
Kevin saat ini sedang berada di ruangan Paman Frank bersama dengan kedua orang tuaku. Aku memilih untuk langsung masuk ke dalam bangsal tempat aku akan dirawat dibandingkan berada di ruangan itu. Aku tidak ingin berdiskusi dan mendengar keputusan-keputusan yang akan disepakati oleh Kevin. Aku hanya tidak ingin melihat keraguan di dalam diri Kevin saat membuat keputusan dan aku tidak ingin membuat Kevin ragu atas keputusan yang akan dia buat.
Satu orang perawat masuk ke dalam ruangan membawa beberapa perlengkapan dan mulai memeriksa tanda-tanda vital tubuhku. Beberapa kali perawat itu mengajakku berbicara yang hanya kubalas dengan jawaban singkat. Selesai memeriksaku, perawat itu merapikan beberapa barang milikku yang berantakan di atas kasur, membuatnya menambah pekerjaan yang bahkan tidak aku minta.
“Tidak perlu,” ucapku begitu perawat itu mengambil beberapa novel milikku.
“Tidak masalah,” ucapnya sembari tersenyum.
“Apakah ada ibu lainnya yang mengorbankan nyawa anaknya hanya agar dia bisa hidup?” tanyaku setelah diam selama 1 menit.
Perawat itu menatapku bingung dan kembali melanjutkan aktivitasnya merapikan barang-barang milikku. Aku tidak mengharapkan jawaban darinya karena aku tahu bukan hanya diriku yang lebih memilih kehidupan diri sendiri dibanding kehidupan anaknya. Aku sudah tahu pasti jawabannya tetapi aku tetap membutuhkan jawaban dari orang lain untuk membuat hatiku tenang.
“Nona, ada kalanya seseorang bersikap egois. Kondisi Nona bukan kondisi yang memungkinkan untuk mempertahankan kehidupan lainnya, suatu saat Nona pasti akan memiliki kesempatan itu, memang bukan saat ini tetapi suatu saat nanti. Saat ini Nona harus bertahan hingga nanti bisa memberikan alasan kepada anak lain Nona di masa depan alasan kenapa Nona tidak bisa mempertahankan kakaknya.”
“Terima kasih.”
“Hanya karena Nona lebih memilih hidup Nona bukan berarti Nona seorang ibu yang jahat. Sebenarnya bagi saya akan lebih menyakitkan jika Nona memilih mempertahankan kandungan Nona.”
“Kenapa?”
“Di masa depan saat anak Nona tahu semua kebenarannya, apakah menurut Nona dia akan baik-baik saja setelah tahu ibunya mengorbankan semua hal hanya agar dia bisa lahir ke dunia ini?”
“…”
“Ah… saya permisi, ada panggilan untuk saya.”
Aku menyentuh perutku untuk kali pertama. Aku tidak pernah menyentuh perutku karena aku takut perasaan cinta dan sayangku pada kehidupan baru di dalam tubuhku akan terus bertambah. Perasaan yang akan membuatku semakin ragu untuk menggugurkannya.
Kutatap jauh keluar ruangan, aku memilih ruangan yang cukup dekat dengan taman di rumah sakit. Aku menyukai pemandangan rerumputan hijau karena bisa membuatku sedikit tenang. Bukan hanya rerumputan hijau yang membuatku tenang, langit biru yang membentang jauh juga menambah ketenangan di dalam diriku. Kevin juga menyukai ruangan ini karena setiap kali aku akan melakukan pemeriksaan menyeluruh dia pasti memilih ruangan ini. Dia selalu mengatakan ruangan ini mengingatkannya pada kamarku di Berlin yang juga berhadapan langsung dengan taman.
Tok…tok…
“Hai.”
Ken melangkah masuk ke dalam ruangan dan langsung memberikan pelukan hangat miliknya. Aku merindukan saat-saat dimana Ken selalu berada di sampingku dan tidak pernah meninggalkanku. Aku sangat merindukan masa-masa dimana hanya ada Ken di dalam hidupku. Aku sangat merindukannya.
“Kamu akan baik-baik saja bukan?” tanya Ken membuka percakapan.
“Tentu. Dimana Sarah?”
“Dia bersama dengan ayah dan ibu.”
“Di ruangan Ayah Frank? Bersama dengan Kevin?” tanyaku tidak percaya.
Ken hanya mengangguk. Dia mengangkat tubuhku dan membaringkanku ke atas tempat tidur. Ini kali pertama setelah sekian purnama dia tidak pernah menggendongku. Aku membalasnya dengan sebuah usapan lembut ke kepalanya. Ken langsung berjalan menuju lemari es begitu aku meletakkan tanganku ke atas ranjang.
“Apa ada yang mau kamu makan?” tanyanya sembari melihat-lihat isi kulkas.
“Ada apa saja?”
“Hmmm… ada…”
“Fanya!!!”
Teriakan Sarah membuat kami berdua langsung menatap ke arah sumber suara yang saat ini sedang berjalan ke arahku. Sarah langsung memelukku dengan sangat erat dan membuat Ken kewalahan untuk melepaskan pelukannya. Aku hanya menggeleng setelah Ken berusaha untuk kali kedua mencoba melepas pelukan Sarah.
“Kevin tidak menandatanganinya. Kamu bisa mempertahankan kandunganmu,” ucap Sarah terbata-bata.
Pernyataan yang tidak ingin aku dengar. Pernyataan yang tidak aku harapkan. Bukan karena aku lebih memilih hidupku dibanding anakku tetapi aku tidak ingin melihat rasa sakit yang Kevin dapatkan saat membuat keputusan itu. Aku tidak ingin melihat Kevin menyesali keputusan yang dia buat saat ini. Dan aku tidak ingin ada perasaan benci pada dirinya karena telah membuat keputusan ini.
“Apa katamu?!” tanya Ken dengan nada tinggi.
Ucapan Ken berhasil membuat Sarah melepaskan pelukannya. Kali ini Sarah memeluk Ken yang diam mematung. Ken terus menatapku seolah tidak percaya dengan semua yang baru dia dengar dan tidak menyangka apa yang kemarin aku ucapkan kepadanya menjadi sebuah kenyataan.
...-----...
Satu hari sebelumnya…
“Hanya kamu?”
Satu pukulan lembut mendarat di keningku. Aku langsung merangkul lengan Ken dan berjalan berdampingan dengannya keluar dari bandara. Selama tiga bulan setelah kepindahan kami sekeluarga ke London, Ken masih harus sering bolak-balik ke Berlin untuk mengurus beberapa hal. Dia sudah di Berlin selama satu minggu dan hari ini adalah hari dimana seharusnya kami sekeluarga menjemputnya. Aku meminta kepada keluargaku agar aku yang menjemputnya karena ada beberapa hal yang harus aku katakan. Sesuatu yang sudah sangat ingin aku katakan kepadanya.
Ken membawaku ke taman sebelum pulang ke rumah. Dia seperti tahu ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya, hanya berdua dengannya tanpa adanya gangguan. Dia juga membeli beberapa sandwich kesukaanku sebelum membawaku ke taman. Saat ini dia sedang melemparkan batu ke dalam danau buatan. Dia sedang berlomba dengan beberapa anak kecil yang juga sedang melemparkan batu ke danau, melihat siapa yang paling jauh meleparkan batu.
“Aku hamil,” ucapku begitu Ken duduk di sebelahku.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Aku tidak akan mendukung keputusan yang ada di dalam kepalamu.”
Seperti yang sudah aku harapkan dari Ken. Dia pasti akan mengatakan hal yang sama dengan Sarah. Kualihkan pandanganku dari sandwich di tanganku menuju Ken yang saat ini diam membisu menatap kosong danau di hadapan kami. Kuambil tangan miliknya dan menggenggamnya dengan sangat erat.
“Aku tidak akan mengatakan apapun, aku akan menuruti semua kemauan Kevin.”
“…”
“Ken, berjanjilah padaku.”
“Kamu baru mengatakan akan menuruti semua kemauan Kevin,lalu apa yang harus aku janjikan? Kamu akan mengatakan hal lainnya setelah mengatakan semua itu?”
“Sayangi dan cintai anakku seperti yang kamu lakukan padaku.”
“Fanya!!”
“Kamu tahu Kevin akan membuatku menggugurkan kandunganku apapun yang terjadi.”
“Lalu? Kenapa kamu membicarakan anak yang bahkan tidak akan kamu lahirkan?”
“Selama beberapa tahun Kevin tidak akan melihat ke arah anak ini. Dia akan mengabaikan semua hal tentangnya. Anak ini kemungkinan akan kehilangan sosok ibunya begitu dia lahir ke dunia ini dan dia juga akan kehilangan sosok ayahnya selama beberapa tahun dalam hidupnya. Aku mohon padamu untuk menggantikan posisi Kevin, jadilah ayah untuk anak ini selama beberapa tahun. Jangan biarkan dia tidak merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ayah.”
“Fan, hentikan semua omong kosong ini.”
“Hal itu tidak akan terjadi Ken dan karena itu aku mohon berjanjilah padaku.”
Ken terdiam untuk beberapa saat. Aku tahu sebuah keraguan muncul di dalam hatinya. Dia tidak ingin berjanji karena dia takut janji yang telah dia ucapkan akan menjadi kenyataan. Dia sendiri tidak yakin jika Kevin akan benar-benar memintaku untuk menggugurkan kandunganku. Dia sama tidak yakinnya denganku dan aku menambah ketidakyakinannya.
“Ken," panggilku memecah hening.
“Apa kamu juga meminta hal ini kepada Sarah?”
“Tidak, aku tahu Sarah akan langsung menyayangi dan mencintai anak ini begitu melihatnya. Aku tidak perlu mengkhawatirkan Sarah.”
“…”
“Ken, aku tidak yakin jika Kevin akan memilih anak ini dibandingkan denganku, melihat betapa dia ingin bersama denganku selama sisa hidupnya. Aku hanya takut Tuhan memutar balikkan hatinya dan membuatnya memilih anak ini. Saat itu terjadi, Kevin akan menjaga jarak dengan anak ini. Aku mohon jangan biarkan anak ini kehilangan sosok ayah dalam hidupnya untuk beberapa tahun, cukup baginya untuk kehilangan sosok ibunya begitu dia lahir. Kevin akan membuka hati perlahan-lahan dan menerima anak ini. Dan hanya kamu yang bisa aku percaya Ken.”
“Aku berjanji.”
Aku langsung memeluk Ken yang sekarang tubuhnya mengeras. Aku tahu dengan memaksanya berjanji hanya akan menambah beban dalam hidupnya tetapi aku tidak bisa tidak membuatnya berjanji. Aku tidak ingin dia merasakan hal yang sama dengan Kevin begitu melihat anak ini. Aku tidak ingin dia ikut membenci anak ini dan menjauh darinya.
Aku tidak yakin jika Kevin akan memilih anak ini tetapi aku juga tidak yakin Kevin akan memilihku. Aku hanya mempersiapkan skenario terburuk yang mungkin akan terjadi. Saat Kevin membiarkanku mempertahankan kandunganku, aku sangat yakin saat itu juga Kevin menutup rapat-rapat dirinya. Dia akan menutup dirinya sendiri bahkan untuk anaknya dan karena itu aku tidak ingin anak kami merasa kesepian selama beberapa tahun tanpa sosok orang tua dalam hidupnya.
Aku tahu Sarah bisa menggantikan sosokku sebagai ibu untuk anakku dan karena itu aku tidak terlalu mencemaskan Sarah. Sarah tidak akan bisa membenci anakku, sekuat apapun dia mencobanya karena dia akan terus melihat sosokku di dalam diri anakku. Dan untuk Ken, hanya sebuah janji yang bisa membuatnya memandang anakku dengan penuh kasih. Ken pasti akan memiliki reaksi yang sama dengan Kevin dan hanya sebuah janji yang bisa menghentikannya untuk membenci anakku. Aku hanya tidak ingin anakku tidak mendapatkan kasih sayang sebesar yang aku dapatkan. Aku tidak ingin kelahirannya justru membuatnya menderita. Aku rasa sudah cukup untuk anakku kehilanganku sebagai ibunya untuk selama-lamanya dan aku tidak ingin dia kehilangan sosok ayahnya yang masih hidup. Aku tidak ingin hal itu terjadi.
...-----...
“Kamu tidak ingin menemui Kevin?” tanya Sarah begitu tenang.
“Dia membutuhkan waktu sendiri,” jawabku sembari melihat langit yang mulai gelap.
“Kevin sangat mencintaimu.”
“Aku tahu hal itu. Saat ini aku takut keputusan yang dia buat akan membuat ayah benci padanya.”
“Fan, ‘Anak itu adalah anak kami, untuk kali pertama Fanya tidak meminta sesuatu yang sangat dia inginkan. Aku juga ingin mempertahankan Fanya tetapi apakah Fanya ingin dipertahankan, aku rasa tidak dan karena itu membuat semua hal ini lebih menyakitkan. Aku tidak ingin mengikat Fanya hingga akhirnya membuatnya sesak. Biarkan kita yang menanggung semua perasaan berat ini dan masih ada jalan untuk membuatnya hidup’. Ayah tidak mungkin membenci laki-laki yang mengucapkan kalimat itu bukan?”
Hanya anggukan yang aku berikan sebagai jawaban.
...-----...