
Perubahan dari title ‘anak perempuan ayah’ menjadi ‘istri seseorang’ bukanlah perubahan yang mudah. Banyak hal yang harus aku benahi sesaat setelah menjadi istri seseorang. Muncul tanggung jawab baru yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya tetapi aku sangat menyukai tanggung jawab itu. Seperti aku telah sepenuhnya menjadi seorang ‘wanita’.
Aku dan Kevin menikah tiga bulan yang lalu. Pernikahan yang awalnya ditentang oleh ayah karena ayah belum mau melepasku. Butuh waktu satu minggu untuk meyakinkan ayah bahwa aku sudah siap untuk menjadi istri Kevin, tentunya ibu yang terus membujuk ayah dan Kevin yang selama 24 jam berada di sisi ayah. Sebenarnya ayah setuju dengan pernikahan kami, ayah hanya tidak menyangka akan secepat ini. Aku rasa semua ayah di dunia ini tidak bisa seratus persen melepaskan anak perempuan mereka untuk laki-laki lain.
Pernikahan kami hanya dihadiri keluarga kecil kami, bahkan keluarga besar kami tidak kami undang. Pernikahan yang mungkin bukan impian setiap perempuan melihat betapa sederhana setiap rangkaian acara dan juga dekorasi. Kami menggunakan taman di belakang rumah, hanya menambah beberapa kursi dan hiasan bunga memenuhi altar tempat kami mengucapkan janji. Gaun pengantin yang aku gunakan adalah gabungan gaun pengantin ibu dan Tante Rachel, gaun pengantin klasik berwarna putih panjang. Bagian atas gaun pengantin adalah gaun pengantin milik ibu dan bagian bawah milik Tante Rachel. Gaun yang menutupi seluruh tubuhku dengan hiasan pita besar di bagian belakang dan juga hiasan brokat bergambar bunga edelweis disepanjang lengan, dada, serta bagian bawah gaun.
Persiapan pernikahan kami hanya 2 minggu, waktu yang cukup singkat dan membuat ayah sedikit kesal. Ayah menginginkan pernikahanku menjadi pernikahan yang mewah dan tidak pernah aku lupakan seumur hidupku tetapi aku menolak semua itu. Aku tidak ingin lelah di hari pernikahanku dan jatuh sakit keesokan harinya. Selama ini aku tidak memiliki pernikahan impian apapun jadi bagiku tidak masalah untuk melangsungkan pernikahan sederhana.
Aku mengundang Sabrina dan Daniel tetapi mereka tidak datang. Aku rasa masih sulit untuk keduanya bertemu langsung dengan Kevin. Mereka hanya mengirimiku kartu ucapan dan hadiah berupa satu set perlengkapan bayi. Aku dan Sarah langsung tertawa begitu membuka hadiah itu karena kami berdua bukan tipikal orang yang menginginkan anak begitu cepat setelah pernikahan, terutama diriku mengingat kondisiku yang tidak memungkinkan untuk saat ini. Berbeda denganku, Kevin menanggapi hadiah pemberian mereka dengan serius dan langsung menyembunyikannya atau mungkin membuangnya. Kevin tidak menginginkan seorang anak, aku tidak tahu hanya untuk saat ini atau selamanya. Dia hanya ingin aku untuk terus bersama dengannya bahkan jika kami bisa bersama selama puluhan tahun tanpa kehadiran seorang anak, hal itu tidak menjadi masalah baginya.
Pernikahan kami dilakukan di Berlin tepat 3 minggu setelah pernikahan Sabrina dan Daniel. Awalnya Kevin meminta agar kami melangsungkan pernikahan di London tetapi aku menolaknya karena aku ingin menikah di tempat dimana aku dibesarkan. Aku sangat tahu alasan Kevin meminta untuk menikah di London, pernikahan adalah awal yang baru bagi kehidupan kami berdua sehingga dia ingin melangsungkannya di tempat baru, di tempat dimana kami berdua tidak merasakan rasa sakit selama bertahun-tahun dan di tempat dimana kami memutuskan akan melanjutkan hidup kami.
Kami sekeluarga termasuk Stephanie dan Bobby sekarang menetap di London. Ayah sekarang bekerja di rumah sakit milik keluarga besar, lebih tepatnya milik kakek dan nenekku. Untuk tempat tinggal kami saat ini, hanya aku dan Kevin yang memutuskan untuk tinggal di apartemen, selebihnya tinggal bersama ayah dan ibu di rumah yang selalu mereka tempati setiap kali berkunjung ke London. Hanya berjarak 10 menit antara apartemen kami dengan rumah ayah dan ibu.
Dan juga, saat ini Kevin sedang mempersiapkan diri untuk ujian spesialis.
“Maafkan aku, aku akan pulang larut malam lagi,” ucap Kevin sembari mengecup keningku.
Dia merapikan meja makan dan menyempatkan diri untuk mencuci piring-piring kotor. Aku hanya mengamati sebentar sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arahnya dan memberikan sebuah pelukan. Musim dingin sudah lewat tetapi tetap saja aku kedinginan. Setelah aku menyukai musim dingin, semua musim menjadi dingin untukku. Dinginnya musim dingin seperti menyatu dengan jiwaku dan tidak mau melepaskanku begitu saja.
“Haruskah hari ini aku tidak ke perpustakaan?”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku ke punggungnya. Dia masih sibuk mencuci piring dengan kedua tangannya saat dia bisa memasukkan piring-piring itu ke dalam mesin cuci. Sepertinya dia berhenti mencuci piring di dalam mesin sekitar 1 bulan yang lalu saat aku tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sejak saat itu, pelukan belakang seperti ini sudah menjadi rutinitas kami.
Alunan suara alarm mulai terdengar. Aku melepaskan pelukan dan langsung berjalan menuju kamar untuk menyiapkan keperluan Kevin. Aku kira setelah kami menikah, kamar yang kami tempati akan lebih banyak didominasi oleh barang-barangku tetapi kamar tempatku saat ini berada hanya dipenuhi buku-buku kedokteran dan alat-alat kedokteran. Aku mengambil tas Kevin yang tergantung dan mulai memasukkan buku-buku, bekal makan siang, dan vitamin.
Kevin mengetuk pintu dengan wajahnya yang cemberut. Aku memberikan tas miliknya, dia hanya diam mematung di depan pintu. Dia tidak akan mengambil tas miliknya jika aku tidak memberikannya langsung. Kulangkahkan kakiku ke arahnya dan langsung menarik tangan kanannya menjauhi kamar menuju pintu.
“Hati-hati dan semangat.”
“…”
“Oh… Hai Sarah," sapaku begitu melihat wajahnya.
Sarah langsung memelukku dan mendorong Kevin keluar dari apartemen. Kevin langsung menatap tajam Sarah dan hampir memukul kepalanya jika saja Bobby tidak muncul. Aku kembali melambaikan tanganku untuk kesekian kalinya agar Kevin pergi tetapi tetap saja dia diam mematung.
“Aku akan memberi tahumu semua yang Paman Frank ucapkan,” ucap Sarah sembari mendorong Kevin pergi untuk kedua kalinya.
“Haruskah aku menemanimu?”
“Pergilah. Ada aku, aku akan menjaga keduanya,” ucap Bobby.
Sebenarnya hari ini adalah jadwal kontrolku dengan Paman Frank, atau seharusnya aku menyebutnya ‘ayah’. Selama 3 bulan terakhir, Kevin yang menemaniku dan mendengarkan semua yang Paman Frank ucapkan. Baru kali ini dia harus melewatkan jadwal periksaku karena dia harus bertemu dengan temannya untuk belajar dan mengerjakan beberapa tugas.
Kevin kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah hanya untuk memelukku. Dia terus memelukku hingga Sarah secara paksa melepaskan pelukan kami dan kembali mendorong Kevin keluar rumah. Kali ini Sarah bahkan sampai melemparkan sepatu ke arah Kevin untuk membuatnya pergi.
“Ayo masuk,” ucapku.
“Wah, sudah satu minggu aku tidak ke apartemen ini.”
Bobby membantu Sarah melepaskan jaket yang dikenakannya. Hubungan mereka berdua semakin membaik setiap harinya. Bahkan ayah selalu bercerita mengenai Bobby yang sangat hebat bermain catur setiap kali aku menelepon.
“Kapan kalian akan menikah?” tanyaku membuka percakapan.
“Huh?” jawab Sarah dan Bobby bersamaan.
“Kalian tidak ingin menikah?”
“Satu tahun lagi mungkin,” jawab Sarah sembari menyalakan televisi.
“Apa kamu juga setuju dengan Sarah, Bobby?”
“Apapun untuknya.”
“Tapi kenapa satu tahun lagi? Bukankah selama ini kamu selalu ingin mengikat Bobby?”
“Melihat pernikahanmu dengan Kevin menyadarkanku akan satu hal. Selama ini hanya Bobby yang memahami dan aku selalu bertingkah semauku. Aku tidak sepertimu yang mencoba memahami Kevin dan memberinya ruang.”
“Terima kasih sudah memberi contoh untuk Sarah," ucap Bobby sembari tersenyum.
Aku memberikan secangkir gelas berisi jus ke Sarah dan Bobby.
Jika bukan karena penyakitku, aku sudah pasti berperilaku seperti Sarah karena saat kami masih kecil sifat kami tidak jauh berbeda. Sebenarnya aku mencoba memahami dan memberi ruang bukan hanya pada Kevin, aku melakukannya untuk semua yang dekat denganku. Aku berusaha memposisikan diriku diposisi mereka, apakah diriku akan baik-baik saja atau tidak jika orang yang aku sayangi bertingkah semaunya sendiri, walaupun pada akhirnya aku berperilaku semauku sendiri. Aku juga memberi ruang kepada mereka karena aku juga membutuhkan sebuah ruang.
Sebisa mungkin aku selalu menciptakan sebuah ruang dalam sebuah hubungan karena jika suatu saat salah satu dari kami merasa lelah, tetap akan ada sebuah ruang bagi kami untuk bernafas dan bukannya terus berada dalam hubungan yang menyesakkan yang pada akhirnya justru menyakiti kami.
“Tapi sepertinya kamu kecewa dengan perubahan Sarah,” ucapku.
“Sangat, sekarang dia tidak posesif padaku. Aku sudah terlanjur nyaman dengan keposesifannya. Aku harus bagaimana Fanya?”
Satu bantal mendarat di wajah Bobby dan mereka langsung bercanda satu sama lain. Sekarang aku merasa seperti orang ketiga diantara mereka. Aku sudah sering merasakannya selama dua tahun pelarianku hanya saja aura mereka berdua sangat jauh berbeda dari dua tahun yang lalu. Aura yang bisa membuat orang lain cemburu dan merindukan pasangannya hanya dengan melihat mereka.
“Nikmati waktu kalian. Aku ganti baju dahulu.”
...-----...