
“Kenapa kamu berbohong pada Daniel?”
Jadi topik ini yang ingin dia bahas denganku.
Ah… jadi sebenarnya dia datang jauh-jauh ke Berlin untuk apa?
Apa dia benar-benar berniat untuk merebut Sabrina dari hidup Daniel?
Sangat ironis jika dia benar-benar melakukan hal itu. Aku tidak peduli dengan apa yang akan Kevin lakukan, aku hanya akan peduli dengan semua hal yang akan menimpaku jika semua ini terus berjalan seperti ini. Aku hanya tidak ingin terlibat lebih jauh.
“Aku tidak berbohong.”
“Kamu kira dengan mengirim surat-surat itu, namanya tidak berbohong?”
“Apa kamu berniat merebut Sabrina?” balasku membuat Kevin terdiam.
Kevin tidak melanjutkan percakapan ini. Kami melangkahkan kaki menuju toko perhiasan. Kevin mengamati cincin-cincin yang berada di dalam etalase. Kuarahkan tatapan keluar toko. Ken terus menatap lembut ke arahku dan tersenyum. Sarah dan Bobby berjalan mendekat ke dalam toko.
“Kamu tidak berkeliling mencari sesuatu?” tanya Ken.
Aku hanya tersenyum. Sekarang Ken dan aku berjalan berdua. Ken terus melihat-lihat ke arah cincin.
“Aku ingin melihat sesuatu. Jika kamu berkeliling sendiri tidak apa-apa bukan?”
Hanya anggukan kecil yang aku berikan. Ken melangkahkan kakinya menjauh dariku. Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Diam di tempat aku berdiri atau berjalan mengelilingi seluruh toko perhiasan ini?
Kuamati sekeliling. Tanpa kusadari, langkah kakiku sudah mendekat ke tempat yang berisi kalung-kalung. Petugas yang berjaga di bagian itu menghampiriku. Aku merasa ada sesuatu yang akan aku dapatkan dengan melihat kalung yang ada di toko ini.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Ah… tidak. Saya hanya melihat-lihat," balasku canggung.
Kuamati satu per satu kalung yang berada di dalam etalase. Entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan kalung-kalung yang sekarang sedang aku lihat. Ada yang menarikku untuk melihat-lihat kalung ini. Tatapan mataku berhenti pada satu kalung. Kuamati terus kalung itu. Kalung itu seakan menarik tubuhku untuk menyentuhnya, seakan ada sebuah sihir di dalamnya.
“Permisi. Apa kalung-kalung di sini pernah memiliki pemilik?”
Tunggu, apa yang baru saja aku ucapkan?
“Maksud saya, apa pernah ada seseorang yang menjual kalungnya di sini lalu toko ini membelinya dan menjualnya lagi?”
“Oh… ya ada beberapa tetapi sudah terjual kembali. Hanya tersisa 1 kalung.”
Petugas itu mengeluarkan kalung yang sedari tadi kuamati. Kalung itu mirip dengan kalung yang Daniel berikan. Tunggu, bukan yang Daniel berikan tapi yang Ken berikan padaku lewat perantara Daniel. Kupegang kalung itu. Sangat mirip.
“Kenapa kalung secantik ini tidak terjual?”
Tampaknya petugas itu sedang berpikir. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Seperti dia sedang merangkai sebuah kata agar toko ini tidak dipandang sebagai toko yang bermasalah.
“Hm… yang saya tahu, kalung ini sudah menjadi milik seseorang.”
“Maksud Anda?”
“Setiap orang yang datang kesini selalu tertarik dengan kalung ini tetapi mereka tidak bisa membuka liontin yang terdapat di kalung ini. Sepertinya ada bagian yang hilang dan hanya pemilik aslinya yang menyimpan bagian yang hilang itu.”
Bagian yang hilang?
Liontinnya tidak bisa di buka?
Jangan bilang jika kunci kecil yang selama ini ada padaku adalah kunci untuk membuka liontin ini. Aku harus membeli kalung ini.
Tapi, bagaimana caranya aku mendapatkan uang?
Kuambil handphone dari dalam tasku. Maafkan aku ayah jika aku hanya datang padamu saat aku membutuhkan uang. Sekali lagi maafkan aku.
“Halo. Ayah?”
“Ya? Ada apa Fanya? Apa baik-baik saja bukan?”
“Tidak… kami, Fanya, Ken, Sarah, Kevin, dan Bobby sedang berada di toko perhiasan. Fanya tertarik dengan sebuah kalung. Bisakah Fanya membeli kalung itu?”
“Fanya, kamu menakut-nakuti Ayah. Belilah, lagipula sudah lama kamu tidak berbelanja. Ayah akan segera mentransfer uang kerekeningmu.”
“Terima kasih, Ayah," balasku riang.
Petugas itu menatap ke arahku sembari tersenyum. Sepertinya dia mendengar percakapanku dengan ayah. Aku sangat malu jika dia benar-benar mendengarkannya. Petugas itu menuliskan transaksi yang aku lakukan.
Sarah menatap tajam ke arahku begitu aku sampai dideretan cincin. Dia terus melihat ke arah tas yang aku bawa. Sepertinya, dia akan menginterogasiku. Entahlah. Aku tidak peduli, lagipula Sarah sedang sibuk dengan Bobby.
“Apa yang kamu beli?”
Pertanyaan Ken mengagetkanku. Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya. Kalung ini akan menjadi rahasia antara aku, ayah, petugas toko ini, dan Tuhan. Aku tidak akan membiarkan siapapun tahu tentang kalung ini sampai aku membuka liontinnya.
“Tidak ada. Kamu sendiri?”
Ken mendekatkan wajahnya ke arahku. Tangannya mencubit pipiku. Dia tersenyum dengan tatapan matanya terus menatap ke arahku. Ah…. dasar. Dia selalu bisa membuatku merasa bahagia walau hanya dengan senyum dan tatapan matanya.
“Kalian benar-benar seperti pasangan kekasih. Bisakah kalian memberi sedikit jarak?”
“Apa kamu pikir bisa mengatur hidup seseorang? Hah?”
“Baiklah. Maafkan aku. Sekarang, aku ingin bertanya kepadamu, Fanya. Kenapa kamu mengirim surat-surat atas nama Sabrina?”
Semuanya menatap ke arahku. Kevin benar-benar bodoh. Pembicaraan ini nantinya akan menjadi pembicaraan publik bukan pembicaraan pribadi antara aku dan dia. Dia terlalu pintar rupanya. Terserahlah, akan aku jawab dengan jujur.
“Aku benci melihat hidup Daniel yang dulunya berwarna menjadi redup. Dia memang melihat ke arahku tapi dia melihat ke arahku sembari berharap aku adalah Sabrina. Aku membenci ketika orang yang sedang bersamaku ternyata mengharapkan orang lain. Lebih baik aku memperbaiki hubungan Daniel dan Sabrina daripada aku harus terus mendapat tatapan itu.”
“Kamu benar-benar menyukai Daniel?”
“Aku menyukai Daniel untuk melupakanmu," jawabku jujur. Aku merasa tidak perlu basa-basi lagi.
Semuanya menatap ke arahku. Ken langsung menggenggam erat tanganku begitu kalimat itu mengali keluar dari mulutku. Dia mencoba menghentikanku mengatakan semuanya. Entahlah, aku sudah lelah menahan semuanya dari dulu. Aku ingin semuanya tahu apa yang aku rasakan. Bukan hanya saudara kembarku saja yang tahu tapi sahabat-sahabatku pun tahu tentang perasaanku.
“Apa maksudmu?”
“Aku menyukaimu. Aku membenci fakta ketika kamu meninggalkan Berlin hanya karena kamu tidak ingin melihat Daniel dan Sabrina bersama. Lalu, bagaimana denganku? Aku selalu melihatmu menatap Sabrina dengan tatapan penuh cinta. Aku baik-baik saja dengan semua itu, aku hanya membenci sikap pengecutmu. Walaupun setelah semua itu Sabrina pergi meninggalkan Daniel dan hanya menyisakan diriku dan Daniel. Menurutmu apa yang akan terjadi? Aku kira aku dan Daniel bisa bersama tapi aku salah. Aku tidak pernah sedikitpun masuk ke dalam hatimu ataupun hati Daniel. Sekarang, aku tidak peduli dengan perasaanku bahkan sekarang aku sudah membuang semua perasaan yang aku miliki. Aku muak denganmu ataupun Daniel. Dan sekarang kamu akan memulai kembali perkelahian yang sangat aku benci.”
“Fan, ayo kita pulang,” ucap Sarah khawatir.
“Tunggu, ada satu hal yang ingin kuucapkan pada Kevin. Aku menyukai warna biru karenamu, karena kamu yang pergi begitu saja. Warna yang kamu berikan padaku, aku sudah melupakan semua itu dan menggantinya dengan warna biru lainnya. Kamu tahu, aku lebih memilih orang yang kucintai bahagia bersama orang lain daripada dia bersamaku tapi mengharapkan orang lain. Aku membenci itu. Aku tidak peduli jika kamu dan Daniel ingin kembali memulai perkelahian itu tapi satu hal yang pasti, jangan libatkan aku.”
...-----...
Kubuka laci meja riasku. Seharusnya kunci liontin itu masih di sini. Ya, seharusnya, seperti yang ada diingatanku. Kukeluarkan semua barang-barangku yang ada di dalam laci. Kenapa tidak ada? Apa aku lupa menaruh kunci liontin itu? Tidak mungkin, aku sangat yakin dan ingat jika aku menaruh kunci itu di dalam laci meja riasku. Bagaimana mungkin bisa hilang?
“Apa yang kamu cari?”
Aku membenci Sarah, dia membuatku terkejut. Sungguh, hampir saja aku berteriak. Untungnya, aku sudah biasa menghadapi siatuasi seperti ini, walaupun terkadang berakhir dengan selang infus menancap di pergelangan tanganku.
Apa aku jujur saja kepada Sarah?
Jika aku jujur, Sarah pasti juga ingin melihat liontin itu. Tetapi jika aku tidak jujur, alasan apa yang harus aku buat.
“Mencari kunci liontin.”
“Ini?”
Bagaimana bisa kunci itu ada di tangan Sarah? Apa dia membuka-buka laci meja riasku? Tidak mungkin, dia bukan tipikal orang yang bertindak tanpa izin orang lain. Tapi, bagaimana bisa? Kuamati terus wajah Sarah yang nampak bingung. Apa dia sendiri juga tidak tahu darimana kunci liontin itu berasal?
Kulangkahkan kakiku mendekat ke arah Sarah. Aku tidak akan menanyakan darimana dia mendapatkan kunci ini. Itu tidak penting, yang penting sekarang aku bisa membuka liontin itu. Aku berharap keberuntungan memihakku. Semoga, kalung itu memang kalung milikku yang dulu aku hilangkan.
“Aku tidak sengaja mengambilnya kemarin saat sedang mencari novel di kamarmu.”
“…”
“Apa kamu marah?”
“Tidak, aku berterima kasih padamu.”
“Jadi ini yang kamu dapatkan di toko perhiasaan tadi?”
“Ini mirip seperti kalungku yang dulu.”
Sarah menyentuh kalung itu. Ekspresi wajahnya berubah. Aku tidak tahu apa yang membuat ekspresi wajahnya berubah. Yang jelas ekspresi wajahnya saat ini adalah ekspresi seseorang yang takjub.
“Kenapa?”
“Kalung ini sangat bagus. Kalung yang dulu aku hilangkan. Maafkan aku, karena aku, kamu kehilangan kalung dari Daniel.”
“Kalung itu bukan dari Daniel.”
“Eh?”
“Ken. Kalung ini dari dia. Aku ingin menanyakan banyak hal pada Ken tapi sebelum itu aku ingin melihat isi liontin ini.”
“...”
Kunci liontin itu kumasukkan ke dalam sebuah lubang di samping kanan liontin. Kumohon, liontin ini bisa terbuka. Kuputar kunci liontin itu dan liontin itu terbuka. Sarah mendekatkan tubuhnya ke arah liontin. Kubuka liontin itu.
Biru? Warna biru? Liontin ini. Ken, dia……
“Fan, apa benar Ken yang memberikan kalung ini? Kenapa ini seperti pemberian dari Yoshida? Maksudku, liat warna biru itu, kamu atau mungkin kita semua menyukai warna biru karena lukisan Yoshida dan latar liontin ini bukankah lukisan Yoshida?”
“Aku juga ingin tahu akan hal itu. Apa kamu mau membantuku menginterogasi Ken?”
“Tentu saja. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu."
Kupakai kalung itu. Aku tidak mengunci liontin ini. Aku takut jika akan menghilangkan kuncinya dan aku takkan bisa melihat lukisan dan warna biru di dalam liontin ini.
Yoshida, apa yang sebenarnya terjadi?
...-----...