tujuh tahun, Sarah bertanya kepada Yoshida, kenapa dia selalu bermain denganku. Saat itu aku mengira Yoshida akan menjawab karena tidak ada orang yang mau bermain denganku, tetapi aku salah. Jawaban yang Yoshida berikan membuat Sarah membenciku saat itu juga. Yoshida mengatakan dia merasa nyaman denganku dan dia menyukai betapa anggun dan feminimnya diriku, sifat yang sangat berbeda dengan Sarah.


“Apa yang kamu lakukan di sini, Yoshida?” tanyaku terbata-bata, tubuhku seperti memberi isyarat tidak bisa lagi menerima informasi baru sebanyak ini.


“Aku bersekolah di sini.”


Yoshida mendekat ke arahku. Dia memberikanku jaket tebal miliknya. Dia hanya diam di depanku dan menatapku. Entah kenapa aku merasa tatapan Yoshida berubah. Bukan lagi tatapan Yoshida yang penuh dengan keceriaan, sekarang tatapan miliknya hanya sebuah tatapan keceriaan yang kosong.


“Fanya?”


Kualihkan pandanganku mencari sumber suara yang menyebut namaku. Sekarang Ken berada sekitar satu meter di belakang Yoshida. Perempuan yang pergi bersama Ken terlihat salah tingkah begitu melihatku. Ken melepas genggaman tangannya. Kulihat perempuan itu sekali lagi, dia cukup cantik. Ah… akhirnya aku tahu seperti apa perempuan yang disukai oleh Ken.


Yoshida tetap menatap diam ke arahku. Aku tidak tahu apa tujuan Yoshida dengan terus menatap ke arahku. Aku tidak ingin tahu pertanyaan apa yang dia ingin ajukan kepadaku karena aku tahu pertanyaan seperti apa yang akan keluar dari mulutnya.


Apakah dia ingin tahu reaksiku setelah mendengar percakapan Ken dengan perempuan itu?


Apakah dia ingin tahu seberapa kuat aku menghadapi Ken setelah mengetahui semuanya?


Atau apakah dia ingin mengetahui bagaimana aku akan jatuh pingsan setelah ini?


“Bukankah aku sudah bilang agar kamu tetap menungguku di stasiun? Dan, siapa laki-laki di depanmu itu?” tanya Ken sembari berjalan mendekat ke arahku.


Kepalaku kembali pusing. Rasanya aku ingin pingsan detik ini juga. Bumi yang aku pijak berasa tidak berbentuk lagi. Tanpa kusadari tubuhku jatuh ke dalam pelukan Yoshida. Yoshida tetap diam tidak bergeming. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, mata Yoshida menatap jauh ke depan, dia sudah tidak menatapku yang sekarang berada di pelukannya.


“Fanya!!!” teriak Ken.


Kulihat Ken menjatuhkan semua barang belanjaan yang baru dia beli dan mengubah langkah kecil miliknya menjadi lari untuk menghampiriku. Bau parfum milik Yoshida ternyata sangat menenangkan. Violet, bau violet yang menenangkan. Ken mencoba menarikku dari pelukan Yoshida. Yoshida hanya menatap ke arahku dengan tatapan meminta sebuah kepastian, seolah bertanya apakah aku benar-benar ingin kembali bersama Ken. Aku tidak bisa melihat tatapan itu dengan jelas. Pandanganku mulai kabur.


“Jangan sentuh aku,” ucapku akhirnya.


Ken terdiam. Sekuat tenaga aku mencoba tetap sadar. Yoshida terus memegang tanganku. Apa dia takut aku akan jatuh lagi? Atau dia takut jika Ken bisa mengambilku darinya?


“Fan, aku……”


“Pergilah. Kamu bisa terus bersama perempuan itu sepuasmu. Jangan pikirkan aku. Berapa kali harus aku bilang untuk berhenti mengkhawatikanku? Aku membencimu, Ken. Sangat membencimu. Kamu selalu berada di sisiku setiap saat sampai aku mengira kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Sekarang aku sadar, aku benar-benar pengganggu dalam hidupmu. Pergi, kumohon pergi!!!” teriakku.


“Fanya, apa yang kamu maksud? Aku akan membawamu pergi. Ayo, udara di sini sangat dingin.”


Sepertinya tidak bisa dengan cara seperti ini. Ken, aku tidak ingin melakukan semua ini. Tapi, sepertinya aku harus mengatakannya.


“Aku mendengar percakapanmu dengan perempuan itu. Jangan pernah sentuh aku dengan tanganmu yang penuh dengan kepalsuan kasih sayang.”


Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi denganku. Aku kembali jatuh ke dalam pelukan Yoshida.


...-----...