
Aku ingin terbang bebas seperti burung. Bisa melihat berbagai macam keindahan yang Tuhan berikan. Aku ingin keluar dari kamar ini dan sekali lagi melihat langit biru. Langit biru yang memanjang. Langit biru yang ingin kutahu dimana ujungnya dan langit biru yang ingin kugapai. Walaupun aku tahu semua itu mustahil, setidaknya aku hanya menginginkan sebuah kesempataan agar aku bisa melihat semua hal itu lagi.
“Kamu tidak pergi? Aku kira Kevin sedang membawamu ke taman.”
“Sarah, kamu tidak berkencan dengan Bobby?”
Hanya lemparan boneka yang Sarah berikan padaku. Dia tersenyum ke arahku dan mengambil kursi roda milikku. Dia kembali menghampiriku dan mengambil boneka yang dia lempar. Dia membantuku berdiri dan mendudukkanku di atas kursi roda.
“Kamu tidak merindukanku?”
“Very much, Sarah.”
Sarah mulai mendorong kursi roda. Dia memasang earphone ke telingaku. Dia tahu hanya musik yang bisa menenangkanku. Kuamati dinding-dinding, sudah tidak ada lagi jam yang menghiasinya.
Apa Ayah yang memindahkannya? Semuanya? Setidaknya aku juga ingin mendengar kembali detak jam itu. Aku ingin mencoba menyukai detak itu.
“Fan, langit begitu cerah. Kamu tahu, aku menghabiskan waktuku dengan Bobby di Tembok Berlin.”
“Benarkah?”
“Ya. Aku bahagia bisa memiliki Bobby dan aku yakin Ken juga bahagia memiliki Stephanie. Dan tidak bisakah kamu kembali meminum obatmu agar kebahagian kami lengkap?”
Kualihkan pandanganku pada Sarah yang sekarang di depanku. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia sangat berusaha keras untuk itu. Aku hanya diam, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Untuk menjawabnya saja aku tidak bisa.
“Fan, vonis yang Ayah berikan, bukankah kamu harus membuktikan kepada Ayah bahwa vonisnya salah? Tidak bisakah kamu kembali meminum obatmu untukku? Jika aku tidak bisa kamu jadikan alasan, bagaimana dengan Kevin? Kamu ingin terus bersamanya bukan?”
“Aku kembali membuat harapan. Kamu tahu harapan yang aku buat enam bulan yang lalu bukan? Aku kembali memegang harapan itu. Aku akan kembali meminum obatku karena harapan itu. Sarah, tidak bisakah aku hidup lebih lama lagi?”
“You can.”
“Aku rasa tidak. Kamu tahu, hal yang membuatku sulit untuk meninggalkan dunia ini adalah karena sekarang aku sadar, aku sangat menyayangi kalian. Aku selalu menyalahkan Tuhan, membenci orang-orang, tidak mempercayai orang-orang, bukan karena aku ingin melakukannya tapi karena aku harus melakukannya. Aku tidak ingin membuat air mata mereka jatuh setelah mengetahui kebenaran tentang hidupku.
Berulang kali aku mencoba melangkahkan kakiku keluar dari lingkaran yang kubuat tetapi aku gagal, Sarah. Sekarang, aku hanya ingin bersama dengan Kevin. Aku telah menghabiskan waktuku bersamamu, Ken, Ayah, dan Ibu tapi aku belum menghabiskan waktuku bersama dengan orang yang kucintai. Bersama laki-laki yang kucintai.”
Sarah memelukku dengan erat. Dia menangis di pelukanku. Apa yang sekarang harus aku lakukan Tuhan? Sekarang aku takut jika aku harus meninggalkan dunia ini. Aku tahu Engkau memiliki rencana yang lebih baik dan aku tahu aku telah membuat sebuah harapan tapi aku tidak bisa menguatkan perasaanku secepat ini Tuhan. Aku hanya perempuan biasa yang tidak tahu apapun tentang kuasa-Mu.
“Tidak, Sarah.”
“Apa?”
“Seberapa besar aku ingin menghabiskan waktuku dengan Kevin aku tidak bisa. Aku tahu Kevin sangat mencintaiku tapi cinta yang dia miliki akan membunuh dirinya sendiri. Sama seperti Ayah. Kevin akan membenamkan dirinya sendiri seperti yang sekarang Ayah lakukan. Membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menolongku, aku tidak bisa membiarkan dia membenci dirinya sendiri. Cukup aku membiarkan Ayah tetapi tidak dengan Kevin. Aku tidak ingin menghancurkan hidupnya.”
Kembali Sarah menggenggam erat tanganku. Kuulurkan tanganku menyapu air mata Sarah yang terus turun menghujani pipinya. Sarah membantuku berdiri, aku tidak ingin berdiri, aku hanya ingin terus duduk di kursi roda. Sarah terus memaksaku mengangkat tubuhku. Sekarang aku berdiri, dan aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini. Atau lebih tepatnya aku tidak tahu apa yang Sarah inginkan.
Sarah terus menatap jauh ke belakangku. Apa ada sesuatu yang menyita perhatiannya? Kubalikkan tubuhku. Sekali lagi, sepasang mata yang penuh kelembutan sedang menatapku. Dia diam di tempat dia berdiri. Dia memakai kemeja putih kesayangannya. Wajahnya yang pucat, matanya yang seperti mata panda. Dia sudah terlalu lama menjagaku, bahkan dia tidak menjaga kesehatannya sendiri.
“Kevin…”
“Kamu bertanya apa harapanku ketika kita berada di lift apartemen Ken, bukan? Aku akan menjawabnya. Harapanku membuatmu membuka hatimu kembali dan membiarkanku menggenggam erat tanganmu. Itu harapanku. Aku tidak tahu kenapa kamu tidak bisa membiarkan hidupku hancur, satu hal yang pasti, hidupku akan hancur jika kamu menjauh dariku. Hidupku sudah hancur dari dulu, dari saat aku memutuskan menjauhimu. Untuk sekarang, jika kamu bertindak seperti ini, kamu akan lebih menghancurkan hidupku.”
Perlahan Kevin mendekat ke arahku. Sarah terus memegang tanganku. Dia memberikan tanganku begitu saja ketika Kevin mendekatiku. Sekarang hanya ada aku dan Kevin. Sarah hanya tersenyum kecil sebelum berlalu dari hadapanku.
Aku tidak tahu lagi, semua ini membuatku bingung. Kevin kembali mengangkat tubuhku. Dia tidak membawaku masuk ke dalam rumah tetapi ke dalam mobilnya. Sekilas, aku melihat Ayah, Ibu, dan Sarah menatap ke arahku dan Kevin sembari tersenyum. Aku juga hanya bisa ikut tersenyum untuk saat ini.
“Ayo pergi.”
“Kemana?”
“Ke tempat dimana kita bisa menghabiskan banyak waktu hanya berdua, tanpa gangguan.”
“Ayah memberi izin?”
“Kenapa tidak?”
“Apa kamu akan membawaku ke rumahmu?” tanyaku menebak.
Hanya senyuman kecil yang Kevin berikan. Ya, tidak apa. Aku juga ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya. Hanya berdua, di tempat yang tenang. Di tempat tanpa adanya gangguan. Dan, di tempat yang memiliki banyak kenangan antara aku dengan Kevin.
...-----...