
Sekarang, kamar yang selalu aku banggakan karena kebersihan dan kerapiannya berubah seketika menjadi kapal pecah. Aku harap kamarku bisa kembali seperti sedia kala. Aku sangat membenci melihat kamar milikku yang sekarang sangat berantakan.
Semua ini memang berawal dariku. Ketika aku sakit semua barang berpindah ke kamarku. Ayah, Ibu, Ken, dan Sarah menyantap sarapan ataupun makan malam mereka di kamarku. Mereka semua memakai alasan yang sama, hanya untuk menemaniku agar tidak kesepian dan mengontrol jika saja penyakit jantungku kambuh. Walaupun alasan mereka benar tetapi tetap saja mereka seharusnya tidak merubah kamarku yang bersih dan rapi menjadi kamar yang sangat berantakan seperti saat ini.
Tok..tok..
“Ya?”
“Ini saya, Nona.”
“Masuk, Bi.”
“Permisi, Nona.”
Aku merasa bersalah karena harus melimpahkan semua kerusakan kamar ini kepada bibi di rumah ini. Awalnya aku ingin merapikan sendiri kamarku tapi apa daya aku takut jika aku kembali lelah maka aku akan jatuh sakit lagi.
“Nona sudah sembuh?”
“Seperti yang Bibi lihat,” jawabku sembari tersenyum.
“Apa Nona tahu betapa Tuan Ken dan Nona Sarah sangat khawatir terhadap Nona? Terlebih saat Tuan Ken berteriak memanggil Nona Sarah. Semua yang ada di rumah ini langsung menghentikan semua pekerjaannya. Bahkan Nona Sarah tidak berhenti menangis hingga Tuan dan Nyonya pulang. Saya juga ketakutan jika hal buruk terjadi kepada Nona," ucap bibi dengan nada lembut.
Aku hanya tersenyum mendengar cerita itu. Dulu, mungkin lima tahun yang lalu ketika aku jatuh sakit, suasananya tidak seheboh ini. Aku tahu alasannya, lima tahun yang lalu Ayah belum tahu berapa lama sisa hidupku tapi sekarang melihat kondisiku yang tidak membaik, cepat atau lambat ayah sudah tahu perkiraan berapa lama lagi aku bisa bertahan.
Memang hanya Tuhan yang tahu sisa umur hidup setiap makhluk-Nya, tetapi lima tahun yang lalu saat itu aku mengalami masa krisis yang sangat lama. Ayah bahkan sampai melepas harapan akan kesembuhanku dan mengatakan jika sekali lagi aku mengalami masa krisis selama itu maka kemungkinanku untuk bisa bangun kembali sangat kecil. Alhasil, setelah apa yang terjadi, semua anggota keluarga ikut menjaga kesehatan jantungku.
Aku mengambil handphone di samping tempat tidurku. Tiga puluh panggilan tidak terjawab dan seratus pesan, sebanyak ini?
Semua panggilan tak terjawab dari Daniel. Kuperiksa inbox e-mail dan lagi-lagi semua pesan dari Daniel.
Tok..tok.
Bibi dan aku serentak mengalihkan pandangan ke pintu. Ternyata Ken dan Ayah. Bibi melanjutkan pekerjaannya sedangkan Ken mengambil kursi roda dari dalam lemari kesehatanku. Ayah mengambil handphone dari tanganku dan mengangkat tubuhku ke atas kursi roda. Sekilas, aku melihat bibi tersenyum. Mungkin, bibi merasakan kehangatan yang aku rasakan.
“Kita mau kemana?” tanyaku ketika kursi roda mulai didorong Ken. Ayah menggenggam tanganku dengan erat dan Ken sesekali membelai rambutku.
“Bagaimana kalau bertemu dengan Daniel?” tanya ayah dengan nada yang canggung.
“Tidak masalah untukku,” jawabku singkat.
“Benarkah?” tanya Ken khawatir.
Aku sangat paham bagaimana nada yang canggung dan nada yang khawatir itu bisa muncul, lebih dari sekadar paham. Daniel, laki-laki yang juga merupakan sahabatku, kami sudah bersahabat cukup lama dan banyak hal yang sudah kami lakukan bersama. Hal-hal yang membuat beberapa orang meragukan hubungan kami sebatas ‘sahabat’, termasuk keluargaku. Dan, dengan kehadiran kembali Sabrina dalam hidup Daniel, semuanya akan kembali ke saat dimana hubunganku dengan Daniel bukan hubungan sahabat melainkan kenalan.
Ken menghentikan dorongannya membuat ayah langsung menatap tajam Ken.
“Jangan berhenti mendadak!” tegur ayah dengan keras membuat Ken tersadar.
Aku langsung mendongakan kepalaku untuk melihat Ken begitu sadar jika Ken masih diam membisu seolah ada sesuatu yang menahan tubuhnya untuk bergerak. Mata Ken tidak menatap lurus ke satu arah. Ada apa dengannya?
“Ayah, boleh aku bawa Fanya pergi jalan-jalan?” tanya Ken begitu tersadar dengan tatapan penuh tanya milikku.
“Apa maksudmu? Akan ada waktu jika kamu ingin mengajak Fanya jalan-jalan sendiri. Tapi, tidak sekarang,” balas ayah sembari mengambil alih kursi roda dari tangan Ken.
“Ayah, aku mohon,” pinta Ken dengan memelas.
“Ken,” panggil ayah dengan nada berat miliknya yang menakutkan, membuat Ken langsung terdiam.
Aku juga hanya diam membisu sembari mendengarkan percakapan mereka. Sepertinya mereka melupakan keberadaanku. Jika mereka sadar akan keberadaanku, mereka tidak akan menaikkan nada bicara seperti ini. Aku menggenggam tangan ayah dan Ken. Seketika itu juga ayah dan Ken menatapku. Benar bukan, mereka melupakan keberadaanku. Aku menatap lembut ke arah ayah dan mengeratkan genggaman tanganku kepada Ken. Aku membawa tangan Ken mendekat ke tangan ayah yang membuat Ken dan Ayah berjabat tangan. Ayah dan Ken sama-sama menghembuskan nafas panjang mereka.
“Nah, sekarang lebih baik," ucapku sambil tersenyum.
...-----...
Ken menggenggam erat tanganku. Aku hanya membalas genggaman erat tangannya. Jadi, ini alasan Ken ingin membawaku jalan-jalan. Ken melihat Sabrina masuk bersama Daniel. Sama halnya denganku yang cukup terkejut melihat kehadiran mereka, Sarah juga ikut terkejut sembari mencegahku agar tidak berinteraksi dengan mereka.
Aku rasa aku mulai menjadi pelupa, aku mulai melupakan hari-hari penting dimana keluargaku, Daniel, Sabrina, dan juga Kevin mengadakan pertemuan mingguan. Aku hanya tidak menyangkan melihat Sabrina yang bahkan pekan kemarin tidak menunjukkan batang hidungnya di rumah Daniel tetapi sekarang berada di rumahku. Tentunya aku tahu, jika hubungan mereka berdua sudah membaik menjadi alasan kemunculan Sabrina di acara ini.
“Fanya, ayo kita jalan-jalan,” ajak Daniel memecah hening di ruang makan.
Semua tatapan tertuju ke arahku. Ken kembali mengeratkan genggamannya, membuat tanganku berubah pucat. Ayah membuka mulutnya, aku tahu ayah pasti akan mencoba menahanku untuk tetap berada di ruang makan.
Tapi, apa salahnya pergi jalan-jalan?
“Ayo. Asalkan Sabrina tidak marah,” jawabku sembari menatap Sabrina. Sekarang semua tatapan beralih menatap Sabrina. Sabrina hanya tertawa kecil. Dia meletakkan sendok dan garpu yang sedang dia pegang ke atas piring yang sekarang hanya berisi sepertiga dari makanannya.
“Kalian sudah bersahabat sejak kecil dan kalian tidak pernah terlibat dalam hubungan romatis. Hal seperti ini bukan masalah dan kamu tidak perlu izin dariku, Fan,” balas Sabrina diikuti tawa yang sebenarnya tidak perlu, tawanya hanya menambah suasana canggung di ruangan ini.
Ken tetap menggenggam tanganku. Aku melepaskan genggaman tangannya dengan paksa. Aku tahu Ken sangat khawatir. Tidak ada satupun orang selain keluargaku yang tahu jika aku mengidap penyakit jantung. Mungkin semua itu kesalahanku karena tidak ingin orang lain tahu. Aku membenci satu kenyataan dimana orang dengan penyakit sepertiku nantinya hanya akan dikasihani. Lebih baik jika hanya dikasihani, aku paling benci ketika orang-orang mau berteman denganku hanya karena aku seorang dengan penyakit jantung dan hanya karena mereka takut jika mereka menolak untuk berteman denganku maka aku bisa jatuh sakit.
Perlahan, Daniel mendorong kursi roda. Dia mendorong kursi roda dengan sangat pelan. Apa dia takut akan melukaiku?
“Fan, kamu benar baik-baik saja?” tanya Daniel membuka percakapan diantara kami.
“Tentu, kamu tahu sendiri betapa protektifnya ayah kepadaku.”
“Tapi aku rasa, kursi roda ini cukup protektif jika kamu hanya terkena flu seperti yang kamu bilang,” balasnya menyelidik.
“Flu juga mematikan. Kamu bahkan harus dirawat di rumah sakit selama 3 hari karena flu,” jawabku membuat Daniel langsung memukul lembut kepalaku.
“Aku tidak akan pernah bisa menang jika berdebat denganmu, Fan.”
“…”
Kami kembali diam. Diam yang menyesakan dan ingin aku akhiri.
“Terima kasih," ucapnya memecah diam.
“Untuk apa?”
“Membuatku dan Sabrina kembali seperti saat dulu,” ucapnya pelan.
Aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus aku tunjukan. Aku tidak tahu apakah aku harus bahagia karena akhirnya laki-laki yang selalu bersamaku menemukan kembali kebahagiaannya ataukah aku harus bersedih karena aku telah resmi kehilangan laki-laki yang merupakan sahabat terbaikku. Saat ini hatiku tidak merasakan apapun dan membuatku tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus aku tunjukkan.
Daniel membelai rambutku. Dia membelai rambutku berulang kali. Kemudian, dia mengangkatku dari kursi roda lalu mendudukkanku di atas kursi taman. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan dan aku tidak ingin tahu.
“Aku suka aroma rambutmu dan aku menyukai semua hal yang telah aku lalui bersamamu. Aku menyukaimu. Jadi, ayo kita ulangi semua kenangan kita dari awal.”
Aku terdiam dan hanya membalas tatapan penuh kebahagian milik Daniel selama satu menit. Setelah ini, aku tidak akan bisa menatap mata penuh kebahagiaan miliknya lagi. Ini akan menjadi kali terakhir aku bisa membalas tatapan penuh kebahagiaan miliknya. Baik aku dan Daniel sama-sama tahu setelah hari ini, hubungan persahabatan kami juga akan berakhir karena Sabrina membenci hubungan kami berdua. Tidak ada persahabatan diantara laki-laki dan perempuan, itu adalah kepercayaan Sabrina yang Daniel hormati. Dan aku juga menghormati Daniel.
“…”
“Fanya?” panggil Daniel menyadarkanku kembali.
“Dia akan menerimamu kembali. Dia masih sangat mencintaimu, karena itu kamu harus cepat memintanya kembali padamu sebelum dia kembali ke Italia. Percayalah pada dirimu sendiri, Daniel.”
Mata yang kembali bersinar setelah sekian lama. Mata yang dahulu sangat aku sukai, mungkin memang sudah saatnya aku melepas mata indah itu. Mata yang tidak pernah memancarkan kebahagiaan dan mata yang selalu menampakan kesedihannya saat bersama denganku.
“Bisakah kamu mengambilkan aku minum? Aku sangat haus,” ucapku ingin menyudahi percakapan kami.
“Baiklah, tunggu di sini.”
“…”
“Fanya, terima kasih banyak,” ucapnya sebelum benar-benar pergi.
Hanya sebuah senyum yang bisa aku berikan sebagai balasan untuknya. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutku. Tepat saat aku akan mencoba duduk kembali di kursi roda, seseorang memelukku dari belakang. Seseorang yang sangat aku kenal aroma parfum miliknya.
“Aku tidak baik-baik saja, Ken. Aku kehilangan sabahatku.”
Ken memelukku dengan erat. Kenapa selalu dia yang datang?
“Tubuhku, semuanya sakit. Aku benci musim dingin tahun ini. Aku akan terus membenci musim dingin.”
“Jangan membenci sesuatu hanya karena hal buruk terjadi di dalamnya. Fanya adikku yang paling kuat, bukan? Tidak apa. Semuanya akan baik-baik saja. Percaya pada Tuhan.”
“Ken?”
“Ya?”
“Maafkan aku karena menjadi seorang adik yang tidak berguna. Penyakit jantung ini, aku harap tidak pernah aku miliki. Aku harap aku bisa menjadi adikmu yang sempurna. Berenang bersamamu setiap weekend, jogging bersama, tertawa dan bercanda bersama. Maafkan aku," ucapku membuat Ken melepaskan pelukannya dan berjalan menuju hadapanku. Dia memukul-mukul dirinya sendiri. Dia terus memukul-mukul dirinya sendiri.
Apa yang sedang dia lakukan?
“Ken!!” teriakku sembari menangkap tangan Ken yang terus memukul-mukul dirinya.
“Jika karena kesempurnaan yang aku miliki membuatmu merasa tertekan. Lebih baik aku membuang semua kesempurnaan itu. Fanya, kamu adikku, kamu yang selama ini aku lindungi, dan kamu yang selamanya akan menjadi perempuan pertama yang aku cintai dalam hidupku. Kamu tidak perlu sempurna untuk menjadi adikku. Kamu, cukup dengan menjadi Fanya. Karena adikku adalah Fanya.”
“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”
Ken berjalan mendekat ke arahku. Dia berlutut di depanku dan menggenggam erat tanganku. Dia menatap ke dalam mataku. Tatapan yang aku rindukan. Tatapan yang selalu membawa kembali semangatku.
Aku……………
“Saat kamu lelah. Ingatlah, aku akan berhenti dan menemanimu istirahat. Tidak peduli apakah laki-laki yang menjadi sahabatmu akhirnya pergi, aku akan tetap berada di sisimu sebagai sahabat terbaikmu. Tidak peduli juga jika laki-laki yang kamu cintai tidak membalas perasaanmu, aku akan selalu berada di sisimu sebagai kekasihmu. Aku akan berada di sisimu sebagai kakakmu. Aku akan selalu menjadi apa yang kamu butuhkan karena kamu sudah menjadi apa yang aku butuhkan.”
Aku terdiam. Rasa sakit yang tadinya menjalar ke seluruh tubuhku sekarang perlahan hilang. Perasaan ini, perasaan yang selalu ayah coba berikan kepadaku. Bagi semua pasien, entah itu pasien penyakit jantung, kanker, ataupun penyakit lainnya, bukan tentang seberapa hebat dokter yang menanganinya tetapi tentang seberapa hebat orang-orang di sekitar mereka yang mampu memberikan motivasi.
Sekali lagi, aku mengangguk untuk setiap kalimat yang Ken ucapkan. Bagiku dia adalah kakak paling sempurna dan seseorang yang akan terus aku ingat selama sisa hidupku.
“Ken, aku kedinginan.”
Ken melepas jaket yang dia pakai. Dia memakaikan jaket itu ke tubuhku. Dia mengambil sarung tangan di dalam saku jaket dan memakaikannya ke tanganku. Dia memegang pipiku dengan kedua tangannya yang besar dan hangat.
Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku hanyalah seorang manusia yang tidak berarti. Tuhan menciptakanku hanya untuk menjadi beban bagi orang-orang yang menyayangiku. Aku tidak pernah menganggap jika diriku berarti. Aku selalu menganggap diriku hanyalah gulma yang pantas disingkirkan dari kehidupan seseorang. Tapi sekarang aku tahu, Tuhan menciptakanku sebagai sebuah kekuatan bagi orang-orang yang menyayangiku.
Ken kembali menatap ke arahku. Aku menyukai matanya yang berwarna biru seperti mata milik Ayah. Warna mata yang sama dengan warna langit, biru. Biru, warna yang selalu bisa memberikanku ketenangan.
“Ken… berlakulah adil.”
“Hah?” tanyanya kebingungan.
“Hubunganmu dengan Sarah. Kalian berdua juga saudara kembar.”
“Hubunganku dengan Sarah sangat baik.”
“Benarkah?” tanyaku cukup terkejut.
“Selama ini kamu selalu berada di dalam kamar. Sesekali keluarlah dari kamar dan lihat kegilaan yang Sarah dan aku perbuat. Ah… udaranya semakin dingin. Lebih baik kita masuk atau ayah akan membunuhku karena tidak segera membawa kamu kembali.”
Aku hanya mengangguk. Ken mengangkat tubuhku. Aku kira dia akan mendudukkanku lagi di atas kursi roda. Ternyata aku salah, dia terus menggendongku sampai ke dalam rumah.
“Apa aku berharga?” gumamku.
“Tentu, kamu berharga. Apa kamu menganggap dirimu tidak berharga?”
“Ya dan tidak,” balasku dengan nada terkejut karena tidak menyangka Ken akan mendengar hal yang aku gumamkan.
“…”
Aku menatap Ken yang sekarang sedang menatap lurus ke depan. Dia terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sepertinya ucapanku memberikan efek yang buruk untuk suasana hatinya.
“Apa kamu tahu Fan betapa tidak berharganya dirimu? Dirimu yang tidak berharga ini bisa membuat Ayah, Ibu, Sarah, dan juga diriku tidak bisa hidup tanpamu. Dirimu yang kamu anggap tidak berharga tetapi nyatanya mempengaruhi empat kehidupan lainnya,” ucap Ken.
“…”
Ken langsung menghentikan langkah kakinya begitu tiba di ruang makan. Semua mata menatap ke arahku dan ayah langsung berdiri begitu melihatku. Begitu juga dengan Sarah yang sudah siap meninggalkan ruang makan untuk menemaniku.
“Tidak ada masalah dengan Fanya. Fanya hanya kedinginan. Silakan lanjutkan makan. Dan juga, tolong beritahu Daniel bahwa Fanya sudah bersama saya. Permisi,” ucap Ken dengan tenang.
Ken mengeraskan rahangnya.
“Lemaskan rahangmu.”
“…”
“Ken?”
“Hmm?”
“Aku bahagia memiliki kakak sepertimu.”
“Dan aku bahagia memiliki adik kecil sepertimu.”
...-----...