H(Our)S

H(Our)S
Mimpi



Setiap malam selama kehamilanku, aku selalu bermimpi hal yang sama. Mimpi yang membuatku bisa bertahan selama ini. Aku bersyukur Tuhan mendatangkan mimpi itu padaku, mimpi yang membuatku bisa merasakan bagaimana rasanya bersama dengan suami dan anakku. Mimpi yang membuatku tidak terlalu menyesal meninggalkan dunia ini.


Di dalam mimpi itu, aku bisa merawat dan menjaga anakku bersama dengan Kevin. Kami menjadi orang tua yang sempurna baginya. Kevin tidak pernah menunjukkan wajah lelahnya dan dia berhasil menjadi ayah yang sempurna untuk anak kami. Anak kami juga tidak kehilangan kasih sayangku sebagai seorang ibu. Mimpi yang sangat sempurna untukku.


Aku tahu mimpi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan dan karena itu aku tidak pernah mengharap lebih akan mimpi itu. Aku hanya menjalani mimpi itu seperti bagaimana aku menjalani hari-hariku. Aku hidup di dalam dua dunia, di dunia nyata dan mimpi. Di dunia nyata aku merasakan kebahagiaan karena bisa mempertahankan anak kami. Di dunia mimpi aku juga merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang mungkin berbeda dengan dunia nyata, tetapi aku tetap merasakan kebahagiaan karena bisa merawat dan menjaga anakku bersama dengan Kevin. Aku tahu semua itu hanya sebuah semu yang bisa menyakitiku tetapi aku tetap bahagia karena setidaknya di dalam mimpi Tuhan tetap memberikan kesempatan kepadaku, kesempatan yang tidak akan pernah aku dapatkan di dunia nyata.


Banyak hal yang aku syukuri dari kehamilanku. Dahulu, aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan seseorang yang di dalam tubuhnya akan mengalir sebagian darahku. Aku selalu mencoba mencari orang lain untuk menggantikanku, orang yang akan menemani ayah, ibu, Ken, dan Sarah. Aku berusaha agar Stephanie bisa masuk ke dalam keluargaku dan menggantikanku ke depannya. Sekarang, aku bisa dengan hati yang lebih tenang untuk meninggalkan mereka dengan seorang anak yang aku lahirkan. Akan membutuhkan waktu bagi ayah untuk menerimanya, tetapi aku sangat yakin begitu melihat malaikat kecilku itu, ayah akan langsung jatuh hati padanya dan perlahan hati ayah yang terluka akan membaik.


Aku tidak bisa menjamin masa depan seperti apa yang akan menanti keluargaku. Aku juga tidak tahu apakah di masa depan, Kevin akan menemukan seseorang yang bisa menggantikanku. Aku hanya bisa menjamin jika anakku akan tumbuh sama denganku, anakku akan membawa kembali sosok diriku ke dalam kehidupan mereka. Walaupun akan membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Kevin, aku tahu dia akan menerima anak kami karena di dalam mimpiku aku melihat betapa bahagianya Kevin bersama dengan anak kami. Aku akan mempercayai mimpiku untuk hal itu.


Apa aku egois?


Sebuah pertanyaan yang selalu aku tanyakan setiap harinya. Aku tahu betapa egoisnya diriku bahkan dari sebelum kehamilanku. Aku selalu membuat orang lain membuat pilihan sulit dalam hidup mereka. Tidak pernah sekalipun aku melewatkan kesempatan untuk memberikan pilihan menyakitkan pada mereka. Dan tidak pernah sekalipun aku memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengatakan pilihannya. Mereka selalu mengikuti semua pilihan yang aku pilih, pilihan yang hanya menyakiti mereka.


Jika Tuhan memberikan kesempatan untukku memilih apakah aku akan kembali menjadi hidupku saat ini atau menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari hidupku saat ini, aku akan tetap memilih untuk menjalani kehidupanku saat ini. Aku tidak ingin menjalani kehidupan yang asing. Walaupun akhir dari kehidupanku akan meninggalkan banyak luka, aku akan tetap memilih hidupku saat ini karena aku tahu hidupku juga meninggalkan sebuah kebahagiaan dan kenangan tersendiri bagi orang-orang yang mencintaiku. Aku hanya ingin mengubah keegoisanku dalam hidupku dengan mencoba mendengarkan mereka. Hanya keegoisan itu yang aku sesalkan.


Untuk terakhir kalinya, aku berterima kasih kepada Tuhan yang masih memberikanku kesempatan untuk menjadi seorang wanita seutuhnya dan juga memberikanku kesempatan untuk merasakan rasanya menjadi seorang ibu walaupun hanya di dalam mimpi. Aku juga ingin meminta maaf kepada Tuhan karena pernah membenci-Nya. Membenci takdir yang mungkin dicintai oleh-Nya. Seharusnya aku tahu semenyakitkan apapun takdirku, tetap Tuhan yang menciptakan takdir itu dan tidak seharusnya aku membenci takdir yang Tuhan cintai. Karena takdir yang Tuhan berikan kepadaku, aku bisa bertemu dengan banyak orang yang mencintaiku. Aku bisa merasakan kehangatan keluarga yang mungkin tidak bisa dirasakan oleh beberapa orang di luar sana. Aku memiliki dua saudara kembar yang mungkin diinginkan oleh orang lain. Aku juga bisa bertemu dengan cinta sejatiku, cinta sejati yang mungkin masih dicari oleh orang di luar sana.


Manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya hingga dia sadar betapa berharganya sesuatu itu setelah Tuhan mengambilnya. Aku beruntung Tuhan tidak langsung mengambil orang-orang yang berharga dalam hidupku dan aku juga beruntung Tuhan tidak membuatku merasakan kehilangan mereka. Walaupun pada akhirnya mereka yang kehilanganku. Bahkan hingga saat ini aku tetap egois.


Terima kasih Tuhan telah membuatku bertahan hingga detik ini dan membuatku melahirkan seorang anak yang begitu indah.


Terima kasih Tuhan atas kehidupan yang telah diberikan kepadaku dan memberikanku cinta yang tulus di kehidupanku.


Terima kasih Tuhan karena sudah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan-Mu dengan sebuah senyum di wajahku.


Dan...


Terima kasih karena sudah membuat Kevin mencintaiku hingga akhir hayatku.


Tetapi, aku mohon, jangan lukai hati Kevin untuk kesekian kalinya. Biarkan dia bahagia walau bukan denganku. Biarkan dia kembali tersenyum dengan senyuman yang Tante Rachel katakan padaku ketika Kevin menatapku saat masih kecil.


Aku mohon, biarkan Kevin bahagia...


...-----...