H(Our)S

H(Our)S
Teka-Teki



“Fanyaaaaaaaa~


I miss you so much. Kamu tahu, aku sangat senang, beberapa hari lalu saat Daniel mengantarkanku ke bandara, dia memintaku untuk kembali menjalin hubungan dengannya. Aku sangat senang. Dan lagi, keluarga Daniel dan keluargaku sudah saling setuju apabila kami melanjutkan ke hubungan yang lebih serius. Rasanya aku ingin memberitahu dunia bahwa Daniel hanyalah milikku seorang. Yah, setidaknya aku bisa mengatakan itu jika aku memiliki foto bersamanya lalu aku upload ke sosial media. Hahahaha… just kidding.


Oya, apa kamu masih memiliki kalung yang Daniel berikan waktu kita bertiga masih sering bersama? Kalung milikku sudah hilang entah kemana dan Daniel memintaku memakai kalung itu jika aku kembali ke Jerman. Jika kamu masih memilikinya, maukah kamu mengirimkan padaku model kalung itu? Ya ya ya ya ya ya, kumohon…


And by the way I miss you so much,


Love,


Sabrina “


Kalung?


Aku juga sedang mencari kalung yang Daniel berikan padaku. Aku tidak tahu dimana dan kapan terakhir kali aku melihat kalung itu. Kalung yang Ken berikan kepadaku saat itu memang mirip dengan kalung yang Daniel berikan tetapi tetap saja itu bukan kalung yang Daniel berikan. Ada sebuah perasaan yang tidak bisa aku jelaskan, seperti aku akan langsung tahu jika kalung itu berada di hadapanku, aku tidak akan ragu seperti saat Ken memberikan kalung kepadaku.


Ah… kenapa aku hanya mengomentari yang Sabrina tulis untukku di dalam kepalaku? Seharusnya aku menulis balasan untuknya bukan malah membuat pernyataan tidak jelas di dalam otakku. Kuamati kalender di depanku. Aku tahu dengan pasti kenapa Daniel menginginkan Sabrina memakai kalung itu. Sebentar lagi ulang tahun Daniel, dan di dalam liontin kalung itu terdapat sesuatu yang berhubungan dengan ulang tahun Daniel.


“E-mail dari Sabrina?”


“Ayah!!” teriakku.


“Jika saja aku tidak melihat Ayah masuk ke kamarku lewat layar laptopku, aku pasti sudah akan tertidur untuk waktu yang lama,” lanjutku dengan nada bercanda.


“Ayah melakukan hal itu karena Ayah tahu kamu sedang mengamati sesuatu lewat layar laptopmu.”


“Hm… baiklah. Ayah memang selalu menang dariku.”


Ayah duduk di sampingku. Beliau membuka-buka laci meja riasku. Sesuatu pasti terjadi hingga membuat ayah ragu untuk membicarakannya denganku.


“Apa yang Ayah cari?”


“Ayah hanya ingin memberimu sebuah alamat.”


“Alamat?”


“Pergilah bersama Ken.”


Aku mengamati secarik kertas yang Ayah berikan ke atas meja. Ini bukanlah alamat rumah seseorang, bukan juga tempat wisata, dan juga tempat ini berada di kota Heidelberg. Tunggu, sepertinya aku mengenal alamat ini.


“Apa ini universitas?” tanyaku dengan nada bingung.


Hanya senyuman khas milik ayah yang ayah berikan sebagai jawaban. Berarti jawaban untuk pertanyaanku sudah pasti benar. Tempat ini adalah universitas dan universitas yang berada di Heidelberg yang aku tahu hanya Universitas Ruprecht Karl Heidelberg. Pasti yang dimaksud ayah universitas ini.


“Universitas Ruprecht Karl Heidelberg?” tanyaku menebak.


“Ayah tidak akan pernah bisa menang darimu jika berhubungan dengan hal-hal seperti ini. Datanglah ke universitas itu dan carilah seseorang.”


“Ayah belum bisa memberitahumu untuk saat ini.”


“Ah? Lalu, bagaimana aku tahu jika itu dia?” rengekku.


“Kamu akan langsung mengenalinya. Jika kamu tidak bisa mengenalinya, masih ada Ken, dia pasti akan segera mengenali seseorang yang Ayah maksud dan juga Ayah ingin kamu pergi menghirup udara baru. Bagaimana?” balas ayah berusaha meyakinkanku untuk pergi.


Ayah membelai rambutku dan menarik nafas panjang. Aku tahu penyakit jantung ini membuat ayah harus ekstra hati-hati. Beliau harus bisa membagi waktu ketika beliau harus mengobati orang lain dan juga mengobatiku. Mungkin ayah sudah lelah dengan segala rutinitas yang harus selalu dilakukan. Pergi ke rumah sakit, mendapat telepon bahwa penyakit jantungku kambuh, kembali ke rumah, menjagaku, dan harus kembali ke rumah sakit karena mendapat panggilan darurat. Aku benar-benar merasa bahwa aku hanyalah beban dalam hidup ayah. Sungguh, aku membenci kenyataan ini tetapi mau tidak mau aku harus menerima semuanya.


“Apa Ayah sangat kelelahan?” tanyaku begitu ayah selesai membelai rambutku.


“Tidak!” balas ayah segera.


“Fan, Ayah hanya sedang membenci diri Ayah. Fakta bahwa Ayah bisa mengobati pasien jantung lainnya tetapi Ayah tidak bisa menyelamatkan anak Ayah sendiri, semua itu pasti sangat menyakitkan untukmu. Ayah hanya ingin fokus merawatmu. Ayah ingin mengundurkan diri dari rumah sakit, tapi kamu selalu menolak usul Ayah. Fanya, maafkan Ayah. Ayah benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus Ayah lakukan,” lanjut beliau dengan hati-hati.


“Ayah, apa Ayah tahu alasan kenapa Fanya selalu menolak usul Ayah? Fanya memiliki alasan dibalik semua itu. Ketika Ayah berada di rumah sakit, mengobati para pasien, bercanda ria dengan para pasien, Fanya melihat bahwa Ayah menikmati hidup Ayah sebagai seorang dokter. Bagaimana mungkin, Fanya yang merupakan anak Ayah bisa membuat Ayah tersenyum bahagia seperti itu, hanya senyum kesedihan yang akan muncul saat Ayah merawat Fanya. Kebahagiaan Ayah sebagai seorang dokter berada di rumah sakit dan Fanya tidak bisa memenuhi kebahagiaan itu jika Ayah memutuskan berhenti bekerja di rumah sakit hanya untuk merawat Fanya. Fanya tahu Ayah juga bahagia merawat Fanya tetapi ada sesuatu yang tidak bisa Fanya jelaskan. Sesuatu yang membuat Ayah lebih hidup.”


Sekarang Ayah menatapku. Mata itu, mata yang Ayah gunakan untuk menatapku adalah mata yang selama ini ingin kutelusuri. Mata yang menampakan banyak kebahagiaan dan mata yang menyembunyikan banyak duka. Aku ingin mengetahui kisah hidup Ayah dari mata beliau. Mata yang beliau turunkan kepadaku dan juga kedua saudara kembarku.


Dan mata yang selalu kudambakan kasih sayang tulusnya saat menatapku, bukan kasih sayang penuh ketakutan...


...-----...


“Kamu benar-benar tidak ikut?” tanyaku sembari memasukkan cookies ke dalam mulutku.


Sarah mendekat ke arahku. Sedari tadi aku membujuk Sarah untuk ikut denganku ke Heidelberg dan jawaban Sarah masih sama seperti satu jam yang lalu. Dia tidak suka bepergian apalagi di musim dingin seperti ini. Sarah justru memintaku untuk tetap berada di rumah, menolak saran ayah untuk bepergian mencari udara baru. Aku tahu dia hanya tidak ingin aku jatuh sakit lagi karena udara dan cuaca yang semakin dingin.


Ayah, Ibu, dan Ken hanya mendengarkan percakapanku dengan Sarah. Tidak ada yang bersuara. Ayah menikmati secangkir kopi, ibu membaca majalah kesehatan, dan Ken hanya diam membisu sembari mendengarkan obrolanku dengan Sarah. Ken terus berpura-pura sibuk dengan handphone di tangannya tapi aku sangat tahu, diam-diam dia menatap penuh harap ke arah Sarah untuk ikut bersama kami.


“Ayah, bagaimana bisa Ayah membiarkan Fanya pergi di musim dingin seperti ini. Apa Ayah gila? Tidak, Sarah tidak bermaksud menyebut Ayah gila, maksud Sarah adalah bagaimana jika sesuatu terjadi pada Fanya? Apakah Ayah akan pergi menyusul mereka ke Heidelberg?”


“Sarah, saat Fanya sakit dan Ayah berada di London, Ayah langsung mengambil penerbangan untuk pulang. Lagipula, Heidelberg masih berada di Jerman dan London di Inggris. Semuanya masih aman terkendali dan juga Fanya membutuhkan liburan,” jawab Ayah sembari meletakkan cangkir di tangan beliau ke atas meja.


Sarah mengalihkan pandangannya kepada ibu yang masih sibuk dengan majalah. Sepertinya Sarah meminta bantuan dari ibu untuk mendukung pendapatnya. Harusnya dia sudah lama tahu jika ayah sudah membuat sebuah keputusan maka keputusan itu juga menjadi keputusan ibu. Tidak mungkin ayah membuat sebuah keputusan tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan ibu. Ayah tidak akan seberani itu untuk memulai pertengkaran dengan ibu.


“Sarah, tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Lagipula ada Ken. Jika kamu tetap tidak mau ikut, it’s okay,” ucapku akhirnya mencoba mengakhiri percakapan panjang ini.


“Ken. Kalau sampai terjadi sesuatu……”


“Come on. Kamu dan aku, aku yang lebih sering menjaga Fanya.”


“Sudah, hentikan semua itu. Lebih baik kita sarapan.”


Ibu menutup majalah yang sedang beliau baca. Menarik tangan ayah, mencubit Ken dan membelai rambut Sarah. Kemudian, beliau membantuku berdiri dan menggenggam erat tanganku. Aku sangat menyukai cara ibu yang sangat lembut ketika menghentikan semua kegiatan yang sedang dilakukan masing-masing orang di rumah. Sangat tegas dan tentunya tidak menimbulkan adu argumen yang cukup berarti.


...-----...