H(Our)S

H(Our)S
Mimpi



Aku pernah bermimpi, di dalam mimpi itu aku sangat bahagia. Aku mendapatkan semua yang aku inginkan, keluarga, sahabat, dan orang yang kucintai. Aku mendapatkan semuanya. Di dalam mimpi, aku terus tertawa dan tidak pernah menangis. Aku mendapatkan hidup yang aku inginkan. Saat itulah aku berpikir untuk tidak pernah bangun dari mimpi. Saat itu adalah saat dimana aku mengalami koma.


Tapi, di dalam mimpi yang sempurna itu aku merasakan kekosongan, seolah tahu semua itu hanya kebohongan yang indah. Aku merasa ingin membuka mataku saat mendengar seseorang mengatakan ‘aku berjanji akan menghilang dari hidupmu, tapi kumohon tetaplah hidup’, kalimat pertama yang membuatku ingin terus hidup. Sekuat tenaga aku mencoba melawan mimpi indah itu dan bersiap menghadapi kenyataan yang pahit.


Aku terbangun…..


Dan aku mendapati seseorang itu telah pergi dari hidupku. Aku ingin mengatakan jika aku mendengar apa yang dia ucapkan tapi aku juga tidak ingin membuatnya kembali dalam hidupku. Dia yang telah menciptakan mimpi dalam tidurku dan dia yang telah membangunkanku dari mimpi, aku ingin terus hidup untuk memenuhi janjinya menghilang dari hidupku.


Tapi sekarang, seseorang yang mengucapkan kalimat itu berada di sampingku.


“Bangun dan keluar sekarang. Ayah akan marah jika tahu kamu tidur di kamarku,” ucapku.


“Kevin?” panggilku terkejut begitu Kevin menarikku ke dalam pelukannya.


“Aku sudah mengunci pintu.”


“…”


“Apa kamu mau menikah denganku?”


“…”


“Apa terlalu mendadak?”


Tok…Tok…


“Fanya, Ibu sudah menyiapkan sarapan,” ucap Sarah dengan suara ketukan penuh tenaga terdengar.


Kevin bangun dari tidurnya dan langsung mencium keningku. Dia meregangkan tubuhnya, dia benar-benar menganggap kamarku ini adalah kamarnya.


“Hmm? Fanya, kenapa pintunya dikunci?”


“…”


“Fanya? Apa kamu baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja,” jawabku gugup.


Kupukul pelan kepala Kevin, dia hanya memasang wajah tidak bersalah dan tetap melanjutkan peregangan tubuhnya. Aku berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukaku.


“Ken!!! Fanya mengunci pintunya.”


Sepertinya aku tidak bisa mencuci wajahku. Kulangkahkan kakiku menuju pintu dan memukul Kevin untuk kedua kalinya. Kubuka pintu kamarku dan mendapati Ken dan Sarah sedang mencoba membuka pintu kamarku.


“Kamu tidak apa?” tanya Ken cemas.


Aku mengangguk. Sarah langsung melangkahkan kakinya ke dalam kamarku dan langsung diam membisu mendapati Kevin yang sekarang duduk manis di atas tempat tidurku. Melihat Sarah yang diam membisu, Ken langsung ikut masuk ke dalam kamarku.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Sarah penuh selidik.


“Tidur,” jawab Kevin diikuti lemparan boneka ke arahnya.


“Tidak seperti yang kalian bayangkan,” jawabku sembari mengambil kembali boneka yang dilempar Sarah.


“Pantas saja aku mencarimu tidak ada, ternyata,” ucap Ken diikuti tinju kecil.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Ayah.


Pertanyaan Ayah membuat kami berempat langsung diam. Ken berusaha menutupi keberadaan Kevin, sepertinya dia tidak ingin aku diceramahi seperti yang terjadi pada Sarah.


“Apa Kevin sudah bangun?”


“Hah?” tanyaku bebarengan dengan Ken dan Sarah.


“Tadi malam Kevin meminta izin Ayah untuk tidur di kamar Fanya. Dimana dia? Kenapa Ayah tidak melihatnya?”


Kami semua terdiam, kecuali Kevin tentunya. Dia melangkahkan kakinya menuju tempat Ayah dan langsung mengobrol. Kami yang ditinggalkan di kamar hanya bisa saling pandang tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Seperti seseorang yang tersambar petir, Sarah berlari keluar kamarku.


“Ayah!!! Bagaimana denganku dan Bobby? Bukankah ini tidak adil??”


“Sebenarnya apa yang dilihat Sarah di dalam diri Bobby?” tanya Ken sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aku tersenyum tipis dan mendorong Ken keluar kamar, aku masih belum mencuci wajahku. Aku langsung menuju kamar mandi begitu mendorong Ken keluar. Kulihat wajahku di kaca, ini kali pertama dalam hidupku aku melihat wajahku penuh dengan kebahagiaan.


Mimpi itu, aku harap aku tidak akan merasakannya kembali.


...-----...