H(Our)S

H(Our)S
Berita



Sudah tiga hari berturut-turut Kevin selalu tidur pukul 3 pagi dan pergi mengurus persiapan ujian pukul 7 pagi. Selama dua hari terakhir aku tidak mengantar dan membantunya menyiapkan perlengkapan yang dia butuhkan karena tubuhku yang kelelahan dan Kevin tidak membangunkanku. Hari ini aku terbangun karena suara gaduh yang Kevin timbulkan. Dia menjatuhkan tumpukan buku di meja belajar miliknya.


“Jangan bangun!”


Teriak Kevin begitu melihatku bersiap untuk berdiri membantunya. Aku kembali menidurkan tubuhku di atas kasur dan terus mengamati Kevin yang masih sibuk dengan tumpukan-tumpukan buku di bawah meja. Sudah dua kali kepalanya terbentur pinggiran meja saat mencoba mengambil buku. Ekspresi wajahnya selalu lucu setiap kali kepalanya terbentur, ekspresi terkejut dan kesakitan.


“Apa kamu tidak ingin memiliki anak?”


Tanpa kusadari mulutku mengeluarkan pertanyaan yang sudah aku tahan selama dua hari ini. Tanpa persetujuan otakku, mulutku menembakan satu peluru yang akan membuat Kevin tidak fokus selama satu hari ini. Bahkan saat ini, tubuhnya sudah membeku tidak mereaksi pertanyaanku.


“Lupakan,” ucapku membuat Kevin berjalan ke arahku.


“Lanjutkan tidurmu dan aku pergi dulu. Telepon aku jika sesuatu terjadi atau saat kamu membutuhkanku.”


Kevin mencium kening dan kedua tanganku. Dia berjalan mengambil tas miliknya dan meninggalkan kamar ini. Sekarang hanya ada aku di kamar yang terang ini. Aku tidak akan bisa melanjutkan tidurku.


Kevin dan kedua orang tuaku selalu menolak setiap kali topik ‘anak’ keluar dari mulut siapapun. Pertanyaanku tadi adalah kali pertama untukku membahas ‘anak’. Selama ini aku hanya diam setiap kali keluarga besar menanyakan tentang ‘anak’ kepada kami. Aku mengikuti keinginan suami dan kedua orang tuaku yang menolak kehamilan untukku saat ini dan mungkin ke depannya. Mereka tidak masalah jika aku akan mengadopsi seorang anak tetapi bukan saat ini, mereka memberi waktu satu tahun setelah pernikahan kami jika aku ingin mengadopsi seorang anak dan mereka menolak dengan keras jika aku menginginkan seorang anak langsung dari rahimku.


Ayah selalu memintaku untuk fokus pada pengobatan dan tidak memikirkan apapun tentang seorang ‘anak’. Bahkan dihari pertama pernikahanku, Kevin membahas perihal tubektomi atau sterilisasi untuk mencegahku hamil. Ayah hampir menyetujuinya jika saja ibu tidak menentang keras ide itu. Dan sekarang aku takut ibu akan menyesal karena menentang keras ide itu.


Aku mengambil foto hasil USG dari dalam laci meja rias dan melangkahkan kaki menuju ruang keluarga. Foto pernikahan kami langsung terlihat begitu aku menyalakan lampu. Aku baru tahu betapa aku mencintai Kevin saat aku melihat foto itu, aku baru tahu senyum yang muncul saat aku bersama Kevin adalah senyum penuh kebahagiaan. Kulihat foto hasil USG dan menyandingkannya dengan foto pernikahanku.


“Sangat kecil,” gumamku.


“Bisakah aku membuangmu? Bisakah ayahmu menerimamu?”


Kuambil handphone dari dalam kamarku. Aku tidak akan bisa berpikir jernih saat ini, aku membutuhkan seseorang untuk menyadarkanku kembali. Aku membutuhkan seseorang untuk menghilangkan perasaan tidak enak dalam diriku.


“Hai," sapaku.


“Apa tidak bisa tidur lagi?”


“Kevin, bolehkah aku pergi ke rumah kedua orang tuaku?”


“Tentu, aku akan memberi tahu supir untuk pergi ke apartemen menjemputmu.”


“Baiklah, aku akan mengabarimu begitu aku sampai di rumah.”


“Kamu baik-baik saja bukan? Aku masih di dekat apartemen, haruskah aku kembali dan menemanimu?”


“Aku baik-baik saja, aku hanya merindukan ibuku. Semangat calon dokter spesialis jantungku.”


“Berhenti mengatakan itu. Aku mencintaimu.”


“Aku juga mencintaimu.”


Aku langsung mengambil tas dari kamarku dan berjalan menuju lift. Begitu aku melangkahkan kakiku keluar dari gedung aku sudah bisa melihat supir yang selama ini mengantar jemputku kemanapun aku pergi saat Kevin tidak bersamaku. Supir itu langsung membukakan pintu mobil dan membawaku menyusuri jalanan London di pagi hari.


Seperti tahu suasana hatiku saat ini, supir di depanku tidak membuka percakapan apapun. Setiap kali aku pergi, baik aku ataupun supir pasti akan membuka perca kapan karena kami berdua tidak suka dengan suasana hening yang canggung. Kali ini suasana hening yang mengisi mobil lebih memberatkan dan menyedihkan.


...-----...


Aku selalu meminta Sarah untuk membuka hatinya kepada Stephanie dan akhirnya penantianku selama dua tahun terbayar. Saat ini aku melihat pemandangan yang luar biasa dan menyejukan hati. Ibu, Sarah, dan Stephanie sedang membuat cookies dan kue bersama. Bahkan beberapa kali Sarah ikut bercanda dengan Stephanie walaupun masih sedikit canggung. Aku yakin cepat atau lambat mereka akan menjadi lebih dekat.


Sarah selalu menanyakan alasan kenapa aku memintanya untuk akrab dengan Stephanie dan dia selalu menebak karena Stephanie adalah kekasih Ken dan perempuan yang aku pilih. Aku tidak pernah merespon pertanyaan ataupun tebakannya. Aku tidak mungkin mengatakan karena Stephanie bisa menghiburnya setelah kepergianku, setidaknya Sarah akan memiliki lebih banyak orang yang akan menghibur dan membuatnya perlahan melupakan kepergianku. Aku tidak mungkin mengatakan semua hal itu atau Sarah akan langsung membunuhku.


“Oh…. Fanya,” ucap Stephanie membuat ibu dan Sarah langsung mengalihkan perhatian mereka kepadaku.


Aku berjalan mendekati mereka dan memberikan pelukan satu per satu. Sarah tidak membalas pelukanku dan aku sudah menebaknya. Dia masih marah denganku dan terus memberikan tatapan mematikan miliknya. Sepertinya selama tiga hari terakhir, Bobby juga harus berurusan dengan suasana hatinya yang buruk ini. Aku harus mentraktir Bobby beberapa makanan kesukaannya.


“Ada apa dengan anak perempuan Ibu ini? Kenapa tidak menghubungi Ayah atau Ibu dahulu?”


Ibu melepas celemek dari tubuhnya dibantu Stephanie. Ibu berjalan menuju tempat cuci piring dan mencuci tangannya. Ibu langsung menarik tanganku menjauhi dapur dan membawaku ke ruang keluarga. Sarah dan Stephanie melanjutkan kegiatan memanggang karena ibu menyuruh mereka.


“Bagaimana kehidupan pernikahanmu?”


“Fanya bahagia, sangat bahagia. Kevin sangat mencintai Fanya dan Fanya takut jika perasaan yang Fanya miliki untuk Kevin tidak cukup membalas perasaan yang Kevin miliki untuk Fanya.”


Ibu memegang kedua pipiku dan menggeleng. Aku merindukan kehangatan tangan ini, kehangatan yang mungkin saat ini lebih banyak dirasakan oleh Sarah dan mungkin Stephanie. Aku memegang tangan ibu yang masih berada di pipiku dan menyadari jika bukan kehangatan yang aku rindukan tetapi kenyamanan yang kedua tangan ini berikan kepadaku.


“Dalam sebuah hubungan tidak ada perhitungan apakah perasaanmu lebih banyak atau lebih sedikit. Bagimu mungkin semua yang telah kamu berikan itu sedikit tetapi baginya itu sangat banyak dan bisa jadi semua yang kamu kira sangat banyak darinya ternyata baginya itu sedikit, semua itu relative tergantung darimana kamu melihatnya. Ibu yakin, kamu sudah memberikan seluruh hati yang kamu miliki untuknya.”


“Ibu memang malaikat terbaikku.”


“Apa kamu ingin bertemu dengan ayah?”


Hanya anggukan yang aku berikan. Ibu benar-benar seseorang yang bisa membaca apa yang ada di dalam kepalaku dan apa yang aku butuhkan. Ibu terus menggenggam tanganku, seperti seorang ibu yang menuntun anaknya berjalan.


“Ibu dan Fanya mau kemana?”


Pertanyaan Sarah menghentikan langkahku dan ibu.


“Fanya ingin menemui ayah. Saat ini ayah sedang di ruang kerjanya. Ibu akan menyusul ke dapur setelah membawa Fanya ke ayah.”


Sarah menatapku dan menggelengkan kepalanya seolah tahu apa yang akan aku lakukan. Tebakannya tidak salah, aku memang ingin memberi tahu kedua orang tuaku tentang kehamilanku. Aku membutuhkan alasan untuk menggugurkan kandungan ini dan tidak terikat dengan perasaan apapun pada janin yang sedang aku kandung. Aku tidak bisa memberi tahu Kevin karena Kevin akan langsung memintaku untuk menggugurkannya. Hanya kedua orang tuaku yang aku harapkan.


Aku harapkan untuk menerima keputusanku….


“Fanya, anak perempuan Ayah. Ayah sangat merindukanmu.”


Aku langsung membalas pelukan ayah dan mengabaikan Sarah yang saat ini mencoba menghalangi pertemuanku dengan ayah. Aku menatap Sarah dengan tatapan sendu. Aku rasa tatapanku bisa membuatnya terdiam dan berhenti melangkah mendekatiku.


“Ayo masuk. Ayah sudah lama ingin menunjukkan ruang kerja baru milik Ayah.”


Ayah menarik tanganku masuk ke dalam ruangan. Ibu hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya mengikuti langkah kami berdua. Ayah begitu antusias menceritakan hal-hal kecil tentang ruang kerjanya ini. Aku tidak tega untuk menghancurkan hati bahagia ayah saat ini. Aku tidak bisa memulai percakapan yang sudah aku rancang sepanjang malam. Senyum ayah saat ini, aku tidak ingin menghancurkannya.


“Ibu ke dapur dahulu memeriksa kedua anak nakal itu.”


“Fanya hamil.”


Ucapanku membuat ayah dan ibu diam membatu selama satu menit sebelumnya akhirnya ibu mendekatiku dan membuatku duduk. Ayah masih mencerna apa yang baru saja aku ucapkan. Beliau masih berdiri tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.


“Berapa minggu?” tanya ayah akhirnya memecah hening.


“Kita bisa menggugurkannya. Frank pasti sudah memberi tahumu. Ayah akan menghubungi Frank.”


“Tidak bisakah Fanya mempertahankannya?”


“Tidak!!!”


Ayah berjalan mendekatiku dan berjongkok di hadapanku. Beliau menatapku dengan tatapan memohon, tatapan yang dulu pernah beliau berikan kepadaku saat aku memutuskan untuk melakukan pelarian. Ayah memegang tanganku yang saat ini juga sedang dipegang ibu.


“Fanya, kehamilan ini hanya akan merugikan kamu dan sesuatu yang ada di dalam rahimmu.”


Sesuatu.


Ayah bahkan tidak menyebutnya dengan janin melainkan sesuatu seolah sesuatu itu tidak bernyawa. Ayah sama dengan Kevin dan aku sudah memprediksinya. Aku hanya tidak menyangka akan secepat ini ayah memintaku untuk menggugurkannya.


“Sebelum lebih jauh, Ayah mohon gugurkan kandungan ini. Kondisi saat ini sudah sangat membahayakan untukmu. Kamu juga tahu dengan mempertahan sesuatu itu akan menyiksamu. Semua obat-obat yang kamu konsumsi saat ini tidak baik untuk wanita hamil.”


“Akan ada obat yang baik untuk wanita hamil bukan?”


“Fanya!!!”


“…”


“Obat yang kamu konsumsi bukan lagi obat dengan efektivitas dan dosis rendah, reseptor-reseptor di dalam tubuhmu tidak akan mengenali obat-obat dengan efektivitas dan dosis dibawah obat-obatmu. Kamu hanya akan meminum obat yang tidak memberikan efek, sama halnya dengan kamu tidak meminum obat apapun. Sesuatu itu hanya akan merugikanmu.”


“Sesuatu ini adalah cucu Ayah.”


“Ayah tidak peduli, Fanya. Sesuatu itu akan membuatmu….”


“Meninggal?”


“Fanya,” ucap ibu untuk kali pertama setelah mengetahui kehamilanku.


“Apa Kevin tahu semua ini?”


Pertanyaanku membuat ayah mengalihkan pandangannya dari ibu kepadaku. Aku hanya menggeleng diikuti ayah yang beranjak menuju tempat telepon. Aku ingin mengucapkan sesuatu sebelum tangan ayah mulai menekan nomor telepon Kevin tetapi otakku tidak bisa memikirkan apapun.


Ibu melepaskan tangannya dan beranjak pergi menuju tempat ayah berdiri. Ibu mengambil gagang telepon dari tangan ayah. Ayah cukup terkejut dengan apa yang baru saja ibu lakukan begitu juga denganku.


“Ibu akan menyetujui semua keputusanmu.”


“Sayang!!”


“Sayang, selama ini Fanya hidup dari keputusan-keputusan yang kita ambil. Baru satu kali Fanya hidup untuk dirinya sendiri yaitu saat dia melakukan pelarian. Tidak bisakah kamu sebagai ayahnya membiarkan dia hidup untuk dirinya sendiri, untuk kali kedua dalam hidupnya?”


“Ini menyangkut nyawa Fanya. Bagaimana bisa….”


“Sayang, sesuatu yang sekarang berada di dalam rahim Fanya bukan milik kita, tidak seperti Fanya yang sudah pasti milik kita. Sesuatu itu milik Fanya dan Kevin, biarkan mereka berdua yang memutuskannya. Sesuatu itu bukan hak kita.”


“Maafkan Fanya.”


“Tidak, kamu tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salahmu, bukan juga salah janin yang ada di dalam rahimmu. Tidak ada yang salah, sayang. Tidak ada, jadi jangan menyalahkan dirimu.”


“Fanya akan menuruti semua keinginan Kevin, Ayah. Dan Ayah juga tahu akan seperti apa keinginan Kevin. Fanya tidak akan melawan dan bertindak sesuka hati Fanya. Fanya tidak bisa meminta Kevin untuk memilih janin ini dibandingkan nyawa Fanya. Fanya tidak bisa membiarkan Kevin menderita setiap kali melihat janin ini. Percaya pada Fanya, Fanya juga ingin hidup untuk waktu yang lama.”


Ibu langsung memelukku.


“Ibu akan selalu di sisimu.”


Aku membalas pelukan ibu dan mencoba tersenyum. Senyum yang mungkin akan berubah selama beberapa bulan ke depan. Ayah masih mencoba menenangkan dirinya sendiri.


“Ayah tidak ingin memelukku juga?”


Ayah menatap nanar ke arahku. Beliau menghembuskan nafas sebanyak dua kali sebelum akhirnya memelukku dan ibu. Ketenangan yang aku inginkan, aku mendapatkannya dan karena itu aku tidak akan menyesal jika pada akhirnya aku tidak bisa mempertahankan janin di dalam perutku.


“Fanya akan meninggalkan Ayah dan Ibu. Ibu harus menghibur Ayah.”


Aku melepas pelukan kedua orang tuaku dan berjalan menuju pintu. Tepat saat aku membuka pintu ruang kerja ayah, aku sudah menemukan seseorang yang sangat aku kenal. Seseorang yang saat ini tidak lagi menatapku dengan tatapan membunuhnya. Aku berjalan melangkah keluar dari ruang kerja ayah dan sempat melihat ibu memeluk ayah.


“Maafkan aku,” ucap Sarah begitu aku duduk di ruang keluarga.


“Sepertinya dulu ada seseorang yang mengatakan jika tidak ada kata ‘terima kasih’ dan ‘maaf’ dalam keluarga. Apakah seseorang itu baru saja mengucapkan kata ‘maaf’?”


“Aku serius Fanya. Aku juga baru menyadari jika janin itu juga bukan milikku. Orang yang akan paling menderita mendengar kehamilanmu adalah Kevin. Dia harus memilih antara calon anaknya atau istrinya. Pilihan yang sangat kejam.”


Aku memegang wajah Sarah yang memerah. Wajah yang baru saja berhenti menangis sesaat sebelum aku membuka pintu. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan untuk menanggapi ucapannya karena apa yang dia ucapkan adalah kebenaran. Bahkan untukku pilihan itu bukan hanya sekadar pilihan yang sangat kejam, pilihan itu akan mendatangkan neraka bagi siapapun yang dihadapkan pada pilihan itu.


“Fan?”


“Ya?”


“Apa kamu membutuhkanku saat akan memberi tahu Kevin?”


Hanya gelengan yang aku berikan. Aku tidak bisa melibatkan Sarah ke dalam urusan rumah tanggaku. Aku tahu kekhawatiran yang saat ini dia rasakan tetapi tetap saja masalah ini adalah urusanku dengan Kevin. Seperti yang ibu ucapkan, janin ini adalah milikku dan Kevin, hanya kami berdua yang berhak menentukan apa yang akan terjadi padanya.


“Maafkan aku.”


“Berapa kali kamu akan meminta maaf?”


Sarah langsung memelukku dengan sangat erat. Hanya dengan membalas pelukan erat miliknya yang bisa aku lakukan. Sama dengannya, aku juga merasa takut pada apa yang akan terjadi pada diriku.


“Ken?” tanya Sarah.


“Aku akan memberi tahunya setelah dia kembali dari Berlin.”


“…”


“Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, Sarah.”


...-----...